Sekalian saya juga tanya : apakah memang ada kutukan ibu yang sedemikian mangkus ?
Apakah sama dan sebangun dengan Sangkuriang dan Legenda lain ?? ---TR Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: "Nofendri T. Lare" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 9 Apr 2011 10:12:52 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: RE: [R@ntau-Net] Es Ito: Malin Kundang Apakah Malin Kundang Pantas Dikutuk Menjadi Batu? Sabtu, 09 April 2011 | 10:01:00 WIB Begitu malang nasib Malin Kundang. Semenjak dikutuk jadi batu, ia semakin tak dipedulikan. Tubuhnya, tumpukan batu itu, sudah begitu rapuh. Selama beribu-ribu tahun, bahkan lebih, ombak menghempas tak henti-hentinya. Entah sampai kapan hukuman itu akan terus dilaluinya. Mungkin sampai tubuhnya itu benar-benar hilang tergerus ombak. Atau sampai kapan? Tetapi bukan itu masalahnya. Malin Kundang memang begitu malang, tetapi kita tak pernah tahu apakah ia benar-benar ada. Barangkali memang ada. Barangkali tidak pernah ada. Mungkin saja ia memang sebuah kisah, yang sengaja diucapkan dari mulut ke mulut, agar anak-anak jangan melawan kepada orang tua. Sebuah cerita lisan adalah senjata yang multifungsi. Bisa untuk menakuti-nakuti, memberi nasihat, atau untuk mengalihkan masalah. Baik legenda, mitologi, atau fable tak jarang bertujuan untuk menyampaikan pesan moral tertentu. Sehingga tak salah kiranya bila orang lebih percaya bahwa Malin Kundang hanya sebuah legenda. Sebuah cerita rakyat yang nyatanya masih terdengar sampai sekarang. Dan kita juga tak pernah tahu, mana yang lebih dulu cerita itu ada atau batu karang itu. Kita anggap saja cerita tersebut berawal dari penemuan batu unik itu. Lalu dibuatlah cerita yang bisa dihubungkan dengan batu yang berbetuk orang lagi minta ampun itu. Maka lahirlah cerita Malin Kundang. Atau masih banyak lagi kemungkinan lain yang bisa kita buat untuk menceritakan asal-usul Malin Kundang ini. Tetapi bukan itu masalahnya. Yang sering dijadikan poin penting dari cerita Malin Kundang itu adalah kedurhakaan yang membuatnya terkutuk. Tetapi yang menjadi masalahnya, apakah Malin Kundang pantas dikutuk jadi batu? Sepertinya tidak selalu begitu. Malin Kundang memang telah membuat Ibunya tersakiti. Ia memang tak mengakui bahwa perempuan tua itu adalah Ibunya. Sampai sekarang, Malin Kundang masih ditempatkan sebagai orang yang salah sepenuhnya, sehingga ia pun dirasa pantas menerima kutukan itu. Tetapi mengapa Ibunya tak memberi kesempatan agar Malin Kundang bisa mengenali kembali dirinya? Atau jangan-jangan lelaki yang tidak mengakui dirinya itu memang bukan Malin Kundang yang sebenarnya? Sebegitu tegakah Ibunya? Kita tak pernah tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Ada atau tidak adanya Malin Kundang itu dalam dunia nyata, yang jelas kebanyakan orang telah menganggap Malin Kundang pantas dikutuk. Turun temurun kita percaya akan hal itu. Sangat jarang, kita yang mencoba mengerti Malin Kundang. Melihat dari sudut padang dia. Apakah Malin Kundang pantas dikutuk jadi batu? Lagi-lagi pertanyaan ini muncul. Tetapi agaknya pertanyaan ini bukan pertanyaan yang tak penting. Pertanyaan semacam ini yang membantu kita secara sederhana untuk mencoba melihat sebuah masalah dengan sudut pandang lain. Baik dalam memandang suatu hal yang telah diyakini orang banyak. Siapa pun kita berhak bertanya. Barangkali dengan sebuah pertanyaan, dan mempertanyakan kembali apa yang telah diyakini orang banyak, kita dapat menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang selama ini tersimpan di balik apa yang disebut kewajaran. Karena pada setiap yang tampak, selalu ada yang tersembunyi. Akhir kata, saya ulangi pertanyaan itu lagi. Apakah Malin Kundang pantas dikutuk jadi batu? Silahkan jawab sendiri dengan pendapat Anda masing-masing. (HJP) http://inioke.com/konten/5874/apakah-malin-kundang-pantas-dikutuk-menjadi-ba tu.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
