Terima kasih Angku Darwin Bahar mengetengahkan tulisan ini. Saya belum pernah 
membacanya sebelum ini. [Highlight dari saya].

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Kuruih, Kalipornia, 31 Mar 2011




  Darwin Bahar
   
  
  
  
  
  View profile
  
   
  
  Translate to English
  
  
  
  
  
  
  
   More options
  
  Mar 31, 1:43 am
  
  
  
  
  


  
  
  
  
  

  Republika, Selasa, 09 Agustus 2005 
 
http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=208657&kat_id=19 
 
Pada saat tersiar berita bahwa saya dan teman-teman dari lintas agama mau 
 bertemu dengan Presiden Bush pada 22 Oktober 2003 di Bali, dalam masyarakat 
 telah terjadi polarisasi penilaian. Ada yang menuduh bahwa kami akan menjadi 
 corong Bush, tetapi ada pula yang menilainya positif. 
 
Jawaban saya waktu itu adalah: "Mana yang lebih kesatria, berhadapan 
 langsung dengan musuh atau mengepalkan tinju dari balik gunung?" Setelah apa 
 yang kami sampaikan yang kemudian disiarkan media massa, barulah kelompok 
 yang skeptik paham bahwa kami yang memilih opsi pertama berada di jalan yang 
 benar. Pada waktu saya bacakan pernyataan yang sudah disiapkan, Bush 
 mendengar dengan baik, sekalipun menghantam politik imperialistiknya. 
 
Bagi saya pertemuan semacam itu penting, sebab kita punya kesempatan emas 
 untuk menyampaikan apa yang terasa secara sopan tetapi tajam. Tidak seperti 
 cara-cara sementara pihak yang menyerbu suatu tempat yang mereka nilai 
 "berbahaya" bagi Islam seperti yang mereka pahami. Ada pula fatwa MUI yang 
 dijadikan dasar. Cara semacam ini adalah cara preman yang berjubah, jauh 
 dari sifat seorang ksatria. Kelompok inilah yang saya kategorikan sebagai 
 mereka yang berani mati, tetapi tidak berani hidup, karena mereka tidak 
 punya sesuatu, kecuali kekerasan, untuk ditawarkan bagi kepentingan 
 kemanusiaan. 
 
Di otak belakang mereka sudah lama menggebu syahwat ingin berkuasa melalui 
 cara-cara yang tidak beradab dan antidemokrasi. Mereka tidak segan-segan 
 "membajak" Tuhan untuk meraih kekuasaan itu di balik dalil-dalil agama yang 
 digunakan. Dan tidak jarang mereka dengan mudah dijadikan mangsa oleh pihak 
 tertentu dengan diberi upah materi. Cara-cara almarhum Ali Moertopo 
 menjinakkan bekas-bekas anggota DI adalah di antara contoh yang masih segar 
 dalam ingatan kita. Cara itu pasti berulang, apalagi masyarakat kita 
 sekarang sangat labil karena serba ketidakpastian menghadang masa depan. 
 
Sudah berapa kali saya lontarkan bahwa ujung sekularisme dan fundamentalisme 
 hampir setali tiga uang. Sekularisme mengusir Tuhan dari lingkungan manusia 
 karena dianggap sudah mati, sebagaimana Nietzsche pernah mengatakan, 
 sementara fundamentalisme membajak Tuhan untuk kepentingan kekuasaan. 
 Bedanya, sekularisme memberhalakan manusia dalam mencapai tujuannya yang 
 serba duniawi, fundamentalisme berlindung di belakang jargon-jargon religius 
 untuk membunuh peradaban. Rezim Taliban di Afghanistan adalah contoh yang 
 dekat dengan masa kita yang ingin memutar jarum jam ke belakang. Mereka 
 ingin membangun sebuah dunia cita-cita yang akal sehat tidak dapat 
 memahaminya. Perempuan misalnya tidak perlu sekolah dan harus tinggal di 
 rumah. 
 
Kesalahan fatal Amerika dan sekutunya adalah melakukan invasi ke negeri ini, 
 sebuah tindakan biadab yang berlawanan dengan hukum internasional dan 
 prinsip-prinsip demokrasi. Tindakan serupa juga kemudian dilakukan di Irak 
 dengan dalih adanya senjata pemusnah massal, tetapi ternyata bohong belaka. 
 Bahwa, Saddam Hussein kejam terhadap lawan-lawan politiknya, sudah diketahui 
 umum. Tetapi, apa hak negara lain untuk menghukumnya? Doktrin pre-emptive 
 strike (pukul dulu) berlawanan secara diametral dengan etika dan hukum 
 internasional. Tetapi, etika dan hukum itu sudah tidak diabaikan oleh 
 negara-negara kuat tetapi mengklaim sebagai benteng demokrasi. Sebuah 
 kebohongan publik mereka bungkus dengan cara-cara manis, tetapi penuh bisa 
 yang mematikan. 
 
Konstelasi politik global sekarang memang sangat pelik dan melelahkan, 
 sementara dunia Islam seperti tidak mengerti apa yang harus dikerjakan. 
 Suasana serba tidak menentu ini menjadi salah satu sebab mengapa 
 kekuatan-kekuatan radikal mendapat lahan subur untuk melancarkan aksinya, 
 apakah itu melalui teror, dan tidak jarang pula berlindung di balik 
 dalil-dalil agama. Pesan Alquran sebagai rahmat bagi alam semesta telah lama 
 dicampakkan entah ke mana. Tragis memang. Tetapi, inilah realitas getir yang 
 harus dihadapi dengan sabar tetapi cerdas, sambil bekerja keras mencari 
 solusi. 
 
Kemanusiaan tidak akan bisa tahan lama berada dalam lingkungan global yang 
 serba hipokrit ini. Oleh sebab itu, kita yang masih siuman tidak boleh 
 kehilangan perspektif dalam keadaan yang bagaimanapun. Akal sehat jangan 
 dibiarkan mati dengan meniru cara-cara radikal dan senang dengan serba 
 kekerasan yang risikonya hanya tunggal: menghancurkan peradaban dan diri 
 sendiri, lambat atau cepat. Ya Allah, tunjukilah kami jalan-Mu yang benar 
 dan lurus, jalan yang Engkau ridhai, bukan jalan yang Engkau benci, dan 
 bukan pula jalan yang sesat. Tanpa petunjuk-Mu ya Allah, kami tentu akan 
 bertualang tanpa arah, tidak tahu lagi ke mana langkah ini harus diayunkan. 
 Amin! 
 
(Ahmad Syafii Maarif ) 



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke