Pak Saf dkk di palanta ko,
Masalah peningkatan penduduk dengan meningkatkan upaya pengadaan pangan,
itu ya. Tentu saja kita ndak mau tiap kali akan dihadapkan pada masalah honger
oedeem, malnutrition, kelaparan massal, gagal panen, dsb. Tapi tidakkah kita
juga harus kaitkan dengan ketimpangan struktural yang lebih mendasar yang
terjadi di negeri ini, yang sekarang ini masih saja berupa perpetuasi dari
sistem kolonial berkelanjutan, khususnya sejak Orde Baru ke Reformasi sekarang
ini.
Masalah utama kita adalah masalah struktural di mana secara ekonomi dan
politikpun kita masih belum merdeka dan masih terjajah. Ada kekuatan eksternal
yang bersifat multinasional yang mengendalikan kita di samping kekuatan
internal yang menguasai mekanisme ekonomi kita itu sendiri sejak dari hulu
sampai ke muara. Terus terang saja, kekuatan internal itu adalah berupa
kolaborasi antara penguasa politik yang feodal dan berorientasi sentripetal
(mambangkuang ke diri sendiri) dari bangsa sendiri dengan penguasa ekonomi yang
rata-rata adalah para konglomerat non-pri Cina.
Kita sekarang ini hanya selangkah di belakang Filipina, dan dua langkah di
belakang Singapura. Jika di Singapura keseluruhan sistem sudah mereka kuasai
sehingga Singapura telah menjadi bahagian yang integral dari the Chinese Dragon
Emporium di Asia Timur dan Tenggara ini, di Filipina penduduk minoritas yang
adalah the Chinese itu telah memasuki keseluruhan sistem -- jadi tidak hanya
ekonomi -- sementara penduduk mayoritas pribumi yang Melayu telah menjadi
warga kelas dua di hampir semua bidang dan nyaris tersingkir.
Dengan sekarang ini di Indonesia di mana warga non-pri Cina telah
disamakan hak konstitusionalnya dengan warga pribumi, mereka telah menerobos
masuk ke bidang-bidang di luar ekonomi, walau belum menguasai seperti di sektor
ekonomi, tetapi telah ikut campur tangan dan ikut mengendalikan apa2 dari balik
layar.
Kolaborasi segi tiga antara para penguasa politik pribumi yang
feodal-sentripetal dengan pola J itu dengan para penguasa ekonomi The Chinese
dan dengan the multinational corporations yang di belakangnya adalah negara2
kapitalis adi kuasa Amerika dan Eropah, yang secara struktural telah menguasai
dan mengendalikan ekonomi Indonesia ini. Karenanya Indonesia tinggal selangkah
di belakang Fipilina dan dua langkah di belakang Singapura.
Lain dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos dan Kambodia, yang sadar
bahwa secara struktural tadinya adalah juga sama atau mirip dengan Filipina,
tapi di Malaysia muncul tokoh-tokoh politik bumiputera yang menghendaki lain.
Mereka mau Malaysia adalah negeri Melayu dan Islam. Maka semua funds and forces
dikerahkan untuk menciptakan Malaysia yang Melayu di semua bidang kehidupan --
tanpa melecehkan kepentingan warga non-Melayu sebagai warga negara.
Indonesia seperti sekarang ini adalah negara tanpa punya prinsip dan
pegangan yang jelas. Apa2 yang ada itu, termasuk Pancasila, UUD1945, dsb itu,
hanyalah "Papier mache!" The old wine in the new bottle. Karena buktinya sampai
hari ini, yang namanya pribumi atau bumiputera itu hanyalah obyek bukan subyek,
dan jadi kuda beban bagi penguasa ekonomi dan politik. Keperansertaaan mereka
dalam politik hanyalah sekali lima tahun ketika mencoblos itu saja.
Keperansertaan dalam ekonomi jangan disebut. Mereka telah kembali jadi bangsa
kuli -- seperti dikatakan oleh Amin Rais itu.
Nah, Pak Saf dkk, apakah kita masih mau bersandiwara juga dengan ungkapan2
papier mache sebagai penghibur diri itu? Mari ke depan kita bersama-sama
melangkah ke masa depan dengan langkah-langkah pasti seperti yang dilakukan
sanak kita di Malaysia dan Viet Nam itu, tanpa segan-segan dan sungkan-sungkan
mengutamakan kepentingan rakyat pribumi yang tertindas dan jadi kuli itu.
Karena masalahnya adalah masalah hidup-mati kita sebagai berbangsa dan
bernegara!
Nah, sakitu di ambo, Soetan Madjolelo.
MN
040411
--- On Sun, 4/3/11, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
Subject: Re: [R@ntau-Net] Ledakan Penduduk
To: [email protected]
Date: Sunday, April 3, 2011, 3:24 PM
Assalamualaikum ww Sanak Darwin Bahar dan para sanak sapalanta,
Terima kasih atas peringatan ini. Masalah kita selanjutnya adalah: bagaimana
caranya agar kerawanan yang ditimbulkan oleh ledakan penduduk ini mendapat
perhatian dari para 'decision makers' yang seluruh perhatiannya terjerat oleh
masalah 'reshuffle', koalisi, studi banding, gedung baru, pemekaran, dan
pemilu/pilkada/pilpres ?
Belum perlukah jajaran 'civil society' membuat jejaring yang kuat dan efektif
untuk melakukan 'strong persuasion' [meminjam istilah seorang senior saya]
terhadap para 'decision makers' ini ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta)
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.
--- On Mon, 4/4/11, Darwin Bahar <[email protected]> wrote:
From: Darwin Bahar <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Ledakan Penduduk
To: "Palanta Rantaunet" <[email protected]>
Date: Monday, April 4, 2011, 4:39 AM
Refleksi:
Mudah-mudahan editorial Media Indonesia ini terbaca dan menjadi perhatian oleh
Pak IP--bukan masalah beliau tidak ber-KB atau bukan--tetapi agar
bersungguh-sungguh meningkatkan produksi pangan Sumbar. Dari apa yang saya baca
di media, sampai saat ini hanya dua provinsi yang surplus beras: Sumsel dan
Sulsel.
Wassalam, HDB-SBK
-------------------------
Ledakan Penduduk
EDITORIAL Media Indonesia Senin, 04 April 2011 00:00 WIB
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/215092/70/13/Ledakan-Penduduk
LAJU pertumbuhan penduduk negeri ini telah sampai pada titik amat
mengkhawatirkan.
Ironisnya, Badan Koordinasi Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) dibiarkan
'bertempur' sendirian.
Jika laju pertambahan penduduk yang rata-rata 3,5 juta-4 juta per tahun tidak
segera ditekan, diprediksi pada 2045 jumlah penduduk Indonesia akan mencapai
450 juta jiwa. Dengan asumsi populasi bumi 9 miliar jiwa pada saat itu, berarti
1 dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia.
Upaya menekan laju pertumbuhan penduduk dari 1,49% saat ini menuju angka ideal
0,5% masih jauh panggang dari api. Lebih-lebih lagi, hasil survei BKKBN
menunjukkan umumnya pasangan usia subur menginginkan anak lebih dari tiga.
Pertumbuhan penduduk yang tergolong tinggi itu pun tidak disertai dengan
peningkatan kualitas. Itu terlihat dari indeks pembangunan manusia Indonesia
yang masih tercecer di peringkat 108 dari 169 negara. Di ASEAN, Indonesia
berada di peringkat 6 dari 10 negara, atau lebih rendah daripada Singapura,
Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Bertambah penduduk bertambah pula mulut yang harus diberi makan. Saat ini saja
Badan Ketahanan Pangan Nasional menyebut 27,5% penduduk Indonesia terkena rawan
pangan.
Dengan rata-rata konsumsi beras per kapita di Indonesia sekitar 130 kilogram
dan jumlah penduduk 237,6 juta jiwa, saat ini dibutuhkan sedikitnya 34 juta ton
beras per tahun. Padahal, produksi beras dalam negeri sekitar 38 juta ton
sehingga hanya surplus 4 juta ton beras atau kurang untuk kebutuhan dua bulan.
Jika tingkat kegagalan panen meluas dan produksi terpangkas, kebutuhan pangan
pun pasti tidak tercukupi. Dapat dipastikan, Indonesia akan menjadi pengimpor
beras nomor wahid di dunia.
Sekarang saja, ketika produksi beras di negeri ini masih disebut surplus,
negeri ini sudah mengimpor 1,9 juta ton beras hingga akhir Maret. Angka itu
telah meletakkan Indonesia sebagai importir beras kedua terbesar di dunia
setelah Nigeria.
Apakah yang terjadi dengan Indonesia pada 2045, ketika 1 dari 20 penduduk dunia
adalah orang Indonesia? Jawabnya Indonesia akan menjadi negeri kelaparan.
Karena itu, saat ini juga dibutuhkan kemampuan luar biasa untuk mengendalikan
jumlah penduduk agar Indonesia di masa depan tidak bernasib buruk seperti
negara-negara di Afrika yang dilanda kurang pangan
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/