mamak, bundo kanduang, sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip 
artikel di siko ciek..:)
Suatu hari di kelas 102 Filsafat UGM. Hari masih pagi.  Tapi suasana ruangan 
menjadi panas karena dosen yang mengajar saat itu marah besar. Bukan karena 
anak-anak ribut ataupun tak bikin tugas. Tapi, ada seorang mahasiswi yang 
terlihat membuka buku fotokopian. Bergegas sang dosen mendekati mahasiswi itu, 
mengambil buku fotokopiannya dan melemparkan sekuat tenaga ke lantai. Barrrr… 
Sontak saja seluruh kelas kaget.

“Anda ini kaum intelektual. Seharusnya anda mengerti dan bisa menghargai sebuah 
karya intelektual. Berapa sih harga buku yang asli? Bahkan saya sudah 
memberikan harga yang jauh dari harga toko. Kenapa anda masih memilih 
memfotokopi? Saya menjual buku ini bukan untuk nyari untung. Tapi agar anda 
bisa belajar dengan baik lewat apa yang telas tuliskan di buku ini… Yah, saya 
binggung, ngak tahu harus ngomong apalagi. Berapa sih harga buku saya yang cuma 
Rp. 35.000 dengan uang yang anda keluarkan untuk beli pulsa hanya untuk 
menelpon pacar anda??? Mungkin ratusan ribu, tak semahal buku saya… Ya, sebagai 
intelektual kampus, saya benar-benar kecewa dengan anda.”


Beliau adalah Bapak Joko Wicoyo, dosen Bahasa Inggris Filsafat yang diminta 
mengajar di fakultas Filsafat. Hanya karena kedekatan beliau dengan salah 
seorang dosen tetap di filsafat dan hubungan emosional karena  dulu pernah juga 
kuliah di Filsafat UGM, beliau mau mengajar dengan insentif yang sama sekali 
tidak memadai.

Kemarahan Pak Joko karena mendapatkan seorang mahasiswi memfotokopi buku karya 
memang terlihat berlebihan di tengah massifnya budaya fotokopi buku di kalangan 
mahasiswa. Tapi, bagi teman-teman yang pernah berurusan dengan penerbitan dan 
membuat sebuah buku, rasanya reaksi Pak Joko adalah sesuatu yang sangat wajar.

Betapa tidak, dengan buku setebal yang ditulis Pak Joko itu mungkin biaya 
produksi saja mencapai Rp. 30.000. Tinggal Rp. 5.000 saja keuntungan yang ia 
dapatkan. Tapi apakah pantas menghargai sebuah karya yang dibuat 
berbulan-bulan, dengan bantuan berbagai literatur yang juga harus dibeli, serta 
proses seleksi di penerbitan yang makan hati, kemudian dihargai hanya dengan 
uang Rp. 5.000??? Kalau mau jujur, kata yang mungkin layak kita ucapkan adalah 
BENAR-BENAR KETERLALUAN.

Kita memang tak bisa menyalahkan mahasiswa yang cendrung berpikir ekonomis, 
memilih mengopi buku karena minimnya uang saku. Tapi terkadang sebagian 
mahasiswa rela menghabiskan uang jutaan untuk hura-hura di cafe, beli baju ini 
dan itu, beli pulsa buat nelpon pacar, tapi pelit untuk membeli sebuah buku 
asli.

Sebuah kondisi yang miris, sehingga para penulis buku-buku ilmiah  janganlah 
pernah bermimpi menjadi kaya jika kondisi masyarakat intelektual seperti ini. 
Pengorbanan materi, waktu, dan pikirkan yang dihabiskan untuk menjadi sebuah 
buku, sama sekali tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan.

Tak salah jika kebanyakan para ilmuwan kita akhirnya lebih betah berkarier di 
luar negeri. Tidak hanya mendapatkan pengakuan intelektual, tapi kebutuhan 
materi mereka juga tercukupi. Buat apa tinggal di negeri yang sama sekali tidak 
punya kepeduliaan terhadap kaum intelektual? Sudahlahlah masyarakat hobi 
fotokopi, tambah lagi minat baca sangat rendah. Semakin lengkap dengan mahalnya 
harga kertas, padahal ratusan hektar hutan yang tumbuh di tanahnya.

Pejabatnya banyak yang professor doktor lulusan luar negeri, tapi tak pernah 
mampu memecahkan persoalan yang sebenarnya simpel.  Tak usah jauh-jauh berkaca 
sama Eropa dan Amerika. Cobalah belajar dari India, yang membuat regulasi 
menekan harga kertas sehingga buku-buku bisa dijual murah. Sehingga mahasiswa 
tak perlu lagi memilih jalan fotokopi, karena bisa jadi biaya fotokopi lebih 
mahal daripada buku yang asli. Dan lihatlah, apa yang diraih oleh India dengan 
kebijakan sederhana ini? Mahasiswa menjadi kutu buku, kualitas pendidikan 
meningkat, lulusan universitas mereka mendapat pengakuan secara internasional 
serta banyak produk-produk inovatif yang dihasilkan.

So, kalau memang negeri ini ingin maju, maka berikan penghargaan yang pantas 
buat para ilmuwan, buat para penulis. Bikin regulasi yang memungkinkan bangsa 
ini menjadi “bangsa yang gila baca”. Tidak hanya sekedar terlena dengan euforia 
nasionalisme tribal sepakbola.

ttdanggun gunawanalumni filsafat ugm - 26 thhttp://anggun.cjb.net



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke