Assalamu'alaikum Ww... Kok dulu di rumah gadang sambilan ruang......ruponyo di rantau ado juo carito dan samo.... carito ko tampaknyo fiksi ambo cukiakan dari
http://oase.kompas.com/read/2010/10/14/08271720/Sebuah.Kamar.Merangkap.Rumah-5 Wassalam Z Chaniago - Palai Rinuak .. --------------------- Sebuah Kamar Merangkap Rumah Kamis, 14 Oktober 2010 | 08:27 WIB jakartacity.olx.co.id ilustrasi Oleh: Rina Mahfuzah Nst Melihat menu makan malam itu, menyusut selera makan Reza. Di piring tersedia ikan tongkol dimasak asam padeh dan tumisan kol, dibeli Yanti di warung nasi di depan rumah. Menu makan malam di rumah ini seringkali habis sebelum waktunya. Reza maklum dengan banyaknya penghuni di rumah besar ini. Reza bahkan selalu meredam keinginannya untuk meminta Yanti memasak menu khusus untuknya. Reza makan di kamar, sambil menonton acara TV. Begitu selalu. Kamar empat kali empat yang mereka huni sejak malam pengantin itu, layaknya sebagai rumah. Mereka makan di kamar. Nonton TV di kamar. Menyetel DVD di kamar. Bercanda dengan anak-anak di kamar. Bicara empat mata pun di kamar. Tidak seperti layaknya rumah yang dihuni sepasang suami istri dengan dua orang anak. Sebuah rumah seperti yang selalu didambakan Reza. Ada kamar pribadi. Kamar anak. Ruang keluarga. Ruang tamu. Dapur dan beranda. “Yan, abang ingin sekali mengajak kau dan anak-anak pindah. Kita bisa menyicil sebuah rumah mungil di pinggiran kota,” cetus Reza, saat Alif dan Nisa telah terlelap. Dulu, alasan keengganan Yanti untuk pindah, karena sebagai anak bungsu dia tidak bisa berjauhan dengan keluarganya yang lain. Tapi Reza tidak mungkin terus membenarkan sikap Yanti, karena dalam hidup mereka telah lahir dua buah cinta mereka yang semakin tumbuh besar. Reza memberi contoh, sebuah pot yang ditanami bunga yang kemudian tumbuh membesar, harus dipindahkan ke pot yang lebih besar agar pertumbuhannya lebih baik. Baju Alif dua tahun yang lalu sudah tidak muat lagi di tubuh Alif di usia enam tahun setengah seperti sekarang. Semakin lama, kamar ini pun tidak bisa menampung mereka beserta barang-barang yang ada di dalamnya! “Kita di sini saja, Bang. Rumah ini besar. Kita tidak perlu sampai menyewa,”jawab Yanti setenang air. “Apa kau malu pindah ke rumah yang jauh lebih kecil? Kau lebih suka tinggal di rumah besar ini, dengan segala konsekuensinya buat kita dan anak-anak?”Reza mengejar dengan pertanyaannya. Kepalanya bersandar di sandaran tempat tidur. Di kamar ini berkumpul perabotan dan setumpuk barang. Tempat tidur enam kaki. Tempat tidur anak. Lemari pakaian. Meja rias. Televisi dan raknya. Kipas angin. Beberapa kotak berisi barang-barang milik mereka yang masih harus disimpan. Tak jarang sepulang bekerja, Reza mendapati kamar berantakan. Baju bekas pakai Alif dan Nisa, disangkutkan di cantolan lemari. Mainan Nisa tercampak di lantai. Piring bekas makan masih ditaruk di atas televisi. Belum lagi tumpukan pakaian yang belum disetrika, menambah kesemrautan kamar. Sebenarnya sudah lama Reza tidak merasa nyaman dengan tidurnya. “Konsekuensi apa yang abang maksud? Kenapa Bang Bustami dan Kak Erna yang anaknya sudah besar-besar masih tetap tinggal di sini? Istri atau suami mereka tidak pernah mengajak pindah rumah, karena mereka merasa nyaman tinggal di rumah ini. Kebersamaan itu indah, Bang.” Kata Yanti. Reza terdiam. *** Seperti burung-burung yang pulang ke sarangnya, Reza mengendarai sepeda motornya menuju sebuah rumah di jalan Sisingamangaraja. Kalau saja rumah yang akan dia tuju memberikan kebahagiaan terbesar untuknya, tentu perasaan Reza tidak akan segalau ini. Di persimpangan Jalan Juanda Baru-Halat, traffic light menunjukkan tanda berhenti. Di sepanjang jalan, mulai banyak penjual makanan menjajakan aneka makanan. Dari roti cane, martabak kubang, lontong malam, nasi uduk dan sebagainya. Di dalam hatinya yang terdalam, sebenarnya Reza ingin sekali memilih salah satu dari makanan yang berderet itu. Membawa untuk istri dan ke dua anaknya, kemudian melahapnya bersama-sama. Sampai lampu hijau menyala, Reza hanya memerhatikan, tapi tak berniat membelinya. Dia malah teringat sindiran Bang Bustami, saat dia menyantap martabak kubang bersama Yanti dan ke dua anaknya di dalam kamar. “Makan tu pencarian kalian. Baru beli martabak aja udah sombong. Lain kali kalau beli makanan jangan tanggung-tanggung. Sudah tahu di rumah ini orangnya banyak.” Reza menghela nafas. Memang benar. Di rumah itu tidak hanya ada Reza dan keluarga kecilnya, tapi juga beberapa keluarga yang lain dari pihak istrinya. Ada ibu mertua, ada kakak ipar beserta suami dan ke tiga anaknya. Ada abang ipar bersama istri dan ke empat anaknya. Di rumah berlantai dua itu juga tinggal empat keponakan Yanti, yang dititipkan orang tua mereka di Medan untuk melanjutkan sekolah. Orang tua mereka ada yang di Bukit Tinggi, Palembang, bahkan Malaysia! Sebagian orang, mungkin memandang kagum pada rumah berlantai dua, berisi tujuh kamar peninggalan almarhum Haji Muhammad Saleh itu. Ada beberapa keluarga tinggal di dalamnya, tak pernah terdengar keributan menyeruak. Di daerah itu, nama almarhum mertua Reza memiliki karisma yang besar. Karisma yang melekat erat pada diri almarhum, karena perjuangan beliau sejak merantau ke Medan tidak sia-sia. Beliau merintis usaha dari nol sampai memiliki rumah berlantai dua dan beberapa rumah sewa beserta kios di depan jalan. Usaha keluarga yang masih diteruskan abang ipar Reza adalah warung sate goyang lidah yang digandrungi banyak orang. Namun tidak seorang pun tahu, dalam hati kecilnya, Reza acapkali merasa sendiri di tengah keriuhan yang kerap muncul di rumah itu. Dia selalu ingat pesan dari emaknya, bagaimanapun sebagai lelaki dia lebih baik mempunyai rumah sendiri dari hasil kerja kerasnya..Sebagai ibu, mungkin emak dapat merasakan, kalau Reza sering merasa kurang dihargai dan dipandang sebelah mata oleh ipar-iparnya di rumah itu. Terbayang di pelupuk mata Reza, bagaimana sikap mereka saat di tahun pertama perkawinannya, perusahaan di bidang elektronika tempat Reza bekerja gulung tikar. Reza sering disindir-sindir, bahkan kealfaan Reza bekerja disiarkan Bang Bustami ke beberapa tetangga dan kerabat. Padahal Reza bukan lelaki minus tanggung jawab. Begitu pula ketika Reza dapat pekerjaan baru dan harus pulang larut malam, tetap saja Reza mendapatkan cemoohan. Alangkah wajar bila kini Reza ingin mengajak Yanti pindah rumah. Selama dua tahun terakhir ini, Reza mendapatkan posisi yang lumayan di kantornya. Jabatannya sebagai seorang staff humas di perusahaan supplier alat-alat kehutanan, membuat Reza sering membawa tamu-tamu perusahaan ke tempat-tempat hiburan di seantero Kota Medan. Tidak semua uang titipan dari bos dihambur-hamburkan Reza untuk para tamu yang notabene lelaki haus hiburan itu. Sebagian dia simpan di kantongnya sendiri. Perlahan, tapi pasti Reza mulai mengisi lumbung uangnya di Bank! *** "Za…” Malam itu Bustami menegur Reza dan ingin mengajak bicara. Wajahnya tampak jauh lebih serius dari biasanya. Bustami mengajak Reza bicara di pekarangan rumah. Ada sebuah bangku panjang terbuat dari kayu, letaknya persis berada di bawah pohon mangga. Di situ tidak ada siapa-siapa, selain mereka berdua. “Ada apa, Bang? Sepertinya serius.” Kata Reza sambil duduk di sebelah Bustami. Bustami menghisap rokoknya, lalu menghembuskannya perlahan. Reza berfikir tentang apa yang akan dikatakan abang iparnya. Selama ini, jarang sekali mereka mengobrol berdua seperti ini. Bustami lebih sering berada di warungnya dan Reza pun belakangan ini sering pulang malam ke rumah. Mereka berdua masing-masing sibuk dengan pekerjaan ataukah memang mereka susah untuk saling akrab? Benak Reza bertanya. Tapi Reza sendiri tak tahu jawabannya. “Za, berapa lama kau sudah tinggal di rumah ini? Tentu kau sudah tahu bagaimana seluk-beluknya sampai ke kamarmu, bukan?” tanya lelaki berkumis itu. “Pertanyaan abang kok lucu? Abang juga tahu aku dan Yanti sudah tinggal di rumah ini sejak kami menikah. Jadi aku tentu sudah tahu bagaimana seluk beluk rumah ini, apalagi kamarku dan Yanti beserta anak-anak.” Jawab Reza masih tak paham dengan maksud Bustami sebenarnya. “Lalu kenapa kau dan Yanti bisa kecolongan, Za?” “Kecolongan bagaimana maksud abang?” kening Reza berkerut, lagi-lagi Bustami menanyakan pertanyaan yang tak dia pahami. “Aku dan istriku lebih lama tinggal di rumah ini, Za. Kami juga pernah merasakan berada satu kamar dengan anak-anak kami, tapi kami selalu aman dari masalah yang paling sensitif di antara kami berdua.” Ujar Bustami sambil menatap adik iparnya. Reza, yang ditatap justru seperti orang bingung. “Bang, aku sama sekali tidak paham dengan apa yang abang bicarakan. Sebenarnya apa yang ingin abang sampaikan padaku? Kumohon jangan buat aku menjadi bingung seperti ini.” Reza balas menatap abang iparnya. “Kau janji tidak akan marah padaku, pada Pian-anakku, bahkan kepada Alif dan Nisa?” :”Tidak, sama sekali tidak, bang. Kenapa aku harus marah?” balas Reza sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Maka berceritalah Bustami. Suatu siang, saat anak-anak mereka sedang bermain bersama, tiba-tiba Nisa menceritakan apa yang telah dia lihat di dalam kamar, diantara ayah dan ibunya. Lalu Pian menyampaikan kembali tentang apa yang telah didengarnya kepada Bustami. Malahan anaknya itu menambah pertanyaan menurut versi pikirannya sebagai anak kelas empat SD. Dari situ Bustami mengetahui bahwa dia dan Yanti telah kecolongan. “Astaghfirullahal’adzim,”Reza mentutup mulutnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun perasaannya menjadi sangat tidak enak! “Lain kali main cantik lah, jangan sampai ketahuan sama anak,” Kata Bustami serius, sambil menepuk bahu Reza beberapa kali, kemudian beranjak pergi. Reza terhenyak. Tidak tahu bagaimana harus menyembunyikan rasa malunya, bahkan dia lupa mengucapkan terima kasih pada abang iparnya itu! “Kita harus pindah dari sini, Yan. Kita tidak mungkin melanjutkan hidup kita di sini,” buru-buru Reza masuk ke kamar. Sebuah pakaian yang sedang di pangkuan Yanti, urung dilipatnya. “Bang, setiap hari abang ngomongin soal pindah dan pindah. Apa nggak ada lagi topik pembicaraan abang yang lain?” protes Yanti. “Pokoknya kita harus pindah. Abang akan mencari rumah baru buat kita. Secepatnya kau benahi barang-barang kita.” “Aku nggak mau pindah! Aku mau kita tetap tinggal di sini saja! Kenapa abang ngotot mau pindah? Abang mau memisahkan aku dari ibu dan saudara-saudaraku? Jangan-jangan masalahnya ada pada diri abang. Abang tidak bisa menyesuaikan diri tinggal bersama keluarga yang lain di rumah ini!” Plak! Naluri kelelakian Reza sukses tertantang. Rasa amarah begitu besar merasuk di dalam hatinya. Lemari pakaian tiga pintu dipukulnya, sehingga mengeluarkan bunyi yang keras! Yanti menatap lekat Reza. Sepanjang hidup perkawinan mereka, belum pernah Reza sekasar ini. “Kalau begitu pindah saja abang sendiri, biar aku dan anak-anak di sini saja!” Reza semakin emosi. “Istri yang baik, pasti akan ikut ke mana suaminya pergi. Kalau begitu, istri macam apa kau, Yan? Kau tak pernah mau mendengarkan omongan suamimu!” suara Reza meniggi diikuti suara pintu dibanting keras. *** “Sampai kapan kita akan menetap di kamar itu, Yan? Berapa lama lagi kita harus tidur menyatu dengan barang-barang yang ada di dalam kamar kita? Untuk alasan apa kau tetap ingin bertahan tinggal bersama ibu dan dua saudara kandungmu beserta para keponakanmu di bawah satu atap? Tidak inginkah kau hidup tenang bersama abang dan ke dua anak kita?” Pertanyaan demi pertanyaan itu menggema dalam hati Reza, tapi tidak sampai ke telinga Yanti. Malam itu Reza tidak benar-benar pulang ke rumah, melainkan ke rumah sakit! Dengan amarah yang masih menggunung di hatinya, Reza melarikan sepeda motornya tanpa memperhitungkan keselamatannya. Reza benar-benar ingin keluar dari semua masalah yang dihadapinya. Dengan keruwetan yang sedang melanda pikirannya, tak sadar sepeda motor Reza disenggol sepeda motor lain. Reza dan lelaki yang menyenggolnya sama-sama terjatuh dan mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuh mereka. Masih untung Reza tidak mengalami pendarahan ataupun patah tulang! Masih untung setelah jatuh, mereka berdua tidak dihantam oleh mobil atau pengendara lainnya, karena sejumlah orang dengan cepat mengangkat tubuh mereka ke rumah penduduk terdekat. Penghuni rumah besar itu mengunjungi Reza di rumah sakit secara bergantian. Memberi perhatian dan doa untuk kesembuhannya. Reza tidak tahu harus merasa senang dengan perhatian mereka atau sebaliknya, karena masih saja dorongan untuk pindah rumah bercokol di pikirannya! Mendesak batinnya! Namun, saat ini dia hanya bisa berbaring, menahankan sakit yang belum mereda di sekujur tubuhnya. Tapi lihat aja nanti, bisik Reza dalam hati. Matanya lurus menatap ke langit-langit kamar. Setelah keluar dari rumah sakit ini, setelah luka-lukanya sembuh, dia akan menceritakan apa yang telah didengarnya dari Bang Bustami pada Yanti. Biar Yanti tahu seperti apa yang dirasakannya, agar istrinya itu dapat memaklumi alasan terkuatnya untuk segera pindah rumah! Medan, 28 April 2009 -- Z Chaniago - Palai Rinuak Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau . Sayangi Danau Maninjau - -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
