Ass Wr Wb Ajo Duta serta adi dunsanak kasadonyo,

 

Memang harus cando itulah hendaknyo menjadi seorang pemimpin,yang bisa
merasakan apo yang dirasokan oleh rakyatnya.Ba a rasonyo naik pesawat kelas
ekonomi,ba a rasonyo makan di emper2, ba a rasonyo maliek hiruak pikuaknyo
balai nan rami,ba a rasonyo maliek kalibuiknyo pedagang kaki limo,ba a
rasonyo beliau maliek semrawutnyo terminal angkot dan lahan
parkiran,dsb.dsb.

 

Supayo dengan melihat itu semua,beliau sebagai seorang pejabat yang
berwenang akan dapat mengkoordinasikannya dengan pihak2 terkait,untuk
melakukan perbaikan2 di sana sini,yang dianggap perlu.

 

Terkadang nan mambuek ambo rusuah,adalah maliek fenomena bersih2 yang
dilakukan aparat, sebelum seorang pejabat berwenang melakukan sidak ke
lapangan,semuanya dibersihkan,semuanya dirapikan seolah2 semua berjalan
aman,damai,teratur & rapi (Pedagang Kaki lima dibersihkan,tukang ojek
dibersihkan,sampah2 dibersihkan,angkot2 ditertibkan dsb).Padahal kondisi ini
bukanlah kondisi yang objektif sehari2,yang seharusnya dimengerti betul oleh
seorang pejabat yang berwenang.

 

Entah apa maksud dari kegiatan bersih2 ini semua?Padahal besok harinya,akan
semrawut dan berantakan kembali.

 

Dari sini kelihatan sekali bahwa kita sebetulnya masih merupakan bangsa yang
sangat RIA..dan tidak jujur kepada diri kita sendiri.

 

Ambo berharap Pak Gubernur kita ini,akan dapat menjadi contoh dan suri
tauladan yang baik hendaknya bagi pejabat2 dibawahnya,Amin.

 

Wasalam,

Kurnia Chalik

 

 

  _____  

Dari: ajo duta <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 15 Desember, 2010 19:26:56
Judul: Re: [...@ntau-net] Bila Gubernur di Kelas Ekonomi

Kesederhanaan pejabat ko kebanyakan dari partai tertentu nan memang

alah menjadi pakaian mereka sehari hari. Bagi awak nan tabiaso mancaliak 

urang pakai "aji mumpung", tantu agak aneh. Tapi indak aneh bagi mereka.

Ambo acok katempatan liau liau tu kalau bakunjung ka Washington. Mereka

labiah mamiliah lalok dirumah rakyat badarai katimbang di hotel. Walau
kadang

dirumah cuma lalok di sofa. IP jo Devy isteri beliau adolo 3 hari jo kami di
Washington

disuatu muktamar masyarakat Indonesia se AS. Waktu IP anggota DPR. Namun
indak

nampak "bagadang gadangan awak" didiri beliau. Baitu juo isterinyo. Padahal
sebagai

DPR liau punyo hak mendapat fasiltas dari KBRI, tapi itu indak dilakukan
liau.

 

Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran dan kekuatan untuk IP 

dalam memajukan SB. Amin

2010/12/14 Aryandi Ilyas <[email protected]>

Alhamdulillah, patuik awak bangga dengan sikap nan sarupo iko. Namun
baru kini ambo dapek liputan langsung dari media massa. Sabalunyo
pernah dapek carito tentang kesederhanaan baliau dari urang nan dakek
jo baliau juo, alumni pertanian unand. Manuruik kakanda ko, salain
menunjukan kesederhaan nan salamo ko ado di IP, ado hal lain yang
ingin dirubah dek pak gubernur ko yakni: penghematan dalam biaya
perjalanan dinas. Ambo ndak tahu pasti, tapi angko2 nan disampaikan
dek kakanda tsb sangat signifikan.

Kesederhaan yang hampir samo pernah juo ambo rasokan dari salah satu
anggota DPR RI sumbar. Ambo berkesempatan basamo jo baliau samo 60
jam. Pai jo pulang baliak ka Jkt, ndak ado "kawalan". Pai ka Padang,
baliau pun dengan economy class jo garuda, ambo duduak ditanggah,
baliau malah duduak agak dibalakang. Transportasi salamo di padang
tigo hari dengan "Avansa" pinjaman dari ibu beliau. Duduak dalam acara
nan kami jalani, baliau manulak untuak mandapekan perlakuan nan
spesial, kecuali kalo diminta sbg narasumber, tapaso lah duduak
dimuko. Baliau indak sungkan makan lontong di olo ladang arah ka
lauik, di kadai tapi jalan. Bai tu pulo katiko kami ka kiktinggi, di
sicincin baliau ma'ajak masuak pasa untuak sarapan pagi disinan jo
lontong pical. "Ambiak se lah Mak", kecek baliau ka amak nan manjua
lontong, katiko amak tadi ka mambaliak pitih baliau. Lalok kami pun
indak di hotel, tapi di "pos" beliau, rumah sederhana sajo, tapi acok
didatangi dek pak Wako padang.

Mudah2an kesederhaan dari para "PEJABAT" nan amanah ko bisa jadi
palapeh dahaga akan banyaknyo pejabat di NKRI nan banyak arogan dan
senang kemewahan.
Pada tanggal 15/12/10, [email protected]
<[email protected]> menulis:

> Alhamdulillah, semoga jadi teladan dan tetap mempertahankan kesederhanaan
> itu, sulit memang, tapi sepertinya gubernur irwan ingin menerapkan mulai
> dari diri sendiri. Terima kasih sdh share pengalaman pak afda, salam kenal
> dari saya ,
> Arina, 40 th, padang
> Powered by Telkomsel BlackBerryR

> -----Original Message-----
> From: Afda Rizki <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Wed, 15 Dec 2010 07:57:21

> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [...@ntau-net] Bila Gubernur di Kelas Ekonomi
> http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita
<http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2466>
&id=2466
> Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi
> Pesawat Garuda GA 162 dari Padang, mendarat mulus di Bandara Soekarno
Hatta,
> Senin (13/12). Saya dan istri ada di pesawat yang sama. Kami yang duduk di
> bagian ekonomi, tak tahu persis siapa saja gerangan yang duduk di kelas
> eksekutif.
> Perjalanan 90 menit setelah selesai, kami harus bergegas untuk urusan
> masing-masing. Di antara yang bergegas itu, ada Gubernur Sumbar, Prof.
Irwan
> Prayitno.
> Para penumpang kelas eksekutif dijemput dengan mobil khusus, namun karena
> Irwan duduk di kelas ekonomi, maka naik buslah ia bersama-sama kami.
> Bergelantungan. Apa adanya.
> Menurut saya ada gubernur di Indonesia yang duduk di kelas ekonomi dalam
> sebuah penerbangan adalah istimewa. Mungkin bagi orang lain tidak.
Kabarnya
> Gamawan Fauzi juga begitu ketika ia jadi gubernur. Pemilik Singgalang,
> Basril Djabar, juga begitu, meski ia sudah jadi komisaris PT Semen Padang.
> Gubernur Irwan terlihat oleh istri saya melangkah ke ruang ekonomi. Di
sini
> rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan
> masing-masing. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berkecil hati,
> jika Irwan Prayitno, duduk di eksekutif, sebab ia gubernur. Kami bangga
> kalau gubernur duduk di kursi yang nyaman.
> Namun saya tak percaya, kenapa ia melangkah ke ruang rakyat ini. Saya dan
> istri duduk di kursi 5 AB, Gubernur Irwan justru lebih ke belakang lagi,
12
> C. Kami berbasa-basi sejenak, lantas Irwan meluncur ke belakang, tenggelam
> di kursinya.
> Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang dari
> pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya ada gubernur rendah hati
> seperti ini, menjadi obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa
> adanya.
> Begitulah ketika Garuda mendarat di Cengkareng, kami tak bisa pakai pintu
> garbarata, sehingga harus dijemput pakai bus besar. Semua penumpang kelas
> ekonomi naik ke sana. Juga Gubernur Sumbar.
> Bersama kami, ia berdesak-desakan dan bergelentungan. Bagi saya ini memang
> luar biasa, ketika para pejabat kita merasa risih duduk di kelas ekonomi.
> Bagi saya ini juga sebuah keteladanan, ketika di banyak bandara, ada lahan
> parkir khusus untuk pejabat, persis di mulut pintu kedatangan.
> Naik train
> Jika di Indonesia, para menteri, kepala daerah menggunakan jasa
transportasi
> umum dapat dinilai sebagai hal yang luar biasa. Tidak demikian halnya di
> negara-negara maju di Eropa, seperti Belanda, Inggris dan Jerman.
> Dalam keseharian, belakangan ini, pemandangan seperti itu di negara-negara
> yang disebutkan tadi bukanlah pemandangan yang aneh. Bahkan, mereka
> menggunakan transportasi umum tanpa pengawalan.
> Di Eropa sana, menteri, gubernur maupun walikota sudah terbiasa naik
train,
> bus. Sedangkan mobil dinas mereka diperlukan sewaktu-waktu untuk
mengangkut
> dokumen-dokumen sang mentri maupun kepala daerah.
> Menurut Willy Laurens, 61, pengusaha nasional Belanda, yang merupakan indo
> Belanda Depok, belakangan ini pemerintah setempat menganjurkan para
menteri
> untuk menggunakan transportasi umum, hal itu dilakukan untuk mengurangi
> defisit anggaran. Belanda tahun ini mengalami defisit anggaran untuk
bidang
> militer. Sedangkan Jerman dan Inggris melakukan pengurangan defisit
anggaran
> hingga 40 persen untuk periode 2010-2014, sebagai bagian dari upaya
> konsolidasi fiskal.
> (Taufiq Ismail seperti dituturkan
> pada susilo abadi piliang)
> Afda Rizki

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke