Pak Riri,

mungkin bukan masalah pilih kasih, atau salah strategi atau salah kebijakan.
Tapi memang realitanya alat tsb ada hanya di dekat pantai padang
(sumatra), da tidak dipasang di barat mentawai.
Minimal menurut berita di bawah ini...

wassalam
fitr tanjuang
----

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/10/27/142695-ini-dia-pendorong-banyaknya-korban-di-mentawai

Republika OnLine » Breaking News » Nasional
Ini Dia Pendorong Banyaknya Korban di Mentawai
Rabu, 27 Oktober 2010, 00:12 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Banyaknya korban akibat tsunami di Kepulauan
Mentawai, Sumatera Barat, disebabkan karena Kepulauan Mentawai tidak
memiliki alat pemantau gelombang atau tide gauge. Alat tersebut hanya
terpasang di Padang dan pantai-pantai sekitarnya. “Karena ketiadaan
alat itu, tsunami Mentawai tidak terpantau. Kami saja baru tahu hari
ini (26/10),” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG,
Mochammad Riyadi, berdasarkan laporan Harian Singgalang, Selasa
(26/10).

Maka dari itu, tsunami yang terpantau hanya yang terjadi di Padang.
Itu pun, lanjutnya, tsunami dengan skala kecil yakni 0,461 meter.
“Pemerintah tidak salah jika mencabut status potensi tsunami, karena
untuk di daratan Sumbar aman,” lanjutnya.

"Sayangnya, alat pemantau gelombang di pesisir Padang, tidak
meraung-raung seperti dalam latihan tsunami," ungkap Ipes Andesta
Pessel, salah satu warga Kota Padang. Ia menuturkan, sirine di Taman
Budaya dapat berbunyi saat peringatan setahun gempa pada 30 September
lalu.

“Saat gempa dan berpotensi tsunami pada Senin (25/10), malah tidak
berbunyi,” ucapnya. Padahal, lanjutnya, masyarakat begitu mengandalkan
alat tersebut sebagai bentuk kewaspadaan. Maka dari itu, saat terjadi
gempa dan tidak ada bunyi sirine, masyarakat langsung panik. Seketika,
warga langsung berlarian menuju ke daerah lebih tinggi. Selain di
Taman Budaya, alat pemantau gelombang di Pasar Tiku dan Agam, juga
tidak berbunyi.



2010/10/26 Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>:
> Fitr,
>
> Mungkin ada baiknya kita berpikir agak netral (kalaupun tidak positif) 
> sedikit, dengan tidak serta merta menganggap adanya kesalahan sistem 
> pendeteksian dan penanggulangan bencana.
>
> Saya rasa pihak otoritas tidak sembrono untuk pilih kasih antara Sumbar 
> daratan dengan Kepulauan Mentawai. Otoritas di bidang itu kan Pemerintah 
> (pusat), jadi mereka tidak akan melihat pembatasan wilayah administratif.
>
> Masalah gempa di Sumbar itu kan isu yang menarik perhatian internasional, 
> jadi otoritas tidak akan gegabah.
>
> Juga, disitu ada civitas academica yang tentunya juga sangat concern thd itu. 
> Saya yakin Unand ga diam2 aja kok.
>
> Riri
> 48/L/bekasi
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke