Pak Saaf, terima kasih atas penjelasan Bapak. Saya percaya Bapak memiliki niat yang baik untuk memperbaiki keadaan umat Islam, terutama di ranah. Oleh karena itu, saya juga mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.
Pertama, perlu saya sampaikan bahwa setahu saya tidak ada riwayat shahih untuk "Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat." Justru di banyak tempat dalam al-Qur'an dan as-Sunnah kita diwajibkan untuk bersatu: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisaa' 4.59) Benar bahwa ada perkara-perkara yang bersifat ijtihadiyah dan ada kelonggaran di dalamnya untuk berbeda pendapat, tetapi hal tersebut ditoleransi ketika memang tidak ada dalil yang jelas atau masing-masing pendapat memang memiliki landasan yang kuat. Sebagai contoh, dalam permasalahan hukum ziarah kubur bagi perempuan, telah pernah saya kemukakan di sini bahwa ada perbedaan pendapat di dalamnya. Pemilihan pendapat dalam perkara ijtihadiyah seyogyanya bukan dengan semata mencari-cari kemudahan. Kemudian, Pak Saaf, menurut saya, tema pertemuan itu sendiri sudah keliru. Yang perlu direvitalisasi adalah umat Islam, bukan Islam itu sendiri. Yang perlu berubah adalah umat Islam, bukan Islam. Kejatuhan keadaan umat Islam telah disampaikan Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam dan beliau pun telah memberikan resep kebangkitannya. "Apabila kalian telah berjual-beli dengan ‘inah (bentuk riba) dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau dan kalian telah mencintai pertanian dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah, Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian" (HR. Abu Dawud dan Ahmad) Bukankah hari ini riba merajalela, Pak? Bukankah hari ini manusia sibuk dengan dunia dan takjub terhadap kemewahan dunia sampai-sampai rela melakukan perbuatan haram demi dunia? Bukankah hari ini jihad telah dicoreng namanya? Tidaklah aneh kalau kehinaan ditimpakan kepada umat ini. Kunci kebangkitannya adalah kembali kepada Islam, bukan menyesuaikan Islam dengan keinginan manusia seperti yang dikehendaki sebagian orang. Selanjutnya, Pak Saaf, alhamdulillah jika pilihan untuk Ahmadiyah hanya dua itu. Saya khawatir jika muncul pilihan melegitimasi agama mereka. Mengenai 'Islamic cultural spheres,' saya khawatir justru pembagian itu menunjukkan kesempitan pemahaman akan budaya. Indonesia memiliki budaya yang beragam. Yang sering orang Indonesia sebut "Arab" pun beragam dan bahkan sebagian sebenarnya bukan Arab secara etnis. Terus terang saya bingung dengan contoh ziarah kubur yang diberikan Pak Saaf. Apa iya di Arab dilarang? Terakhir saya ke Madinah orang masih berziarah ke Baqi'. Kalau yang dimaksud adalah larangan bagi peziarah perempuan, apa iya pendapat yang melarang melandaskan pendapatnya pada budaya? Setahu saya, masing-masing pendapat baik yang membolehkan dan yang melarang melandaskan pendapatnya pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Saya juga melihat contoh-contoh seperti itu biasanya tebang pilih, Pak. Mari kita ambil contoh yang lain misalnya pernikahan. Dalam sebagian kultur (termasuk Arab hingga dilarang oleh Islam), menikah dengan lebih dari empat perempuan adalah hal biasa. Faktanya adalah bukan Islam yang mengikuti kultur, tetapi kultur yang disesuaikan dengan Islam. Saya yakin juga banyak "tokoh revitalisasi" itu akan menolak jika dihalalkan menikah lebih dari empat perempuan. Malah mungkin banyak dari mereka yang ingin mengharamkan poligini (lho malah bertentangan dengan Islan DAN kultur). Kok bisa begitu? Apakah bertentangan dengan pesan sponsor mereka? Perlu kita ingat bersama bahwa di masa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam pun ada beragam etnis yang masing-masing punya adat dan kebiasaan. Juga ada orang-orang etnis Yahudi. Kita juga mengenal Bilal radhiyallahu 'anhu dan Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu yang bukan etnis Arab, namun mereka tidak meminta pembedaan hukum atas nama budaya. Budaya bisa saja memberi corak, Pak, misalnya orang Afrika suka pakaian warna warni, orang Saudi suka pakaian putih atau hitam, orang Jawa suka pakai batik, dan lain-lain. Namun, keliru jika batasan aurat orang Jawa dibedakan agar perempuan mereka boleh pakai kemben di dengan laki-laki non-mahram. Keliru juga jika aurat dibedakan dalam rangka olah raga atau di pantai. Bagi kita sebagai mulis, wajib untuk menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya dengan lapang dada. "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. al-Hasyr 59.7) "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Aali Imraan 3.31) "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an-Nisaa' 4.65) Dalam suatu riwayat disebutkan: "Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku.” (HR Ahmad) Perlu diingat bahwa Nabi Musa 'alayhis salaam secara aqidah tentu sama dengan Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam. Akan tetapi tetap dikatakan harus mengikuti Rasulullah yang tentu berarti dalam semua aspek Islam termasuk ibadah, dll. Perlu diingat juga bahwa Nabi Musa 'alayhis salaam adalah dari Bani Israil, bukan Arab. Demikian, Pak Saaf. Mohon maaf jika tulisan saya kurang terstruktur. Semoga Bapak dapat terus berkontribusi dalam pengembangan umat dalam koridor tuntunan Islam. Allahu Ta'aala a'laam. Wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh, -- Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
