Stop !!! Konsumsi Buah-Buahan dan Sayur-sayuran Impor Itu
By : Jepe 
 
Dalam perjalanan pulang dari Desa Repan menuju Kota Selat Panjang  membelah 
selat pulau Rangsang dengan speedboat mata saya tertumbuk disebuah dermaga kayu 
kebetulan sebuah kapal kayu berukuran cukup besar lagi bersandar dan membongkar 
muatannya. Iseng saya bertanya pada salah seorang rombongan yang ikut dalam 
perjalanan diatas speedboat yang melaju  dengan kecepatan sedang. Tokbur begitu 
panggilan akrab dari salah satu tokoh pemuda Melayu Selat Panjang yang ikut 
membantu saya dalam mendistribusikan bantuan paket sembako ke desa-desa di 
Pulau 
Rangsang buat anak yatim dan kaum duafa dalam rangka safari  Ramadhan 1430 H 
yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja.
 

“Bang Tokbur, itu kapal lagi membongkar apa, kelihatannya sibuk dan banyak 
sekali barang-barang yang di bongkar di dermaga kayu itu” tanya saya penasaran 

 

“ahh Pak Jepe kayak nggak tahu aja, biasalah kong kali kong oknum aparat yang 
mengawasi peraiaran dengan pemilik barang dalam memasukan barang-barang impor 
ke 
Riau ini” jawab Tokbur singkat
 

Tokbur bercerita dengan panjang lebar dan nampaknya dia paham betul seluk beluk 
kegiatan illegal di sepanjang peraiaran selat panjang tersebut karena dulunya 
pernah terlibat dalam pelayaran membawa barang-barang dari  Malaysia dan 
Singapur secara illegal atau paling tidak separuh dari barang-barang tersebut 
tidak dilengkapi dengan dokumen resmi sesuai dengan aturan yang berlaku, 
istilah 
yang cukup populernya adalah Spanyol alias Separoh Nyolong”. Di Dermaga “gelap” 
itu lanjut Tokbur adalah pelabuhan perantara membongkar barang-barang Spanyol 
sebelum barang-barang yang dilindungi oleh dokumen resmi di bongkar di 
pelabuhan 
tujuan yang tertera dalam dokumen.
 

Barang-barang Spanyol (illegal) yang di bongkar tersebut beraneka rupa mulai 
buah2an impor, kain, elektronik sampai makanan-makanan kecil seperti snek, 
permen, biscuit kalengan rata-rata buatan China.
 

Dari cerita saya diatas sungguh betapa oknum aparat kita bersama importir 
disamping merugikan Negara dari segi penerimaan pajak juga menghancurkan para 
petani buah kita karena secara illegal memasukan buah spanyol tersebut. Saya 
sebagai masyarakat kebanyakan menyaksikan hal tersebut tentu tidak bisa berbuat 
apa-apa untuk melakukan perlawanan, tapi ada cara lain buat saya atau kita 
semua 
melakukan perlawanan jika pihak otoritas di Negara ini (oknum)  yang nakal ini 
sedikitpun tidak ada keperpihakan kepada para petani dan nelayan kita yang 
semakin terpuruk akibat ulah mereka yang memasukan secara illegal buah-buahan 
dan sayur-sayuran serta makanan kecil. Inilah salah satu  yang membuat petani 
negeri kita semakin terpuruk disamping buah-buahan dan sayur-sayuran yang 
mereka 
tanam dan jual masih lemah dari segi kualitas (bentuk dan rasa yang tidak 
seragam) dibandingkan buah-buahan dan sayur-sayuran impor dari Thailand dan 
China diperparah lagi tindakan oknum aparat yang kong kali kong dengan importer 
memasukannya secara illegal  (spanyol) yang berakibat tentu harga buah impor 
tersebut lebih murah dipasaran untuk dijual karena importer tidak dibebani 
biaya 
pajak, bea masuk dan lain sebagainya. Faktanya dalam sebuah berita yang saya 
baca lebih dari 60 % pangsa pasar buah-buahan dikuasai oleh buah-buahan impor 
dan parahnya lagi buah-buahan tersebut tidak saja menyerbu serta memenuhi  
pasar-pasar modern (super market, hypermart etc) tapi juga pasar-pasar 
tradisional.
 

Jalan keluar yang kongrit kita melawan semua ini tidak lain dan tidak bukan 
agar 
petani dan nelayan kita terangkat kepermukaan dan sejahtera adalah kita semua 
dengan serentak dan militant menahan diri untuk tidak membeli dan mengkonsumsi 
buah-buahan impor tersebut. Kita memang tidak bisa melakukan perlawanan 
terhadap 
pasar global dimana semua Negara berhak melakukan perdagang secara bebas antar 
Negara tanpa adanya proteksi dari Negara tujuan, ditambah parah lagi dengan 
tingkah okunum aparat kita yang suka bermain mata kong kali kong memasukan 
buah-buahan spanyol tersebut. Membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan 
sayur-sayuran anak bangsa sendiri adalah langkah yang sangat nyata memerangi 
pasar global dan oknum aparat yang nakal tersebut. Jika kita tidak sedikitpun 
secara bersama-sama dan militant membeli buah-buahan dan sayur-sayuran impor 
tersebut otomatis buah-buahan dan sayur-sayuran itu akan busuk dan tidak 
mendapat tempat lagi dihati masyarakat dalam mengkonsumisnya maka dengan 
sendirinya para pelaku (importir) tentunya tidak berminat lagi memasukan 
buah-buahan dan sayur-sayuran baik legal dan illegal karena secara bisnis 
mereka 
mengalami kerugian.
 

Bagi saya inilah langkah yang paling efektif kita lakukan untuk mengangkat para 
petani dan nelayan kita lebih sejahtera dari pada teori-teori yang marak di 
adakan melalui seminar-seminar 1 atau 2 hari saja, apa yang didapat dari 
seminar 
tersebut yang katanya meningkatkan (secara teori diatas kertas) kesejaheraan 
petani dan nelayan kita. Seminar itu yang saya perhatikan dan sering juga saya 
pantau tidak lebih tidak bukan hanya ajang silahturahhim para penguasa dan 
orang-orang penting di negeri ini saja, apalagi dijaman sekarang istilah yang 
paling populer adalah seminar juga menjadi ajang pencitraan diri oleh para 
pejabat public. Selesai seminar pukul gong penutupan,  balik kanan grak lalu 
bubar tanpa ada langkah kongrit yang diwujudkan dilapangan, semuanya tinggal 
dikertas, tinggal membayar segala tagihan biaya seminar ratusan juta rupiah 
mulai honor pakar,  akomodasi di hotel, konsumsi serta tiket pesawat dan lain 
sebagainya.
Stop !!! membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran impor tersebut 
inilah langkah kongrit dan nyata kita dibandingkan seminar satu atau dua hari 
yang tidak jelas ujung pangkalnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan 
nelayan kita. Terkadang saya geleng-geleng kepala dan tidak habis pikir ketika 
berkunjung ke toko buah yang cukup terkenal di kota Pekanbaru ini. Dietalase 
toko buah tersebut terpajang manis dan rapi kelapa muda yang telah “digunduli” 
dari Thailand. Saya pikir ini adalah bentuk penghinaan terhadap Negara kita 
yang 
katanya adalah Negara “nyiur melambai” dengan jutaan pohon kelapa disepanjang 
pesisir pantai Nusantara. Menjadi pertanyaan besar bagi saya pada para penguasa 
di negeri ini “apakah mereka tidak bisa sedikitpun memberikan proteksi agar 
buah 
kelapa ini tidak merambah pasar buah kita”. Jika tidak bisa sungguh 
keterlaluan, 
apaboleh buat biasanya mereka hanya akan berdalih dengan alasan pasar global, 
entahlah.
 

Mari kita cintai produk petani dan nelayan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan 
vitamin dan mineral kita melalui buah-buahan dan sayur-sayuran local, tahan 
diri 
jangan membeli produk impor tersebut, saya perjaya jika langkah ini dilakukan 
secara serentak oleh segenap lapisan masyarakat Negara ini maka inilah salah 
satu cara yang paling nyata dalam mengangkat taraf kehidupan para petani dan 
nelayan kita selama ini semakin terpuruk dengan berbagai permasalahan yang 
mereka hadapi mulai dari mahalnya harga pupuk, bencana alam, susahnya 
mendapatkan BBM untuk melaut belum lagi ulah oknum aparat yang mempersulit 
mereka mendapatkan pinjaman lunak, pasar yang tidak ada jaminan serta hal-hal 
lain yang membuat para petani dan nelayan kita semakin tersudut ditambah lagi 
dengan serangan buah-buahan, sayur-sayuran serta produk perikanan impor lainnya.
 
 
Buah-buahan, sayur-sayuran serta ikan-ikanan  baik lautan dan daratan produk 
anak negeri kita lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, 
protein dan zat anti oksidan kita, sebut saja dari buah-buahan seperti 
papaya,aneka jenis mangga, jeruk, nenas, semangka, jambu,pisang dan lain 
sebagainya. Masih tergiurkah anda membeli 1 Kg buah Plum dan Kiwi (impor) yang 
berharga sekitar Rp 40.000/Kg, ahhh bagi saya itu adalah perbuatan sia-sia dan 
pemborosan saja dan tidak ada keperpihakan kepada petani kita, dengan uang Rp 
40.000 tersebut saya sudah bisa membawa buah-buahan produk anak negeri sendiri 
yang sangat “local content”   yaitu 1 sisir pisang ambon ranah minang, 1 Kg 
jeruk brastagi, 2 Kg Semangka jika masih bersisa bisa mendapatkan 1 atau 2 buah 
mangga harum manis yang murah meriah ketika panen melimpah.
 

Tindakan yang kita lakukan ini jika saya menyitir sebuah slogan iklan provider 
seluler  “lebih Indonesia” , jika kita persempit lagi membeli buah-buahan dan 
sayur-sayuran produksi anak negeri ranah minang bolehlah dikatakan “Lebih 
Minang”.Selamat membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta 
ikan-ikanan produksi bangsa sendiri para pembaca semua, semoga kita memberikan 
kontribusi dan langkah yang kongrit dalam meningkatkan kesejahteraan para 
petani 
dan nelayan kita
 
 
Pekanbaru, 25 Desember 2010

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke