tunggu lanjutannyo sanak Andiko
 
wass

--- Pada Sel, 1/2/11, andi ko <[email protected]> menulis:


Dari: andi ko <[email protected]>
Judul: Re: [R@ntau-Net] cerita PPRI
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 1 Februari, 2011, 1:00 AM


Mamak, kisah yang mantap. Ambo menunggu kelanjutan carito selanjutnyo.

Salam

andiko


Pada 1 Februari 2011 12.09, Dasriel Noeha <[email protected]> menulis:

Iko ciek lai sebagai palamak minum kopi sore.

Cerita menyesuaikan dengan uraian pelaku sejarah. Nama tokoh hanya karangan dan 
alur cerita mirip.

wass
Dasriel

MAWAR LERENG TANDIKEK

Masa pergolakan PPRI banyak menggoreskan cerita.
Ada cerita sedih, tentang banyak pemuda kampung yang diseret oleh OPR dan 
disiksa di pos. Kemudian mereka meregang nyawa dan mayatnya dibuang di selokan.
Ada pemuda yang ketakutan waktu razia di kampung, mereka ditembak dari 
belakang, dan mayatnya tersungkur persis di jalan di depan rumah orang tuanya.
Ada juga wanita yang suaminya ikut lari ijok ke hutan, dijemput oleh tentara 
malam hari, diinapkan di kantor Kodim, kemudian setelah pulang menjadi lusuh 
dan kuyu. Banyak yang tahu bahwa para wanita ini, digilir oleh para tentara itu 
di pos. Dan ada juga yang tidak tahan malu, lalu terjun ngarai bunuh diri.
Ada juga yang tidak pulang-pulang ke rumah, kabar beritanya mereka di bawa ke 
Jawa oleh para tentara yang pulang, dan hidup disana tanpa kembali lagi 
kekampung.
Ada anak yang terpisah dengan ayahnya. Ada mamak yang kehilangan kemenakannya.
Ada ibu yang kehilangan anak gadis.
Penderitaan yang perih dirasakan masyarakat Sumatera barat selama peritiwa 
hampir tiga tahun pergolakan PRRI itu dari tahun 1958 sampai penyerahan tahun 
1961.
*
Ini kisah lain yang tergores.
Ini kisah dua orang remaja yang bertemu karena di landa peristiwa peperangan 
antara PPRI dengan tentara pusat.

Bahar, adalah tadinya seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas 
Padang.
Karena terjadi peristiwa PPRI, bulan Maret tahun 1958, Bahar bergabung jadi 
tentara PPRI dan ikut latihan di Solok. Kuliah waktu itu terhenti sama sekali.
Banyak teman Bahar dari fakultas lain seperti Peternakan, FIPIA, Kedokteran, 
Hukum, dan Ekonomi yang ikut bergabung dengan PPRI.

Pada waktu Bahar dan pasukannya berkonsentrasi di Tandikek, mereka memunyai 
tukang masak seorang ibu yang suaminya datuak Panduko ikut jadi tentara PPRI.
Mak Sarinam menjadi tukang masak pasukan.
Neti, anak gadis mak Sarinam, yang tadinya adalah murid SMA Negeri 
Padangpanjang, karena sekolah ditutup akibat pergolakan, ikut ibunya di hutan 
kaki gunung di Tandikek, untuk bergabung dengan pasukan PPRI menjadi tukang 
masak.

Neti, adalah gadis cantik tinggi semampai. Kulitnya kuning dan hidungnya 
mancung. Rambut hitam sampai pinggang, tegerai indah bila selesai keramas di 
lubuk Batang Nanguih, dibalik kerimbunan pohon betung di tepi sungai.
Neti adalah mawar di lereng Gunuang Tandikek.

Banyak anggota pasukan PPRI yang tertarik dan diam-diam menaruh hati pada Neti.
Tapi banyak yang hanya menyimpan perasaan saja, karena mereka juga segan dan 
takut pada Datuk Panduko ayah Neti yang menjadi komandan kompi di situ.

Datuak Panduko adalah tetua kampung lereng Tandikek itu. Nama kecilnya adalah 
Hamid.
Hamid adalah bekas tentara Siliwangi sewaktu mudanya. Ia ikut berjuang bersama 
temannya sewaktu jadi TKR di Pariaman. Temannya Adnan sesama mendaftar TKR di 
Pariaman dan menempuh pelatihan di Padang. Kemudian mereka ikut dikirim 
pendidikan di Batujajar di Cimahi. Akhirnya mereka bergabung dengan pasukan 
Siliwangi yang terkenal itu.

Adnan di BKO kan ke pasukan di Riau untuk menumpas sisa pasukan Belanda tahun 
lima puluhan. Sedangkan Hamid tetap di Jawa Barat.

Oleh karena luka dipertempuran di Ciamis dengan DI-TII, dimana pahanya kena 
pecahan granat yang parah, ia selama tiga bulan dirumah sakit menyembuhkan 
tulang pahanya yang retak. Akhirnya ia minta pensiun cepat dari Siliwangi 
dengan pangkat letnan dan pulang ke kampung di Tandikek.
Di kampung ia menjadi guru ngaji di Surau. Dan oleh sukunya Koto ia diangkat 
jadi penghulu dengan gelar Datuak Panduko di Rajo. Tapi ia paling terkenal 
dengan sebutan datuak Panduko.
Selain sebagai penghulu dia juga menjadi pengurus surau di desa itu.
Ia mengaji tafsir dan sifat dua puluh. Dan banyak muridnya.
Maka, ketika PPRI menyatakan perang dengan pemerintah pusat, ia tadinya tidak 
setuju dengan sikap ini. Datuak orangnya cinta damai.

Namun, pendiriannya berubah manakala adanya organisasi baru yaitu OPR yang 
terbentuk atau dibuat oleh tentara pusat untuk melawan PPRI.
Banyak anggota OPR diambil dari anggota Pemuda Rakyat dan Barisan Tani 
Indonesia (BTI), dan juga Serikat Buruh Kendaraan Bermotor atau preman loket 
oto, yaitu ormas dibawah PKI yang komunis.
Juga banyak preman, tukan copet, bekas mailng yang direkrut dan dilatih menjadi 
OPR.
Makanya dengan adanya OPR, maka banyaklah orang kampung jang jadi korban, Harta 
yang ada dalam rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya yang ijok ke hutan 
mereka rampas.
Banyak kepala desa diganti dengan orang yang berhaluan komunis.
Semua rumah yang salah satu anggotanya ijok ikut PRRI ditandai dengan sebuah 
papan kecil yang dipakukan didepan diinding rumah, dengan nama yang lari ke 
hutan.

Semua rumah ini menjadi incaran OPR.
Bila ada isteri atau anak gadis yang ditinggal suami atau bapak yang lari ke 
hutan, maka wanita ini akan di bon oleh tentara, dan dijemput oleh OPR malam 
hari.
Mereka biasanya diinapkan di kantor Kodim atau kantor Buterpra. Ada yang tiga 
hari, ada yang seminggu. Dan ada pula yang tidak pernah [pulang sama sekali.
Cerita seperti ini banyak ditemui di daerah Agam seperti IV Koto, Baso, Ampek 
Angkek, Solok juga, dan Batusangkar.

Semua anggota preman itu memang diam-diam menaruh dendam pada Datuak Panduko. 
Karena gerak mereka dibatasi oleh aturan di pasar yang banyak dipakai atas 
masukan dari Datuak Panduko.
Judi dan main koa dilarang. Mancilok dan mengganggu anak gadis orang kalau 
ketahuan akan ditangkap oleh anak buah datuak Panduko. Dan kalau tertangkap 
pasti akan dimandikan di tebat semalam suntuk dan ditobatkan di surau.
Akibatnya preman menjadi benci pada Datuak Panduko.

Setelah terbentuknya OPR, maka Datuak Panduko menjadi target utama untuk 
dibunuh.

Datuak mengetahui ini. Makanya sebelum ia kedahuluan, ia mengajak isterinya 
lari ke hutan bergabung dengan PPRI. Ia langsung ditunjuk oleh Ahmad Husein 
menjadi komandan kompi Tandikek. Karena Husein tahu betul siapa Letnan Hamid di 
kompi B Siliwangi di Ciamis.

Neti, akhirnya juga menjadi incaran OPR.
Setelah sekolah ditutup sementara, dari Padangpanjang Neti dengan dibantu teman 
sekelasnya tidak menuju kampungnya. Tapi ia berbelok melalui Maninjau. Di 
Maninjau Neti dijemput oleh anak buah Datuak untuk bergabung dengan ibunya di 
dapur umum pasukan.
*

Bahar, yang menjadi komandan regu dengan pangkat sersan, adalah diantara pemuda 
yang jatuh hati pada Neti.
Bahar orangnya juga alim. Tidak pernah tinggal sembahyangnya. Walaupun dalam 
keadaan perang, kalau masuk waktu shalat, pasti dia menyelinap untuk menunaikan 
ibadahnya.
Bahar adalah anak seorang ulama dari Kayutanam. Setelah lulus SMA di Pariaman 
ia melanjutkan ke Fakultas Pertanian Unand di Padang.
PPRI-lah yang buat sementara memutus kuliahnya.

Bahar orangnya rendah hati. Ia lebih suka menolong teman.
Kalau makan bersama pasukan, dia memeriksa anggota pasukannya dulu. Kalau sudah 
semuanya makan baru dia makan.

”Bahar, kamu sudah makan”, kata datuak Panduko senja itu.
”Saya masih kenyang pak datuak”, jawab Bahar.
”Makanlah, kalau jatah pasukanmu, habis, minta lagi sama makmu. Atau minta Neti 
masak lagi”, kata datuak Panduko.
”Masih ada jatah saya pak datuak”, kata Bahar.

Pada hal ketiding nasi sudah kosong karena dipecerabutkan oleh anggota 
pasukannya.
Walau mereka hanya makan dengan uok terung dan samba lado campur ikan asin, 
makan anggota pasukan PRRI itu selalu kelihatan lahap.
Maklumlah mereka masih muda-muda. Umur mereka baru sekitar dua puluh tiga 
tahun. Ada yang mahasiswa tingkat akhir seperti Bahar. Ada juga yang baru masuk 
kuliah, yang masih berumur sembilan belas tahun. Pada umur segini anak muda 
pasti makannya sedang banyak-banyaknya.
Nasi seketiding tidak sampai sepuluh menit habis tandas.

”Pak Datuak, saya permisi untuk periksa pos pengintaian di Batang Nanguih, 
assalamualaikum”.
”Wa alaikum salam”, datuak memandangi punggung Bahar yang menyandang ransel. 
Sebalik pinggangnya terlilit gantungan peluru brent. Di pinggang itu juga 
tergantung sebuah pistol yang masih baru. Ia menyandang Brent di bahunya yang 
bidang.
Pasukan datuak memang baru saja dapat droping amunisi dari Pekanbaru yang 
sampai dua minggu lalu. Amunisi ini diselundupkan lewat Perawang dari Singapur. 
Dari Perawang dibawa ke Bukittinggi dengan beberapa buah truk. Di Bukittinggi 
senjata ini dibagi oleh Letkol A. Husein keseluruh pasukan.
Entah negara mana yang membantu PPRI, datuak tidaklah perlu benar 
mengetahuinya. Yang penting kompinya cukup mempunyai amunisi buat bertempur 
tiga bulan ke depan.

Alangkah gagahnya anak ini dalam pakaian hijau tentara. Diam-diam datuak 
Panduko mengagumi anak buahnya yang satu ini.
Topi waja bertengger erat di kepala Bahar. Sersan Bahar yang seharusnya enam 
bulan lagi menjadi insinyur pertanian, sekarang bergerilya di tengah hutan. Ia 
ikut mempertahankan daerahnya Minangkabau dari ketidak adilan pemerintah pusat. 
Demikian ia mendengar pidato Letkol Ahmad Husein di Solok tempo hari.

Datuak Panduko suka kepada Bahar.
Orangnya pemberani, alim dan cerdas.
Pernah waktu penyergapan, pasukan Datuak Panduko ini terkepung oleh pasukan 
raiders dan OPR di pinggir jalan di kelok beringin ditepi batang Nanguih itu.
Rupanya keberadaan mereka dilaporkan oleh pengkhianat atau tukang tunjuk.
Perang berkecamuk. Tiga orang anggota pasukan diterjang peluru.
Bahar keluar dari persembunyian, sambil berlari dia menembaki raider dan OPR 
itu dengan brent-gun, dan ia juga melempar granat.
Akhirnya pasukan raiders itu mundur dan menaiki truk reo mereka. Mereka lari 
dan cigin kerarah Maninjau.
Lengan kiri Bahar tesambar peluru. Tapi lukanya ringan saja.
Malamnya luka itu dibalut oleh palang merah, dan dibantu oleh Neti.
Datuak Panduko berniat akan menjodohkan Bahar dengan Neti kelak bila perang 
sudah usai.

Waktu mata Bahar ketemu dengan mata Neti, disitulah panah asmara bertemunya.
Tangan Neti yang lembut ikut membalutkan perban ke lengan Bahar yang terluka.
Bahar membuang mukanya. Neti menunduk malu. Hati keduanya berdetak kencang.
Kopral Udin, si kepala palang merah hanya mendehem.

”Sudah Din, terima kasih kata Bahar. Saya harus segera ke pasukan.
”Tidak san, sesuai perintah Pak Datuak, sersan harus istirahat di sini barang 
seminggu menunggu luka bekas peluru ini kering. Baru boleh gabung pasukan lagi.
”Tidak Din, saya harus ada dalam pasukan saya. Kamu kan tahu sekarang OPR lagi 
gans-ganasnya patroli disini. Aku tidak mau pasukanku kedapatan.
”Uda sebaiknya istirahat dulu da”, Neti ikut mencoba menahan Bahar.
”Terima kasih Net, saya cukup kuat. Tidak apa-apa, ini kan cuma luka keserempet 
peluru saja. Tak apalah, terima kasih atas pertolongan Neti.

*
Kampung dibawah lereng itu namanya kampuang Nanguih. Hampir semua laki-laki di 
kampuang ini ikut ijok menjadi pasukan PRRI. Semuanya bergabung dengan kompi 
Tandikek dibawah komando datuak Panduko.
Hanya orang tua saja yang tinggal. Perempuan muda dan gadis juga ikut ijok. 
Mereka tahu kalau mereka tetap di kampuang pasti akan dipecundangi oleh tentara 
loreng, demikian mereka menyebut tentara pusat. Dan pasti juga mereka akan 
dijemput OPR.
Biarlah, kalau mati di hutan mereka rela. Mereka adalah penganut ajaran agama 
Islam yang taat. Mereka tahu, bahwa mati hanya sekali. Lebih baik mati berjuang 
dengan suami dan anak mereka, dari pada dipemalukan oleh tentara yang 
memperkosa dan menghinakan mereka.
Hati mereka memang pekat. Walau pendidikan mereka hanya sampai madrasah di 
Lubuak Basuang, namun kemulian hati menjadi modal utama pergaulan di kampung 
itu. Apa lagi adanya datuak Panduko, orang yang mereka hormati di kampung 
menjadi komandan pasukan.

Bahar ditugaskan datuak untuk selalu mengawasi kampung dari gangguan OPR.
Pertempuran kemaren terjadi karena pasukan Bahar bersirobok dengan pasukan 
raider yang bergerak dari Naras ke Lubuak Basung. Mereka berputa kekiri dengan 
melewati Tandikek.
Ketemulah mereka di desa Nanguih itu.
Pertempuran singkat itu cukup seru. Dua anak buah Bahar ikut menjadi korban.
Sebaliknya enam OPR berhasil ditewaskan. Termasuk Nipon seorang seorang preman 
makan masak matah. Nipon adalah tadinya agen loket di Bukitting Aue Tajungkang.
Pasukan tentara pusat raider itu kembali ke Naras.

Datuak Panduko mempertimbangkan bahwa pasti akan ada serangan balasan dari 
tentara pusat. Atas pertimbangan itu maka konsentrasi kompi dipindahkan 2 
kilometer ke mudik batang Nanguih.

Malam itu semua komandan regu dikumpulkan oleh datuak.
Perintah kewaspadaan ditingkatkan terutama oleh adanya tukang tunjuk.
Semua pendatang sekitar Kampung Mudik, tempat konsentrasi pasukan yang baru 
harus diketahui identitasnya. Kalau ada orang baru harus diketahui oleh kepala 
intelijen, Letnan Musa.
Team intelijen harus rajin turun ke jalan raya. Mereka menyamar jadi gembala 
kerbau dan penyabit rumput. Mereka mematai-mati gerakan raider dari Pariaman 
dan dari Bukittinggi.
Hubungan dengan induk pasukan di leter W tidak boleh putus.

Segera dikirim dua orang kurir ke leter W untuk memberitahukan pemindahan 
pasukan ini.

Selesai briefing singkat itu, datuak memanggil Bahar ke pondoknya.

”Bahar, saya mau bicara dengan kamu”, kata datuak.
”Siap, baik pak. Ada apa”, tanya Bahar.
”Sekarang pasukan kita mulai terjepit. Hubungan dengan induk pasukan di hutan 
sekitar Bukittinggi dan Solok mulai susah. Karena tentara pusat sudah membuat 
pos dimana-mana.
Saya dapat pesan dari Ahmad Husein, untuk mengambil sikap yang perlu untuk 
menyelamatkan pasukan. Aku disuruh untuk menghindari pertempuran. Kalau perlu 
kita menyingkir terus. Aku sendiri juga tidak atau kurang mengerti dengan 
perintah begini. Memang amunisi kita mulai menyusut. Tapi aku tidak mau 
menyerah, sebelum kita memberi pelajaran berharga ke semua OPR.

”Saya mengerti perasaan pak Datuak. Saya juga seperti itu. Biarlah kita 
bertempur dulu. Kalau kita kalah tidak apa. Asal yang hak di tanah Minang ini 
kita tegakkan.
Saya mau juga melibar OPR ini. Saya cukup malu mendengar ibuk-ibuk kita di bon 
dan di kerjai di pos-pos mereka. Sungguh biadab mereka. Saya baru senang kalau 
kepala mereka terbang dihantam peluru brent saya”, Bahar emosi menjawab apa 
yang dibahas datuak.

”Aku juga mendapat laporan dari intel kita bahwa ada sikap agak berubah dari 
komandan. Kelihatannya Komandan agak berbeda pendapat dengan komandan nomor 
satu kita Pak Dahlan Djambek.
Pak Dahlan tidak mau menyerah. Sekarang beliau sudah menyingkir ke arah Lasi. 
Dan sekarang tempat ijok beliau disekitar Batang Masang bersama Pak Imam”, urai 
datuak lebih lanjut.

”Saya tidak mengerti pak datuak. Apakah maksudnya kita akan menyerah kalah ke 
tentara pusat”, tanya Bahar.

”Saya menangkap tanda itu Bahar. Sehingga ada pesan ke saya dari Pak Husein 
kalau saya boleh memutuskan untuk mengambil sikap demi menyelamatkan anak buah. 
Menyelamatkan dalam artian kamus tentara kan kamu tahu, bahwa itu tanda  untuk 
menyerah. Mengibarkan bendera putih”, kata datuak agak pelan.

Bahar tahu, bahwa datuak sebenarnya tidak mau menyerah. Kalau menyerah berarti 
sekaligus mau menerima segala konsekwensi dari penyerahan. Termasuk 
”penghinaan” dari OPR nantinya. Ini yang tidak mau di lakukan oleh datuak.

”Bahar, saya mau menitipkan pesan padamu”, kata datuak melanjutkan.

”Ada apa pak datuak”, tanya Bahar.

”Kalau dalam pertempuran berikutnya saya mendahului kamu, tolong selamatkan 
amak dan Neti. Bawalah mereka menyingkir. Kalau kamu harus menyerah ke tentara 
pusat, jagalah amak dan Neti jangan sampai dihina dan dipermalukan”, kata 
datuak.

”Tidak pak datuak, bapak harus bersama kita. Saya akan menjaga bapak dalam 
setiap pertempuran. Bapak tidak boleh mati. Kalau kita harus mati, mari kita 
hancur bersama pasukan kita”, bahar dengan geram mengokang brentnya.

”Tidak Bahar, kamu harus bisa tetap hidup. Kamu akan jadi saksi sejarah kelak. 
Biar orang tahu kalau saya perang karena membela kampung kita dari perlakuan 
jahat OPR dan penjajahan oleh tentara pusat. Saya bukan melawan pemerintah 
Republik. Tapi saya melawan tentara yang mau menghancurkan alam Minang yang 
saya cintai. Juga ada satau maksud saya yang lain”, kata datuak sambil 
menghirup dan menghabiskan sisa kopinya di galuak.

”Apa pesan pak datuak satu lagi itu”, tanya Bahar.

”Saya serahkan Neti kepadamu. Kelak kalau perang usai, mintalah kepada orang 
tuamu ijin, bahwa mak akan melamarmu untuk Neti”, demikian datuak mengungkapkan 
pesan utamanya.

Bahar terdiam. Ia tidak menyangka akan pengakuan komandannya ini.
Terus terang ia memang mencintai Neti. Dan ia juga tahu bahwa Neti juga 
menyenanginya.

”Pak datuak, bapak sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Baiklah, saya 
pegang petuah bapak. Tapi ijinkan saya untuk menyelesaikan sekolah saya kalau 
Unand masih mau memberi kesempatan untuk saya kuliah lagi. Skripsi saya sudah 
hampir selesai. Mungkin sekitar enam bulan lagi saya sudah bisa ujian sarjana. 
Sesudah itu baru saya akan bicarakan soal perjodohan dengan abak saya di 
Kayutanam”, kata Bahar.

”Oh ya itu baik juga Bahar. Jangan lupa sampaikan salam saya sama Engku Malin 
ayahmu.

”Biak pak datuak”.

Bahar berpikir jernih. Mawar Tandikek yang ia idamkan telah diserahkan pemilik 
kebunnya untuk ia miliki. Mawar itu kini memang terancam dengan suasana 
peperangan yang tidak menentu ini.

Kemaren ia mengajarkan bagaimana cara menembak kalau terdesak kepada Neti. Neti 
diberikan sebuah senjata sten untuk menjaga diri dan emaknya.

Neti tidak boleh ikut perang. Ia digaris belakang di dapur. Aku akan menjagamu 
Neti, gumam Bahar dalam hatinya. Kalau kau ditakdirkan mati dalam pertempuran, 
engkau harus selamat mawarku, gumamnya lagi.

*
Terjadilah lagi kontak senjata.
Sore setelah shalat ashar dilembah dibawah persembunyian dan pondok datuak 
Panduko.
Datuak dan dua orang komandan regu memeriksa perlengkapan pasukan di lembah 
yang tersembunyi.
Lembah itu adalah pos terdepan yang berhadapan langsung dengan jalan raya 
menuju Tanjung Mutiara sebelum Maninjau.
Tiba-tiba dari kelokan behamburan serobongan raider dan banyak OPR.

Kontak senjata tidak terelakkan.
Terjadi pertempuran hidup mati di lembah itu.
Lima belas orang pasukan PPRI di hadang lima puluh orang raider dan OPR. Tidak 
seimbang kedua pasukan ini bertempur. Korban banyak berjatuhan di pihak PPRI.
Datuak Panduko tersungkur keparit setelah dua peluru bersarang di dada dan 
lehernya.

Bahar melihat itu dengan membabi buta melemparkan granat dan tembakan brent-nya.

Pasukan raider dan OPR kembali menaiki truk mereka dan meluncur ke arah 
Maninjau.

Hanya tiga orang yang tersisa. Bahar dan dua orang anak buahnya. Dua belas 
orang termasuk pak datuak gugur untuk mempertahankan ranah bunda.
Malamnya sisa pasukan dari pondok dikerahkan mengangkut mayat teman mereka 
untuk di kuburkan di lereng Tandikek.

Setelah upacara penguburan malam itu di halaman pondok, Bahar mendekati mak 
yang masih menagis tersedu sedan.
Neti memangku emaknya.

”Mak, besok kita harus menyingkir lagi. Tempat ini sudah diketahui musuh, Tidak 
aman kita disini. Pak datuak telah mendahului kita, Moga Allah menempatkan 
datuak di syurga, karena datuak berjuang menegakkan kebenaran.
Saya telah diberi petaruh oleh bapak untuik menjaga emak dan Neti.

Tiba-tiba datang seorang tani yang rupanya kurir dari Pariaman. Ia tergesa 
untuk menyampaikan sepucuk surat.
Bahar menerima surat itu. Rupanya surat dari komandan di Solok. Letkol Husein 
menyuruh pasukan untuk menyerah ke Kodim terdekat.
Alasannya untuk menyelamatkan pasukan.

Bahar terdiam.
Rupanya petuah datuak Panduko tempo hari menjadi kenyataan.

*

Hari Senin, April, 1961.
Bahar membawa pasukannya ke Sungai Geringging untuk menyerah.
Kini mereka hanya tingggal dua puluh tujuh orang. Sebagian ada yang sudah turun 
duluan menyerahkan diri di kantor Buterpra di sekitar Naras.

Sebanyak sembilan belas orang anggota kompi Tandikek gugur di medan juang.

Neti si mawar Tandikek dan emaknya termasuk pasukan yang menyerah.

Setelah surat penyerahan ditanda tangani oleh Komandan Kodim, mereka dengan di 
kawan oleh raider sampai ke Pariaman.

Dari Pariaman dengan menumpang bus APD mereka bertiga pulang ke Tandikek. Neti 
dan emaknya hanya ke rumah pamannya Mak Lenggang. Mereka tidak bisa kembali ke 
rumah sendiri karena rumah datuak Panduko telah musnah dibakar habis oleh OPR. 
Ladang kopi dan sawah juga dihancurkan.
Untunglah masih hidup paman Neti. Dia menangis menerima saudaranya yang 
disangkanya telah mati dalam pertempuran.

Esoknya Bahar minta diri dan menumpang bus Alima ke Bukittinggi, dan 
melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke kampungnya di Kayutanam.

”Net, nanti uda akan kembali ke sini. Uda akan bawa abak dan ibu jumpa emak 
Neti dan Pak Lenggang untuk mempertautkan kita”, kata Bahar malam itu di 
beranda rumah.

”Neti tunggu uda datang”, kata Neti lembut.

”Uda pasti datang. Uda akan menyelesaikan kuliah yang teringgal. Setelah itu 
kita akan hidup bersama. Tinggallah Neti buat sementara”, kata Bahar dengan 
nada sendu.

Disinilah masanya kelak mereka akan menikah, sesuai petaruh dari ayah Neti, 
datuak Panduko yang telah gugur sebagai komandan kompi Tandikek.

Mawar Tandikek akan segera menjadi isterinya. Nanti, setelah ia meraih gelar 
sarjana pertanian yang sempat kececer karena peristiwa PPRI.
Mawar Tandikek yang cantik telah menimbulkan kesan cinta yang dalam sejak jari 
jemarinya yang lembut mengoleskan obat luka di lengan Bahar.
Bekas cinta itu masih ada kini. Parut luka itu menyembunyikan asmara di balik 
kulitnya.



--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. E-mail besar dari 200KB;
 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke