Sanak Arman,

Kestabilan tu tantu untuk sagala lapisan. Nan sanang stabil dalam
kasanangan dan nan susah stabil dalam kesusahannyo.

On 2/4/11, Arman Bahar <[email protected]> wrote:
> Assalamualaikum ww
> Dengan adanya gejolak dalam negeri di Tunisia dan Mesir telah membuka mata
> banyak orang betapa suatu rezim berkuasa bisa mencapai puluhan tahun yang
> oleh
> sebagian kalangan dianggap cukup stabil tentu menjadi pertanyaan bagi
> sebagian
> lainnya "stabil buat siapa??? kan gitu......
> Stabil buat kawula negeri, tentu tunggu dulu jawabnya tapi kok stabil buat
> kepentingan asing, jawabnya tentu boleh jadi dong, kan gitu
> Begitu terjadi kemelut di Mesir yang duluan teriak kelihatannya raja amrik
> kan,
> lha iyaa, kepentingan mereka dan sekutunya bakalan sangat terganggu disana,
> apa
> bedanya ketika dinegeri kita saisuak Soekarno mesra jo Moskow mereka juga
> kalimpasiangan maka begitu terjadi gejolak di-mana2 termasuk PRRI Sumatera
> Tengah, mereka segera memberi dukungan
> Stabil bagi fihak tertentu tapi tidak stabil bagi hamba rahayat dan ini
> telah
> lama terakumulasi dalam bentuk kemuakan tiada tara sekarang dengan satu
> tuntutan
> Mubarak lengser sebelum dilengserkan, kalau lengser dengan baik2 karena
> sudah
> tidak mendapat legitimasi rakyat lagi adalah jauh lebih baik ketimbang
> dilengserkan atau lari malam seperti Ben Ali Tunisia itu dan ini oleh
> sebagian
> pengamat hanya tinggal waktu saja lagi
> Bukan lagi Ikhwanul Muslimin yang tersebut sebagai sangat anti asing dan
> zionisme saja tapi sudah bersama seluruh rakyat, namun Mubarak masih belum
> kehilangan akal untuk mempertahankan kursi kepresidenannya, dengan nama Pro
> Mubarak dengan menggunakan preman2 bayaran (Baduwi dan susupan dari tetangga
> sekutunya) dia mengcounter kelompok Anti Mubarak, maka korbanpun berjatuhan,
> nampaknya Mubarak coba2 lebih memilih ber-darah2 dulu sebelum mantap hati
> untuk
> lari malam
> Walau tudingan diarahkan kepada Ikhwanul Muslimin musuh bebuyutan presiden2
> Mesir sejak dulunya dibalik semua ini, namun mata dunia bisa melihat jelas
> bahwa
> rakyatlah sebenarnya yang sedang geram, maka untuk mengelabui dunia semua
> wartawan/jurnalistik dipasung tidak terkecuali Aljazeera sang penyeimbang
> press
> pro barat yang terkenal pemberitaannya yang berat sebelah itu
> Hezbollah Lebanon jelas tidak sama dengan Ikhwanul Muslimin dan Hammas
> karena
> Hezbollah adalah Syiah namun kesamaannya adalah sama2 penentang berat israel
> dan
> amrik
>
> Barat tentu ingin juga ini semua cepat selesai sebelum komoditi terutama
> minyak
> dan gas semakin meroket dan maunya tentu pengganti Mubarak adalah masih
> orang2
> yang bisa di-remote control dari MB atau head quarter-nya, jadi tentu saja
> mereka akan berusaha keras agar kekuasaan di Mesir tidak jatuh ketangan
> Ikhwanul
> Muslimin, bisa kacau ampok awak beko, kan gitu keceknyo
> Bagi pemimpin2 dinegeri lain termasuk Indonesia tentu harus hati2, kalau
> selama
> ini sudah banyak melukai hati rakyat, maka pikir2lah dulu dan jangan asal
> mbacot
> juga lagi apalagi efek domino setelah Tunisia dan Mesir ini akan selalu
> bergerak
> dan sesudah ini entah kemana pula lagi ranumya, sejarah akan menentukan
> wasalam
> abp58
>
>
> ________________________________
> Dari: Darwin Bahar <[email protected]>
> Kepada: Palanta Rantaunet <[email protected]>
> Terkirim: Sab, 5 Februari, 2011 00:28:50
> Judul: [R@ntau-Net] M Jusuf Kalla: Mesir; Pangan, Minyak, Revolusi
>
>
> M Jusuf Kalla
> Sabtu, 05 Februari 2011
> http://cetak.kompas.com/read/2011/02/04/03072034/mesir.pangan.minyak.revolusi
> Mesir, yang mempunyai sejarah panjang dengan peradaban yang tinggi sebanding
> dengan China di Asia Timur, sangat bangga pada masa lalunya. Orang datang ke
> Mesir pada dewasa ini umumnya ingin melihat masa lalu itu, piramida, Sphinx,
> dan
> lain-lain, sehingga sering orang mengatakan bahwa Mesir masih dihidupi oleh
> Firaun yang membuat piramida-piramida itu.
> Begitu juga pendidikan, terkenal Al-Azhar yang merupakan universitas tertua
> di
> dunia yang menjadi kebanggaan dan menerangi dunia Islam sampai sekarang.
> Pendapatan per kapita Mesir hampir sama dengan Indonesia, yaitu 3.000 dollar
> Amerika Serikat (AS) per tahun.
> Mesir, yang berpenduduk sekitar 83 juta orang dengan Sungai Nil yang
> memanjang,
> sebenarnya negeri yang subur, khususnya sepanjang aliran sungai yang sering
> banjir. Apalagi dengan Bendungan Aswan yang dibangun pada tahun 1950-an oleh
> Rusia, yang memberi air untuk lahan pertanian yang luas.
> Sampai tahun 1990-an, negara ini masih swasembada gandum dan beras, malah
> bahan
> pangan pokok diekspor untuk negara-negara Timur Tengah. Kita pernah
> mengimpor
> beras dan gandum dari Mesir pada tahun 1980-an.
> Mesir juga mempunyai minyak walaupun tidak sebanyak Arab Saudi atau Kuwait.
> Produksi tertinggi dicapai pada tahun 1996 dengan volume 900.000 barrel per
> hari. Sejalan dengan naiknya harga minyak setelah tahun 1970-an, hasil
> minyak
> tersebut dipakai untuk menyubsidi harga pangan untuk rakyat yang cukup
> besar.
> Akibatnya, rakyat juga tidak terdorong untuk meningkatkan produksi pangan
> sehingga produksi pangan terus menurun dan sekarang Mesir sangat bergantung
> pada
> impor gandum dari Amerika dan Australia serta beras dari Thailand dan
> Vietnam.
> Di lain pihak, produksi minyak yang mencapai puncaknya pada tahun 2006
> menurun
> sampai 600.000 barrel per hari pada tahun lalu. Jumlah ini tidak mencukupi
> untuk
> menutupi kebutuhan dalam negeri sehingga subsidi bahan bakar minyak pun
> meningkat dengan tajam.
> Dipicu harga pangan
> Situasi yang berat muncul pada saat yang bersamaan, yaitu harga pangan dunia
> yang naik bersamaan dengan produksi minyak yang menurun dengan harga tinggi.
> Pemerintah dihadapkan pada subsidi dobel untuk pangan dan minyak yang tinggi
> dengan akibat lebih lanjut defisit sebesar 8 persen dari produk domestik
> bruto.
> Sebagai perbandingan, untuk Indonesia angkanya 1,5 persen dari produk
> domestik
> bruto.
> Kalau Amerika Serikat dapat menutup anggaran dengan mencetak terus dollar AS
> dan
> menjual ke China, siapa yang mau membeli pound Mesir? Akibatnya, tahun 2010
> inflasi mencapai 13,4 persen dan berakibat terhadap menurunnya kemampuan
> keuangan negara untuk reformasi ekonomi.
> Karena 40 persen kebutuhan pangan diimpor, Mesir sangat rentan pada gejolak
> harga pangan dunia. Pada krisis pangan 2008 sebenarnya sudah mulai terjadi
> gejolak di Mesir. Saat itu karena adanya kenaikan harga roti, tetapi masalah
> ini
> dapat diselesaikan dengan keras. Namun, akibat dari keadaan itu,
> pengangguran
> dan kemiskinan juga bertambah, dan ini menyebabkan masalah-masalah sosial
> mudah
> timbul.
> Revolusi Tunisia
> Revolusi Tunisia pada awal tahun ini, yang menurunkan Presiden Ben Ali
> setelah
> berkuasa selama 30 tahun, juga dengan sebab yang sama: pangan. Harga pangan
> yang
> tinggi dengan tingkat pengangguran yang tinggi di bawah pemerintah otoriter
> yang
> korup menyulut gerakan massa dengan cepat untuk marah. Dalam waktu lima hari
> Ben
> Ali melarikan diri.
> Revolusi Tunisia ini menyulut Mesir dengan cepat karena situasi sosial
> masyarakat memang sudah membara dengan kekecewaan dan selama ini tanpa daya
> karena otoriternya Presiden Mubarak.
> Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara berevolusi dewasa ini.
> Dulu,
> setiap revolusi dimulai dengan menduduki stasiun radio atau televisi karena
> ada
> sentral informasi dan dibutuhkan pemimpin untuk mempersatukan, seperti Imam
> Khomeini di Iran.
> Sekarang, dengan adanya media sosial, internet, dan SMS, tidak dibutuhkan
> lagi
> pemimpin besar dan tindakan merebut stasiun radio. Sebab, orang saling
> memimpin
> dan berhubungan langsung dengan waktu, detik. Pemimpin dicari kemudian,
> seperti
> ElBaradei di Mesir.
> Apakah Mubarak akan jatuh atau tidak, kita tunggu, tetapi kalau ditanya
> apakah
> bisa bertahan, saya yakin Mubarak sulit untuk bertahan dalam kondisi ini.
> Karena
> di samping otoriter, Mubarak juga dinilai membangun dinasti yang korup.
> Selama ini Mesir cukup stabil karena Mubarak sangat dekat dengan Amerika
> Serikat
> dan Israel walaupun Mesir tidak demokratis (AS menyerang Irak dengan alasan
> demokrasi). Dengan kedekatan Amerika Serikat membantu dengan dana miliaran
> dollar AS per tahun, Mubarak menjamin keamanan Terusan Suez untuk
> pengangkutan
> minyak dari Timur Tengah ke Amerika dan Eropa yang setiap harinya dilalui
> tanker-tanker yang memuat sekitar 3 juta barrel minyak.
> Amerika Serikat, Israel, dan juga negara-negara kaya di Timur Tengah takut
> jika
> Mesir dikuasai pemerintah garis keras seperti Ihwanul Muslimin yang sejalan
> dengan Hamas dan Hezbollah di Lebanon yang dapat mengontrol lebih ketat
> Terusan
> Suez dengan cara membatasi atau menaikkan bea lewat sehingga jalur minyak
> menjadi terganggu atau mahal.
> Hal ini wajar saja karena kalau Mubarak turun, bantuan Amerika Serikat pasti
> menurun dan, kalau pemerintah baru ingin cepat memperbaiki ekonomi, maka
> yang
> paling mungkin pendapatan dari Terusan Suez dinaikkan. Dan, ini akan
> berakibat
> terhadap naiknya harga minyak dunia yang mempunyai implikasi yang panjang,
> termasuk akibatnya ke Mesir sendiri dan negara-negara lain seperti
> Indonesia.
> Apa yang harus dipelajari?
> Apa yang perlu dipelajari dari keadaan yang kacau di Mesir dan Tunisia agar
> jangan terjadi di Indonesia? Kondisi dan gerakan massa dapat terjadi di mana
> saja apabila mengalami krisis yang sama. Sebenarnya, kondisi Mubarak
> sekarang
> sama dengan kondisi Soeharto yang jatuh 13 tahun yang lalu karena otoriter,
> KKN,
> serta adanya krisis pangan dan pengangguran sehingga mudah menyulut
> perlawanan
> rakyat.
> Pemerintah otoriter atau dinasti tentunya harus dihindari dan dicegah.
> Kita bersyukur bahwa Indonesia negara demokratis walaupun sering dengan
> ongkos
> yang mahal sehingga cenderung menjadi investasi yang harus kembali, artinya
> peluang korupsi. Kita negara dengan KKN skala yang tinggi. Karena itu, kita
> harus mengatasi dengan segala cara, baik KKN di eksekutif, legislatif,
> maupun
> yudikatif, termasuk polisi, jaksa, dan Komisi Pemberantasan Korupsi, secara
> efektif.
> Karena pemicu dari hampir semua perlawanan dari gerakan rakyat adalah harga
> pangan yang tinggi, maka peningkatan produksi pangan agar swasembada harus
> dijalankan, dan kita mampu untuk itu.
> Tahun 2008 dan 2009, Indonesia sudah swasembada beras, tetapi tahun 2010
> kita
> kekurangan lagi. Artinya, produksi menurun, yang akibatnya impor beras lagi,
> harga-harga dan inflasi naik.
> Semua itu dalam kerangka kebijakan ekonomi yang memihak pada produksi dalam
> negeri untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan serta lapangan
> kerja secara bersamaan, termasuk evaluasi subsidi yang tepat untuk pangan
> dan
> bahan bakar minyak.
> Kebijakan ekonomi yang adil diperlukan sehingga gap antara yang kaya dan
> miskin
> bisa dikurangi. Pengalaman perjalanan bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain
> harus menjadi perhatian untuk menjalankan pemerintahan yang baik dan aman
> oleh
> pemimpin bangsa.
> M JUSUF KALLA Wakil Presiden RI (2004-2009)
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>

-- 
Sent from my mobile device

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
di Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau: Deli dan Jakarta,
kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi
sebatang lidi"

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke