Soal penyeludupan iko terutama nan disekitar Sungai Siak Pakanbaru, mungkin pelaku terbanyak urang kampuang ambo
Sajak jaman nan banamo smokel sampai cangkuak, banyak mereka nan itu profesinyo Untuak nan alun tau, cangkuak adolah perahu yang dicangkuakkan ka kapa nan sadang bajalan malam hari memudiki sungai Siak menuju Pekanbaru Dari kapa itu diturunkan ka perahu berbagai barang smokel. Sekitar satu-dua jam sebelum masuk Pekanbaru, cangkuak perahu dilapehkan Kapa tatap full speed menuju PKU samantaro perahu, basilambek manuju tampek panyimpanan barang dipinggir sungai Tapi itu untuak kelas ringan sampai menengah Kalau nan kelas berat, umumnyo bukan dek urang pribumi Mulai pelabuhan Pantai Cermin Asahan di Sumatra Utara, sampai sekitar Tembilahan di Selatan Riau. Berbagai barang termasuk MOGE didaratkan. Moge iko dikenal juo sebagai Honda Karung. Kan lah samo tau awak nan ado dealer/distributornyo di Indonesia, indak sabanyak macam moge nan ado dijalan di Indonesia. Jadi dari mano datangnyo moge itu ?? Nan lucu mobil luar nan disinyalir punya dokumen aspal di Batam. Nan kanai tangkok cuma nan dipakai urang swasta Nan ditangan aparat indak disentuh. Kini pun lah haniang pulo kasus itu antah baa jadinyo Tapi nan jaleh, Batam memang surga mobil Illegal. Karano mobil curian dari Malaysia dan Singapur, bisa dibali murah. Karano itu harago labiah murah dari di Malaysia dan Singapur sendiri Nan lumayan heboh kapatang adolah kasus ribuan ton gula rafinasi di Bengkalis Di Dumai, ado pulo kapa penyelundup nan tabaka Barang2 bebas sajo diturunkan dari kapa nan sadang tabaka itu. Tanpa ada tindakan aparat Kabanyo baik di Bengkalis maupun Dumai, yang memasukkan gula dan kapal tabaka. Milik pengusaha kakap setempat, sehingga tidak ada tindakan aparat Kini baliak kito ka "buah jo snack lua nagari" Untuak Buah, itu kan dek karano urang awak kan maraso naiak gengsinyo kalau menkonsumsi barang dari lua Selain nan dari Eropa. Urang awak kan sabana suko jo nan ba bau Bangkok Mulai dari durian, mangga, papaya sampai Urang Bangkok...ha...ha..ha Kok snack jo bonbon/coklat. Awak memang harus extra hati2. Jan maliek haragonyo nan murah sajo. Apo lai ado kasus melamine di Cino kapatang iko Ambo pernah kicok bonbon Cino itu, iyo agak lain rasonyo. Sahinggo capek ambo buang Tapi..kok berbagai kue,kripik dan coklat dari Malaysia. Rasonyo lumayan lamak, kemasannyopun rancak Anak ambopun acok mambao sebagai oleh2 untuak kawan2nyo Herannyo snack Malaysia itu nan di Razia Balai POM, cuma karano indak terdaftar. Indak ado nan manyatokan komposisinyo indak sehat Sedangkan bonbon Cina sarato berbagai buah itu indak pernah tadanga disita POM, apo lai bayia cukai . Dengan kondisi co itu masuaknyo tantu diragukan alah lulus dari Balai Karantina nan ado dipelabuhan. Kok indak lewat Balai Karantina, kan mungkin inyo mambao ulek/serangga nan bisa mangganggu holtikultura awak Sakileh kesan ambo, nan mambao snack Malaysia adolah kelas tukang cangkuak. Sahinggo diburu taruih Tapi nan mambao berbagai buah memang partai besar tampaknyo, sahinggo aparat tutuik mato karano alah ado didalam Artinyo kasadonyo itu adolah dek karano aparat lah dapek "CIAK KOPI" Kapatang rasonyo lah ambo tulis pulo masalah ciak kopi iko.. Untuak kasus apo yooo ---TR Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: jupardi andi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 25 Dec 2010 13:49:20 To: rantaunet rantaunet<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] Stop !!! Konsumsi Buah-Buahan dan Sayur-sayuran Impor Itu, by : Jepe Stop !!! Konsumsi Buah-Buahan dan Sayur-sayuran Impor Itu By : Jepe Dalam perjalanan pulang dari Desa Repan menuju Kota Selat Panjang membelah selat pulau Rangsang dengan speedboat mata saya tertumbuk disebuah dermaga kayu kebetulan sebuah kapal kayu berukuran cukup besar lagi bersandar dan membongkar muatannya. Iseng saya bertanya pada salah seorang rombongan yang ikut dalam perjalanan diatas speedboat yang melaju dengan kecepatan sedang. Tokbur begitu panggilan akrab dari salah satu tokoh pemuda Melayu Selat Panjang yang ikut membantu saya dalam mendistribusikan bantuan paket sembako ke desa-desa di Pulau Rangsang buat anak yatim dan kaum duafa dalam rangka safari Ramadhan 1430 H yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. “Bang Tokbur, itu kapal lagi membongkar apa, kelihatannya sibuk dan banyak sekali barang-barang yang di bongkar di dermaga kayu itu” tanya saya penasaran “ahh Pak Jepe kayak nggak tahu aja, biasalah kong kali kong oknum aparat yang mengawasi peraiaran dengan pemilik barang dalam memasukan barang-barang impor ke Riau ini” jawab Tokbur singkat Tokbur bercerita dengan panjang lebar dan nampaknya dia paham betul seluk beluk kegiatan illegal di sepanjang peraiaran selat panjang tersebut karena dulunya pernah terlibat dalam pelayaran membawa barang-barang dari Malaysia dan Singapur secara illegal atau paling tidak separuh dari barang-barang tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen resmi sesuai dengan aturan yang berlaku, istilah yang cukup populernya adalah Spanyol alias Separoh Nyolong”. Di Dermaga “gelap” itu lanjut Tokbur adalah pelabuhan perantara membongkar barang-barang Spanyol sebelum barang-barang yang dilindungi oleh dokumen resmi di bongkar di pelabuhan tujuan yang tertera dalam dokumen. Barang-barang Spanyol (illegal) yang di bongkar tersebut beraneka rupa mulai buah2an impor, kain, elektronik sampai makanan-makanan kecil seperti snek, permen, biscuit kalengan rata-rata buatan China. Dari cerita saya diatas sungguh betapa oknum aparat kita bersama importir disamping merugikan Negara dari segi penerimaan pajak juga menghancurkan para petani buah kita karena secara illegal memasukan buah spanyol tersebut. Saya sebagai masyarakat kebanyakan menyaksikan hal tersebut tentu tidak bisa berbuat apa-apa untuk melakukan perlawanan, tapi ada cara lain buat saya atau kita semua melakukan perlawanan jika pihak otoritas di Negara ini (oknum) yang nakal ini sedikitpun tidak ada keperpihakan kepada para petani dan nelayan kita yang semakin terpuruk akibat ulah mereka yang memasukan secara illegal buah-buahan dan sayur-sayuran serta makanan kecil. Inilah salah satu yang membuat petani negeri kita semakin terpuruk disamping buah-buahan dan sayur-sayuran yang mereka tanam dan jual masih lemah dari segi kualitas (bentuk dan rasa yang tidak seragam) dibandingkan buah-buahan dan sayur-sayuran impor dari Thailand dan China diperparah lagi tindakan oknum aparat yang kong kali kong dengan importer memasukannya secara illegal (spanyol) yang berakibat tentu harga buah impor tersebut lebih murah dipasaran untuk dijual karena importer tidak dibebani biaya pajak, bea masuk dan lain sebagainya. Faktanya dalam sebuah berita yang saya baca lebih dari 60 % pangsa pasar buah-buahan dikuasai oleh buah-buahan impor dan parahnya lagi buah-buahan tersebut tidak saja menyerbu serta memenuhi pasar-pasar modern (super market, hypermart etc) tapi juga pasar-pasar tradisional. Jalan keluar yang kongrit kita melawan semua ini tidak lain dan tidak bukan agar petani dan nelayan kita terangkat kepermukaan dan sejahtera adalah kita semua dengan serentak dan militant menahan diri untuk tidak membeli dan mengkonsumsi buah-buahan impor tersebut. Kita memang tidak bisa melakukan perlawanan terhadap pasar global dimana semua Negara berhak melakukan perdagang secara bebas antar Negara tanpa adanya proteksi dari Negara tujuan, ditambah parah lagi dengan tingkah okunum aparat kita yang suka bermain mata kong kali kong memasukan buah-buahan spanyol tersebut. Membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran anak bangsa sendiri adalah langkah yang sangat nyata memerangi pasar global dan oknum aparat yang nakal tersebut. Jika kita tidak sedikitpun secara bersama-sama dan militant membeli buah-buahan dan sayur-sayuran impor tersebut otomatis buah-buahan dan sayur-sayuran itu akan busuk dan tidak mendapat tempat lagi dihati masyarakat dalam mengkonsumisnya maka dengan sendirinya para pelaku (importir) tentunya tidak berminat lagi memasukan buah-buahan dan sayur-sayuran baik legal dan illegal karena secara bisnis mereka mengalami kerugian. Bagi saya inilah langkah yang paling efektif kita lakukan untuk mengangkat para petani dan nelayan kita lebih sejahtera dari pada teori-teori yang marak di adakan melalui seminar-seminar 1 atau 2 hari saja, apa yang didapat dari seminar tersebut yang katanya meningkatkan (secara teori diatas kertas) kesejaheraan petani dan nelayan kita. Seminar itu yang saya perhatikan dan sering juga saya pantau tidak lebih tidak bukan hanya ajang silahturahhim para penguasa dan orang-orang penting di negeri ini saja, apalagi dijaman sekarang istilah yang paling populer adalah seminar juga menjadi ajang pencitraan diri oleh para pejabat public. Selesai seminar pukul gong penutupan, balik kanan grak lalu bubar tanpa ada langkah kongrit yang diwujudkan dilapangan, semuanya tinggal dikertas, tinggal membayar segala tagihan biaya seminar ratusan juta rupiah mulai honor pakar, akomodasi di hotel, konsumsi serta tiket pesawat dan lain sebagainya. Stop !!! membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran impor tersebut inilah langkah kongrit dan nyata kita dibandingkan seminar satu atau dua hari yang tidak jelas ujung pangkalnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan kita. Terkadang saya geleng-geleng kepala dan tidak habis pikir ketika berkunjung ke toko buah yang cukup terkenal di kota Pekanbaru ini. Dietalase toko buah tersebut terpajang manis dan rapi kelapa muda yang telah “digunduli” dari Thailand. Saya pikir ini adalah bentuk penghinaan terhadap Negara kita yang katanya adalah Negara “nyiur melambai” dengan jutaan pohon kelapa disepanjang pesisir pantai Nusantara. Menjadi pertanyaan besar bagi saya pada para penguasa di negeri ini “apakah mereka tidak bisa sedikitpun memberikan proteksi agar buah kelapa ini tidak merambah pasar buah kita”. Jika tidak bisa sungguh keterlaluan, apaboleh buat biasanya mereka hanya akan berdalih dengan alasan pasar global, entahlah. Mari kita cintai produk petani dan nelayan anak bangsa untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral kita melalui buah-buahan dan sayur-sayuran local, tahan diri jangan membeli produk impor tersebut, saya perjaya jika langkah ini dilakukan secara serentak oleh segenap lapisan masyarakat Negara ini maka inilah salah satu cara yang paling nyata dalam mengangkat taraf kehidupan para petani dan nelayan kita selama ini semakin terpuruk dengan berbagai permasalahan yang mereka hadapi mulai dari mahalnya harga pupuk, bencana alam, susahnya mendapatkan BBM untuk melaut belum lagi ulah oknum aparat yang mempersulit mereka mendapatkan pinjaman lunak, pasar yang tidak ada jaminan serta hal-hal lain yang membuat para petani dan nelayan kita semakin tersudut ditambah lagi dengan serangan buah-buahan, sayur-sayuran serta produk perikanan impor lainnya. Buah-buahan, sayur-sayuran serta ikan-ikanan baik lautan dan daratan produk anak negeri kita lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, protein dan zat anti oksidan kita, sebut saja dari buah-buahan seperti papaya,aneka jenis mangga, jeruk, nenas, semangka, jambu,pisang dan lain sebagainya. Masih tergiurkah anda membeli 1 Kg buah Plum dan Kiwi (impor) yang berharga sekitar Rp 40.000/Kg, ahhh bagi saya itu adalah perbuatan sia-sia dan pemborosan saja dan tidak ada keperpihakan kepada petani kita, dengan uang Rp 40.000 tersebut saya sudah bisa membawa buah-buahan produk anak negeri sendiri yang sangat “local content” yaitu 1 sisir pisang ambon ranah minang, 1 Kg jeruk brastagi, 2 Kg Semangka jika masih bersisa bisa mendapatkan 1 atau 2 buah mangga harum manis yang murah meriah ketika panen melimpah. Tindakan yang kita lakukan ini jika saya menyitir sebuah slogan iklan provider seluler “lebih Indonesia” , jika kita persempit lagi membeli buah-buahan dan sayur-sayuran produksi anak negeri ranah minang bolehlah dikatakan “Lebih Minang”.Selamat membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta ikan-ikanan produksi bangsa sendiri para pembaca semua, semoga kita memberikan kontribusi dan langkah yang kongrit dalam meningkatkan kesejahteraan para petani dan nelayan kita Pekanbaru, 25 Desember 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
