Terima kasih Angku Herman memforwardkan keterangan itu. Geologist Awang 
memberiknnya dengan kalimat-kalimat yang dapat dicerna umum walapun memang 
kadang-kadang terpaksa menggunakan istilah-istilah teknis yang perlu kita 
pelajari lagi, kalau berminat. Saya sendiri dalam posting terdahulu misalnya 
menggunakan istilah homemade MakNgah sendiri "Tapi Cipia" (sepanjang bagian 
barat pantai Sumatera itu), untuk untuk "batas lempeng" yang dimaksud beliau. 
Namun, saya anjurkan adidunsanak di Lapau membacanya sehingga kita dapat 
menyimak latar belakang berita dan kejadian bencana alam ini dengan baiak.

Saya ingat kita juga punya seorang geologist ulung juga di Bandung, yang juga 
pernah anggota Lapau kita ini dahulu, Angku St. Rajo Di Langik, Urang 
Mandiangin Kurai awak Bukittinggi. Dimaa lah baliau kini eeh? Rindu awak.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], Herman Moechtar <hmoech...@...> wrote:
>
> Sedikit pemahaman mengenai gempa Mentawai oleh Awang S (ahli geologi 
> Universitas 
> Padjdjaran Bandung)
> 
> Wassalam,
> Herman Moechtar
> 
> ----- Forwarded Message ----
> From: Awang Satyana <awangsaty...@...>
> To: Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia <fo...@...>
> Cc: IAGI <iagi-...@...>; Geo Unpad <[email protected]>; 
> Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>
> Sent: Tue, October 26, 2010 5:58:52 PM
> Subject: [Geo_unpad] Bls: [Forum-HAGI] Indonesia tsunami kills 23, leaves 
> scores 
> missing
> 
>   
> Ketika penduduk Jakarta banyak yang terlambat pulang ke rumah sampai tengah 
> malam/dini hari karena dihadang banjir di mana-mana, pada saat yang sama 
> penduduk pulau-pulau sebelah selatan Mentawai diserbu tsunami yang menyerbu 
> kampung-kampung mereka.
>  
> Gempa Mentawai (Pagai selatan) 25 Oktober 2010 pukul 21.42.22 WIB semalam, 
> meskipun sempat menimbulkan perdebatan yang menyebabkan 
> dicabutnya peringatan tsunami, jelas tsunamigenic earthquake. Keempat 
> syaratnya 
> dipenuhi: 1. gempa berepisentrum di laut, 2. pematahannya vertikal (thrust, 
> reverse, normal faults), 3. kedalamannya dangkal (<30 km), dan 4. 
> magnitudenya 
> termasuk besar (>7,0 M).
>  
> Episentrum gempa berlokasi di 3.484 S dan 100.114 E (sebelah selatan Pulau 
> Pagai, Mentawai; 280 km selatan Padang), pematahan gempa berdasarkan solusi 
> momen tensor adalah sesar anjak (thrust) dengan jurus UBL-STenggara (326 deg 
> NE, 
> dip 12 deg), kedalaman 20,6 km dan magnitude 7,7 M.
>  
> Kompas.com mencatat tinggi run up tsunami 2,0 meter dan sebuah TV sore ini 
> melaporkan 23 orang tewas dan lebih dari 100 orang hilang tersapu gelombang.
>  
> Melihat arah jurus pematahan batuan yang UBL-STenggara dan slip sesar naik  
> dengan jelas menunjukkan bahwa gempa kemarin masih satu kelompok dengan 
> gempa-gempa besar di wilayah ini sejak gempa Aceh Desember 2004. Kedalaman 
> gempa 
> dan posisi episentrum di selatan Pagai menunjukkan bahwa pematahan hampir 
> terjadi di batas lempeng (interface) antara lempeng samudera Hindia dan kerak 
> akresi sebelah barat Sumatra. Konvergensi kedua lempeng di sini berjalan 
> dengan 
> kecepatan 57-69 mm/tahun. Dalam konvergensi ini sering terjadi pematahan 
> batuan 
> secara sesar naik sebagai bagian deformasi di prisma akresi. Zone ini kaya 
> gempa 
> dan telah menimbulkan rupture zone yang luas dari Aceh ke Bengkulu. 
> 
>  
> Lokasi episentrum gempa yang sekarang terjadi di dekat lokasi episentrum 
> gempa 
> bermagnitude 8,5 dan 7,9 Mw pada September 2007, terjadi di rupture zone 
> kedua 
> gempa tiga tahun yang lalu itu. Gempa Aceh 9,1 M pada Desember 2004, 800 km 
> ke 
> arah utara dari gempa semalam, gempa Nias 8,6 M pada 2005, 700 km ke arah 
> utara, 
> dan gempa Padang tahun 2009 yang lalu (7,5 M) 300 km ke arah utara dari 
> episentrum gempa semalam berada di rupture zone yang sama. Juga gempa 
> semalam berlokasi di rupture zone gempa 8,7-8,9 Mw tahun 1797 dan gempa 
> 8,9-9,1 
> Mw tahun 1833.
>  
> Hati-hati, untuk semua penduduk di pulau-pulau sebelah barat Sumatera dan 
> pantai 
> barat Sumatera, mereka bersebelahan atau berlokasi di dalam rupture zone 
> gempa-gempa besar sejak 220 tahun yang lalu sepanjang sekitar 1200 km, dan 
> banyak gempa di sini berhubungan dengan mekanisme penyesaran naik 
> (Sunda-megathrust) yang kerap menyebabkan tsunami kalau episetrumnya di 
> laut...
>  
> Ada peringatan tsunami atau tidak, bila di pantai terasa gempa, segeralah 
> lari 
> menuju tempat tinggi dan tunggu satu-dua jam di sana sebelum situasi 
> benar-benar 
> aman...
>  
> salam,
> Awang
> 
> --- Pada Sel, 26/10/10, Rovicky Dwi Putrohari <rovi...@...> menulis:


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke