Selendang sutra. Tanda mata darimu. Telah ku trima sebulan yang lalu. Selendang sutra. Kini pembalut luka. ... Menakjubkan... Hebat. Wass
On 2/1/11, Dasriel Noeha <[email protected]> wrote: > Iko ciek lai sebagai palamak minum kopi sore. > > Cerita menyesuaikan dengan uraian pelaku sejarah. Nama tokoh hanya karangan > dan alur cerita mirip. > > wass > Dasriel > > MAWAR LERENG TANDIKEK > > Masa pergolakan PPRI banyak menggoreskan cerita. > Ada cerita sedih, tentang banyak pemuda kampung yang diseret oleh OPR dan > disiksa di pos. Kemudian mereka meregang nyawa dan mayatnya dibuang di > selokan. > Ada pemuda yang ketakutan waktu razia di kampung, mereka ditembak dari > belakang, dan mayatnya tersungkur persis di jalan di depan rumah orang > tuanya. > Ada juga wanita yang suaminya ikut lari ijok ke hutan, dijemput oleh tentara > malam hari, diinapkan di kantor Kodim, kemudian setelah pulang menjadi lusuh > dan kuyu. Banyak yang tahu bahwa para wanita ini, digilir oleh para tentara > itu di pos. Dan ada juga yang tidak tahan malu, lalu terjun ngarai bunuh > diri. > Ada juga yang tidak pulang-pulang ke rumah, kabar beritanya mereka di bawa > ke Jawa oleh para tentara yang pulang, dan hidup disana tanpa kembali lagi > kekampung. > Ada anak yang terpisah dengan ayahnya. Ada mamak yang kehilangan > kemenakannya. > Ada ibu yang kehilangan anak gadis. > Penderitaan yang perih dirasakan masyarakat Sumatera barat selama peritiwa > hampir tiga tahun pergolakan PRRI itu dari tahun 1958 sampai penyerahan > tahun 1961. > * > Ini kisah lain yang tergores. > Ini kisah dua orang remaja yang bertemu karena di landa peristiwa peperangan > antara PPRI dengan tentara pusat. > > Bahar, adalah tadinya seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas > Andalas Padang. > Karena terjadi peristiwa PPRI, bulan Maret tahun 1958, Bahar bergabung jadi > tentara PPRI dan ikut latihan di Solok. Kuliah waktu itu terhenti sama > sekali. > Banyak teman Bahar dari fakultas lain seperti Peternakan, FIPIA, Kedokteran, > Hukum, dan Ekonomi yang ikut bergabung dengan PPRI. > > Pada waktu Bahar dan pasukannya berkonsentrasi di Tandikek, mereka memunyai > tukang masak seorang ibu yang suaminya datuak Panduko ikut jadi tentara > PPRI. > Mak Sarinam menjadi tukang masak pasukan. > Neti, anak gadis mak Sarinam, yang tadinya adalah murid SMA Negeri > Padangpanjang, karena sekolah ditutup akibat pergolakan, ikut ibunya di > hutan kaki gunung di Tandikek, untuk bergabung dengan pasukan PPRI menjadi > tukang masak. > > Neti, adalah gadis cantik tinggi semampai. Kulitnya kuning dan hidungnya > mancung. Rambut hitam sampai pinggang, tegerai indah bila selesai keramas di > lubuk Batang Nanguih, dibalik kerimbunan pohon betung di tepi sungai. > Neti adalah mawar di lereng Gunuang Tandikek. > > Banyak anggota pasukan PPRI yang tertarik dan diam-diam menaruh hati pada > Neti. > Tapi banyak yang hanya menyimpan perasaan saja, karena mereka juga segan dan > takut pada Datuk Panduko ayah Neti yang menjadi komandan kompi di situ. > > Datuak Panduko adalah tetua kampung lereng Tandikek itu. Nama kecilnya > adalah Hamid. > Hamid adalah bekas tentara Siliwangi sewaktu mudanya. Ia ikut berjuang > bersama temannya sewaktu jadi TKR di Pariaman. Temannya Adnan sesama > mendaftar TKR di Pariaman dan menempuh pelatihan di Padang. Kemudian mereka > ikut dikirim pendidikan di Batujajar di Cimahi. Akhirnya mereka bergabung > dengan pasukan Siliwangi yang terkenal itu. > > Adnan di BKO kan ke pasukan di Riau untuk menumpas sisa pasukan Belanda > tahun lima puluhan. Sedangkan Hamid tetap di Jawa Barat. > > Oleh karena luka dipertempuran di Ciamis dengan DI-TII, dimana pahanya kena > pecahan granat yang parah, ia selama tiga bulan dirumah sakit menyembuhkan > tulang pahanya yang retak. Akhirnya ia minta pensiun cepat dari Siliwangi > dengan pangkat letnan dan pulang ke kampung di Tandikek. > Di kampung ia menjadi guru ngaji di Surau. Dan oleh sukunya Koto ia diangkat > jadi penghulu dengan gelar Datuak Panduko di Rajo. Tapi ia paling terkenal > dengan sebutan datuak Panduko. > Selain sebagai penghulu dia juga menjadi pengurus surau di desa itu. > Ia mengaji tafsir dan sifat dua puluh. Dan banyak muridnya. > Maka, ketika PPRI menyatakan perang dengan pemerintah pusat, ia tadinya > tidak setuju dengan sikap ini. Datuak orangnya cinta damai. > > Namun, pendiriannya berubah manakala adanya organisasi baru yaitu OPR yang > terbentuk atau dibuat oleh tentara pusat untuk melawan PPRI. > Banyak anggota OPR diambil dari anggota Pemuda Rakyat dan Barisan Tani > Indonesia (BTI), dan juga Serikat Buruh Kendaraan Bermotor atau preman loket > oto, yaitu ormas dibawah PKI yang komunis. > Juga banyak preman, tukan copet, bekas mailng yang direkrut dan dilatih > menjadi OPR. > Makanya dengan adanya OPR, maka banyaklah orang kampung jang jadi korban, > Harta yang ada dalam rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya yang ijok ke > hutan mereka rampas. > Banyak kepala desa diganti dengan orang yang berhaluan komunis. > Semua rumah yang salah satu anggotanya ijok ikut PRRI ditandai dengan sebuah > papan kecil yang dipakukan didepan diinding rumah, dengan nama yang lari ke > hutan. > > Semua rumah ini menjadi incaran OPR. > Bila ada isteri atau anak gadis yang ditinggal suami atau bapak yang lari ke > hutan, maka wanita ini akan di bon oleh tentara, dan dijemput oleh OPR malam > hari. > Mereka biasanya diinapkan di kantor Kodim atau kantor Buterpra. Ada yang > tiga hari, ada yang seminggu. Dan ada pula yang tidak pernah [pulang sama > sekali. > Cerita seperti ini banyak ditemui di daerah Agam seperti IV Koto, Baso, > Ampek Angkek, Solok juga, dan Batusangkar. > > Semua anggota preman itu memang diam-diam menaruh dendam pada Datuak > Panduko. Karena gerak mereka dibatasi oleh aturan di pasar yang banyak > dipakai atas masukan dari Datuak Panduko. > Judi dan main koa dilarang. Mancilok dan mengganggu anak gadis orang kalau > ketahuan akan ditangkap oleh anak buah datuak Panduko. Dan kalau tertangkap > pasti akan dimandikan di tebat semalam suntuk dan ditobatkan di surau. > Akibatnya preman menjadi benci pada Datuak Panduko. > > Setelah terbentuknya OPR, maka Datuak Panduko menjadi target utama untuk > dibunuh. > > Datuak mengetahui ini. Makanya sebelum ia kedahuluan, ia mengajak isterinya > lari ke hutan bergabung dengan PPRI. Ia langsung ditunjuk oleh Ahmad Husein > menjadi komandan kompi Tandikek. Karena Husein tahu betul siapa Letnan Hamid > di kompi B Siliwangi di Ciamis. > > Neti, akhirnya juga menjadi incaran OPR. > Setelah sekolah ditutup sementara, dari Padangpanjang Neti dengan dibantu > teman sekelasnya tidak menuju kampungnya. Tapi ia berbelok melalui Maninjau. > Di Maninjau Neti dijemput oleh anak buah Datuak untuk bergabung dengan > ibunya di dapur umum pasukan. > * > > Bahar, yang menjadi komandan regu dengan pangkat sersan, adalah diantara > pemuda yang jatuh hati pada Neti. > Bahar orangnya juga alim. Tidak pernah tinggal sembahyangnya. Walaupun dalam > keadaan perang, kalau masuk waktu shalat, pasti dia menyelinap untuk > menunaikan ibadahnya. > Bahar adalah anak seorang ulama dari Kayutanam. Setelah lulus SMA di > Pariaman ia melanjutkan ke Fakultas Pertanian Unand di Padang. > PPRI-lah yang buat sementara memutus kuliahnya. > > Bahar orangnya rendah hati. Ia lebih suka menolong teman. > Kalau makan bersama pasukan, dia memeriksa anggota pasukannya dulu. Kalau > sudah semuanya makan baru dia makan. > > ”Bahar, kamu sudah makan”, kata datuak Panduko senja itu. > ”Saya masih kenyang pak datuak”, jawab Bahar. > ”Makanlah, kalau jatah pasukanmu, habis, minta lagi sama makmu. Atau minta > Neti masak lagi”, kata datuak Panduko. > ”Masih ada jatah saya pak datuak”, kata Bahar. > > Pada hal ketiding nasi sudah kosong karena dipecerabutkan oleh anggota > pasukannya. > Walau mereka hanya makan dengan uok terung dan samba lado campur ikan asin, > makan anggota pasukan PRRI itu selalu kelihatan lahap. > Maklumlah mereka masih muda-muda. Umur mereka baru sekitar dua puluh tiga > tahun. Ada yang mahasiswa tingkat akhir seperti Bahar. Ada juga yang baru > masuk kuliah, yang masih berumur sembilan belas tahun. Pada umur segini anak > muda pasti makannya sedang banyak-banyaknya. > Nasi seketiding tidak sampai sepuluh menit habis tandas. > > ”Pak Datuak, saya permisi untuk periksa pos pengintaian di Batang Nanguih, > assalamualaikum”. > ”Wa alaikum salam”, datuak memandangi punggung Bahar yang menyandang ransel. > Sebalik pinggangnya terlilit gantungan peluru brent. Di pinggang itu juga > tergantung sebuah pistol yang masih baru. Ia menyandang Brent di bahunya > yang bidang. > Pasukan datuak memang baru saja dapat droping amunisi dari Pekanbaru yang > sampai dua minggu lalu. Amunisi ini diselundupkan lewat Perawang dari > Singapur. Dari Perawang dibawa ke Bukittinggi dengan beberapa buah truk. Di > Bukittinggi senjata ini dibagi oleh Letkol A. Husein keseluruh pasukan. > Entah negara mana yang membantu PPRI, datuak tidaklah perlu benar > mengetahuinya. Yang penting kompinya cukup mempunyai amunisi buat bertempur > tiga bulan ke depan. > > Alangkah gagahnya anak ini dalam pakaian hijau tentara. Diam-diam datuak > Panduko mengagumi anak buahnya yang satu ini. > Topi waja bertengger erat di kepala Bahar. Sersan Bahar yang seharusnya enam > bulan lagi menjadi insinyur pertanian, sekarang bergerilya di tengah hutan. > Ia ikut mempertahankan daerahnya Minangkabau dari ketidak adilan pemerintah > pusat. Demikian ia mendengar pidato Letkol Ahmad Husein di Solok tempo hari. > > Datuak Panduko suka kepada Bahar. > Orangnya pemberani, alim dan cerdas. > Pernah waktu penyergapan, pasukan Datuak Panduko ini terkepung oleh pasukan > raiders dan OPR di pinggir jalan di kelok beringin ditepi batang Nanguih > itu. > Rupanya keberadaan mereka dilaporkan oleh pengkhianat atau tukang tunjuk. > Perang berkecamuk. Tiga orang anggota pasukan diterjang peluru. > Bahar keluar dari persembunyian, sambil berlari dia menembaki raider dan OPR > itu dengan brent-gun, dan ia juga melempar granat. > Akhirnya pasukan raiders itu mundur dan menaiki truk reo mereka. Mereka lari > dan cigin kerarah Maninjau. > Lengan kiri Bahar tesambar peluru. Tapi lukanya ringan saja. > Malamnya luka itu dibalut oleh palang merah, dan dibantu oleh Neti. > Datuak Panduko berniat akan menjodohkan Bahar dengan Neti kelak bila perang > sudah usai. > > Waktu mata Bahar ketemu dengan mata Neti, disitulah panah asmara bertemunya. > Tangan Neti yang lembut ikut membalutkan perban ke lengan Bahar yang > terluka. > Bahar membuang mukanya. Neti menunduk malu. Hati keduanya berdetak kencang. > Kopral Udin, si kepala palang merah hanya mendehem. > > ”Sudah Din, terima kasih kata Bahar. Saya harus segera ke pasukan. > ”Tidak san, sesuai perintah Pak Datuak, sersan harus istirahat di sini > barang seminggu menunggu luka bekas peluru ini kering. Baru boleh gabung > pasukan lagi. > ”Tidak Din, saya harus ada dalam pasukan saya. Kamu kan tahu sekarang OPR > lagi gans-ganasnya patroli disini. Aku tidak mau pasukanku kedapatan. > ”Uda sebaiknya istirahat dulu da”, Neti ikut mencoba menahan Bahar. > ”Terima kasih Net, saya cukup kuat. Tidak apa-apa, ini kan cuma luka > keserempet peluru saja. Tak apalah, terima kasih atas pertolongan Neti. > > * > Kampung dibawah lereng itu namanya kampuang Nanguih. Hampir semua laki-laki > di kampuang ini ikut ijok menjadi pasukan PRRI. Semuanya bergabung dengan > kompi Tandikek dibawah komando datuak Panduko. > Hanya orang tua saja yang tinggal. Perempuan muda dan gadis juga ikut ijok. > Mereka tahu kalau mereka tetap di kampuang pasti akan dipecundangi oleh > tentara loreng, demikian mereka menyebut tentara pusat. Dan pasti juga > mereka akan dijemput OPR. > Biarlah, kalau mati di hutan mereka rela. Mereka adalah penganut ajaran > agama Islam yang taat. Mereka tahu, bahwa mati hanya sekali. Lebih baik mati > berjuang dengan suami dan anak mereka, dari pada dipemalukan oleh tentara > yang memperkosa dan menghinakan mereka. > Hati mereka memang pekat. Walau pendidikan mereka hanya sampai madrasah di > Lubuak Basuang, namun kemulian hati menjadi modal utama pergaulan di kampung > itu. Apa lagi adanya datuak Panduko, orang yang mereka hormati di kampung > menjadi komandan pasukan. > > Bahar ditugaskan datuak untuk selalu mengawasi kampung dari gangguan OPR. > Pertempuran kemaren terjadi karena pasukan Bahar bersirobok dengan pasukan > raider yang bergerak dari Naras ke Lubuak Basung. Mereka berputa kekiri > dengan melewati Tandikek. > Ketemulah mereka di desa Nanguih itu. > Pertempuran singkat itu cukup seru. Dua anak buah Bahar ikut menjadi korban. > Sebaliknya enam OPR berhasil ditewaskan. Termasuk Nipon seorang seorang > preman makan masak matah. Nipon adalah tadinya agen loket di Bukitting Aue > Tajungkang. > Pasukan tentara pusat raider itu kembali ke Naras. > > Datuak Panduko mempertimbangkan bahwa pasti akan ada serangan balasan dari > tentara pusat. Atas pertimbangan itu maka konsentrasi kompi dipindahkan 2 > kilometer ke mudik batang Nanguih. > > Malam itu semua komandan regu dikumpulkan oleh datuak. > Perintah kewaspadaan ditingkatkan terutama oleh adanya tukang tunjuk. > Semua pendatang sekitar Kampung Mudik, tempat konsentrasi pasukan yang baru > harus diketahui identitasnya. Kalau ada orang baru harus diketahui oleh > kepala intelijen, Letnan Musa. > Team intelijen harus rajin turun ke jalan raya. Mereka menyamar jadi gembala > kerbau dan penyabit rumput. Mereka mematai-mati gerakan raider dari Pariaman > dan dari Bukittinggi. > Hubungan dengan induk pasukan di leter W tidak boleh putus. > > Segera dikirim dua orang kurir ke leter W untuk memberitahukan pemindahan > pasukan ini. > > Selesai briefing singkat itu, datuak memanggil Bahar ke pondoknya. > > ”Bahar, saya mau bicara dengan kamu”, kata datuak. > ”Siap, baik pak. Ada apa”, tanya Bahar. > ”Sekarang pasukan kita mulai terjepit. Hubungan dengan induk pasukan di > hutan sekitar Bukittinggi dan Solok mulai susah. Karena tentara pusat sudah > membuat pos dimana-mana. > Saya dapat pesan dari Ahmad Husein, untuk mengambil sikap yang perlu untuk > menyelamatkan pasukan. Aku disuruh untuk menghindari pertempuran. Kalau > perlu kita menyingkir terus. Aku sendiri juga tidak atau kurang mengerti > dengan perintah begini. Memang amunisi kita mulai menyusut. Tapi aku tidak > mau menyerah, sebelum kita memberi pelajaran berharga ke semua OPR. > > ”Saya mengerti perasaan pak Datuak. Saya juga seperti itu. Biarlah kita > bertempur dulu. Kalau kita kalah tidak apa. Asal yang hak di tanah Minang > ini kita tegakkan. > Saya mau juga melibar OPR ini. Saya cukup malu mendengar ibuk-ibuk kita di > bon dan di kerjai di pos-pos mereka. Sungguh biadab mereka. Saya baru senang > kalau kepala mereka terbang dihantam peluru brent saya”, Bahar emosi > menjawab apa yang dibahas datuak. > > ”Aku juga mendapat laporan dari intel kita bahwa ada sikap agak berubah dari > komandan. Kelihatannya Komandan agak berbeda pendapat dengan komandan nomor > satu kita Pak Dahlan Djambek. > Pak Dahlan tidak mau menyerah. Sekarang beliau sudah menyingkir ke arah > Lasi. Dan sekarang tempat ijok beliau disekitar Batang Masang bersama Pak > Imam”, urai datuak lebih lanjut. > > ”Saya tidak mengerti pak datuak. Apakah maksudnya kita akan menyerah kalah > ke tentara pusat”, tanya Bahar. > > ”Saya menangkap tanda itu Bahar. Sehingga ada pesan ke saya dari Pak Husein > kalau saya boleh memutuskan untuk mengambil sikap demi menyelamatkan anak > buah. Menyelamatkan dalam artian kamus tentara kan kamu tahu, bahwa itu > tanda untuk menyerah. Mengibarkan bendera putih”, kata datuak agak pelan. > > Bahar tahu, bahwa datuak sebenarnya tidak mau menyerah. Kalau menyerah > berarti sekaligus mau menerima segala konsekwensi dari penyerahan. Termasuk > ”penghinaan” dari OPR nantinya. Ini yang tidak mau di lakukan oleh datuak. > > ”Bahar, saya mau menitipkan pesan padamu”, kata datuak melanjutkan. > > ”Ada apa pak datuak”, tanya Bahar. > > ”Kalau dalam pertempuran berikutnya saya mendahului kamu, tolong selamatkan > amak dan Neti. Bawalah mereka menyingkir. Kalau kamu harus menyerah ke > tentara pusat, jagalah amak dan Neti jangan sampai dihina dan dipermalukan”, > kata datuak. > > ”Tidak pak datuak, bapak harus bersama kita. Saya akan menjaga bapak dalam > setiap pertempuran. Bapak tidak boleh mati. Kalau kita harus mati, mari kita > hancur bersama pasukan kita”, bahar dengan geram mengokang brentnya. > > ”Tidak Bahar, kamu harus bisa tetap hidup. Kamu akan jadi saksi sejarah > kelak. Biar orang tahu kalau saya perang karena membela kampung kita dari > perlakuan jahat OPR dan penjajahan oleh tentara pusat. Saya bukan melawan > pemerintah Republik. Tapi saya melawan tentara yang mau menghancurkan alam > Minang yang saya cintai. Juga ada satau maksud saya yang lain”, kata datuak > sambil menghirup dan menghabiskan sisa kopinya di galuak. > > ”Apa pesan pak datuak satu lagi itu”, tanya Bahar. > > ”Saya serahkan Neti kepadamu. Kelak kalau perang usai, mintalah kepada orang > tuamu ijin, bahwa mak akan melamarmu untuk Neti”, demikian datuak > mengungkapkan pesan utamanya. > > Bahar terdiam. Ia tidak menyangka akan pengakuan komandannya ini. > Terus terang ia memang mencintai Neti. Dan ia juga tahu bahwa Neti juga > menyenanginya. > > ”Pak datuak, bapak sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Baiklah, saya > pegang petuah bapak. Tapi ijinkan saya untuk menyelesaikan sekolah saya > kalau Unand masih mau memberi kesempatan untuk saya kuliah lagi. Skripsi > saya sudah hampir selesai. Mungkin sekitar enam bulan lagi saya sudah bisa > ujian sarjana. Sesudah itu baru saya akan bicarakan soal perjodohan dengan > abak saya di Kayutanam”, kata Bahar. > > ”Oh ya itu baik juga Bahar. Jangan lupa sampaikan salam saya sama Engku > Malin ayahmu. > > ”Biak pak datuak”. > > Bahar berpikir jernih. Mawar Tandikek yang ia idamkan telah diserahkan > pemilik kebunnya untuk ia miliki. Mawar itu kini memang terancam dengan > suasana peperangan yang tidak menentu ini. > > Kemaren ia mengajarkan bagaimana cara menembak kalau terdesak kepada Neti. > Neti diberikan sebuah senjata sten untuk menjaga diri dan emaknya. > > Neti tidak boleh ikut perang. Ia digaris belakang di dapur. Aku akan > menjagamu Neti, gumam Bahar dalam hatinya. Kalau kau ditakdirkan mati dalam > pertempuran, engkau harus selamat mawarku, gumamnya lagi. > > * > Terjadilah lagi kontak senjata. > Sore setelah shalat ashar dilembah dibawah persembunyian dan pondok datuak > Panduko. > Datuak dan dua orang komandan regu memeriksa perlengkapan pasukan di lembah > yang tersembunyi. > Lembah itu adalah pos terdepan yang berhadapan langsung dengan jalan raya > menuju Tanjung Mutiara sebelum Maninjau. > Tiba-tiba dari kelokan behamburan serobongan raider dan banyak OPR. > > Kontak senjata tidak terelakkan. > Terjadi pertempuran hidup mati di lembah itu. > Lima belas orang pasukan PPRI di hadang lima puluh orang raider dan OPR. > Tidak seimbang kedua pasukan ini bertempur. Korban banyak berjatuhan di > pihak PPRI. > Datuak Panduko tersungkur keparit setelah dua peluru bersarang di dada dan > lehernya. > > Bahar melihat itu dengan membabi buta melemparkan granat dan tembakan > brent-nya. > > Pasukan raider dan OPR kembali menaiki truk mereka dan meluncur ke arah > Maninjau. > > Hanya tiga orang yang tersisa. Bahar dan dua orang anak buahnya. Dua belas > orang termasuk pak datuak gugur untuk mempertahankan ranah bunda. > Malamnya sisa pasukan dari pondok dikerahkan mengangkut mayat teman mereka > untuk di kuburkan di lereng Tandikek. > > Setelah upacara penguburan malam itu di halaman pondok, Bahar mendekati mak > yang masih menagis tersedu sedan. > Neti memangku emaknya. > > ”Mak, besok kita harus menyingkir lagi. Tempat ini sudah diketahui musuh, > Tidak aman kita disini. Pak datuak telah mendahului kita, Moga Allah > menempatkan datuak di syurga, karena datuak berjuang menegakkan kebenaran. > Saya telah diberi petaruh oleh bapak untuik menjaga emak dan Neti. > > Tiba-tiba datang seorang tani yang rupanya kurir dari Pariaman. Ia tergesa > untuk menyampaikan sepucuk surat. > Bahar menerima surat itu. Rupanya surat dari komandan di Solok. Letkol > Husein menyuruh pasukan untuk menyerah ke Kodim terdekat. > Alasannya untuk menyelamatkan pasukan. > > Bahar terdiam. > Rupanya petuah datuak Panduko tempo hari menjadi kenyataan. > > * > > Hari Senin, April, 1961. > Bahar membawa pasukannya ke Sungai Geringging untuk menyerah. > Kini mereka hanya tingggal dua puluh tujuh orang. Sebagian ada yang sudah > turun duluan menyerahkan diri di kantor Buterpra di sekitar Naras. > > Sebanyak sembilan belas orang anggota kompi Tandikek gugur di medan juang. > > Neti si mawar Tandikek dan emaknya termasuk pasukan yang menyerah. > > Setelah surat penyerahan ditanda tangani oleh Komandan Kodim, mereka dengan > di kawan oleh raider sampai ke Pariaman. > > Dari Pariaman dengan menumpang bus APD mereka bertiga pulang ke Tandikek. > Neti dan emaknya hanya ke rumah pamannya Mak Lenggang. Mereka tidak bisa > kembali ke rumah sendiri karena rumah datuak Panduko telah musnah dibakar > habis oleh OPR. Ladang kopi dan sawah juga dihancurkan. > Untunglah masih hidup paman Neti. Dia menangis menerima saudaranya yang > disangkanya telah mati dalam pertempuran. > > Esoknya Bahar minta diri dan menumpang bus Alima ke Bukittinggi, dan > melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke kampungnya di Kayutanam. > > ”Net, nanti uda akan kembali ke sini. Uda akan bawa abak dan ibu jumpa emak > Neti dan Pak Lenggang untuk mempertautkan kita”, kata Bahar malam itu di > beranda rumah. > > ”Neti tunggu uda datang”, kata Neti lembut. > > ”Uda pasti datang. Uda akan menyelesaikan kuliah yang teringgal. Setelah itu > kita akan hidup bersama. Tinggallah Neti buat sementara”, kata Bahar dengan > nada sendu. > > Disinilah masanya kelak mereka akan menikah, sesuai petaruh dari ayah Neti, > datuak Panduko yang telah gugur sebagai komandan kompi Tandikek. > > Mawar Tandikek akan segera menjadi isterinya. Nanti, setelah ia meraih gelar > sarjana pertanian yang sempat kececer karena peristiwa PPRI. > Mawar Tandikek yang cantik telah menimbulkan kesan cinta yang dalam sejak > jari jemarinya yang lembut mengoleskan obat luka di lengan Bahar. > Bekas cinta itu masih ada kini. Parut luka itu menyembunyikan asmara di > balik kulitnya. > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
