Kir0-kiro tigo minggu nan lalu dalam suatu pengajian di Musajik
Pleasanton, California, ambo sempat berenalan jo pembicara Dr Muhammad
Syafei Antonio. Kajinyo rancak, leankok dengan presentasi sistematik nan
menarik tantang Bank Syariah. Sasudah itu baru ambo tahu, Bank Syariah,
Islamic Banking sedang berkembang pulo di US. Kapatang, anak ambo nan
sadang baraja tingkat tigo,Junior, di San Francisco State University
mangecekkan pulo dan memperhatikan sistem Bank Syariah ko.

Waktu kami sempat berkenalan sasudah pembicaraan baliau tu, baliau
batanyo kalau ambo urang Indonesia. Jawab ambo iyo, dari Bukittinggi.
Oh, kecek baliau, amoo dari Sukabumi, Urang Sumando. Tanyato Unduak
Bareh baliau dari Muaro Paneh, Solok.

Sabanta ko ambo cari-cari di webs, ambo basuo jo website nan sangat
menarik tentang latar bulakang hidup baliau nan rancak bana kito simak.

http://www.scribd.com/doc/506978/syafii-antonio

Khusus menganai postiang paradoks Ekonomi Islam di Ranahy Minang ko,
ambo ingin manyarankan, kalau buliah marekomendasikan,  kalau baliau
dapek diimbau pulang agak sabanta maagiah seminar, penerangan ka
pemimpin-pemimpin dan opeminat di Sumatera Barat untuak manjalehkan apo
bana Islamic Banking atau Bank Syariah tu.  Kalau indak taleso sacaro
manyaluruh, barangkali Seminar-seminar di Padang,  Bukaittinggi, dan
Solok dengan ekposi media barangkali lah dapek untuak parambah jalan ka
arah topik ko di Kampuang Awak. Mudah-mudahan ado pihak nan kompetent
dan anthusiastik di Sumatera Barat nan mandanga saran ko.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Cruz, CA  June 10, 2011


--- In [email protected], "Darwin Bahar" <dbahar@...> wrote:
>
> Padang Today, Jumat, 10/06/2011 - 20:22 WIB
>
> Oleh : Muhammad Akhyar Adnan,
> Profesor (Madya) di International Islamic University Malaysia (IIUM)
>
> http://www.padang-today.com/?mod=opini&today=detil&id=416
>
> Sudah lama 'dilembagakan' oleh urang awak bahwa di Minangkabau ini
berlaku
> ketentuan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Semboyan
ini,
> kendati telah berumur sangat panjang, namun masih selalu disebut-sebut
dan
> bahkan dibanggakan hingga saat ini. Tetapi, manakala dilihat realitas
> kehidupan sehari-hari di Sumatera Barat, setidaknya yang ada saat ini,
atau
> bahkan sejak satu atau dua dekade belakangan, terasa sekali jauh
panggang
> dari api. Banyak hal-hal yang justru bersifat paradoks, tidak
terkecuali
> dalam hal muamalah, seperti aplikasi ekonomi Islam atau syariah.
>
> Bila Indonesia mulai mengenal penerapan sistem ekonomi Islam (walau
istilah
> formal yang dipakai adalah ekonomi syariah) sejak tahun 1990-an, dan
geliat
> ini terus berkembang relatif pesat di sejumlah provinsi lain, terutama
di
> Pulau Jawa, maka kondisi yang tidak terlalu seiring, terlihat di Ranah
> Minang ini.
>
> Beberapa paradoks dengan mudah dan dapat dirasakan siapa saja.
Misalnya,
> pertama: penelitian yang dilakukan tim yang dipimpin oleh Harif Amali
Rivai
> dkk (undated, yang meneliti atas nama Centre for Banking Research,
> Universitas Andalas) antara lain menemukan bahwa masyarakat Sumbar
tidak
> menyetujui prinsip bunga, tetapi tetap memilih bank konvensional untuk
> bertransaksi, termasuk mencari pinjaman, tentunya. Lebih unik lagi,
> penelitian ini juga mengungkapkan bahwa 12,9% dari responden yang
berasal
> dari 4 kabupaten/kota besar di Sumbar berpandangan bahwa bunga bank
itu
> bukanlah riba. Bahkan dari kelompok responden yang belum berhubungan
dengan
> bank, 42% meyakini hal yang sama, yakni bunga bank bukanlah riba!
>
> Kedua, pengakuan salah seorang bankir sebuah bank syariah (juga urang
awak)
> yang pernah berdinas di Padang, kemudian mendapat penugasan di
Yogyakarta.
> Beliau bercerita betapa suasana dan semangat menerapkan prinsip
ekonomi
> Islam jauh lebih terasa di salah satu provinsi istimewa di bagian
selatan
> tengah Pulau Jawa itu, dibandingkan dengan Sumatera Barat pada
umumnya.
> Indikasinya dapat dilihat baik secara kuantitatif dalam bentuk jumlah
> lembaga ekonomi Islam, entah berukuran makro, medium ataupun mikro,
maupun
> secara kualitatif dalam bentuk antusiasme masyarakat dalam menerima
dan
> menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
>
> Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, begitu banyak
bertebaran
> lembaga keuangan Islam dalam berbagai skala besar, seperti Bank Umum
Syariah
> (BUS) atau Unit Usaha Syariah (UUS), menengah seperti BPRS, apalagi
mikro
> seperti Baitul Maal wat-Tamwil (BMT)]. Tetapi di Sumatera Barat,
justru
> sebaliknya. Beberapa kali kunjungan penulis di beberapa kota besar di
> Sumatera Barat (sejak 2005 - 2011) mengkonfirmasi fakta ini.
>
> Memang data keuangan yang diluncurkan Bank Indonesia menggambarkan
bahwa
> bahwa dalam hal aset, perbankan syariah kedua provinsi (DIY dan
Sumbar) ini
> bersaing ketat. Ketika di akhir Desember 2010 aset Bank Syariah Sumbar
> mencapai angka Rp1,58 triliun, pada Maret 2011, aset perbankan syariah
DIY
> sudah mencapai Rp1,68 triliun. Selain Sumbar masih lebih kecil, angka
yang
> diluncurkan Bank Indonesia itu tentu saja belum termasuk aset yang
dikelola
> sekian banyak BMT yang banyak bertebaran di DIY dan sangat terbatas
> jumlahnya di Sumbar.
>
> Perbedaan ini terasa semakin jauh, bila dilihat pula dua sisi lain,
yakni
> luas wilayah dan pengakuan akan religiusitas masyarakatnya. Wilayah
dan
> sekaligus jumlah penduduk Sumbar jelas jauh melebihi DIY. Selain itu,
> seperti disebutkan di awal tulisan ini, sejak dulu Sumbar mengaku
sebagai
> negeri yang bersandikan syarak dan syarak yang bersandikan kitabullah
alias
> syariah. Bahkan, juga sering disebutkan sebagai beranda Mekkah kedua
setelah
> Aceh. Sementara DIY, tidak pernah mengklaim yang sedemikian itu.
Bukankah
> terasa ironis rasanya, bila Sumbar kalah dalam hal aplikasi sistem
ekonomi
> syariah dari Provinsi DIY?
>
> Paradoks atau ironi ini ternyata tidak hanya berhenti pada tataran
data di
> atas. Ada dua kondisi lain yang mestinya membuat kita, urang Minang,
atau
> warga Sumbar mestinya merasa lebih tidak enak hati. Apa itu?
>
> Pertama, bila diperhatikan pula, perkembangan ekonomi Islam di negara
ini,
> sesungguhnya tidak lepas dari kontribusi sejumlah putra Minang juga.
Cukup
> banyak nama 'beken' di balik perkembangan pesat ekonomi Islam di
negara ini
> yang ternyata adalah urang awak juo. Adiwarman Karim, Prof Veithzal
Rifai,
> Dr Muhammad Syafei Antonio (sumando), Achjar Iljas (mantan Deputi
Gubernur
> Bank Indonesia), Prof Mawardi Khatib dan beberapa lagi adalah sekadar
contoh
> dari sejumlah tokoh yang telah memberikan kontribusi nyata dalam
> perkembangan dan pengembangan ekonomi Islam di tanah air.
>
> Kedua, mungkin tidak banyak yang mengetahui, bahwa salah seorang yang
paling
> awal dalam wacana ekonomi Islam di negara ini adalah Prof Dr
Kaharuddin
> Yunus. Beliau sudah menerbitkan buku ekonomi Islam pada tahun 1955
(lihat
> Abdullah Siddik, 1993). Kuntowijoyo (2008) bahkan mengklaim bahwa buku
> ekonomi Islam yang relatif paling utuh ditulis dan diterbitkan pada
masa
> awal kebangkitan ekonomi Islam adalah karya Kahadurrdin Yunus, yang
tidak
> lain adalah putra asli Sulikaia (Solok), yang memperoleh gelar
doktornya di
> Universitas Al-Azhar, Kairo.
>
> Dengan segala fenomena di atas, apalagi kalau bukan sebuah paradoks
namanya
> bila ekonomi Islam berkembang relatif lamban di Sumatera Barat ini.
>
> Tantangan dan Harapan
>
> Sudah semestinya kondisi di atas harus dilihat sebagai sebuah
kegelisahan,
> bahkan tantangan. Sejumlah 'kelebihan' asas yang dimiliki oleh
Sumatera
> Barat, sepatutnya menjadikan provinsi ini menjadi lokomotif penggerak
> ekonomi Islam khususnya, atau semua sektor kehidupan, baik ibadah
maupun
> muamalah pada umumnya di Indonesia. Tidak lain, karena sejak dulu
hingga
> sekarang, masyarakat dan pemerintah masih mengakui berlakunya Adat
Basandi
> Syarak itu. Dalam konteks pemikiran dan perjuangan, sejumlah tokoh
Minang
> pun sudah mencontohkannya. Tetapi, sekali lagi, yang terjadi adalah
> sebaliknya.
>
> Masih adakah harapan? Tentu saja masih sangat besar. Sekali lagi,
Sumbar
> memiliki modal dasar yang sangat kuat dan potensial, sebagaimana
diuraikan
> di atas. Namun, mungkin perlu ditelaah, cara yang efektif untuk
ditempuh,
> untuk mengejar 'ketertinggalan' ini.
>
> Belajar dari banyak tempat, baik di dalam maupun luar negeri, maka
sulit
> dibantah akan pentingnya peran lembaga pendidikan sebagai media
> transformasi. Kasus DIY dan perkembangan di ekonomi Islam di Pulau
Jawa
> khususnya sangat jelas menunjukkan hubungan erat antara peran lembaga
> pendidikan dengan proses transformasi ini. Hal yang sama, bahkan lebih
nyata
> juga terlihat di Malaysia, negara jiran yang saat ini sudah
mengklaim-dan
> sementara terbukti berdasarkan hasil survei Kuwait Finance House
Research
> tahun 2010-sebagai pusat ekonomi dan keuangan Islam global.
>
> Tidak pula dapat disangkal bahwa dukungan pemerintah menjadi
katalisator
> penting dalam proses transformasi ini. Pemerintah Malaysia adalah
salah satu
> contoh ideal dalam hal ini. Seiring dengan masih kuatnya semangat
> mempertahankan semboyan Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi
Kitabullah,
> baik oleh pemerintah maupun masyarakat, maka tidak mustahil, dalam
periode
> tertentu, Sumbar bisa muncul sebagai salah satu peneraju utama
pergerakan
> ekonomi nasional, baik di Sumatera, Indonesia bagian barat, bahkan
secara
> nasional. Insya Allah. Karena itu, kerja sama dua faktor utama
(lembaga
> pendidikan dan pemerintah), serta dukungan kuat beberapa 'modal' lain
yang
> telah disebutkan di muka akan memungkinkan mengubah kegelisahan,
ironi,
> paradoks dan tantangan di atas menjadi sebuah harapan baru di masa
yang akan
> datang, insya Allah. (*)
>
> Penulis adalah Profesor (Madya)di International Islamic University
Malaysia
> (IIUM) dan di STIE



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke