Assalamualaikum ww

Suwai ambo jo kisanak nan di Ipoh tu

Tantukan dima tagak awak dulu nan ka dicaliak, ahlu sunnah atau wahabiyah 
salafiyah atau mungkin suffiyah, kan baitu

Pado dasarnyo sasudah Rasulullah wafat mako ulama tu lah nan pawaris (tugas2) 
nabi, sacaro umum ulama ko tabagi duo yaitu Ulama Salaf dan Ulama Khalaf 


Kok ulama Salaf memaknai ayat2 Alquran maupun hadist2 sebagaimana apa adanya 
dan 
menyerahkan penjelasan maknanya kepada Allah yang punya ayat bila menemukan 
ayat2 yang multi tafsir, mereka takut mengambil resiko kalau men-ta'wil2kan 
sendiri, me-nafsir2 atau mungkin menkutak katik makna atau maksud suatu ayat, 
pokoknya kalau kurang jelas maka diserahkan saja kepada Allah yang punya, 
mereka 
hanya mengimani saja apa adanya karena merasa tidak berhak mengkutak katik 
ayat2 
Allah

Sebaliknya Ulama Khalaf memaknai atau menfsirkan atau mentakwilkan ayat2 
Alquran 
atau hadist yang maknanya multi tafsir dengan fikiran dan takwilnya, tentu saja 
tidak dimaksudkan untuk menodai kesucian ayat Alquran maupun hadist2 tersebut

Jadi tidak heran bila muncul perbedaan2, jangan2 sasuai bak kato Rasulullah juo 
go eh, bahwa umat Islam itu pada akhir zaman akan terpecah menjadi 73 golongan, 
entah mana golongan yang paling benar, yang jelas kata Rasulullah hanya satu 
yaitu yang berpegang hanya kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah, cuma yang jadi 
persoalan adalah semua mengaku golongan yang satu itu

Soal kesepakatan ulama, itu bana nan sulik, misal kesepakatan ulama yang 
tergabung dalam MUI memfatwakan masalah rokok di Padang Panjang tahun lalu, 
indak bisa gai laku fatwa tu di nan lain, karano masing2 marasa ulama dari 
kelompok mereka tidak terwakili, apolagi sekarang ini di Indonesia sajo masing2 
kelompok punya ulama sendiri2, kelompok salafi punya ulama sendiri, Tarikat 
Naqsabandiyah begitu pula, Tarikat Satariyah baitu pulo, alun lai NU, 
Muhammadiyah, PKS, FPI, NII, Dept Agama RI, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, LDII 
dll, kok di Malaysia ado Wahabi, ado SAS, kini ado pulo ulama dari fraksi Anwar 
Ibrahim dan oposan pemerintah 

wasalam
abp58




________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: Rantaunet <[email protected]>
Terkirim: Rab, 29 Desember, 2010 09:02:43
Judul: Re: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir

Pak Ramadhanil... 

Tentang apo bana nan dzikir tu, banyak sangaik referensi nyo di perpustakaan 
maya ataupun nan biaso. Namun nan paralu di duduakkan dulu, kito ikuik fahaman 
apo! Supayo pencarian awak ndak sio~sio.. 

Sia nan ahlussunnah, cari yg ahlussunnah...
Sia nan wahhabi, cari pulo nan wahhabi..
Baitu pulo nan lainnyo(kok ado)..

Manuruik ambo pribadi, dzikir tu mempunyai pengertian yg amat dlm..bukan hanyo 
karajo lidah, bukan hanyo aktifitas fisik, tapi labiah dari sagalo itu 
adolah...karajo HATI..
Hati nan berdzikir, adolah nan santiaso maraso sagalo perasaan, fikiran, dan 
perbuatan berpaksikan Kecintaan kepada Allah swt..

Masaalah kaifiat zikir...ndeehh..bajibun caro nyo, kembali ka nan tadi, nio 
ikuik jalur maa? Terserah..sagalo amal ibadaik kito Tuhan nan manilai..jan 
mandabiak dado basonyo amalan den se nan ikuik sunnah.!

Ciek lai...jan di pasoan seluruh urang minang kabau ikuik ciek pemahaman 
sajo..sejarah lah membuktikan..

Akhirul kalam, ”aqimusshalata li dzikry”
..menegakkan esensi shalat adalah dzikir Agung..

Wassalam,
Muhammad firdaus ibni Khaidir Ipoh
Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone
________________________________

From:  Ramadhanil pitopang <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Wed, 29 Dec 2010 07:24:50 +0800 (SGT)
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir

Assalamualaikum WW.

Pernah pulo ambo mambaco beberapa tulisan tenatng Dzikir, tapi masih ambo 
sendiri masih susah memahami dan memaknai Arti dzikir nan sabananya. 


Mungkin dunsanak bisa memberi ulasan tentang DZIKIR ITU APO BANA NAN SABANANYO? 
APO NAN DISABUIK DAN BAA PULO TEKNIK PELAKSANAANNYO.? 


Supayo makna dan manfaat Dzikir iko betul-betul berimplikasi langsung kepada 
umat islam secara positif baik melalui perkataan dan  perbuatan serta paling 
tidak melalui tindakan, perilaku, serta akhlak mulia kita sehari-hari.

banyak pulo literatur nan manjalehkan Dzikir itu memang diperintahkan oleh 
Allah 
SWT, tapi bukan hanya mambaco Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar sajo tapi 
ado pulo  membaginya menjadi beberapa tingkatan  dzikir seperti Dzikir Lataif, 
Dzikir Ismuzat dan lain-lain. 

Terus dzikir yang bagaimana pula  sesungguhnya dimana apabila kita mengingat 
dan 
menyebut namaNya " Kita akan masuk ke dalam BentengNya" .  Bahkan disebutkan 
oleh H. R. Imam Muslim ; 

" Laa taquumus saa'atu hatta laa yabqaa' alaa wajhil arddhi mayyaquuhu : ALLAH, 
ALLAH"
Artinya : " Tiada akan datang kiamat KECUALI kalau tidak ada lagi orang yang 
membaca ALLAH, ALLAH..

Mohon pencerahannya pak,  Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kami dalam mengisi 
kehidupan yang singkat ini. tarimo kasih .

Wassalam
Ramadhanil Pitopang
46 tahun Palu




 .


--- Pada Rab, 29/12/10, [email protected] <[email protected]> menulis:


>Dari: [email protected] <[email protected]>
>Judul: Re: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir
>Kepada: "Rantau" <[email protected]>
>Tanggal: Rabu, 29 Desember, 2010, 5:24  AM
>
>
>Bagus sekali
>Agar tulisan ini disebar luaskan
>Kalau bisa di publikasikan pada media masa yang ada, sehingga ummat tak 
>terjebak 
>dalam pengertian dzikir yang sempit dan Ria dalam berzikir
>Terima kasih sanak
>Salam
>Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

>From:  Sutan Sinaro <[email protected]> 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Tue, 28 Dec 2010 07:28:55 -0800 (PST)
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir
>
>
>Assalamu'alaikum. w.w.
> 
>Tulisan ko ndak sempat takirim ka media massa, dek siap-siap ka barangkek
>katiko tu dan talupokan, ruponyo ado takulipik dalam file. Ko ambo copy paste 
>kan.
> 
>Memaknai Dzikir 
>  
>    Kata dzikir telah membudaya pada kita dan dikenal secara nasional lewat 
>maraknya
>acara-acara dzikir bersama yang diadakan oleh kelompok-kelompok tertentu baik
>pemerintah maupun non pemerintah, baik partai politik maupun non-partai 
>politik. 
>
>Secara kasat mata terlihat jelas seolah-olah kegiatan itu ingin membawa ummat 
>untuk
>mendekat kembali pada agama, atau ajarannya, akan tetapi dibalik itu sesorang 
>tidak
>pernah berpikir bahwa acara-acara seperti itu hanyalah untuk memperkuat 
>kedudukan
>seseorang atau sekelompok orang atau untuk mengejar popularitas seseorang atau
>sekelompok orang yang melaksanakan acaranya. 
>    Mungkin secara kasat mata juga orang melihat adanya keinginan kelompok
>masyarakat di daerah tertentu untuk bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang 
>dilarang
>agama agar bala bencana yang timbul tidak terulang lagi di masa yang akan 
>datang,
>artinya bertaubat kepada Allah swt. dan memohon bencana tidak ditimpakan lagi 
>buat
>mereka. Akan tetapi dibalik itu semua tanpa diketahui, ada orang-orang 
>tertentu 
>atau
>kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut untuk menaikkan
>popularitas atau memperkuat kedudukan mereka. 
>   Satu hal yang paling esensi dalam hal ini adalah bahwa pelaksanaan 
>acara-acara
>tersebut seperti dzikir bersama, ataukah namanya istighosah kubra dan 
>sebagainya 
>tidak
>mengacu pada apa yang telah diturunkan Allah swt dan diajarkan oleh rasul-Nya,
>sehingga perbuatan ini menjadi sesuatu yang baru (bid’ah). Berdzikir adalah 
>ibadah yang
>disuruh, oleh sebab itu mestilah mengacu kepada apa yang pernah diperbuat oleh
>Rasulullah saw. agar tidak menjadi bid’ah. Hal inilah yang tidak pernah mereka 
>pikirkan
>dan renungkan, dan apa akibat dari perbuatan-perbuatan itu. 
>    Berdzikir adalah pekerjaan baik yang memang dianjurkan bahkan disuruh 
> untuk 
>setiap
>pribadi muslim, akan tetapi perbuatan itu telah termarjinalkan berupa 
>pembacaan 
>atau
>bisik-bisik dengan menyebut Subhanallah, walhamdulillah, wallaahuakbar, dan 
>disudahi
>dengan pembacaan doa, baik sendiri-sendiri maupun dipimpin. Persoalan ini 
>sebenarnya
>telah mengelabui mata dan mengecoh umat secara merata, baik di kampung maupun 
di
>kota . 
>     Persoalan yang dihadapi bangsa ini sebenarnya tidak terlepas dari urusan 
>dzikir jika
>dilihat dengan jeli, dan bagaimana memahami maknanya. Kita kesampingkan dahulu
>bicara budaya korupsi yang dapat dikatakan seperti telah mendarah daging pada 
>bangsa
>ini, penghisapan manusia oleh manusia (l’explotation de l’hommepar l’homme) 
>pada 
>hal
>yang kecil-kecil seperti premanisme sampai kepada urusan penebangan hutan 
>secara 
>liar
>tidak terlepas dari kesalahan memaknai dzikir sacara hakiki. Boleh jadi hal 
>ini 
>adalah
>kesalahan warisan kolonial ataupun kelalaian para pemimpin semenjak zaman 
>revolusi 
>
>akan tetapi tidak terlepas dari ambisi seseorang atau sekelompok orang dalam
>menunggangi ummat ini dengan memarjinalkan makna dzikir dari yang sesungguhnya.
>Ditambah pula dengan diamnya para ulama yang nyata-nyata sangat banyak di 
>negeri 
>ini
>yang boleh jadi akibat tekanan para penguasa ataupun sikap apatis melihat 
>nasib 
>bangsa
>ataupun juga mendahulukan keuntungan dunia daripada akhiratnya, telah 
>mengakibatkan
>bangsa ini semakin terpuruk dan jauh dari ridha Allah swt yang diharapkan. Dan 
>akibat
>dari hal ini secara keyakinan mendatangkan bala bencana yang jelas-jelas bukan 
>karena
>Allah swt, menzhalimi hamba-Nya. Hal inilah yang mesti dipikirkan oleh setiap 
>individu
>dalam negeri ini terutama para ulama yang nota bene berkompeten dalam persolan 
>ini. 
>     Kata dzikir dalam kamus bahasa Arab ditemukan pada kata “dzakara-yadzkuru
>dzikran”, bermakna mengingat sesuatu. Dzikrullaah bermakna mengingat Allah. 
>Ketika
>mengingat Allah, seseorang dianjurkan untuk beristighfar, bertasbih, bertahmid 
>dan
>bertakbir, akan tetapi hal itu, istighfar, tasbih dan tahmid itu, bukan makna 
>dari dzikir itu
>sendiri. Dalam banyak ayat Al-Qur-an telah diterangkan makna dzikir, untuk 
>mudahnya
>mari lihat dalam surah Al-jumuah dalam ayat “... wa dzikrullaaha katsiira.“, 
>artinya 
>"Ingatlah Allah banyak-banyak". 
>    Ayat ini demikian indahnya telah menyuruh seseorang untuk bertebaran di 
> muka 
>bumi
>setelah shalat jum’at untuk mencari rezki yang diturunkan Allah swt. dan 
>dipesankan
>untuk mengingat Allah banyak-banyak. Artinya pada setiap tindakan dalam 
>mencari 
>rezeki
>itu apakah sebagai seorang petani, pedagang, sampai kepada presiden dianjurkan 
>untuk
>mengingat Allah banyak-banyak. Gunanya adalah agar dapat mensiasati dunia ini 
>dengan
>baik dengan tindakan dan perbuatan yang dibenarkan oleh Allah. Agar selalu 
>mawas 
>diri
>apakah tindakan dan perbuatan berada di jalan Allah atau tidak, sesuai dengan 
>aturan
>yang diturunkan Allah atau tidak. Bila hal ini dilakukan maka hilanglah semua 
>pranata-
>pranata atau jargon-jargon kejahatan dalam diri seseorang atau sekelompok 
>orang 
>atau
>masyarakat ataupun bangsa dalam melakukan segala tindak tanduknya karena takut
>akan ancaman Allah  dan ingin menggapai ridha-Nya. 
>    Kita dapat bayangkan bila keadaan ini dapat merata pada setiap individu 
>bangsa ini,
>maka hilanglah semua apa yang dinamakan korupsi, penyelewengan, penipuan dan
>sebagainya mulai dari pungli sampai kepada penebangan hutan secara liar dan 
>penyalah
>gunaan jabatan. Bagi seorang pegawai, ia akan bekerja sesuai dengan apa yang 
>menjadi
>tugasnya dalam keadaan mengingat Allah dan takut untuk melakukan tindak pidana
>korupsi. Seorang pedagang akan terjauh dari penipuan ataupun penumpukan barang 
>demi
>meraih keuntungan yang tidak seberapa dibandingkan dengan ridha Allah swt. 
>Artinya
>apapun posisi atau tugas seseorang dalam menjalani hidup ini akan terlepas 
>dari 
>jalan
>yang tidak diridhai Allah swt selama mana ia berdzikir mengingat Allah dalam
>tindakannya. Inilah makna yang sebenarnya dari dzikir yang dengan indahnya 
>dinyatakan
>dalam ayat tersebut “ingatlah Allah banyak-banyak”. 
>   Jalan keluar dari keadaan sekarang ini tidak terlepas dari mengembalikan 
>makna dzikir
>pada yang sesungguhnya. Oleh sebab itu ulama dalam hal ini sudah tentu sangat
>memegang peranan penting dalam memberi pengertian yang jelas sampai kepada
>larangan penyempitan makna dzikir oleh seseorang atau sekelompok orang demi 
>meraih
>popularitas atau keuntungan politik yang jelas-jelas telah merusak ummat ini. 
>Hal ini tentu saja dengan harapan Allah akan meridhai setiap tindakan-tindakan 
>kita dan
>menarik kembali semua bencana yang awalnya memang berasal dari tangan kita juga
>untuk tidak diturunkan sebagai balasan usaha kita ini. 
>Ammmin yaa rabbal ‘aalamiin. 
>  
>Padang, 20 Juni 2007. 
>  
>Asc. Prof. Dr. Ir. Khairi Yusuf St. Sinaro 
>  
>Lab. Perancangan dan Konstruksi Mesin 
>Fakultas Teknik 
>Universitas Andalas 
>Kampus Limau Manih Padang . 
> 
> 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke