Majalah Trust, 13 Januari 2011 
Politik Bola, Bola Politik

Oleh
Indra J Piliang
Dewan Penasehat The Indonesian Institute
 
Akhir tahun 2010 ditandai dengan fatamorgana kebangkitan sepakbola Indonesia. 
Bola memasuki ruang publik sedemikian masif. Dunia infotainment yang semula 
diisi para artis atau kalangan yang dekat istana, kini mulai dihuni para 
olahragawan sepakbola. Euforia terjadi di bidang olahraga penuh talenta. Semua 
kalangan merasa perlu dekat dengan kalangan olahragawan ini. 
 
Yang tak kalah penting adalah gejala – yang dikatakan sebagian orang -- politik 
memasuki area sepakbola. Kata sebagian orang. Padahal, dari sisi siapa yang 
menangani sepakbola, itu bukan fenomena baru. Perdana Menteri Italia Silvio 
Berlusconi juga memiliki klub sepakbola: AC Milan. Mantan Perdana Menteri 
Thailand Thaksin Shinawatra malahan sempat membeli klub Manchester City, 
Inggris. 
 
Silvio dan Thaksin pernah menghadapi situasi politik yang buruk. Kalah atau 
tersingkir. Atau hidup di pengasingan. Seniman dan sekaligus mantan Presiden 
Cekoslovakia Vaclav Havel pernah menyebut: politik itu kotor, puisi yang 
membersihkannya. Kini, dengan euforia bola, kita bisa juga mengatakan: politik 
itu kotor, bola yang menghiburnya. 
 
Apakah betul politisi Indonesia yang terjun ke dunia sepakbola – antara lain 
menjadi pengurus PSSI – benar-benar sedang mencari hiburan dengan bola? Ataukah 
ada yang lain? Kepentingan politik, misalnya? Di sini, politik diartikan 
sebagai upaya untuk membuat agar kehadiran seorang politisi di dunia bola, atau 
dukungan yang ia berikan kepada kegiatan sepakbola, akan berimbas kepada 
dukungan suporter kepada kepentingan politik sang politisi. Bahwa bola akan 
melahirkan para penguasa.
 
Bagi saya, itu adalah guyonan. Tak ada korelasinya. Baik dalam praktek selama 
ini, ataupun dalam bentuk yang lebih ilmiah, katakanlah lewat mekanisme survei. 
Dalam pemilu legislatif 2009 lalu, misalnya, politisi mengeluarkan begitu 
banyak uang untuk membiayai beragam aktivitas olahraga. Apa lacur? Banyak 
politisi menjadi bangkrut, baik secara finansial, maupun secara politik. 
Politisi menghabiskan biaya banyak, tanpa balasan dukungan suara. 
 
Isu bola, sebagaimana dengan pemberantasan korupsi, termasuk tak populer bagi 
mayoritas pemilih. Pemilih lebih memperhatikan masalah-masalah mendasar seperti 
ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lapangan kerja. Bahkan, isu-isu agamapun 
terabaikan. Bola lebih terkait dengan keintiman pribadi, ketimbang kepentingan 
kolektif atas nama politik. 
 
Jadi, upaya “men-sekuler-kan” hubungan antara bola dengan politik adalah usaha 
yang sia-sia. Toh, paling tidak di Indonesia, keduanya tak pernah benar-benar 
bersatu. Sejak lama bola dan politik tidak saling berhubungan. Rp. 500 Juta 
uang yang digunakan seorang kawan dalam liga sepakbola di dapilnya, hanya 
berbuah 4.000-an suara pemilih. Yang 4.000-an pemilih itupun bukan penonton 
sepakbola, tapi lebih banyak sanak-keluarga dekatnya. Nah, bandingkan kalau 
bantuan itu diberikan ke suatu pesantren atau komunitas tertentu, bisa jadi 
sebagai bentuk kesantunan sikap akan berbuah suara besar. 
 
Kegiatan menonton bola dan menyukai klub-klub tertentu adalah area yang lepas 
dari nuansa turun-naik tensi politik. Saya sejak lama menyukai Chelsea di 
Inggris, Inter Milan di Italia dan Barcelona di Spanyol. Saya menyukai Zola, 
Christian Vieri dan Rivaldo. Tapi tidak mesti kesukaan itu lantas memasuki 
dunia politik. Saya tidak pernah mau tahu pandangan-pandangan politik Zola, 
Vieri dan Rivaldo. 
 
Bola hanya mengajarkan tentang humanisme dalam bentuk yang lain. Tanpa perlu 
filsuf-filsuf moderen, bola memperlihatkan bagaimana kelas-kelas sosial 
pelan-pelan digerus dan menerima kebhinnekaan-budaya. Beberapa klub sempat 
menjadi rasis dengan tak menerima pemain-pemain berwarna, terutama dari Afrika. 
Dan itu masih di awal abad 21. Tetapi, perlahan, FIFA memperketat peraturan. 
Bola menjadi lebih ramah dengan kemajemukan. Bola menjadi medan perjuangan.
 
http://www.indrapiliang.com/2011/01/18/politik-bola-bola-politik/


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke