Assalamualaikum ww
Dengan adanya gejolak dalam negeri di Tunisia dan Mesir telah membuka mata 
banyak orang betapa suatu rezim berkuasa bisa mencapai puluhan tahun yang oleh 
sebagian kalangan dianggap cukup stabil tentu menjadi pertanyaan bagi sebagian 
lainnya "stabil buat siapa??? kan gitu......
Stabil buat kawula negeri, tentu tunggu dulu jawabnya tapi kok stabil buat 
kepentingan asing, jawabnya tentu boleh jadi dong, kan gitu
Begitu terjadi kemelut di Mesir yang duluan teriak kelihatannya raja amrik kan, 
lha iyaa, kepentingan mereka dan sekutunya bakalan sangat terganggu disana, apa 
bedanya ketika dinegeri kita saisuak Soekarno mesra jo Moskow mereka juga 
kalimpasiangan maka begitu terjadi gejolak di-mana2 termasuk PRRI Sumatera 
Tengah, mereka segera memberi dukungan
Stabil bagi fihak tertentu tapi tidak stabil bagi hamba rahayat dan ini telah 
lama terakumulasi dalam bentuk kemuakan tiada tara sekarang dengan satu 
tuntutan 
Mubarak lengser sebelum dilengserkan, kalau lengser dengan baik2 karena sudah 
tidak mendapat legitimasi rakyat lagi adalah jauh lebih baik ketimbang 
dilengserkan atau lari malam seperti Ben Ali Tunisia itu dan ini oleh sebagian 
pengamat hanya tinggal waktu saja lagi
Bukan lagi Ikhwanul Muslimin yang tersebut sebagai sangat anti asing dan 
zionisme saja tapi sudah bersama seluruh rakyat, namun Mubarak masih belum 
kehilangan akal untuk mempertahankan kursi kepresidenannya, dengan nama Pro 
Mubarak dengan menggunakan preman2 bayaran (Baduwi dan susupan dari tetangga 
sekutunya) dia mengcounter kelompok Anti Mubarak, maka korbanpun berjatuhan, 
nampaknya Mubarak coba2 lebih memilih ber-darah2 dulu sebelum mantap hati untuk 
lari malam
Walau tudingan diarahkan kepada Ikhwanul Muslimin musuh bebuyutan presiden2 
Mesir sejak dulunya dibalik semua ini, namun mata dunia bisa melihat jelas 
bahwa 
rakyatlah sebenarnya yang sedang geram, maka untuk mengelabui dunia semua 
wartawan/jurnalistik dipasung tidak terkecuali Aljazeera sang penyeimbang press 
pro barat yang terkenal pemberitaannya yang berat sebelah itu
Hezbollah Lebanon jelas tidak sama dengan Ikhwanul Muslimin dan Hammas karena 
Hezbollah adalah Syiah namun kesamaannya adalah sama2 penentang berat israel 
dan 
amrik

Barat tentu ingin juga ini semua cepat selesai sebelum komoditi terutama minyak 
dan gas semakin meroket dan maunya tentu pengganti Mubarak adalah masih orang2 
yang bisa di-remote control dari MB atau head quarter-nya, jadi tentu saja 
mereka akan berusaha keras agar kekuasaan di Mesir tidak jatuh ketangan 
Ikhwanul 
Muslimin, bisa kacau ampok awak beko, kan gitu keceknyo
Bagi pemimpin2 dinegeri lain termasuk Indonesia tentu harus hati2, kalau selama 
ini sudah banyak melukai hati rakyat, maka pikir2lah dulu dan jangan asal 
mbacot 
juga lagi apalagi efek domino setelah Tunisia dan Mesir ini akan selalu 
bergerak 
dan sesudah ini entah kemana pula lagi ranumya, sejarah akan menentukan
wasalam
abp58


________________________________
Dari: Darwin Bahar <[email protected]>
Kepada: Palanta Rantaunet <[email protected]>
Terkirim: Sab, 5 Februari, 2011 00:28:50
Judul: [R@ntau-Net] M Jusuf Kalla: Mesir; Pangan, Minyak, Revolusi


M Jusuf Kalla
Sabtu, 05 Februari 2011
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/04/03072034/mesir.pangan.minyak.revolusi
Mesir, yang mempunyai sejarah panjang dengan peradaban yang tinggi sebanding 
dengan China di Asia Timur, sangat bangga pada masa lalunya. Orang datang ke 
Mesir pada dewasa ini umumnya ingin melihat masa lalu itu, piramida, Sphinx, 
dan 
lain-lain, sehingga sering orang mengatakan bahwa Mesir masih dihidupi oleh 
Firaun yang membuat piramida-piramida itu.
Begitu juga pendidikan, terkenal Al-Azhar yang merupakan universitas tertua di 
dunia yang menjadi kebanggaan dan menerangi dunia Islam sampai sekarang. 
Pendapatan per kapita Mesir hampir sama dengan Indonesia, yaitu 3.000 dollar 
Amerika Serikat (AS) per tahun.
Mesir, yang berpenduduk sekitar 83 juta orang dengan Sungai Nil yang memanjang, 
sebenarnya negeri yang subur, khususnya sepanjang aliran sungai yang sering 
banjir. Apalagi dengan Bendungan Aswan yang dibangun pada tahun 1950-an oleh 
Rusia, yang memberi air untuk lahan pertanian yang luas.
Sampai tahun 1990-an, negara ini masih swasembada gandum dan beras, malah bahan 
pangan pokok diekspor untuk negara-negara Timur Tengah. Kita pernah mengimpor 
beras dan gandum dari Mesir pada tahun 1980-an.
Mesir juga mempunyai minyak walaupun tidak sebanyak Arab Saudi atau Kuwait. 
Produksi tertinggi dicapai pada tahun 1996 dengan volume 900.000 barrel per 
hari. Sejalan dengan naiknya harga minyak setelah tahun 1970-an, hasil minyak 
tersebut dipakai untuk menyubsidi harga pangan untuk rakyat yang cukup besar.
Akibatnya, rakyat juga tidak terdorong untuk meningkatkan produksi pangan 
sehingga produksi pangan terus menurun dan sekarang Mesir sangat bergantung 
pada 
impor gandum dari Amerika dan Australia serta beras dari Thailand dan Vietnam.
Di lain pihak, produksi minyak yang mencapai puncaknya pada tahun 2006 menurun 
sampai 600.000 barrel per hari pada tahun lalu. Jumlah ini tidak mencukupi 
untuk 
menutupi kebutuhan dalam negeri sehingga subsidi bahan bakar minyak pun 
meningkat dengan tajam.
Dipicu harga pangan
Situasi yang berat muncul pada saat yang bersamaan, yaitu harga pangan dunia 
yang naik bersamaan dengan produksi minyak yang menurun dengan harga tinggi. 
Pemerintah dihadapkan pada subsidi dobel untuk pangan dan minyak yang tinggi 
dengan akibat lebih lanjut defisit sebesar 8 persen dari produk domestik bruto. 
Sebagai perbandingan, untuk Indonesia angkanya 1,5 persen dari produk domestik 
bruto.
Kalau Amerika Serikat dapat menutup anggaran dengan mencetak terus dollar AS 
dan 
menjual ke China, siapa yang mau membeli pound Mesir? Akibatnya, tahun 2010 
inflasi mencapai 13,4 persen dan berakibat terhadap menurunnya kemampuan 
keuangan negara untuk reformasi ekonomi.
Karena 40 persen kebutuhan pangan diimpor, Mesir sangat rentan pada gejolak 
harga pangan dunia. Pada krisis pangan 2008 sebenarnya sudah mulai terjadi 
gejolak di Mesir. Saat itu karena adanya kenaikan harga roti, tetapi masalah 
ini 
dapat diselesaikan dengan keras. Namun, akibat dari keadaan itu, pengangguran 
dan kemiskinan juga bertambah, dan ini menyebabkan masalah-masalah sosial mudah 
timbul.
Revolusi Tunisia
Revolusi Tunisia pada awal tahun ini, yang menurunkan Presiden Ben Ali setelah 
berkuasa selama 30 tahun, juga dengan sebab yang sama: pangan. Harga pangan 
yang 
tinggi dengan tingkat pengangguran yang tinggi di bawah pemerintah otoriter 
yang 
korup menyulut gerakan massa dengan cepat untuk marah. Dalam waktu lima hari 
Ben 
Ali melarikan diri.
Revolusi Tunisia ini menyulut Mesir dengan cepat karena situasi sosial 
masyarakat memang sudah membara dengan kekecewaan dan selama ini tanpa daya 
karena otoriternya Presiden Mubarak.
Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara berevolusi dewasa ini. Dulu, 
setiap revolusi dimulai dengan menduduki stasiun radio atau televisi karena ada 
sentral informasi dan dibutuhkan pemimpin untuk mempersatukan, seperti Imam 
Khomeini di Iran.
Sekarang, dengan adanya media sosial, internet, dan SMS, tidak dibutuhkan lagi 
pemimpin besar dan tindakan merebut stasiun radio. Sebab, orang saling memimpin 
dan berhubungan langsung dengan waktu, detik. Pemimpin dicari kemudian, seperti 
ElBaradei di Mesir.
Apakah Mubarak akan jatuh atau tidak, kita tunggu, tetapi kalau ditanya apakah 
bisa bertahan, saya yakin Mubarak sulit untuk bertahan dalam kondisi ini. 
Karena 
di samping otoriter, Mubarak juga dinilai membangun dinasti yang korup.
Selama ini Mesir cukup stabil karena Mubarak sangat dekat dengan Amerika 
Serikat 
dan Israel walaupun Mesir tidak demokratis (AS menyerang Irak dengan alasan 
demokrasi). Dengan kedekatan Amerika Serikat membantu dengan dana miliaran 
dollar AS per tahun, Mubarak menjamin keamanan Terusan Suez untuk pengangkutan 
minyak dari Timur Tengah ke Amerika dan Eropa yang setiap harinya dilalui 
tanker-tanker yang memuat sekitar 3 juta barrel minyak.
Amerika Serikat, Israel, dan juga negara-negara kaya di Timur Tengah takut jika 
Mesir dikuasai pemerintah garis keras seperti Ihwanul Muslimin yang sejalan 
dengan Hamas dan Hezbollah di Lebanon yang dapat mengontrol lebih ketat Terusan 
Suez dengan cara membatasi atau menaikkan bea lewat sehingga jalur minyak 
menjadi terganggu atau mahal.
Hal ini wajar saja karena kalau Mubarak turun, bantuan Amerika Serikat pasti 
menurun dan, kalau pemerintah baru ingin cepat memperbaiki ekonomi, maka yang 
paling mungkin pendapatan dari Terusan Suez dinaikkan. Dan, ini akan berakibat 
terhadap naiknya harga minyak dunia yang mempunyai implikasi yang panjang, 
termasuk akibatnya ke Mesir sendiri dan negara-negara lain seperti Indonesia.
Apa yang harus dipelajari?
Apa yang perlu dipelajari dari keadaan yang kacau di Mesir dan Tunisia agar 
jangan terjadi di Indonesia? Kondisi dan gerakan massa dapat terjadi di mana 
saja apabila mengalami krisis yang sama. Sebenarnya, kondisi Mubarak sekarang 
sama dengan kondisi Soeharto yang jatuh 13 tahun yang lalu karena otoriter, 
KKN, 
serta adanya krisis pangan dan pengangguran sehingga mudah menyulut perlawanan 
rakyat.
Pemerintah otoriter atau dinasti tentunya harus dihindari dan dicegah.
Kita bersyukur bahwa Indonesia negara demokratis walaupun sering dengan ongkos 
yang mahal sehingga cenderung menjadi investasi yang harus kembali, artinya 
peluang korupsi. Kita negara dengan KKN skala yang tinggi. Karena itu, kita 
harus mengatasi dengan segala cara, baik KKN di eksekutif, legislatif, maupun 
yudikatif, termasuk polisi, jaksa, dan Komisi Pemberantasan Korupsi, secara 
efektif.
Karena pemicu dari hampir semua perlawanan dari gerakan rakyat adalah harga 
pangan yang tinggi, maka peningkatan produksi pangan agar swasembada harus 
dijalankan, dan kita mampu untuk itu.
Tahun 2008 dan 2009, Indonesia sudah swasembada beras, tetapi tahun 2010 kita 
kekurangan lagi. Artinya, produksi menurun, yang akibatnya impor beras lagi, 
harga-harga dan inflasi naik.
Semua itu dalam kerangka kebijakan ekonomi yang memihak pada produksi dalam 
negeri untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan serta lapangan 
kerja secara bersamaan, termasuk evaluasi subsidi yang tepat untuk pangan dan 
bahan bakar minyak.
Kebijakan ekonomi yang adil diperlukan sehingga gap antara yang kaya dan miskin 
bisa dikurangi. Pengalaman perjalanan bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain 
harus menjadi perhatian untuk menjalankan pemerintahan yang baik dan aman oleh 
pemimpin bangsa.
M JUSUF KALLA Wakil Presiden RI (2004-2009)


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke