Harusnyo ndak ado masalah di Padang tu do.

Ambo 2 1/2 tahun karajo di Padang, satau ambo ndak pernah urang memperdagangkan 
telur penyu do.

Nan acok ambo liek tangah malam adalah anak cuma anakmudo mambaok karanjang dan 
memanggil2 dengan suara keras: "TALUA KATUANG..." Hehehe

(Oh Padang, how I miss you... - romantis pulo awak saketek)

Riri






Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Dasriel Noeha <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 19 May 2011 19:30:11 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Ribuan PEMBUNUHAN di Padang setiap hari.

Beko kito tunggu Paranormal yang pandai maimbau Penyu dari seluruh pelosok 
dunia supayo batalue banyak di Pulau Mentawai, Siberut, Sipora, Pula Padang, 
Pulau Pisang, Pulau Katang-Katang,
 
Buliah nak banyak padagang talue penyu di Sumbar, ado nasi goreng talue penyu, 
ado talue penyu dadar, ado talue mato kabau penyu, dll.
 
Kan labiah rancak baitu, dari pado marantau anak bujang kito, manganggur di 
Betawi dan lain kota...
 
He..he baa gak aiti,
wass,
DAN

--- Pada Kam, 19/5/11, Sutan Sinaro <[email protected]> menulis:


Dari: Sutan Sinaro <[email protected]>
Judul: Re: [R@ntau-Net] Ribuan PEMBUNUHAN di Padang setiap hari.
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 19 Mei, 2011, 10:08 PM







Undang-undang tu nan bakalabiahan. Penyu ko bisa melanglang buana sampai ka 
Africa. Di pulau tioman, baribu penyu. Madagaskar sampai ka polinesia. Antah 
labiah banyak pado Ayam, Penyu ko batalua baratuih, ayam ciek. Isuak kalua lo 
undang-undang 
pelarangan mandabiah ayam, lalu mengharamkan ayam. :)
 
Wassalam
 
St. Sinaro

--- On Thu, 19/5/11, ET Hadi Saputra <[email protected]> wrote:


From: ET Hadi Saputra <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Ribuan PEMBUNUHAN di Padang setiap hari.
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], "WSTB" <[email protected]>
Received: Thursday, 19 May, 2011, 6:53 PM


MAPPAS sangat menyayangkan sikap birokrat yang asal bicara dan tidak memahami 
Undang-Undang. 
"Telur penyu adalah potensi wisata, tetap harus kita jual," kata Kepala Dinas 
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Edi Hasymi.
Aturannya??? Undang-undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam 
Hayati dan Ekosistemnya telah melarang siapapun untuk mengambil, merusak, 
memusnahkan, menyimpan atau memiliki telur penyu
Iyo sabana bakalabihan urang awak ko. 
Wassalam
ET Hadi Saputra
Ketua Umum - Masyarakat Peduli Pariwisata Sumbar


KOMPAS.com — Perdagangan telur penyu di Kota Padang, Sumatera Barat, sudah 
sampai pada taraf mengkhawatirkan. Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Penyu 
Sumatera Barat, Universitas Bung Hatta, Padang, transaksi perdagangannya 
merupakan yang terbesar di Indonesia. 
Tidak kurang 22.000 butir telur penyu bisa diperjualbelikan hanya dalam waktu 
11 pekan. Tempat terbuka, seperti warung-warung di kawasan wisata Pantai 
Padang, menjadi lokasi perdagangan yang aman dari jamahan hukum. 
Sekalipun penyu termasuk hewan terancam yang dilindungi berdasarkan Convention 
and International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) 
appendix I , perdagangannya terus dilakukan terang-terangan, bahkan masuk dalam 
salah satu program unggulan pariwisata. 
Pada Selasa (17/5/2011) siang itu, seorang remaja putri berusia 12 tahun 
menjaga warung makanan dan minuman ringan milik orangtuanya. Sebut saja namanya 
Putri, yang tidak memahami bahwa salah satu barang dagangan milik orangtuanya 
adalah telur-telur penyu yang sesungguhnya dilarang diperjualbelikan. 
Siang itu, bersama sejumlah bocah cilik, Putri menunggui warung tersebut. 
Tangan mungilnya mengaduk-aduk baskom berpasir berisikan telur-telur penyu yang 
baru datang dari pengepul. 
"Direbus, Bang?" tanya Putri kepada calon pembelinya. Tak lama tiga butir telur 
penyu sisik sebesar bola pingpong sudah berpindah ke dalam panci berisi air 
menggelegak oleh panas kompor minyak tanah. 
Sekitar lima menit kemudian, telur-telur tadi dimasukkan dalam plastik mungil. 
Suwiran kecil-kecil daun seledri dimasukkan dalam wadah itu untuk menghilangkan 
bau amis. 
Dengan cekatan dibungkusnya plastik kecil tadi, lalu tiga butir telur penyu 
sisik tadi pun berpindah tangan. 
Putri fasih bercerita bahwa telur-telur penyu yang dijual berasal dari 
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kepulauan Mentawai. Untuk telur penyu sisik 
ditawarkan Rp 5.000 per butir dan Rp 6.000 per butir untuk telur penyu hijau. 
Sudah sepuluh tahun terakhir orangtua Putri berjualan di kawasan wisata itu. 
Tidak kurang 100 butir telur penyu bisa dijual pada hari Minggu atau libur. 
Pada hari-hari biasa antara 30 dan 50 butir telur penyu bisa dijual. Ada margin 
keuntungan hingga Rp 1.000 per butir telur yang bisa ditangguk pedagang seperti 
orangtua Putri. 
Di sepanjang Jalan Muara yang berbatasan dengan Pantai Padang , tempat Putri 
menjaga warung milik orangtuanya, ada sejumlah pedagang lain yang menjajakan 
telur penyu. Nyaris semuanya adalah pedagang minuman dan makanan ringan dalam 
gerobak kayu beratap. 
Jumlah pedagang telur penyu disinyalir juga makin banyak. Koordinator Pusat 
Data dan Informasi Penyu Sumatera Barat, Universitas Bung Hatta, Padang, 
Harfiandri Damanhuri MSc, mengatakan, pada tahun 2004 baru tercatat 18 
pedagang.   
Jumlah itu meningkat menjadi 22 pedagang tahun 2008 dan 26 pedagang pada 2011. 
Rata-rata setiap pedagang menjual 77,8 butir telur penyu per hari. 
Jumlah itu, katanya, tidak sebanding dengan upaya konservasi berupa penetasan 
telur penyu yang dilakukan pemerintah selama ini di dua lokasi. Masing-masing 
di Pantai Mangguang, Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pusat Penangkaran 
Penyu, Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, dan di (KKLD) Pulau 
Karabak, Kabupaten Pesisir Selatan. 
Harfiandri mengatakan, mereka hanya berhasil menetaskan 383,84 telur penyu per 
bulan di KKLD Kota Pariaman dan 393,66 telur penyu per bulan di KKLD Kabupaten 
Pesisir Selatan. Padahal, eksploitasi pada tahun 2000 saja sudah mencapai 
318,34 butir telur per hari, katanya. 
Adapun jenis telur penyu yang diperdagangkan terbagi dalam empat jenis, yakni 
telur penyu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), 
penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys 
coriacea). 
Membedakan keempat jenis telur penyu dengan cangkang yang relatif lunak itu 
relatif mudah. Telur penyu sisik dan lekang besarnya seperti bola pingpong. 
Adapun telur penyu hijau menyerupai besar telur ayam dengan bentuk lebih bulat. 
Sementara telur penyu belimbing diameternya serupa dengan bola tenis. 
Karena itulah, telur penyu belimbing realtif lebih mahal. Bisa mencapai Rp 
10.000 per butir. Penyu belimbing juga termasuk spesies yang paling terancam, 
kata Harfiandri. 
Ia mengatakan, berdasarkan siklus empat tahunan hingga lima tahunan bertelurnya 
penyu belimbing, telur jenis penyu itu terakhir kali ditemukan tahun 2010. 
Sebelumnya pada 2005 dan 2001 telur penyu belimbing juga ditemukan di sejumlah 
pedagang.
Pembiaran 
Menurut Harfiandri, hingga kini relatif tidak banyak yang dilakukan pemerintah 
untuk mengatasi hal itu. Bahkan, katanya, telur penyu juga sudah mulai 
diperjualbelikan di pasar tradisional. 
Ini dikarenakan tidak adanya fasilitas penangkaran penyu di Kota Padang. 
Padahal, kata Harfiandri, penyu juga diketahui suka bertelur di beberapa lokasi 
di wilayah pantai Kota Padang. 
Erlinda Cahya Kartika yang mewakili bagian Konservasi dan Keanekaragaman Hayati 
di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mengatakan, saat ini sudah 
dilakukan penyusunan rencana aksi. Namun, tim untuk melaksanakan rencana aksi 
yang direncanakan terdiri atas BKSDA Sumbar, kalangan akademisi, Dinas Kelautan 
dan Perikanan Sumbar, serta pemerintah setempat itu belum juga dibentuk. 
Hal itu ditambah dengan belum padunya visi pelestarian dengan pariwisata di 
Kota Padang. Bahkan, dalam brosur wisata, pengalaman makan telur penyu di 
kawasan pantai ini juga dipromosikan, kata Harfiandri.    
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Edi Hasymi pada Rabu 
(18/5/2011) mengatakan, hingga sejauh ini penjualan telur penyu di kawasan 
wisata Pantai Padang tetap menjadi salah satu andalan. "Kami sedang buat 
masterplan untuk tahun 2011 ini guna pembenahannya karena selama ini, kan, 
masih tradisional. Soalnya telur penyu itu ada pasarnya sendiri, ada yang 
memang senang dengan telur penyu," katanya. 
Ia mengatakan, sekalipun memang terdapat kontroversi soal konservasi dan 
pemanfaatannya untuk industri pariwisata, telur-telur penyu itu dianggap masih 
dalam batasan yang aman untuk diperjualbelikan. Edi mengatakan, sekalipun 
banyak telur penyu yang dijual, upaya penangkaran juga dilakukan. 
"Telur penyu adalah potensi wisata, tetap harus kita jual," kata Edi. 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke