Tangkap Penyebar Pesan Pertakut

Biaya murah layanan short massage service (SMS) atau pesan singkat di
handphone ternyata dimanfaatkan orang-orang jahil. Orang yang tidak memiliki
hati nurani menyebarkan kabar pertakut. Mengabarkan gempa dan tsunami
terjadi tanpa data dan fakta yang jelas.

SMS itu tidak satu, tapi sudah sampai ribuan. Tidak satu orang yang menerima
SMS pertakut itu, sudah ratusan bahkan ribuan. SMS sudah seperti teroris.
Mempertakut orang banyak, membuat kacau kehidupan di masyarakat.

Ada-ada saja bunyi SMS-nya. Mulai dari menyebutkan tanggal bakal terjadinya
gempa dan tsunami, bahkan menyatakan aktivitas diliburkan berdasarkan
intruksi presiden (Inpres). Sudah aneh-aneh saja kerja orang iseng ini.

Lalu, SMS itu mencatut nama-nama orang penting. Sebut saja Gubernur Sumatra
Barat, Irwan Prayitno, tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
dan lainnya.

Mengirim SMS memang murah. Bahkan ada operator yang memberikan bonus SMS
gratis beribu-ribu banyaknya. Hanya saja, layanan ini dimanfaatkan orang
untuk membuat takut bahkan bisa jadi mengeruk keuntungan. Satu SMS dikirim,
bisa sampai ke beribu-ribu orang. Kalau sudah dibaca, yakinlah ada di antara
si penerima SMS itu yang takut.

Masyarakat yang labil dan mudah percaya dengan isu SMS itu lalu mengungis
lari ke tempat yang aman menyelamatkan diri. Saat itulah, bisa jadi si
pengirim SMS mengambil keuntungannya dengan menjarah isi rumah.
Hal ini pernah terjadi. Masyarakat yang masih trauma dengan gempa, lalu
ditakut-takuti lewat SMS kemudian mengungsi. 

Saat itulah terjadi aksi penjarahan isi rumah. Kabar terjadinya selalu
berpindah-pindah. Ada yang menyebutkan di Pariaman, lalu Padang, selanjutnya
Painan setelah itu entah kemana lagi isu disebarkan.
Kalau sudah begini, sudah sepatutnyalah polisi sebagai pelindung dan
pengayom masyarakat mengambil tindakan menangkap pelaku. Perbuatan mengirim
SMS berisi kabar pertakut sudah meresahkan. Si pemberi Hal ini sudah tidak
main-main lagi kabar pertakut itu, akhir-akhir ini lebih nekat lagi. Tidak
sungkan member kabar menelepon langsung. 

Polisi segera mengambil tindakan dengan meredam isu itu dengan menangkap si
pengirim SMS untuk meminimalisir keadaan. Bekerjasamalah dengan operator
seluler yang menyediakan layanan SMS itu. Nomor si pengirim itu bisa dilacak
dan selanjutnya ditangkap. Kasihan dengan masyarakat yang ketakutan dengan
SMS itu. SMS menjadi hantu bagi mereka. 

Teror lewat SMS ini sudah membikin resah masyarakat terutama yang tinggal di
pesisir. Kalau sudah takut begitu, banyak dampak di belakangnya. Bisa saja
ada yang memilih tidak lagi tinggal di Sumatra Barat ini. Kalau sudah ribuan
yang memilih kabur, berbahaya juga. 
Apalagi yang kabur itu ternyata investor. Tidak jalan perekonomian di Sumbar
ini. Kalau sudah begitu, bisa membuat lumpuh. Padahal , Sumbar sedang
giat-giatnya menjaring inevestasi.

Soal kapan gempa atau tsunami terjadi terjadi itu urusan Allah, bukan
perkara manusia. Dialah yang memiliki kuasa kapan bencana itu terjadi. Jadi
bukan SMS lah menentukan gempa dan tsunami itu datang. Polisi perlu didesak
menyelesaikan keresahan di masyarakat.(*)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2034

Fend
34M-Cikasel


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke