Oh 
Angku Lembang, Iyo lah tabedo kqnqino mah, 
ka baa lai, bak kecek Murphy's Laws:

Murphy's Laws: If anything can go wrong, it will

Commerce Laws: To err is human, to forgive is not company policy

Salam,
--Nyiak Sunguik
Sjamsir Sjarif
Di Taoi Riak nan Badabua, May 5, 2011

--- In [email protected], Muhammad Dafiq Saib <stlembang_alam@...> 
wrote:
>
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
> 
> Iko pangalaman ambo sahari kapatang..... kan jadi paringatan sajo......
> 
> Begini........
> 
> Ada sebuah keperluan untuk pergi keluar kota yang jauh. Yang perginya harus 
> naik pesawat, meski pulang hari. Tiket pesawatpun dipesan melalui agen 
> perjalanan yang biasa tempat memesan tiket. Dan karena sistim tiketing 
> yang semakin canggih, informasi pembelian atau kode buking tiket pesawat itu 
> cukup dikirim melalui sms. Sms ini bisa dipakai sebagai pass masuk ke ruangan 
> check in atau kalau mau lebih nyaman dapat dimintakan print-annya di tempat 
> penjualan tiket. Hebat kan? Apa juga lagi? 
> 
> Ternyata ada sedikit kesalahan manusia yang akibatnya cukup fatal. Kode 
> buking 
> per sms yang juga memberitahukan jam keberangkatan pesawat ternyata 
> keliru satu jam. Jam keberangkatan yang seharusnya jam tujuh empat lima 
> ditulis jam delapan empat lima. Begitu.
> 
> Untuk antisipasi kalau-kalau jalanan macet lalu kami (aku dan si Bungsu) 
> berangkat dari rumah jam setengah tujuh. Ternyata jalan lancar sekali 
> hari Sabtu pagi kemarin itu. Empat puluh lima menit sudah sampai di 
> Bandara. Merasa waktu lebih dari cukup, maka sms itu ditukarkan denganprint 
> out pemesanan di counter Lion Air. Mulailah perkara datang. Di sana baru 
> diberitahu bahwa 
> pesawat dimaksud adalah untuk jam delapan kurang seperempat. Maka 
> bergegaslah kami masuk keruangan check-in, yang apa boleh buat harus antri 
> pula. Sampai di sembarang (free) counter untuk check in tanpa bagasi, kami 
> disuruh melapor di counter khusus 
> nomor 24. Bergegas pula ke sana. Tapi di sini vonis jatuh. 'Bapak sudah 
> terlambat, check in sudah ditutup empat puluh lima menit sebelum jadwal take 
> off.' 'Tapi ini masih setengah jam lagi sebelum take off,' desakku. Tidak 
> bisa dengan permintaan  hormat dan halus, tidak juga dengan desakan dan 
> sedikit marah, si penjaga counter itu keukeuh mengatakan ini sudah terlambat. 
> 'Jadi tiket saya ini maksudnya sudah 
> tidak berlaku? Sudah hangus?' desakku lagi. 'Masih, pak. Tapi bapak 
> tidak bisa lagi ikut dengan pesawat jam tujuh empat lima,' katanya tegas 
> menjengkelkan. Mana supervisor kamu, saya ingin bicara,' kataku. Seorang 
> laki-laki muda muncul dan mengajakku ke loket lain di bagian 
> belakang. Aku pikir tadinya ini adalah bantuan memecahkan masalah. 
> Ternyata di loket itu aku kembali diberitahu bahwa tidak ada jalan 
> sedikitpun bagiku untuk ikut pesawat yang dimaksud. Lamat-lamat 
> terdengar pemberitahuan agar penumpang pesawat dengan nomor itu 
> dipersilahkan naik ke pesawat.
> 
> Sementara aku? Di loket yang baru ini aku diberitahu bahwa karena terlambat, 
> tiketku itu sudah hangus 75%. Inaa lillahi......... 'Carikan saya tempat di 
> penerbangan berikutnya,' pintaku lunglai karena tidak ada gunanya 
> berdebat dengan manusia robot seperti ini. 'Ada pak, jam sepuluh. Tapi 
> harga tiketnya sembilan ratus....' (yang adalah dua kali lipat tiketku 
> yang dihanguskan mereka yang juga adalah tiket bukan promo). 
> 
> Aku gemetar menahan marah. Tapi sekali lagi, ini adalah manusia-manusia 
> robot yang tak ada gunanya diajak berbicara. Akupun membayarlah 
> 1,550,000 untuk mendapatkan dua tempat di pesawat berikutnya jam 
> sepuluh. Nah, apa namanya yang aku bayar ini kalau bukan sebuah 'perampokan'?
> 
> 
> Lalu pesawat jam sepuluh itu...... ternyata terlambat 45 menit. Giliran si 
> Bungsu naik pitam. Didatanginya manajer penjualan tiket dan 
> diceritakannya pengalaman kami pagi itu. Dituduh terlambat untuk check 
> in padahal waktu masih ada, dihanguskan 75% harga tiket, dipaksa 
> membayar dua kali lipat untuk penerbangan berikutnya. 'Dan sekarang 
> pesawat sampeyan terlambat 45 menit..... apa tanggung jawab sampeyan?' 
> hardiknya.
> 
> Si Bungsu lupa bahwa dia berbicara dengan robot. Tentu saja tidak ada 
> jawaban yang mengenakkan. Kecuali permintaan maaf, karena itu diluar 
> kuasa kami, katanya. Huh.....
> 
> *****          
> Wassalamu'alaikum
>  
> 
> Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
> Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
> Lahir : Zulqaidah 1370H, 
> Jatibening - Bekasi


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke