Rusli Marzuki Saria
Maestro Sastra dari Riwayat Keparewaan
Bila diriku siuman dari pemberontakan
Tidak terkatakan sesal sebab kemalangan
Kudukung di punggung lainnya berceceran
Semua takdir kita yang punya
(Sajak Rusli Marzuki Saria: Yang Tak Lupa)
Rusli Marzuki Saria (76) Papa-nya sastra[wan] Sumatera Barat. Telah dinobatkan
sebagai Maestro Sastra oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat. Setidaknya 50 tahun
terakhir, kiprah kepenulisan Papa menjadi bagian penting pergulatan sastra
Indonesia. Rentang waktu itu, telah ia dedikasikan bagi kesusastraan dengan
semangat parewa Minang yang sarat perjuangan.
Sebagai seorang pekarya, Papa mengaku, disiplin kreatifnya sering dibangkitkan
oleh ungkapan dari John Keats: My Imagination is a monastery and I am its monk
(Imajinasiku adalah biara dan aku adalah biarawannya). Jadi seorang penyiar,
barangkali bukan tujuan hidupnya. Tetapi syair yang terus ia tulis telah
memberinya makna hidup itu.
Dalam narasi yang disusun Abel Tasman untuk film dokumenter tentang Papa,
diuraikan, bahwa puisi-puisi Papa dimuat dalam berbagai media yang ada di
Indonesia sejak tahun 1950-an. Abel menggambarkan idealisme Papa dengan
ungkapan
Umar bin Khatab: Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani.
Keberanian yang dicontohkan Papa, terlihat jelas sejak ia sering tampil dalam
berbagai pentas pembacaan puisi di berbabagai kota di tanah air. Pada 22 Juni
1981, atas undangan Dewan Kesenian Jakarta, Papa membacakan 65 pusinya di Taman
Ismail Marzuki Jakarta. Iven pembacaan dan diskusi puisi ini menjadi momentum
penting dalam riwayat kepenyairan Papa sebagai seorang sastrawan nasional yang
tinggal di daerah. Dalam ajang inilah para sastrawan dan kritikus sastra
nasional mengakui keberadaan Papa sebagai seorang penyair.
Papa lahir di Nagari Kamang Mudik, kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam,
pada tanggal 26 Januari 1936. Ayahnya bernama Marzuki”seorang kepala nagari
yang
juga punya usaha bendi dan pembuatan sadah. Ibunya bernama Sarianun. Marzuki
mempunyai 23 orang istri, Sarianun”ibunya Papa adalah istrinya yang ketujuh.
Sebagai seorang anak, pada tahun 1942 Papa memulai jenjang pendidikan formal
dengan memasuki Sekolah Rakyat (Volkschool).
Pada tahun 1946, ibunya meninggal dunia. Oleh ayahnya, Papa kemudian dibawa
tinggal di Labuah Silang Payakumbuh. Di kota ini Marzuki meneruskan usaha bendi
dan pembuatan sadah. Di kota ini pula Papa meneruskan sekolahnya yakni ke SD
Muhammadiyah di Simpang Bunian. Setamat sekolah dasar Papa melanjutkan studinya
ke SMP Sore Payakumbuh Bahagian Bahasa.
Pada tahun 1953, Marzuki”ayahandanya Papa meninggal dunia. Kenyataan ini
membatalkan cita-cita Papa untuk kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)
Yogyakarta. Berbekal ijazah SMP, Rusli bekerja di Kepolisian yakni di Kantor
Koordinator 106 Mobrig (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Ia bertugas mengurusi
surat masuk dan keluar. Di samping bekerja pada kantor kepolisian di pagi hari,
pada sore harinya, Papa melanjutkan pendidikannya pada SMA Sore Sendiakala
Bukittinggi dan ia berhasil meraih ijazah SMA-nya dengan jurusan Bahasa tiga
tahun kemudian.
Semenjak Sekolah Rakyat, minat Papa pada sastra sudah mulai terlihat. Sejak itu
ia sudah membaca buku-buku sastra yang ada di perpustakaan sekolahnya.
Cerita-cerita rakyat seperti Kepala Sitalang, Laras Simawang dan Bukit Tambun
Tulang sudah mulai dinikmatinya. Ia juga sudah melahap karya-karya sastra
seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang-nya Sutan Takdir
Alisjahbana dan Di Bawah Lindungan Ka™bah-nya Buya Hamka. Pada masa SMA makin
beragamlah karya-karya yang dibaca Rusli. Mulai dari Chairil Anwar, Sjahrir,
Asrul Sani, hingga karya-karya penulis asing seperti Rabinranath Tagore, John
Steinbeick, Hemingway dan lainnya. Kelak, bacaan-bacaannya ini amat memengaruhi
puisi-puisi Papa.
Tak hanya menyukai bacaan sastra, Papa juga banyak membaca karya-karya
pemikiran
dari berbagai aliran baik itu Islam, liberal atau bahkan Marxis.
Bacaan-bacaannya itu menjadikan Papa sebagai seorang mampu berpikir independen.
Ia tak terjebak pada dogma pemikiran apa pun. Ia mengagumi beberapa hal dari
liberalisme dan marxisme, akan tetapi ia tetap menjadikan Islam sebagai pijakan
hidupnya. Namun ia tidak memahami Islam dalam pengertian sempit dan fanatis,
tetapi ia menempatkan Islam sebagai ajaran yang mendorong orang pada optimisme,
kreativitas, intelektualitas dan keindahan.
Dengan bacaan yang demikian beragam dan luas makin menarik minat Papa untuk
menulis puisi. Pada tahun 1955, untuk pertama kalinya puisi Rusli berjudul
Nenekku Pergi Suluk dimuat di surat kabar Nyata yang terbit di Bukittinggi.
Pada
tahun yang sama, Rusli bersama AA Navis, Lo Fai Hap dan Nasrul Siddik dipercaya
mengisi Ruangan Sastra di RRI Bukittinggi.
Pada tahun 1956 Papa lolos tes untuk jadi anggota Mobrig. Dengan pangkat Sersan
ia diangkat menjadi Agen Polisi Kepala di Kantor Koordinator 106 Mobrig
Bukittinggi. Namun, diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) pada Januari 1958, membuat karir Papa di Kepolisian berakhir
karena ia memilih bergabung dengan PRRI untuk berjuang dalam menghadapi tekanan
Pemerintah Pusat.
Keterlibatannya dalam PRRI memaksa Papa berjuang keluar masuk hutan. Peristiwa
pergolakan ini menjadi periode sejarah penting dalam kehidupan Papa. Di tengah
perang berkecamuk; berbagai derita, kepiluan yang dialami rakyat Sumatra Barat,
dirasakan Papa dengan membatin. Sebagai seorang penyair, ia menuangkan suasana
batinnya itu dalam sejumlah puisi yang kemudian dibukukan dengan judul Ada
Ratap
Ada Nyanyi.
Usai PRRI, meski ada peluang, Papa tak lagi ingin jadi polisi. Sejak Juli 1961,
Papa menetap di Padang. Ia mangkal di Pasar Mudik dan Pasar Hilir sebagai
pedagang jatah atau pedagang perantara.. Banyak jenis dagangan yang dijualnya,
di antaranya adalah batik.
Pada 4 Mei 1963, di kampung halamannya, Papa menikah dengan Hanizar Musa”gadis
yang dikenalnya pada masa PRRI. Dari pernikahannya ini, Papa dikaruniai empat
orang anak: Fitri Erlin Denai, Vitalitas Vitrat Sejati, Satyagraha dan
Diogenes.
Pada tahun ini juga Rusli bekerja sebagai Kepala Tata Usaha di Koperasi Batik
Tulis. Di samping bekerja di koperasi ini, bersama beberapa sastrawan seperti
Leon Agusta, Dalius Umari, Mursal Esten, Chairul Harun dan Upitha Agustine,
Rusli mengisi acara Ruang Sastra Daerah Persinggahan di RRI Padang.
Pada tahun 1969, Papa mengawali karirnya sebagai wartawan. Papa bergabung
dengan
harian Haluan yang mana ia sendiri ikut sebagai pendirinya. Pada awalnya Papa
bekerja sebagai sekretaris redaksi. Namun kemudian ia juga menjadi redaktur
berita yang sering juga turun meliput berbagai peristiwa. Kemudian Papa
mengasuh
halaman sastra sebagai redaktur kebudayaan. Salah satu rubrik sastra yang ia
buat adalah rubrik Monolog dalam Renungan. Karena faktor usia, Papa pensiun
dari
Haluan pada tahun 1999. Tetapi sampai kini ia tetap punya rubrik di harian ini
yakni rubrik Parewa Sato Sakaki.
Tetap meneruskan karir sebagai wartawan, pada tahun 1987 Papa terpilih menjadi
anggota DPRD Padang untuk periode 1987-1992 dan ia duduk di Komisi Pembangunan.
Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anggota DPRD, Rusli tetap kelihatan
sebagai seorang penyair. Dalam beberapa sidang ia kerap membaca puisi. Di
antara
pusi yang dibacakannya adalah Rakyat karya Hartono Andangjaya. Di tengah
kesibukannya sebagai wakil rakyat, Papa tetap menulis puisi. Di antaranya, Sang
Waktu Berbisik Aku Mengangguk, Wang 100 Ribu Rupiah Per Desa dan Mentawai Bisa
Tenggelam.
Aktivitas Papa sebagai sastrawan tak hanya sekadar menulis puisi dan menjadi
wartawan. Pada tahun 1994 ia ikut bergabung di Dewan Kesenian Sumatra Barat
(DKSB). Pada tahun tahun 1995 ia ditunjuk sebagai bendahara pada organisasi
ini,
posisi yang tetap dipercayakan padanya sampai tahun 2003. Sebagai wartawan,
banyak tempat yang telah ia kunjungi, baik dalam negeri hingga ke manca negara.
Pada tahun 1977 ia diminta meliput latihan perang antara Angkatan Laut
Indonesia
dan Austarlia di Great Barrier Reef (Coral Sea), Australia bagian timur. Pada
Oktober 1984, ia juga diundang Kedubes Jerman untuk meliput Farnkfurt Books
Fair. Di negara ini ia melihat hal yang sangat mengagumkan yakni dukungan penuh
Pemerintahan Jerman untuk dunia pendidikan.
Sebagai sastrawan, banyak peristiwa kesusastraan yang telah diikuti Papa. Ia
sering diundang ke berbagai pertemuan sastrawan baik di tingkat nasional maupun
Asia Tenggara. Kehebatannya pun sebagai sastrawan membuatnya meraih penghargaan
dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Melalui karyanya Sembilu Darah lembaga ini memberinya Penghargaan
Penulisan Karya Sastra Tahun 1997.
Sebagai seorang penyair, Papa mempunyai tempat tersendiri dalam khazanah sastra
di Indonesia. Puisi-pusinya amat kuat berpijak pada tradisi lokal yang
berangkat
dari tradisi Minangkabau. Seperti ditulis oleh Dasril Ahmad dalam skripsinya
yang ditulis pada tahun 1986, puisi-puisi Rusli banyak dipengaruhi
cerita-cerita
kaba baik dari segi struktur, persamaan latar dan penokohan maupun unsur
musikalitas atau iramanya. Makanya, nuansa lokal keminangan amat terasa dalam
banyak puisi Papa. Amat jarang penyair yang memilih lokalitas sebagai pijakan
inspirasi puisi, namun Rusli berani melakukannya.
Puisi-puisi Papa adalah puisi dengan lirik-lirik sederhana yang melukiskan
kenyataan hidup yang dialami sehari hari. Di sisi lain puisi-puisi Papa juga
ada
yang bernuansa hiporbolik dan dipenuhi kata-kata simbolik. Tema-temanya
berangkat dari kenyataan sosial, politik, ekonomi, budaya yang dialami
masyarakat di sekitarnya. Ia juga menulis puisi tentang pemberontakan, gugatan
terhadap adat dan tradisi maupun krtitik sosial dan politik. Puisinya berjudul
Putri Bunga Karang adalah gugatan terhadap tradisi. Puisi ini juga
memperlihatkan pengaruh kaba yang amat kuat. Pusi-puisinya seperti Sajak-sajak
Parewa, Sajak-sajak Bulan Pebruari, Beri Aku Tambo Jangan Sejarah, dan Berjalan
ke Sungai Ngiang amat jelas memperlihatkan nuansa lokal dan pengaruh kaba.
Keprihatinan dan kecemasannya terhadap Kota Padang juga ia ungkapkan lewat
puisinya Padang Kotaku.
Sekarang, di usianya yang sudah 71 tahun, Papa masih kelihatan segar dan kuat.
Badannya masih langsing dan sehat karena rajin berolah raga. Ia masih kelihatan
keren dengan celana jeans dan kaus oblong, pakaian kesukaannya. Sehari-harinya
masih aktif dalam berbagai kegiatan terutama menulis dan membaca. Berbagai
karya
terkini baik sastra, filsafat dan pemikiran keislaman tetap dilahapnya. Malam
hari ia beraktivitas di masjid dekat rumahnya. Habis salat subuh ia pergi
maraton hingga jam tujuh pagi.
Namun sebagai seorang penyair, mantan polisi, mantan pejuang, mantan politisi,
wartawan dan budayawan, banyak pergulatan hidup baik duka maupun suka yang
telah
dilaluinya. Membaca sosok Papa adalah membaca riwayat panjang perjalanan hidup
seorang anak manusia dengan berbagai warna-warni yang pernah dilaluinya.
Sebagaimana ditulisnya dalam Monolog dalam Renungan, membaca puisi adalah
membaca sejarah. Begitu pula membaca puisi-puisi Papa, berarti membaca sejarah
hidupnya.
Semangat inilah yang tertuang dalam sajaknya yang berjudul Sebuah Kehadiran:
kamar dan rak buku terlantar
dinding selalu menagih kerja
tak menidurkan tubuh resah terlantar
hujan sama jatuh di samar senja(***)
http://urangminang.wordpress.com/2009/08/21/rusli-marzuki-saria/
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.