M Jusuf Kalla

Sabtu, 05 Februari 2011

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/04/03072034/mesir.pangan.minyak.revolus
i

Mesir, yang mempunyai sejarah panjang dengan peradaban yang tinggi sebanding
dengan China di Asia Timur, sangat bangga pada masa lalunya. Orang datang ke
Mesir pada dewasa ini umumnya ingin melihat masa lalu itu, piramida, Sphinx,
dan lain-lain, sehingga sering orang mengatakan bahwa Mesir masih dihidupi
oleh Firaun yang membuat piramida-piramida itu.

Begitu juga pendidikan, terkenal Al-Azhar yang merupakan universitas tertua
di dunia yang menjadi kebanggaan dan menerangi dunia Islam sampai sekarang.
Pendapatan per kapita Mesir hampir sama dengan Indonesia, yaitu 3.000 dollar
Amerika Serikat (AS) per tahun.

Mesir, yang berpenduduk sekitar 83 juta orang dengan Sungai Nil yang
memanjang, sebenarnya negeri yang subur, khususnya sepanjang aliran sungai
yang sering banjir. Apalagi dengan Bendungan Aswan yang dibangun pada tahun
1950-an oleh Rusia, yang memberi air untuk lahan pertanian yang luas.

Sampai tahun 1990-an, negara ini masih swasembada gandum dan beras, malah
bahan pangan pokok diekspor untuk negara-negara Timur Tengah. Kita pernah
mengimpor beras dan gandum dari Mesir pada tahun 1980-an.

Mesir juga mempunyai minyak walaupun tidak sebanyak Arab Saudi atau Kuwait.
Produksi tertinggi dicapai pada tahun 1996 dengan volume 900.000 barrel per
hari. Sejalan dengan naiknya harga minyak setelah tahun 1970-an, hasil
minyak tersebut dipakai untuk menyubsidi harga pangan untuk rakyat yang
cukup besar.

Akibatnya, rakyat juga tidak terdorong untuk meningkatkan produksi pangan
sehingga produksi pangan terus menurun dan sekarang Mesir sangat bergantung
pada impor gandum dari Amerika dan Australia serta beras dari Thailand dan
Vietnam.

Di lain pihak, produksi minyak yang mencapai puncaknya pada tahun 2006
menurun sampai 600.000 barrel per hari pada tahun lalu. Jumlah ini tidak
mencukupi untuk menutupi kebutuhan dalam negeri sehingga subsidi bahan bakar
minyak pun meningkat dengan tajam.

Dipicu harga pangan

Situasi yang berat muncul pada saat yang bersamaan, yaitu harga pangan dunia
yang naik bersamaan dengan produksi minyak yang menurun dengan harga tinggi.
Pemerintah dihadapkan pada subsidi dobel untuk pangan dan minyak yang tinggi
dengan akibat lebih lanjut defisit sebesar 8 persen dari produk domestik
bruto. Sebagai perbandingan, untuk Indonesia angkanya 1,5 persen dari produk
domestik bruto.

Kalau Amerika Serikat dapat menutup anggaran dengan mencetak terus dollar AS
dan menjual ke China, siapa yang mau membeli pound Mesir? Akibatnya, tahun
2010 inflasi mencapai 13,4 persen dan berakibat terhadap menurunnya
kemampuan keuangan negara untuk reformasi ekonomi.

Karena 40 persen kebutuhan pangan diimpor, Mesir sangat rentan pada gejolak
harga pangan dunia. Pada krisis pangan 2008 sebenarnya sudah mulai terjadi
gejolak di Mesir. Saat itu karena adanya kenaikan harga roti, tetapi masalah
ini dapat diselesaikan dengan keras. Namun, akibat dari keadaan itu,
pengangguran dan kemiskinan juga bertambah, dan ini menyebabkan
masalah-masalah sosial mudah timbul.

Revolusi Tunisia

Revolusi Tunisia pada awal tahun ini, yang menurunkan Presiden Ben Ali
setelah berkuasa selama 30 tahun, juga dengan sebab yang sama: pangan. Harga
pangan yang tinggi dengan tingkat pengangguran yang tinggi di bawah
pemerintah otoriter yang korup menyulut gerakan massa dengan cepat untuk
marah. Dalam waktu lima hari Ben Ali melarikan diri.

Revolusi Tunisia ini menyulut Mesir dengan cepat karena situasi sosial
masyarakat memang sudah membara dengan kekecewaan dan selama ini tanpa daya
karena otoriternya Presiden Mubarak.

Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara berevolusi dewasa ini.
Dulu, setiap revolusi dimulai dengan menduduki stasiun radio atau televisi
karena ada sentral informasi dan dibutuhkan pemimpin untuk mempersatukan,
seperti Imam Khomeini di Iran.

Sekarang, dengan adanya media sosial, internet, dan SMS, tidak dibutuhkan
lagi pemimpin besar dan tindakan merebut stasiun radio. Sebab, orang saling
memimpin dan berhubungan langsung dengan waktu, detik. Pemimpin dicari
kemudian, seperti ElBaradei di Mesir.

Apakah Mubarak akan jatuh atau tidak, kita tunggu, tetapi kalau ditanya
apakah bisa bertahan, saya yakin Mubarak sulit untuk bertahan dalam kondisi
ini. Karena di samping otoriter, Mubarak juga dinilai membangun dinasti yang
korup.

Selama ini Mesir cukup stabil karena Mubarak sangat dekat dengan Amerika
Serikat dan Israel walaupun Mesir tidak demokratis (AS menyerang Irak dengan
alasan demokrasi). Dengan kedekatan Amerika Serikat membantu dengan dana
miliaran dollar AS per tahun, Mubarak menjamin keamanan Terusan Suez untuk
pengangkutan minyak dari Timur Tengah ke Amerika dan Eropa yang setiap
harinya dilalui tanker-tanker yang memuat sekitar 3 juta barrel minyak.

Amerika Serikat, Israel, dan juga negara-negara kaya di Timur Tengah takut
jika Mesir dikuasai pemerintah garis keras seperti Ihwanul Muslimin yang
sejalan dengan Hamas dan Hezbollah di Lebanon yang dapat mengontrol lebih
ketat Terusan Suez dengan cara membatasi atau menaikkan bea lewat sehingga
jalur minyak menjadi terganggu atau mahal.

Hal ini wajar saja karena kalau Mubarak turun, bantuan Amerika Serikat pasti
menurun dan, kalau pemerintah baru ingin cepat memperbaiki ekonomi, maka
yang paling mungkin pendapatan dari Terusan Suez dinaikkan. Dan, ini akan
berakibat terhadap naiknya harga minyak dunia yang mempunyai implikasi yang
panjang, termasuk akibatnya ke Mesir sendiri dan negara-negara lain seperti
Indonesia.

Apa yang harus dipelajari?

Apa yang perlu dipelajari dari keadaan yang kacau di Mesir dan Tunisia agar
jangan terjadi di Indonesia? Kondisi dan gerakan massa dapat terjadi di mana
saja apabila mengalami krisis yang sama. Sebenarnya, kondisi Mubarak
sekarang sama dengan kondisi Soeharto yang jatuh 13 tahun yang lalu karena
otoriter, KKN, serta adanya krisis pangan dan pengangguran sehingga mudah
menyulut perlawanan rakyat.

Pemerintah otoriter atau dinasti tentunya harus dihindari dan dicegah.

Kita bersyukur bahwa Indonesia negara demokratis walaupun sering dengan
ongkos yang mahal sehingga cenderung menjadi investasi yang harus kembali,
artinya peluang korupsi. Kita negara dengan KKN skala yang tinggi. Karena
itu, kita harus mengatasi dengan segala cara, baik KKN di eksekutif,
legislatif, maupun yudikatif, termasuk polisi, jaksa, dan Komisi
Pemberantasan Korupsi, secara efektif.

Karena pemicu dari hampir semua perlawanan dari gerakan rakyat adalah harga
pangan yang tinggi, maka peningkatan produksi pangan agar swasembada harus
dijalankan, dan kita mampu untuk itu.

Tahun 2008 dan 2009, Indonesia sudah swasembada beras, tetapi tahun 2010
kita kekurangan lagi. Artinya, produksi menurun, yang akibatnya impor beras
lagi, harga-harga dan inflasi naik.

Semua itu dalam kerangka kebijakan ekonomi yang memihak pada produksi dalam
negeri untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan serta lapangan
kerja secara bersamaan, termasuk evaluasi subsidi yang tepat untuk pangan
dan bahan bakar minyak.

Kebijakan ekonomi yang adil diperlukan sehingga gap antara yang kaya dan
miskin bisa dikurangi. Pengalaman perjalanan bangsa sendiri dan
bangsa-bangsa lain harus menjadi perhatian untuk menjalankan pemerintahan
yang baik dan aman oleh pemimpin bangsa.

M JUSUF KALLA Wakil Presiden RI (2004-2009)

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke