Assalamualaikum ww para sanak sapalanta,
 
Di bawah ini saya kirimkan tanggapan pribadi saya tentang bahan konferensi 
internasional mengenai revitalisasi Islam: tantangan dan peluangnya. Kesimpulan 
konferensi secara formal; akan disampaikan oleh Forum Islamic Center yang 
menjadi tuan rumah.
 
Semoga bermanfaat


Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) 
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.


SEKILAS TENTANG ‘INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE REVITALIZATION OF ISLAM: 
CHALLENGES AND OPPORTUNITIES”.
 
Atas kebaikan hati Dr. Mafri Amir, saya diundang untuk hadir dalam “The 
International Conference on the Revitalization of Islam: Challenges and 
Opportunities”, di Hotel Sultan, Jakarta, tanggal 12 Februari yang lalu. 
Konferensi ini diselenggarakan  oleh Forum Islamic Centre, dan disponsori oleh 
Bazis`DKI, Bank DKI, dan harian Republika.
Sudah barang tentu undangan ini segera saya terima baik, bukan saja oleh karena 
menyadari pentingnya Islam – di dunia dan di Indonesia -- tetapi juga oleh 
karena saya rasa mungkin bermanfaat dalam upaya memahami lebih dalam posisi 
Islam lokal, seperti  setting kultural dari ajaran ABS SBK di Minangkabau, yang 
telah dibahas – dengan susah payah --  dalam SKM GM bulan Desember yang lalu.
Dalam  undangan tercantum nama-nama pembicara Dr Imtiyaz Yusuf dari George 
Washington University, USA dan Assumption University, Bangkok; KH Hasyim 
Muzadi, Ketua Umum PBNU dan Sekretaris International Conference of Islamic 
Scholars; Prof Dr` Azyumardi Azra, M.A, gurubesar UIN Syarif Didayatullah, 
Jakarta; Dr. Ahmad Syafii Mufid, M.A, peneliti pada Kementerian Agama; dan Prof 
Dr Mark R. Woodward, Associate Professor pada Arizona State University dan 
gurubesar tamu pada Gadjah Mada University. Baik venue maupun penyelenggaraan 
konferensi ini bagus. [Sekedar tambahan: panitianya cantik-cantik, he he.]
Dalam konferensi ini saya bertemu dengan Prof Dr Shofwan Karim. M.A, Rektor 
Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Muhardi Radjab SH M.Hum; dekan 
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah di Bukittinggi dan sekretaris Komisi A 
SKM GM 2010; dan beberapa orang dosen IAIN Imam Bonjol Padang. Diskusi diadakan 
dalam tiga bahasa: Inggeris, Arab, dan Indonesia.
Rasanya, baru pertama kalinya saya hadir dalam konferensi internasional tentang 
Islam. Hal itu saya sampaikan waktu jedah kepada Prof Azyumardi bahwa dalam hal 
ini saya adalah ‘mualaf’. He, rupanya saya bukan yang pertama mengatakannya 
demikian. Menurut Prof Azyumardi, Prof Dr Taufik Abdullah telah lebih dahulu 
menyebut dirinya ‘mualaf’  sewaktu hadir dalam konferensi internasional tentang 
Islam. Berikut ini adalah tiga kesan ‘sang mualaf’ ini.
 
Mengapa perlu revitalisasi Islam ?
 
                Kesan saya, para pembicara menekankan  oleh karena adanya 
kesalahan konseptual tentang Islam dan umat Islam, bukan hanya di kalangan 
pengamat, tetapi juga di kalangan umat Islam sendiri. Kesalahan konseptual ini 
tidak hanya mempunyai arti teoretikal, tetapi mempunyai dampak ke bidang 
politik serta keamanan [kalau ini termasuk bidang saya, he he] berupa timbulnya 
aliran-aliran radikal, yang menghalalkan pembunuhan dan berbagai bentuk 
kekerasan  lainnya, bukan hanya terhadap kaum non-muslim tetapi juga terhadap 
sesame kaum muslimin. [Pengikut Ahmadiyah masih dipermasalahkan, apakah 
termasuk umat Islam atau tidak]. 
 
Kesalahan konseptual ini telah menyebabkan Islam dan umat Islam, telah 
kehilangan vitalitasnya, oleh karena sibuk bertengkar, saling menghujat, bahkan 
saling membunuh sendiri.
 
Bagaimana cara merevitalisasi Islam ?
 
                Para pembicara menyarankan agar  disegarkan kembali ajaran 
Islam tentang wassatiyah, jalan tengah, dan tentang peran Islam sebagai 
rahmatan li’l alamin.  
 
Secara khusus para pembicara menekankan perlunya pembedaan konseptual yang 
jelas antara tataran iman yang  tunggal seperti tercantum dalam Al Quran, 
dengan tatara kultural, yang amat sangat majemuk, sehingga tidak satu 
lingkungan kulturalpun yang berhak mengklaim diri sebagai satu-satunya wujud 
kultural  Islam yang absah. 
 
Dalam hubungan ini Prof Azyumardi menyampaikan bahwa pada tataran kultural ini 
ada sembilan Islamic cultural spheres, yaitu : 1)  Arab; 2)  Persia; 3) Turki; 
4) India; 5)  Melayu; 6)  Indonesia; 7)  Sub Sahara/Sudan; 8)  Cina; dan 9) 
Western Hemisphere, yang berkembang di benua Eropa dan Amerika.  Sebagai 
catatan, banyak aliran radikal dari umat Islam dewasa ini yang berasal dari 
lingkungan kultural Arab, vis a vis lingkungan kultural Indonesia yang moderat 
dan terbuka. Dalam makalahnya, Prof Azyumardi mengangkat contoh ABS SBK di 
Minangkabau.
 
Tanggapan saya terhadap tawaran para pembicara.
                
                Sebagai seorang yang bukan mempunyai latar belakang pendidikan 
tinggi agama, saya sangat tercerahkan oleh wacana antara tokoh-tokoh terkemuka 
tersebut. Dalam acara  diskusi dan tanya jawab, sebelum tambahan penjelasan 
Prof Azyumardi tersebut,  saya menyarankan agar diformalkan saja adanya dua 
subsistem dalam Islam kultural ini, namakanlah subsistem Islam Timur Tengah 
yang beraliran keras, dengan subsistem  Islam Indonesia, yang beraliran 
moderat. Saya juga menyarankan agar subsistem Islam Indonesia harus lebih 
berani tampil ke depan, untuk memberikan  suatu substantial contribution to the 
Islamic world.  Sembilan kategori yang disampaikan oleh Prof Azyumardi di atas 
telah menjawab saran saya tersebut. Syukur Alhamdulillah
 
                Seiring dengan paparan Prof Azyumardi, tidak lupa saya 
menyampaikan  kepada para peserta konferensi  tentang pengalaman Minangkabau, 
sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang pernah mengalami ‘perang agama’ 
antara sesama umat Islam, yaitu gerakan dan perang Paderi, 1803-1838. Secara 
khusus saya sampaikan bahwa Perang Paderi tersebut tidak menyelesaikan masalah, 
walau sudah ada ABS SBK di penghujung perang itu. 
 
Untuk  menyelesaikan bengkalai ini, dalam SKM GM tanggal 12-13 Desember 2010 
telah diupayakan  untuk disepakatinya sebuah naskah tentang pedoman pengamalan 
ABS SBK, yang keynote speech-nya disampaikan oleh Prof Azyumardi.   Sikap dasar 
yang dianut panitia dalam SKM GM ini adalah dengan tetap menghormati budaya 
lokal – khususnya sistem kekerabatan matrilineal – diupayakan posisi yang lebih 
melembaga bagi Islam dalam budaya Minangkabau, sehingga – dalam kata-kata Buya 
Hasan Byk Dt Maradjo – pada suatu saat ‘syarakat akan menjadi adat”. 
 
Dengan kata lain,  apa yang dipersiapkan Gebu Minang selama lebih dari satu 
tahun  [November  2009 – Desember 2010] bukan saja telah sesuai dengan  
pandangan yang berkembang dalam konferensi internasional , tetapi juga dapat 
ditindaklanjuti dalam konteks Minangkabau, sehingga di masa depan seluruh orang 
Minangkabau benar-benar bisa ‘sadanciang bak basi, saciok bak ayam’, oleh 
karena tuah sakato, cilako basilang.
 
Harapan saya
 
                Dengan jernihnya aspek teoretikal  dari upaya merevitalisasi 
Islam dan umat Islam – baik di dunia, maupun di Indonesia – saya berharap agar 
tidak ada keraguan lagi tentang  peran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, 
dan peranan umat Islam sebagai umat yang mengambil jalan tengah.
 
Bagaimana cara menindaklanjutinya, silakan dibaca Pedoman Pengamalan ABS SBK. 
Edisi cetaknya – insya Allah -- akan terbit akhir Februari ini, edisi e-booknya 
akan disiarkan oleh situs pakguruonline.             


 
____________________________________________________________________________________
TV dinner still cooling? 
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke