Barek...., barek..... dan.. panjang jadi caritonyo, Dinda Riri.



mm***
(sadang manyandiri dakek kaki gunuang pangrango)




________________________________
From: Riri Mairizal Chaidir <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, December 25, 2010 9:44:05 AM
Subject: RE: [...@ntau-net] fotokopi buku = haram ??? >>> APA CUMA MEREKA?

 
Anggun,
 
Anggun pakai komputer pribadi kan ya. Pakai Windows berapa? Windowsnya pakai 
lisensi? 

Kalau iya – Windowsnya dibeli terpisah, atau PreInstalled Resmi – bagus sekali. 
Mengetik artikelnya pakai Office berapa? Pakai Lisensi?
Atau pakai Linux dan aplikasi yang open source?
 
Kalau iya, bagus. 
Tapi kalau tidak?
 
Nah, ini suatu poin penting juga untuk dibahas.
 
Bagaimana kita bisa berharap mahasiswa menghargai hak cipta buku (atau 
software) 
kalau “senior2”nya pun tidak?
 
Riri
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
From:[email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of 
anggun gunawan
Sent: Saturday, December 25, 2010 7:04 AM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] fotokopi buku = haram ???
 
mamak, bundo kanduang,   sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip 
artikel di siko   ciek..:)
 
Suatu hari di kelas 102   Filsafat UGM. Hari masih pagi. Tapi suasana ruangan 
menjadi panas karena   dosen yang mengajar saat itu marah besar. Bukan karena 
anak-anak ribut   ataupun tak bikin tugas. Tapi, ada seorang mahasiswi yang 
terlihat membuka   buku fotokopian. Bergegas sang dosen mendekati mahasiswi 
itu, 
mengambil buku   fotokopiannya dan melemparkan sekuat tenaga ke lantai. Barrrr… 
Sontak   saja seluruh kelas kaget.

“Anda ini kaum intelektual. Seharusnya anda mengerti dan bisa   menghargai 
sebuah karya intelektual. Berapa sih harga buku yang asli? Bahkan   saya sudah 
memberikan harga yang jauh dari harga toko. Kenapa anda masih   memilih 
memfotokopi? Saya menjual buku ini bukan untuk nyari untung. Tapi   agar anda 
bisa belajar dengan baik lewat apa yang telas tuliskan di buku   ini… Yah, saya 
binggung, ngak tahu harus ngomong apalagi. Berapa sih   harga buku saya yang 
cuma Rp. 35.000 dengan uang yang anda keluarkan untuk   beli pulsa hanya untuk 
menelpon pacar anda??? Mungkin ratusan ribu, tak   semahal buku saya… Ya, 
sebagai intelektual kampus, saya benar-benar   kecewa dengan anda.”


Beliau adalah Bapak Joko Wicoyo, dosen Bahasa Inggris Filsafat yang diminta   
mengajar di fakultas Filsafat. Hanya karena kedekatan beliau dengan salah   
seorang dosen tetap di filsafat dan hubungan emosional karena dulu pernah   
juga 
kuliah di Filsafat UGM, beliau mau mengajar dengan insentif yang sama   sekali 
tidak memadai.

Kemarahan Pak Joko karena mendapatkan seorang mahasiswi memfotokopi buku   
karya 
memang terlihat berlebihan di tengah massifnya budaya fotokopi buku di   
kalangan mahasiswa. Tapi, bagi teman-teman yang pernah berurusan dengan   
penerbitan dan membuat sebuah buku, rasanya reaksi Pak Joko adalah sesuatu   
yang sangat wajar.

Betapa tidak, dengan buku setebal yang ditulis Pak Joko itu mungkin biaya   
produksi saja mencapai Rp. 30.000. Tinggal Rp. 5.000 saja keuntungan yang ia   
dapatkan. Tapi apakah pantas menghargai sebuah karya yang dibuat   
berbulan-bulan, dengan bantuan berbagai literatur yang juga harus dibeli,   
serta proses seleksi di penerbitan yang makan hati, kemudian dihargai hanya   
dengan uang Rp. 5.000??? Kalau mau jujur, kata yang mungkin layak kita   
ucapkan 
adalah BENAR-BENAR KETERLALUAN.

Kita memang tak bisa menyalahkan mahasiswa yang cendrung berpikir ekonomis,   
memilih mengopi buku karena minimnya uang saku. Tapi terkadang sebagian   
mahasiswa rela menghabiskan uang jutaan untuk hura-hura di cafe, beli baju   
ini 
dan itu, beli pulsa buat nelpon pacar, tapi pelit untuk membeli sebuah   buku 
asli.

Sebuah kondisi yang miris, sehingga para penulis buku-buku ilmiah janganlah   
pernah bermimpi menjadi kaya jika kondisi masyarakat intelektual seperti ini.   
Pengorbanan materi, waktu, dan pikirkan yang dihabiskan untuk menjadi sebuah   
buku, sama sekali tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan.

Tak salah jika kebanyakan para ilmuwan kita akhirnya lebih betah berkarier di   
luar negeri. Tidak hanya mendapatkan pengakuan intelektual, tapi kebutuhan   
materi mereka juga tercukupi. Buat apa tinggal di negeri yang sama sekali   
tidak punya kepeduliaan terhadap kaum intelektual? Sudahlahlah masyarakat   
hobi 
fotokopi, tambah lagi minat baca sangat rendah. Semakin lengkap dengan   
mahalnya harga kertas, padahal ratusan hektar hutan yang tumbuh di tanahnya.

Pejabatnya banyak yang professor doktor lulusan luar negeri, tapi tak pernah   
mampu memecahkan persoalan yang sebenarnya simpel. Tak usah jauh-jauh berkaca   
sama Eropa dan Amerika. Cobalah belajar dari India, yang membuat regulasi   
menekan harga kertas sehingga buku-buku bisa dijual murah. Sehingga mahasiswa   
tak perlu lagi memilih jalan fotokopi, karena bisa jadi biaya fotokopi lebih   
mahal daripada buku yang asli. Dan lihatlah, apa yang diraih oleh India   
dengan 
kebijakan sederhana ini? Mahasiswa menjadi kutu buku, kualitas   pendidikan 
meningkat, lulusan universitas mereka mendapat pengakuan secara   internasional 
serta banyak produk-produk inovatif yang dihasilkan.
So, kalau memang negeri ini ingin maju, maka berikan penghargaan yang   pantas 
buat para ilmuwan, buat para penulis. Bikin regulasi yang memungkinkan   bangsa 
ini menjadi “bangsa yang gila baca”. Tidak hanya sekedar   terlena dengan 
euforia nasionalisme tribal sepakbola.
 
ttd
anggun gunawan
alumni filsafat ugm - 26 th
http://anggun.cjb.net 
 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke