Kalo gak salah jawabannyo ado di surek Az Zhumar nanti di Hari Pengadilan semua ketau kelompok (Ulama termasuk) dan semua ketua tharekat, akan malapehkan tanggung jawab umatnya yang minat pertanggung jawaban Apakah pernah Muhammad SAW menyuruh umatnya supaya membentuk aliran yang 73 itu?? rasanya tidak demikian, Terus,...terus..? wass
--- Pada Sel, 28/12/10, Arman Bahar <[email protected]> menulis: Dari: Arman Bahar <[email protected]> Judul: Bls: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 28 Desember, 2010, 11:57 PM Assalamualaikum ww Suwai ambo jo kisanak nan di Ipoh tu Tantukan dima tagak awak dulu nan ka dicaliak, ahlu sunnah atau wahabiyah salafiyah atau mungkin suffiyah, kan baitu Pado dasarnyo sasudah Rasulullah wafat mako ulama tu lah nan pawaris (tugas2) nabi, sacaro umum ulama ko tabagi duo yaitu Ulama Salaf dan Ulama Khalaf Kok ulama Salaf memaknai ayat2 Alquran maupun hadist2 sebagaimana apa adanya dan menyerahkan penjelasan maknanya kepada Allah yang punya ayat bila menemukan ayat2 yang multi tafsir, mereka takut mengambil resiko kalau men-ta'wil2kan sendiri, me-nafsir2 atau mungkin menkutak katik makna atau maksud suatu ayat, pokoknya kalau kurang jelas maka diserahkan saja kepada Allah yang punya, mereka hanya mengimani saja apa adanya karena merasa tidak berhak mengkutak katik ayat2 Allah Sebaliknya Ulama Khalaf memaknai atau menfsirkan atau mentakwilkan ayat2 Alquran atau hadist yang maknanya multi tafsir dengan fikiran dan takwilnya, tentu saja tidak dimaksudkan untuk menodai kesucian ayat Alquran maupun hadist2 tersebut Jadi tidak heran bila muncul perbedaan2, jangan2 sasuai bak kato Rasulullah juo go eh, bahwa umat Islam itu pada akhir zaman akan terpecah menjadi 73 golongan, entah mana golongan yang paling benar, yang jelas kata Rasulullah hanya satu yaitu yang berpegang hanya kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah, cuma yang jadi persoalan adalah semua mengaku golongan yang satu itu Soal kesepakatan ulama, itu bana nan sulik, misal kesepakatan ulama yang tergabung dalam MUI memfatwakan masalah rokok di Padang Panjang tahun lalu, indak bisa gai laku fatwa tu di nan lain, karano masing2 marasa ulama dari kelompok mereka tidak terwakili, apolagi sekarang ini di Indonesia sajo masing2 kelompok punya ulama sendiri2, kelompok salafi punya ulama sendiri, Tarikat Naqsabandiyah begitu pula, Tarikat Satariyah baitu pulo, alun lai NU, Muhammadiyah, PKS, FPI, NII, Dept Agama RI, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, LDII dll, kok di Malaysia ado Wahabi, ado SAS, kini ado pulo ulama dari fraksi Anwar Ibrahim dan oposan pemerintah wasalam abp58 Dari: "[email protected]" <[email protected]> Kepada: Rantaunet <[email protected]> Terkirim: Rab, 29 Desember, 2010 09:02:43 Judul: Re: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir Pak Ramadhanil... Tentang apo bana nan dzikir tu, banyak sangaik referensi nyo di perpustakaan maya ataupun nan biaso. Namun nan paralu di duduakkan dulu, kito ikuik fahaman apo! Supayo pencarian awak ndak sio~sio.. Sia nan ahlussunnah, cari yg ahlussunnah... Sia nan wahhabi, cari pulo nan wahhabi.. Baitu pulo nan lainnyo(kok ado).. Manuruik ambo pribadi, dzikir tu mempunyai pengertian yg amat dlm..bukan hanyo karajo lidah, bukan hanyo aktifitas fisik, tapi labiah dari sagalo itu adolah...karajo HATI.. Hati nan berdzikir, adolah nan santiaso maraso sagalo perasaan, fikiran, dan perbuatan berpaksikan Kecintaan kepada Allah swt.. Masaalah kaifiat zikir...ndeehh..bajibun caro nyo, kembali ka nan tadi, nio ikuik jalur maa? Terserah..sagalo amal ibadaik kito Tuhan nan manilai..jan mandabiak dado basonyo amalan den se nan ikuik sunnah.! Ciek lai...jan di pasoan seluruh urang minang kabau ikuik ciek pemahaman sajo..sejarah lah membuktikan.. Akhirul kalam, ”aqimusshalata li dzikry” ..menegakkan esensi shalat adalah dzikir Agung.. Wassalam, Muhammad firdaus ibni Khaidir Ipoh Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone From: Ramadhanil pitopang <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 29 Dec 2010 07:24:50 +0800 (SGT) To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir Assalamualaikum WW. Pernah pulo ambo mambaco beberapa tulisan tenatng Dzikir, tapi masih ambo sendiri masih susah memahami dan memaknai Arti dzikir nan sabananya. Mungkin dunsanak bisa memberi ulasan tentang DZIKIR ITU APO BANA NAN SABANANYO? APO NAN DISABUIK DAN BAA PULO TEKNIK PELAKSANAANNYO.? Supayo makna dan manfaat Dzikir iko betul-betul berimplikasi langsung kepada umat islam secara positif baik melalui perkataan dan perbuatan serta paling tidak melalui tindakan, perilaku, serta akhlak mulia kita sehari-hari. banyak pulo literatur nan manjalehkan Dzikir itu memang diperintahkan oleh Allah SWT, tapi bukan hanya mambaco Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar sajo tapi ado pulo membaginya menjadi beberapa tingkatan dzikir seperti Dzikir Lataif, Dzikir Ismuzat dan lain-lain. Terus dzikir yang bagaimana pula sesungguhnya dimana apabila kita mengingat dan menyebut namaNya " Kita akan masuk ke dalam BentengNya" . Bahkan disebutkan oleh H. R. Imam Muslim ; " Laa taquumus saa'atu hatta laa yabqaa' alaa wajhil arddhi mayyaquuhu : ALLAH, ALLAH" Artinya : " Tiada akan datang kiamat KECUALI kalau tidak ada lagi orang yang membaca ALLAH, ALLAH.. Mohon pencerahannya pak, Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kami dalam mengisi kehidupan yang singkat ini. tarimo kasih . Wassalam Ramadhanil Pitopang 46 tahun Palu . --- Pada Rab, 29/12/10, [email protected] <[email protected]> menulis: Dari: [email protected] <[email protected]> Judul: Re: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir Kepada: "Rantau" <[email protected]> Tanggal: Rabu, 29 Desember, 2010, 5:24 AM Bagus sekali Agar tulisan ini disebar luaskan Kalau bisa di publikasikan pada media masa yang ada, sehingga ummat tak terjebak dalam pengertian dzikir yang sempit dan Ria dalam berzikir Terima kasih sanak Salam Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Sutan Sinaro <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 28 Dec 2010 07:28:55 -0800 (PST) To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [...@ntau-net] Memaknai Dzikir Assalamu'alaikum. w.w. Tulisan ko ndak sempat takirim ka media massa, dek siap-siap ka barangkek katiko tu dan talupokan, ruponyo ado takulipik dalam file. Ko ambo copy paste kan. Memaknai Dzikir Kata dzikir telah membudaya pada kita dan dikenal secara nasional lewat maraknya acara-acara dzikir bersama yang diadakan oleh kelompok-kelompok tertentu baik pemerintah maupun non pemerintah, baik partai politik maupun non-partai politik. Secara kasat mata terlihat jelas seolah-olah kegiatan itu ingin membawa ummat untuk mendekat kembali pada agama, atau ajarannya, akan tetapi dibalik itu sesorang tidak pernah berpikir bahwa acara-acara seperti itu hanyalah untuk memperkuat kedudukan seseorang atau sekelompok orang atau untuk mengejar popularitas seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan acaranya. Mungkin secara kasat mata juga orang melihat adanya keinginan kelompok masyarakat di daerah tertentu untuk bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama agar bala bencana yang timbul tidak terulang lagi di masa yang akan datang, artinya bertaubat kepada Allah swt. dan memohon bencana tidak ditimpakan lagi buat mereka. Akan tetapi dibalik itu semua tanpa diketahui, ada orang-orang tertentu atau kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut untuk menaikkan popularitas atau memperkuat kedudukan mereka. Satu hal yang paling esensi dalam hal ini adalah bahwa pelaksanaan acara-acara tersebut seperti dzikir bersama, ataukah namanya istighosah kubra dan sebagainya tidak mengacu pada apa yang telah diturunkan Allah swt dan diajarkan oleh rasul-Nya, sehingga perbuatan ini menjadi sesuatu yang baru (bid’ah). Berdzikir adalah ibadah yang disuruh, oleh sebab itu mestilah mengacu kepada apa yang pernah diperbuat oleh Rasulullah saw. agar tidak menjadi bid’ah. Hal inilah yang tidak pernah mereka pikirkan dan renungkan, dan apa akibat dari perbuatan-perbuatan itu. Berdzikir adalah pekerjaan baik yang memang dianjurkan bahkan disuruh untuk setiap pribadi muslim, akan tetapi perbuatan itu telah termarjinalkan berupa pembacaan atau bisik-bisik dengan menyebut Subhanallah, walhamdulillah, wallaahuakbar, dan disudahi dengan pembacaan doa, baik sendiri-sendiri maupun dipimpin. Persoalan ini sebenarnya telah mengelabui mata dan mengecoh umat secara merata, baik di kampung maupun di kota . Persoalan yang dihadapi bangsa ini sebenarnya tidak terlepas dari urusan dzikir jika dilihat dengan jeli, dan bagaimana memahami maknanya. Kita kesampingkan dahulu bicara budaya korupsi yang dapat dikatakan seperti telah mendarah daging pada bangsa ini, penghisapan manusia oleh manusia (l’explotation de l’hommepar l’homme) pada hal yang kecil-kecil seperti premanisme sampai kepada urusan penebangan hutan secara liar tidak terlepas dari kesalahan memaknai dzikir sacara hakiki. Boleh jadi hal ini adalah kesalahan warisan kolonial ataupun kelalaian para pemimpin semenjak zaman revolusi akan tetapi tidak terlepas dari ambisi seseorang atau sekelompok orang dalam menunggangi ummat ini dengan memarjinalkan makna dzikir dari yang sesungguhnya. Ditambah pula dengan diamnya para ulama yang nyata-nyata sangat banyak di negeri ini yang boleh jadi akibat tekanan para penguasa ataupun sikap apatis melihat nasib bangsa ataupun juga mendahulukan keuntungan dunia daripada akhiratnya, telah mengakibatkan bangsa ini semakin terpuruk dan jauh dari ridha Allah swt yang diharapkan. Dan akibat dari hal ini secara keyakinan mendatangkan bala bencana yang jelas-jelas bukan karena Allah swt, menzhalimi hamba-Nya. Hal inilah yang mesti dipikirkan oleh setiap individu dalam negeri ini terutama para ulama yang nota bene berkompeten dalam persolan ini. Kata dzikir dalam kamus bahasa Arab ditemukan pada kata “dzakara-yadzkuru dzikran”, bermakna mengingat sesuatu. Dzikrullaah bermakna mengingat Allah. Ketika mengingat Allah, seseorang dianjurkan untuk beristighfar, bertasbih, bertahmid dan bertakbir, akan tetapi hal itu, istighfar, tasbih dan tahmid itu, bukan makna dari dzikir itu sendiri. Dalam banyak ayat Al-Qur-an telah diterangkan makna dzikir, untuk mudahnya mari lihat dalam surah Al-jumuah dalam ayat “... wa dzikrullaaha katsiira.“, artinya "Ingatlah Allah banyak-banyak". Ayat ini demikian indahnya telah menyuruh seseorang untuk bertebaran di muka bumi setelah shalat jum’at untuk mencari rezki yang diturunkan Allah swt. dan dipesankan untuk mengingat Allah banyak-banyak. Artinya pada setiap tindakan dalam mencari rezeki itu apakah sebagai seorang petani, pedagang, sampai kepada presiden dianjurkan untuk mengingat Allah banyak-banyak. Gunanya adalah agar dapat mensiasati dunia ini dengan baik dengan tindakan dan perbuatan yang dibenarkan oleh Allah. Agar selalu mawas diri apakah tindakan dan perbuatan berada di jalan Allah atau tidak, sesuai dengan aturan yang diturunkan Allah atau tidak. Bila hal ini dilakukan maka hilanglah semua pranata- pranata atau jargon-jargon kejahatan dalam diri seseorang atau sekelompok orang atau masyarakat ataupun bangsa dalam melakukan segala tindak tanduknya karena takut akan ancaman Allah dan ingin menggapai ridha-Nya. Kita dapat bayangkan bila keadaan ini dapat merata pada setiap individu bangsa ini, maka hilanglah semua apa yang dinamakan korupsi, penyelewengan, penipuan dan sebagainya mulai dari pungli sampai kepada penebangan hutan secara liar dan penyalah gunaan jabatan. Bagi seorang pegawai, ia akan bekerja sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya dalam keadaan mengingat Allah dan takut untuk melakukan tindak pidana korupsi. Seorang pedagang akan terjauh dari penipuan ataupun penumpukan barang demi meraih keuntungan yang tidak seberapa dibandingkan dengan ridha Allah swt. Artinya apapun posisi atau tugas seseorang dalam menjalani hidup ini akan terlepas dari jalan yang tidak diridhai Allah swt selama mana ia berdzikir mengingat Allah dalam tindakannya. Inilah makna yang sebenarnya dari dzikir yang dengan indahnya dinyatakan dalam ayat tersebut “ingatlah Allah banyak-banyak”. Jalan keluar dari keadaan sekarang ini tidak terlepas dari mengembalikan makna dzikir pada yang sesungguhnya. Oleh sebab itu ulama dalam hal ini sudah tentu sangat memegang peranan penting dalam memberi pengertian yang jelas sampai kepada larangan penyempitan makna dzikir oleh seseorang atau sekelompok orang demi meraih popularitas atau keuntungan politik yang jelas-jelas telah merusak ummat ini. Hal ini tentu saja dengan harapan Allah akan meridhai setiap tindakan-tindakan kita dan menarik kembali semua bencana yang awalnya memang berasal dari tangan kita juga untuk tidak diturunkan sebagai balasan usaha kita ini. Ammmin yaa rabbal ‘aalamiin. Padang, 20 Juni 2007. Asc. Prof. Dr. Ir. Khairi Yusuf St. Sinaro Lab. Perancangan dan Konstruksi Mesin Fakultas Teknik Universitas Andalas Kampus Limau Manih Padang . -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
