Fitr, terimakasih penjelasannya.

Komentar saya sebelumnya adalah karena saya ingin mengappreciate semua pihak
yang terlibat dalam pendeteksian dan penanganan bencana.
Dalam bayangan saya, karena untuk bagian Barat pulau Sumatera ini sudah
menarik perhatian Internasional, maka mereka (pengamat maupun peguruan
tinggi) akan "bersuara" kalau ada yang kurang dalam sistem yang dijalankan
oleh Otoritas.

Tapi ternyata ekspektasi saya "belum kena".

Hehe, maaf Fitr. Sekali lagi terimakasih


RIri
48/L/bekasi






2010/10/27 Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>

> Fitr,
>
> Kalau begitu, harusnya posting yang tadi nak pakai kata "mungkin" kali ya.
>
> Riri
> 48/L/bekasi
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: Fitr Tanjuang <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Tue, 26 Oct 2010 13:41:15
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [...@ntau-net] Indonesia tsunami kills 23, leaves scores
> missing
>
> Pak Riri,
>
> mungkin bukan masalah pilih kasih, atau salah strategi atau salah
> kebijakan.
> Tapi memang realitanya alat tsb ada hanya di dekat pantai padang
> (sumatra), da tidak dipasang di barat mentawai.
> Minimal menurut berita di bawah ini...
>
> wassalam
> fitr tanjuang
> ----
>
>
> http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/10/27/142695-ini-dia-pendorong-banyaknya-korban-di-mentawai
>
> Republika OnLine » Breaking News » Nasional
> Ini Dia Pendorong Banyaknya Korban di Mentawai
> Rabu, 27 Oktober 2010, 00:12 WIB
>
>
> REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Banyaknya korban akibat tsunami di Kepulauan
> Mentawai, Sumatera Barat, disebabkan karena Kepulauan Mentawai tidak
> memiliki alat pemantau gelombang atau tide gauge. Alat tersebut hanya
> terpasang di Padang dan pantai-pantai sekitarnya. “Karena ketiadaan
> alat itu, tsunami Mentawai tidak terpantau. Kami saja baru tahu hari
> ini (26/10),” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG,
> Mochammad Riyadi, berdasarkan laporan Harian Singgalang, Selasa
> (26/10).
>
> Maka dari itu, tsunami yang terpantau hanya yang terjadi di Padang.
> Itu pun, lanjutnya, tsunami dengan skala kecil yakni 0,461 meter.
> “Pemerintah tidak salah jika mencabut status potensi tsunami, karena
> untuk di daratan Sumbar aman,” lanjutnya.
>
> "Sayangnya, alat pemantau gelombang di pesisir Padang, tidak
> meraung-raung seperti dalam latihan tsunami," ungkap Ipes Andesta
> Pessel, salah satu warga Kota Padang. Ia menuturkan, sirine di Taman
> Budaya dapat berbunyi saat peringatan setahun gempa pada 30 September
> lalu.
>
> “Saat gempa dan berpotensi tsunami pada Senin (25/10), malah tidak
> berbunyi,” ucapnya. Padahal, lanjutnya, masyarakat begitu mengandalkan
> alat tersebut sebagai bentuk kewaspadaan. Maka dari itu, saat terjadi
> gempa dan tidak ada bunyi sirine, masyarakat langsung panik. Seketika,
> warga langsung berlarian menuju ke daerah lebih tinggi. Selain di
> Taman Budaya, alat pemantau gelombang di Pasar Tiku dan Agam, juga
> tidak berbunyi.
>
>
>
> 2010/10/26 Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>:
> > Fitr,
> >
> > Mungkin ada baiknya kita berpikir agak netral (kalaupun tidak positif)
> sedikit, dengan tidak serta merta menganggap adanya kesalahan sistem
> pendeteksian dan penanggulangan bencana.
> >
> > Saya rasa pihak otoritas tidak sembrono untuk pilih kasih antara Sumbar
> daratan dengan Kepulauan Mentawai. Otoritas di bidang itu kan Pemerintah
> (pusat), jadi mereka tidak akan melihat pembatasan wilayah administratif.
> >
> > Masalah gempa di Sumbar itu kan isu yang menarik perhatian internasional,
> jadi otoritas tidak akan gegabah.
> >
> > Juga, disitu ada civitas academica yang tentunya juga sangat concern thd
> itu. Saya yakin Unand ga diam2 aja kok.
> >
> > Riri
> > 48/L/bekasi
> >
> >
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>  1. E-mail besar dari 200KB;
>  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>  3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke