Anggun,

 

Anggun pakai komputer pribadi kan ya. Pakai Windows berapa? Windowsnya pakai
lisensi? 

Kalau iya - Windowsnya dibeli terpisah, atau PreInstalled Resmi - bagus
sekali. 

Mengetik artikelnya pakai Office berapa? Pakai Lisensi?

Atau pakai Linux dan aplikasi yang open source?

 

Kalau iya, bagus. 

Tapi kalau tidak?

 

Nah, ini suatu poin penting juga untuk dibahas.

 

Bagaimana kita bisa berharap mahasiswa menghargai hak cipta buku (atau
software) kalau "senior2"nya pun tidak?

 

Riri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of anggun gunawan
Sent: Saturday, December 25, 2010 7:04 AM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] fotokopi buku = haram ???

 


mamak, bundo kanduang, sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip
artikel di siko ciek..:)

 

Suatu hari di kelas 102 Filsafat UGM. Hari masih pagi. Tapi suasana ruangan
menjadi panas karena dosen yang mengajar saat itu marah besar. Bukan karena
anak-anak ribut ataupun tak bikin tugas. Tapi, ada seorang mahasiswi yang
terlihat membuka buku fotokopian. Bergegas sang dosen mendekati mahasiswi
itu, mengambil buku fotokopiannya dan melemparkan sekuat tenaga ke lantai.
Barrrr. Sontak saja seluruh kelas kaget.

"Anda ini kaum intelektual. Seharusnya anda mengerti dan bisa menghargai
sebuah karya intelektual. Berapa sih harga buku yang asli? Bahkan saya sudah
memberikan harga yang jauh dari harga toko. Kenapa anda masih memilih
memfotokopi? Saya menjual buku ini bukan untuk nyari untung. Tapi agar anda
bisa belajar dengan baik lewat apa yang telas tuliskan di buku ini. Yah,
saya binggung, ngak tahu harus ngomong apalagi. Berapa sih harga buku saya
yang cuma Rp. 35.000 dengan uang yang anda keluarkan untuk beli pulsa hanya
untuk menelpon pacar anda??? Mungkin ratusan ribu, tak semahal buku saya.
Ya, sebagai intelektual kampus, saya benar-benar kecewa dengan anda."


Beliau adalah Bapak Joko Wicoyo, dosen Bahasa Inggris Filsafat yang diminta
mengajar di fakultas Filsafat. Hanya karena kedekatan beliau dengan salah
seorang dosen tetap di filsafat dan hubungan emosional karena dulu pernah
juga kuliah di Filsafat UGM, beliau mau mengajar dengan insentif yang sama
sekali tidak memadai.

Kemarahan Pak Joko karena mendapatkan seorang mahasiswi memfotokopi buku
karya memang terlihat berlebihan di tengah massifnya budaya fotokopi buku di
kalangan mahasiswa. Tapi, bagi teman-teman yang pernah berurusan dengan
penerbitan dan membuat sebuah buku, rasanya reaksi Pak Joko adalah sesuatu
yang sangat wajar.

Betapa tidak, dengan buku setebal yang ditulis Pak Joko itu mungkin biaya
produksi saja mencapai Rp. 30.000. Tinggal Rp. 5.000 saja keuntungan yang ia
dapatkan. Tapi apakah pantas menghargai sebuah karya yang dibuat
berbulan-bulan, dengan bantuan berbagai literatur yang juga harus dibeli,
serta proses seleksi di penerbitan yang makan hati, kemudian dihargai hanya
dengan uang Rp. 5.000??? Kalau mau jujur, kata yang mungkin layak kita
ucapkan adalah BENAR-BENAR KETERLALUAN.

Kita memang tak bisa menyalahkan mahasiswa yang cendrung berpikir ekonomis,
memilih mengopi buku karena minimnya uang saku. Tapi terkadang sebagian
mahasiswa rela menghabiskan uang jutaan untuk hura-hura di cafe, beli baju
ini dan itu, beli pulsa buat nelpon pacar, tapi pelit untuk membeli sebuah
buku asli.

Sebuah kondisi yang miris, sehingga para penulis buku-buku ilmiah janganlah
pernah bermimpi menjadi kaya jika kondisi masyarakat intelektual seperti
ini. Pengorbanan materi, waktu, dan pikirkan yang dihabiskan untuk menjadi
sebuah buku, sama sekali tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan.

Tak salah jika kebanyakan para ilmuwan kita akhirnya lebih betah berkarier
di luar negeri. Tidak hanya mendapatkan pengakuan intelektual, tapi
kebutuhan materi mereka juga tercukupi. Buat apa tinggal di negeri yang sama
sekali tidak punya kepeduliaan terhadap kaum intelektual? Sudahlahlah
masyarakat hobi fotokopi, tambah lagi minat baca sangat rendah. Semakin
lengkap dengan mahalnya harga kertas, padahal ratusan hektar hutan yang
tumbuh di tanahnya.

Pejabatnya banyak yang professor doktor lulusan luar negeri, tapi tak pernah
mampu memecahkan persoalan yang sebenarnya simpel. Tak usah jauh-jauh
berkaca sama Eropa dan Amerika. Cobalah belajar dari India, yang membuat
regulasi menekan harga kertas sehingga buku-buku bisa dijual murah. Sehingga
mahasiswa tak perlu lagi memilih jalan fotokopi, karena bisa jadi biaya
fotokopi lebih mahal daripada buku yang asli. Dan lihatlah, apa yang diraih
oleh India dengan kebijakan sederhana ini? Mahasiswa menjadi kutu buku,
kualitas pendidikan meningkat, lulusan universitas mereka mendapat pengakuan
secara internasional serta banyak produk-produk inovatif yang dihasilkan.

So, kalau memang negeri ini ingin maju, maka berikan penghargaan yang pantas
buat para ilmuwan, buat para penulis. Bikin regulasi yang memungkinkan
bangsa ini menjadi "bangsa yang gila baca". Tidak hanya sekedar terlena
dengan euforia nasionalisme tribal sepakbola.

 

ttd

anggun gunawan

alumni filsafat ugm - 26 th

http://anggun.cjb.net

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke