Sabtu, 06 November 2010
Kritik pada Irwan Prayitno Over Dosis
Padang - Komentar tentang kunjungan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno ke Jerman,
dinilai sejumlah pihak sudah over dosis, karena itu obyektifvitasnya bias.
“Latah dan over dosis, “ kata pengamat politik lokal Masful, kemarin.
“Berlebihan, semacam pembantaian,” kata anggota DPR asal Sumbar Nudirman Munir.
Over dosis
Masful menilai, ibarat permainan bola volly, kepergian Irwan ke Jerman adalah
bola cogok. Begitu muncul di depan net langsung dipukul orang. “Itulah yang
terjadi, saya setuju Irwan dikritik, tapi saya lihat justru kini sangat
berlebihan, tak suka saya,” kata dia.
Bagi Nudirman Munir, ada tiga hal yang mesti dilihat, sisi angggaran,
ketatanegaraan dan hubungan baik. “Jani sudah terbuat, tiket sudah terbeli hotel
sudah terpesan, dibatalkan anggaran mubazir, hubungan baik rusak,” kata dia.
Lagi pula kata Wagub Muslim Kasim, Irwan sudah tiga malam di Mentawai. “Pak
Gubernur tiga malam di mentawai tak disebut-sebut,” kata dia.
Arti penting
Kunjungan Irwan Prayitno ke Jerman memiliki arti strategis bagi Sumbar.
Momentum
penting agar bisa menarik investasi, terutama di bidang energi untuk kemajuan
daerah ini sangat sayang dilewatkan. Namun, ini tidak menghalangi perhatian
terhadap penanganan bencana gempa dan tsunami di Mentawai.
Anggota DPD, Riza Pahlevi, Jumat (5/11) menilai tampilnya gubernur sebagai
pembicara dalam forum Indonesia Bussiness Day di Frankfurt Jerman akan memberi
banyak manfaat bagi Sumbar. Dari banyak agenda gubernur di sana, seperti
menggalang investasi, menghimpun bantuan gempa, ia melihat peluang penting
dalam
menggali potensi Sumbar di bidang energi.
Dipilihnya Sumbar bersama beberapa provinsi lain di Indonesia dalam pertemuan
itu tidak terlepas dari potensi energi terbarukan yang dimiliki Sumbar. Menurut
Riza, Sumbar memiliki potensi besar di bidang energi terbarukan, terutama
energi
air dan panas bumi. “Kita bisa menghasilkan 5.000 megawatt listrik dari panas
bumi. Itu setengah dari potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia. Kita
punya peluang menggali potensi itu karena Jerman dan negara Eropa secara umum
konsen dengan pengembangan green energy,” ujar Riza.
Saat ini potensi sumber air dan panas bumi Sumbar belum terkelola dengan baik.
Padahal, ketika mampu menguasai sumber energi ini, Sumbar bisa bergerak lebih
maju dan menjadi lirikan investasi. Energi inilah nantinya yang akan menjadi
daya tarik dan menghidupkan industri dan kegiatan ekonomI.
Riza mengaku punya pengalaman mendatangkan investasi untuk pabrik coklat ke
Sumbar, namun kendala ketersediaan listrik kemudian menyurutkan minat investor.
Realitasnya, listrik di daerah ini bermasalah, padahal itu sangat penting dalam
menggerakkan ekonomi.
“Kalau kita ingin bersaing, kita harus punya keunggulan. Kita bisa menjadi
tempat investasi terbaik. Kita punya energi terbarukan. Ini hikmah daerah kita
yang rawan gempa. Kunjungan gubernur ke Jerman menjadi momentum penting untuk
menarik investasi di bidang energi terbarukan,” tambah Riza.
Sumbar harus berlari cepat karena daerah ini masih terpuruk dengan tingginya
angka kemiskinan. Untuk berlari cepat itu diperlukan langkah-langkah yang tak
biasa, seperti dengan menggali potensi energi terbarukan yang dimiliki Sumbar.
Semua ini tentunya tentang kemajuan Sumbar ke depan dan kebetulan momentum ada
saat ini. Riza mengakui ada persoalan sensitif terkait dengan kepergian
gubernur
yang bertepatan dengan musibah gempa dan tsunami di Mentawai.
Gubernur sendiri memiliki agenda untuk mepresentasikan masalah bencana,
sehingga
bisa menarik bantuan internasional. Penanganan gempa dan tsunami sendiri
menurut
Riza tetap menjadi perhatian khusus gubernur.
Komitmen gubernur dalam mengatasi bencana tegas Riza seharusnya tidak
disangsikan lagi. Ketika tsunami Mentawai, gu bernur tiga hari berada di lokasi
bencana. Ia tidur bersama korban, mempertaruhkan nyawa dengan kondisi cuaca
yang
tidak ber sahabat. Demikian pun dalam penanganan gempa 2007 dan 2009.
Sekian lama persoalan bantuan gempa 2007 dan 2009 terkatung-katung, namun dalam
dua bulan kepemimpinannya, gubernur mampu merealisasikan bantuan tersebut.
“Saya
paham ada persoalan sensitivitas dengan korban gempa. Namun, masyarakat bisa
melihat sendiri apa yang telah dilakukan gubernur. Kita serahkan saja
masyarakat
yang menilai,” ujar Riza lagi.
Penanganan gempa dan tsunami Mentawai terus berjalan. Di mana pun berada,
gubernur tetap melakukan koordinasi dengan pejabat terkait. Apalagi terang
Riza,
wakil gubernur sendiri turun langsung melakukan koordinasi.
Kontroversi
Menurut Budiman Sudjatmiko dari Komisi II DPR tidak pas seorang kepala daerah
meninggalkan daerahnya yang sedang dilanda bencana. Karenanya Komisi II yang
membidangi pemerintahan dalam negeri perlu mengklarifikasi kepergian Irwan ke
Jerman.
Sebab, dia mendengar informasi kepergiannya tidak mendapat izin Menteri Dalam
Negeri Gamawan Fauzi. “Saya akan usulkan begitu reses selesai, panggil Mendagri
dan Gubernur Sumbar. Apakah sudah ada izin atau belum. Seandainya tidak ada
izin, ada pelanggaran kewenangan di sana,” kata Budiman.
Sementara Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera
(PK)
yang juga anggota Komisi II DPR dari FPKS, Aus Hidayat Nur berjanji dari partai
akan meminta klarifikasi kepada Irwan mengenai maksud dan tujuan dari
kepergiannya ke Jerman.
“Namun sebelum ada klarifikasi lebih lanjut, kita tidak bisa memberikan sanksi
apapun. Saya juga sudah berusaha menghubungi beliau tapi sampai sekarang belum
bisa,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumbar, Boy Lestari Dt.
Palindih menilai pula kunjungan gubernur ke Jerman tidak perlu diperdebatkan
panjang lebar. Gubernur memenuhi undangan resmi, tidak hanya membawa
kepentingan
daerah bahkan kepentingan nasional.
Tampil di forum resmi di negara lain seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri
bagi masyarakat Sumbar. “ Kita berpikir positif saja. Gubernur juga pergi bukan
untuk kepentingan Irwan sebagai pribadi. Ini kepentingan daerah bahkan
nasional.
Seharusnya kita bangga mendapat perhatian dari Jerman,” ujar Boy. (014)
Untuak barita nan ambo fotokopi dari Harian Singgalang (Jumat 12/11/2010) ko,
ambo hanyo dapek malontarkan komentar apo adonyo :
Nan jaleh dari suduik ilmu komunikasi, visi sasaurang dalam mancibuak urang
lain
tagantuang pado pangatauannyo bake urang itu dan di pihak ma inyo tagak?
Pandapaik Dunsanak nan lain?
Salam.............................,
mm***
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.