Bana pak Riri

Tamasuak urang kito nan bagaduru pai liburan ka Singapura, ambo alah jadi 
korban akhir tahun ko. Tiket ka Batam jo Garuda akhir tahun ko 2 Juta sakali 
tabang ka Batam, alah ambo cek Air Asia Jakarta-Singapore, 1,5 Juta. Tapi di 
etong-etong, kalau masuak ka Singapore untuak pulang, samo sajo kanainyo. 
Istilah urang kampuang ambo "Pai Ampok-Pulang ban" sajo.

salam

andiko
----- Original Message -----
From: "Riri Mairizal Chaidir" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, December 25, 2010 6:40:11 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: RE: [...@ntau-net] Stop !!! Konsumsi Buah-Buahan dan Sayur-sayuran 
Impor Itu, by : Jepe




Jepe, 



Sebagian orang ada yang “luar negeri minded”, ada juga yang “produksi dalam 
negeri minded”. 



Tapi mungkin (mungkin lho, saya tidak punya datanya) adalah “massa mengambang”. 
Ambo tamasuak golongan iko. 



Nah, tinggal, bagaimana mendapatkan “massa mengambang” ini. 

Dan ini mungkin tidak bisa hanya dengan “menjual” sentimen “dalam vs luar 
negeri”, tapi dengan menunjukkan ke pembeli, bahwa memang buah/ sayur itu yang 
kami butuhkan, dengan harga dan kualitas yang sesuai. 



Riri 















From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of jupardi andi 
Sent: Saturday, December 25, 2010 12:49 PM 
To: rantaunet rantaunet 
Subject: [...@ntau-net] Stop !!! Konsumsi Buah-Buahan dan Sayur-sayuran Impor 
Itu, by : Jepe 




Stop !!! Konsumsi Buah-Buahan dan Sayur-sayuran Impor Itu 
By : Jepe 



Dalam perjalanan pulang dari Desa Repan menuju Kota Selat Panjang membelah 
selat pulau Rangsang dengan speedboat mata saya tertumbuk disebuah dermaga kayu 
kebetulan sebuah kapal kayu berukuran cukup besar lagi bersandar dan membongkar 
muatannya. Iseng saya bertanya pada salah seorang rombongan yang ikut dalam 
perjalanan diatas speedboat yang melaju dengan kecepatan sedang. Tokbur begitu 
panggilan akrab dari salah satu tokoh pemuda Melayu Selat Panjang yang ikut 
membantu saya dalam mendistribusikan bantuan paket sembako ke desa-desa di 
Pulau Rangsang buat anak yatim dan kaum duafa dalam rangka safari Ramadhan 1430 
H yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. 





“Bang Tokbur, itu kapal lagi membongkar apa, kelihatannya sibuk dan banyak 
sekali barang-barang yang di bongkar di dermaga kayu itu” tanya saya penasaran 





“ahh Pak Jepe kayak nggak tahu aja, biasalah kong kali kong oknum aparat yang 
mengawasi peraiaran dengan pemilik barang dalam memasukan barang-barang impor 
ke Riau ini” jawab Tokbur singkat 





Tokbur bercerita dengan panjang lebar dan nampaknya dia paham betul seluk beluk 
kegiatan illegal di sepanjang peraiaran selat panjang tersebut karena dulunya 
pernah terlibat dalam pelayaran membawa barang-barang dari Malaysia dan 
Singapur secara illegal atau paling tidak separuh dari barang-barang tersebut 
tidak dilengkapi dengan dokumen resmi sesuai dengan aturan yang berlaku, 
istilah yang cukup populernya adalah Spanyol alias Separoh Nyolong”. Di Dermaga 
“gelap” itu lanjut Tokbur adalah pelabuhan perantara membongkar barang-barang 
Spanyol sebelum barang-barang yang dilindungi oleh dokumen resmi di bongkar di 
pelabuhan tujuan yang tertera dalam dokumen. 





Barang-barang Spanyol (illegal) yang di bongkar tersebut beraneka rupa mulai 
buah2an impor, kain, elektronik sampai makanan-makanan kecil seperti snek, 
permen, biscuit kalengan rata-rata buatan China. 





Dari cerita saya diatas sungguh betapa oknum aparat kita bersama importir 
disamping merugikan Negara dari segi penerimaan pajak juga menghancurkan para 
petani buah kita karena secara illegal memasukan buah spanyol tersebut. Saya 
sebagai masyarakat kebanyakan menyaksikan hal tersebut tentu tidak bisa berbuat 
apa-apa untuk melakukan perlawanan, tapi ada cara lain buat saya atau kita 
semua melakukan perlawanan jika pihak otoritas di Negara ini (oknum) yang nakal 
ini sedikitpun tidak ada keperpihakan kepada para petani dan nelayan kita yang 
semakin terpuruk akibat ulah mereka yang memasukan secara illegal buah-buahan 
dan sayur-sayuran serta makanan kecil. Inilah salah satu yang membuat petani 
negeri kita semakin terpuruk disamping buah-buahan dan sayur-sayuran yang 
mereka tanam dan jual masih lemah dari segi kualitas (bentuk dan rasa yang 
tidak seragam) dibandingkan buah-buahan dan sayur-sayuran impor dari Thailand 
dan China diperparah lagi tindakan oknum aparat yang kong kali kong dengan 
importer memasukannya secara illegal (spanyol) yang berakibat tentu harga buah 
impor tersebut lebih murah dipasaran untuk dijual karena importer tidak 
dibebani biaya pajak, bea masuk dan lain sebagainya. Faktanya dalam sebuah 
berita yang saya baca lebih dari 60 % pangsa pasar buah-buahan dikuasai oleh 
buah-buahan impor dan parahnya lagi buah-buahan tersebut tidak saja menyerbu 
serta memenuhi pasar-pasar modern (super market, hypermart etc) tapi juga 
pasar-pasar tradisional. 





Jalan keluar yang kongrit kita melawan semua ini tidak lain dan tidak bukan 
agar petani dan nelayan kita terangkat kepermukaan dan sejahtera adalah kita 
semua dengan serentak dan militant menahan diri untuk tidak membeli dan 
mengkonsumsi buah-buahan impor tersebut. Kita memang tidak bisa melakukan 
perlawanan terhadap pasar global dimana semua Negara berhak melakukan perdagang 
secara bebas antar Negara tanpa adanya proteksi dari Negara tujuan, ditambah 
parah lagi dengan tingkah okunum aparat kita yang suka bermain mata kong kali 
kong memasukan buah-buahan spanyol tersebut. Membeli dan mengkonsumsi 
buah-buahan dan sayur-sayuran anak bangsa sendiri adalah langkah yang sangat 
nyata memerangi pasar global dan oknum aparat yang nakal tersebut. Jika kita 
tidak sedikitpun secara bersama-sama dan militant membeli buah-buahan dan 
sayur-sayuran impor tersebut otomatis buah-buahan dan sayur-sayuran itu akan 
busuk dan tidak mendapat tempat lagi dihati masyarakat dalam mengkonsumisnya 
maka dengan sendirinya para pelaku (importir) tentunya tidak berminat lagi 
memasukan buah-buahan dan sayur-sayuran baik legal dan illegal karena secara 
bisnis mereka mengalami kerugian. 





Bagi saya inilah langkah yang paling efektif kita lakukan untuk mengangkat para 
petani dan nelayan kita lebih sejahtera dari pada teori-teori yang marak di 
adakan melalui seminar-seminar 1 atau 2 hari saja, apa yang didapat dari 
seminar tersebut yang katanya meningkatkan (secara teori diatas kertas) 
kesejaheraan petani dan nelayan kita. Seminar itu yang saya perhatikan dan 
sering juga saya pantau tidak lebih tidak bukan hanya ajang silahturahhim para 
penguasa dan orang-orang penting di negeri ini saja, apalagi dijaman sekarang 
istilah yang paling populer adalah seminar juga menjadi ajang pencitraan diri 
oleh para pejabat public. Selesai seminar pukul gong penutupan, balik kanan 
grak lalu bubar tanpa ada langkah kongrit yang diwujudkan dilapangan, semuanya 
tinggal dikertas, tinggal membayar segala tagihan biaya seminar ratusan juta 
rupiah mulai honor pakar, akomodasi di hotel, konsumsi serta tiket pesawat dan 
lain sebagainya. 

Stop !!! membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran impor tersebut 
inilah langkah kongrit dan nyata kita dibandingkan seminar satu atau dua hari 
yang tidak jelas ujung pangkalnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan 
nelayan kita. Terkadang saya geleng-geleng kepala dan tidak habis pikir ketika 
berkunjung ke toko buah yang cukup terkenal di kota Pekanbaru ini. Dietalase 
toko buah tersebut terpajang manis dan rapi kelapa muda yang telah “digunduli” 
dari Thailand. Saya pikir ini adalah bentuk penghinaan terhadap Negara kita 
yang katanya adalah Negara “nyiur melambai” dengan jutaan pohon kelapa 
disepanjang pesisir pantai Nusantara. Menjadi pertanyaan besar bagi saya pada 
para penguasa di negeri ini “apakah mereka tidak bisa sedikitpun memberikan 
proteksi agar buah kelapa ini tidak merambah pasar buah kita”. Jika tidak bisa 
sungguh keterlaluan, apaboleh buat biasanya mereka hanya akan berdalih dengan 
alasan pasar global, entahlah. 





Mari kita cintai produk petani dan nelayan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan 
vitamin dan mineral kita melalui buah-buahan dan sayur-sayuran local, tahan 
diri jangan membeli produk impor tersebut, saya perjaya jika langkah ini 
dilakukan secara serentak oleh segenap lapisan masyarakat Negara ini maka 
inilah salah satu cara yang paling nyata dalam mengangkat taraf kehidupan para 
petani dan nelayan kita selama ini semakin terpuruk dengan berbagai 
permasalahan yang mereka hadapi mulai dari mahalnya harga pupuk, bencana alam, 
susahnya mendapatkan BBM untuk melaut belum lagi ulah oknum aparat yang 
mempersulit mereka mendapatkan pinjaman lunak, pasar yang tidak ada jaminan 
serta hal-hal lain yang membuat para petani dan nelayan kita semakin tersudut 
ditambah lagi dengan serangan buah-buahan, sayur-sayuran serta produk perikanan 
impor lainnya. 





Buah-buahan, sayur-sayuran serta ikan-ikanan baik lautan dan daratan produk 
anak negeri kita lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, 
protein dan zat anti oksidan kita, sebut saja dari buah-buahan seperti 
papaya,aneka jenis mangga, jeruk, nenas, semangka, jambu,pisang dan lain 
sebagainya. Masih tergiurkah anda membeli 1 Kg buah Plum dan Kiwi (impor) yang 
berharga sekitar Rp 40.000/Kg, ahhh bagi saya itu adalah perbuatan sia-sia dan 
pemborosan saja dan tidak ada keperpihakan kepada petani kita, dengan uang Rp 
40.000 tersebut saya sudah bisa membawa buah-buahan produk anak negeri sendiri 
yang sangat “local content” yaitu 1 sisir pisang ambon ranah minang, 1 Kg jeruk 
brastagi, 2 Kg Semangka jika masih bersisa bisa mendapatkan 1 atau 2 buah 
mangga harum manis yang murah meriah ketika panen melimpah. 





Tindakan yang kita lakukan ini jika saya menyitir sebuah slogan iklan provider 
seluler “lebih Indonesia” , jika kita persempit lagi membeli buah-buahan dan 
sayur-sayuran produksi anak negeri ranah minang bolehlah dikatakan “Lebih 
Minang”.Selamat membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta 
ikan-ikanan produksi bangsa sendiri para pembaca semua, semoga kita memberikan 
kontribusi dan langkah yang kongrit dalam meningkatkan kesejahteraan para 
petani dan nelayan kita 





Pekanbaru, 25 Desember 2010 





-- 
. 
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. 
=========================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: 
- DILARANG: 
1. E-mail besar dari 200KB; 
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner. 
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet 
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting 
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply 
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya. 
=========================================================== 
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe . 

-- 
. 
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. 
=========================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: 
- DILARANG: 
1. E-mail besar dari 200KB; 
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner. 
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet 
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting 
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply 
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya. 
=========================================================== 
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe . 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke