Dinda/ Kamanakanda ANG-GUN (Anggun Gunawan) nan tacinto, basarato komunitas r...@ntau nan saakidah dan sacito-cito.
Satuju......., satuju......, dan satuju bana kasado nan D/K tulih di bawah tu....!!! Kini babaliak ka moral (isi dado) basarato aka (isi kapalo) kito kasadonyo. Bukankan UU Hak Cipta alah dibalakukan di nagari ko samanjak (labiah) lima baleh tahun nan lalu? Bahkan, Hak Ateh Karya Ilmiah (HAKI) pun alah acok disosialisasikan dek instansi takaik bake masyarakaik Indonesia. Kalau ambo malah punyo usua, supayo adokan samacam "sok terapi" (istilah dlm tando kutib ko ambo buek sandiri....==>m.m) kaum panyimplak tu. Ajukan sajo nan mamotokopi maantah-mantah buku Pak Dosen tu ka pangadilan. Bia sakali-kali GaMa heboh, dan kaum pamaleh & panceke di bidang buku bapikie saribu kali untuak manyimplak buatan urang (sudah tantu "Tukang Fotokopi" nan sambuah di Bulaksumua tu bisa diseret ka meja hijau pulo). Baa pangana? Lai lanteh angan-angan awak manerapkan hiduik nan ka'fah sacaro Islami dalam sagalo macam kurenah di ateh dunia ko? Nah, karano "banyak ruginyo" (dari segi hiduik di dunia nan fana) kolah mako "urang awak" di Minangkabau (SumBar) nan (katonyo baugamo Islam) manjadi gacua untuak manerapkan Syariah Islam sacaro ka'fah....???? Sarupo istilah padagang di lapau kaki limo di Jakarta nan manjua "STMJ" (Susu Telur Madu Jahe diplesetkan jadi Shalat Tetap Maksiat Jalan) mako urang awak di Minangkabau tampaknyo alah banyak pulo nan "SJMJ" Sumbayang Jalan Mancilok Jalan. Astaghfirullah al azim. Salam dari ambo buek Mas Djoko Wicoyo. Ambo taakhie ikuik mainjak tanah GaMa tu tahun 1995, kutiko disuruah kantua tampek ambo makan gaji ikuik Program AMDAL Tipe-B salamo tigo pakan. Salam........................, mm*** Lk-2; >50 th; Bks +62 812 80 33925. ________________________________ From: anggun gunawan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sat, December 25, 2010 7:03:44 AM Subject: [...@ntau-net] fotokopi buku = haram ??? mamak, bundo kanduang, sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip artikel di siko ciek..:) Suatu hari di kelas 102 Filsafat UGM. Hari masih pagi. Tapi suasana ruangan menjadi panas karena dosen yang mengajar saat itu marah besar. Bukan karena anak-anak ribut ataupun tak bikin tugas. Tapi, ada seorang mahasiswi yang terlihat membuka buku fotokopian. Bergegas sang dosen mendekati mahasiswi itu, mengambil buku fotokopiannya dan melemparkan sekuat tenaga ke lantai. Barrrr… Sontak saja seluruh kelas kaget. “Anda ini kaum intelektual. Seharusnya anda mengerti dan bisa menghargai sebuah karya intelektual. Berapa sih harga buku yang asli? Bahkan saya sudah memberikan harga yang jauh dari harga toko. Kenapa anda masih memilih memfotokopi? Saya menjual buku ini bukan untuk nyari untung. Tapi agar anda bisa belajar dengan baik lewat apa yang telas tuliskan di buku ini… Yah, saya binggung, ngak tahu harus ngomong apalagi. Berapa sih harga buku saya yang cuma Rp. 35.000 dengan uang yang anda keluarkan untuk beli pulsa hanya untuk menelpon pacar anda??? Mungkin ratusan ribu, tak semahal buku saya… Ya, sebagai intelektual kampus, saya benar-benar kecewa dengan anda.” Beliau adalah Bapak Joko Wicoyo, dosen Bahasa Inggris Filsafat yang diminta mengajar di fakultas Filsafat. Hanya karena kedekatan beliau dengan salah seorang dosen tetap di filsafat dan hubungan emosional karena dulu pernah juga kuliah di Filsafat UGM, beliau mau mengajar dengan insentif yang sama sekali tidak memadai. Kemarahan Pak Joko karena mendapatkan seorang mahasiswi memfotokopi buku karya memang terlihat berlebihan di tengah massifnya budaya fotokopi buku di kalangan mahasiswa. Tapi, bagi teman-teman yang pernah berurusan dengan penerbitan dan membuat sebuah buku, rasanya reaksi Pak Joko adalah sesuatu yang sangat wajar. Betapa tidak, dengan buku setebal yang ditulis Pak Joko itu mungkin biaya produksi saja mencapai Rp. 30.000. Tinggal Rp. 5.000 saja keuntungan yang ia dapatkan. Tapi apakah pantas menghargai sebuah karya yang dibuat berbulan-bulan, dengan bantuan berbagai literatur yang juga harus dibeli, serta proses seleksi di penerbitan yang makan hati, kemudian dihargai hanya dengan uang Rp. 5.000??? Kalau mau jujur, kata yang mungkin layak kita ucapkan adalah BENAR-BENAR KETERLALUAN. Kita memang tak bisa menyalahkan mahasiswa yang cendrung berpikir ekonomis, memilih mengopi buku karena minimnya uang saku. Tapi terkadang sebagian mahasiswa rela menghabiskan uang jutaan untuk hura-hura di cafe, beli baju ini dan itu, beli pulsa buat nelpon pacar, tapi pelit untuk membeli sebuah buku asli. Sebuah kondisi yang miris, sehingga para penulis buku-buku ilmiah janganlah pernah bermimpi menjadi kaya jika kondisi masyarakat intelektual seperti ini. Pengorbanan materi, waktu, dan pikirkan yang dihabiskan untuk menjadi sebuah buku, sama sekali tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan. Tak salah jika kebanyakan para ilmuwan kita akhirnya lebih betah berkarier di luar negeri. Tidak hanya mendapatkan pengakuan intelektual, tapi kebutuhan materi mereka juga tercukupi. Buat apa tinggal di negeri yang sama sekali tidak punya kepeduliaan terhadap kaum intelektual? Sudahlahlah masyarakat hobi fotokopi, tambah lagi minat baca sangat rendah. Semakin lengkap dengan mahalnya harga kertas, padahal ratusan hektar hutan yang tumbuh di tanahnya. Pejabatnya banyak yang professor doktor lulusan luar negeri, tapi tak pernah mampu memecahkan persoalan yang sebenarnya simpel. Tak usah jauh-jauh berkaca sama Eropa dan Amerika. Cobalah belajar dari India, yang membuat regulasi menekan harga kertas sehingga buku-buku bisa dijual murah. Sehingga mahasiswa tak perlu lagi memilih jalan fotokopi, karena bisa jadi biaya fotokopi lebih mahal daripada buku yang asli. Dan lihatlah, apa yang diraih oleh India dengan kebijakan sederhana ini? Mahasiswa menjadi kutu buku, kualitas pendidikan meningkat, lulusan universitas mereka mendapat pengakuan secara internasional serta banyak produk-produk inovatif yang dihasilkan. So, kalau memang negeri ini ingin maju, maka berikan penghargaan yang pantas buat para ilmuwan, buat para penulis. Bikin regulasi yang memungkinkan bangsa ini menjadi “bangsa yang gila baca”. Tidak hanya sekedar terlena dengan euforia nasionalisme tribal sepakbola. ttd anggun gunawan alumni filsafat ugm - 26 th http://anggun.cjb.net -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
