Bung Andi Ko, saya pernah membaca buku James Mossman tsb sewaktu mempersiapkan
disertasi saya di UGM (1996). Kalau saya tidak salah ingat, Mossman juga yg
menilai pemberontakan PRRI -dengan sedikit sinisme - sebagai 'perang saudara yg
paling santun' ('the most civil civil war'). Mungkin Mossman mengharapkan
terjadinya pertempuran yg lebih 'seru'.
Dalam penelitian saya, spt juga dgn kesan Mossman, pemberontakan PRRI memang
lebih merupakan 'bluff' daripada 'rebellion', karena secara militer
sesungguhnya PRRI tidak siap, walau dibantu dgn senjata oleh Amerika Serikat.
Ttg peranan Amerika Serikat ini, bisa kita baca buku Prof George McTurnan Kahin
' Subversion as Foreign Policy'.
Setahu saya, selain dari buku Prof Leirissa, belum ada buku, atau disertasi,
yang secara khusus meneliti PRRI ini. Juga - atau khususnya - tidak oleh urang
awak, yg sebelumnya memberikan dukungan habis-habisan thd PRRI ini.
Mengingat kemerdekaan berfikir yg terbuka dewasa ini, yg memungkinkan mantan
agt PKI atau keturunan mereka utk 'angkat bicara', saya memang agak heran kok
tidak ada buku yg ditulis urang awak, yang secara komprehensif dan mendalam
membahas kurun yg amat bersejarah bagi sukubangsa Minangkabau ini. Kalau
tulisan yg memuat kenang-kenangan pribadi memang ada, yg sudah barang tentu
tidak banyak mengulas latar belakang politik dan strateginya. Kita masih harus
menunggu ditulisnya buku tersebut, yg sudah tentu akan semakin sukar, oleh
karena sebagian (besar?) pelaku sudah tidak ada lagi di tengah kita.
Wassalam,
------Original Message------
From: Andi Ko Sutan Mancayo
Sender: Rantau Net
To: Rantau Net
ReplyTo: Rantau Net
Subject: [...@ntau-net] Catatan Wartawan Inggris Ketika Berkunjung ke Perang
PRRI
Sent: Jan 8, 2011 13:07
Kesan James Mossman, Wartawan Inggris untuk Koran Daily Mail dan Sidney Morning
Heral, ketika masuk ke jantung Sumatera, kesan terhadap suasana dan bertemu
para pimpinan PRRI.
1. 1. “Sukarno tidak akan berani menyerang kami disini”,
Kolonel Djambek memberitahu saya dengan senyum lebar ketika saya dating ke
rumahnya keesokan pagi. Ia tinggal di vila besar di pinggir kota bersama
istrinya, seorang perempuan keturunan Jerman yang cantik, dan kedua putranya
yang masih kecil. Kedua putranya tersebut mengenakkan seragam colonel mini
mirip dengan seragam ayahnya.
2. 2. Saya bertemu Syafruddin di rumahnya, dekat kota kecil Padang
Panjang. Ia berbagi vila dengan Mohammad Natsir, pemimpin Partai Masyumi yang
anti Sukarno. Keduanya keluar dari Jawa beserta seluruh keluarganya sekitar
satu atau dua minggu sebelum perang saudara pecah. Syafruddin membawa beberapa
koper penuh berisi uang yang diambil dari ruang penyimpanan Bank Indonesia,
dimana ia menjadi Direktur. Natsir memboyong anak-anaknya yang banyak jumlahnya
serta pendiriannya yang sederhana tetapi kuat
3. 3. Pada 15 April 1958, saya menemui Kolonel Simbolon di mes perwira di
Padang Panjang. Ia kelihatan khawatir dan tertekan. Pasukan pemerintah 3. pusat
telah bergerak dalam jarak lima mil dari jalan utama. Mereka menuju selatan dan
diperkirakan akan memotong jalan tersebut dalam 12 jam. …….Tampa diduga
Simbolon sangat berterus terang mengenai kesulitan yang akan dihadapi.
“kami akan berusaha menahan mereka, tapi apa yang bisa kami lakukan menghadapi
serangan udara ? “. Ia menggebrak meja dengan wadah rokok Player. “Kami
membutuhkan pesawat tempur. Cukup dua prajurit pesawat tempur. Satu pesawat
tempur dengan satu orang pilot yang handal saja sudah cukup. Kami bisa
menghentikan Nasution agar tidak memasuki pangkalan kami di pantai. Mengapa
barat tidak melihat ini ?. Mengapa mereka tidak cukup percaya kepada kami
untuk mengirimkan sedikit saja pesawat tempur ?. Tak lama lagi semuanya akan
terlambat”. Ia tersenyum lelah. Ia selalu sadar dengan efek dramatis
kata-katanya.
4. 4. Bukittinggi sedang ramai oleh aktivitas. Perintah pemadaman listrik
sudah tidak di hiraukan dan tampak cahaya dari jendela kantor-kantor
pemerintah. Norman, pemilik hotel tempat kami menginap, menemui kami di
beranda. “Mereka sedang mengevakuasi”, katanya. Mereka membakar tumpukan kertas
dan memasukkan dokumen-dokumen ketruk lalu membawanya pergi. Hanya tuhan yang
tahu apa yang akan mereka perbuat dengan dokumen-dokumen itu di hutan”. Norman
menjalani hari yang sangat melelahkan karena menghadapi seorang sersan Polisi
yang yang mabuk dan terhuyung-huyung dan masuk kehotelnya meminta wiski gratis
siang tadi. Sersan itu menaruh pistolnya diatas meja dihadapannya dan memaksa
Norman minum bersama. Setiap Norman bangkit, Polisi itu meletakkan tangannya di
atas pistol. Polisi-Polisi lain datang dan pergi, meminta minuman keras atau
mencoba mengajak berkelahi. Norman berfikir, keadaan akan semakin memburuk jika
disiplin mulai luntur. Secara teknis, polisi-polisi itu adalah pelayan Jakarta.
Nantinya, mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada tentara
pemerintah pusat ketika tiba dari Jakarta. Saat ini mereka seperti mengambang
diantara dua kesetiaan-kesetian terhadap pemerintah pusat dan kesetiaan
terhadap “pemberontak”-, bermabuk-mabukan dan bersenag-senang setiap jamnya.
5. 5. Dialog terakhir dengan Kolonel Djambek : “Saya turut menyesal karena
situasi menjadi seperti ini”, saya tidak bisa menahan diri untuik tidak berkata
demikian. “Tidak apa-apa”, kata Djambek. Suaranya terdengar datar dan tidak
bahagia. “Kami belum kalah. Kami akan terus berjuang. Kami akan berperang di
hutan. Menyerang dan mundur. Seperti yang dulu kami lakukan terhadap Belanda”.
Kami akan meledakkan jalur pipa minyak mereka dan mengadakan perang ekonomi
untuk melawan mereka. Mereka tidak akan mampu mangkap kami, pada akhirnya
mereka akan terpaksa untuk bersepakat dengan kami”.
6. 6. Dialog dengan seorang Kolonel tentara pusat : “Apa yang akan kalian
lakukan dengan tawanan perang?”. “Kami akan menahan mereka selama satu atau dua
hari lalu mengirim mereka pulang. Ayah mereka harus memukul mereka. Tapi kami
orang Indonesia, kami selalu bersikap terlalu toleran terhadap anak-anak kami,
sehingga mereka tidak akan dipukul. Mereka hanya akan kembali belajar.
Sebenarnya mereka hanya anak-anak yang bandel”
Sumber : James Mossman, Rebels in Paradise : Indonesia’s Civil War dalam
Anthony Reid, Sumatera Tempoe Doeloe : dari Marcopolo sampai Tan Malaka.
Andiko Sutan Mancayo
-- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab
pengirim email. ===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari
200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3.
One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama,
Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm
melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email
lama & mengganti subjeknya.
=========================================================== Berhenti, bergabung
kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.