Syukur Lillahi Ta'ala,

Dapat membaca tulisan yang cukup baik ini.

Wassalam,
Idris Talu
L60+
Ipoh.


2011/10/21 Ramadhanil pitopang <[email protected]>

> Super...Kira-kira dari 240 juta orang penduduk berapa banyak  orang
> Indonesia yang profilnya seperti ini?  Atau dari 13 Juta orang Minang berapa
> banyak pemimpin berdarah minang yang profilnya cukup baik seperti ini?
>
> Wasallam,
> R.Pitopang
>
>
> ------------------------------
> *Dari:* muchwardi muchtar <[email protected]>
> *Kepada:* "[email protected]" <[email protected]>
> *Dikirim:* Jumat, 21 Oktober 2011 6:42
> *Judul:* [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN
>
>
>  Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi
> teladan bagi bawahan dan demokratis???
> mm***
>
> Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa
>
> Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru”
> enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan.
>
> Betapa relatifnya waktu…
>
> Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya
> tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang
> kerja Dirut PLN.
> Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit
> lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai
> bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin
> saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya
> pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.
>
> Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya
> memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat
> transplan yang masih harus saya minum setiap hari.
>
> Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang
> telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri…
>
> Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang
> sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut
> PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik.
>
> Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa
> pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya
> bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak
> ke mana-mana.
>
> Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus
> berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak
> bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan
> bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi
> atau permintaan ceramah. Semua saya hindari.
>
> Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat
> kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan
> olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada
> rapat yang bisa saya hadiri.
>
> Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya
> kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke
> mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik.
>
> Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya
> terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status
> saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga
> harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan
> ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.
>
> Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari
> rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di
> Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya
> dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya
> berolahraga sambil menghirup CO2.
>
> Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas
> jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan
> merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan,
> saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang
> bercucuran.
>
> Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya
> utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat.
> Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi
> kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.
>
> Betapa relatifnya jarak…
>
> Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada
> pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian
> juga beberapa relasi PLN lainnya.
>
> Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga
> tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di
> lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang
> karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus
> bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.
>
> Betapa relatifnya uang…
>
> Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan
> sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat
> untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk
> dipecahkan.
>
> Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih.
> Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat
> hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari
> para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan
> jenakanya.
>
> Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal
> PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang
> dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya.
> Yang tidak ada pada mereka adalah muara.
>
> Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara.
> Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan
> kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara.
> Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh…
>
> Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu
> siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di
> ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide,
> berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN
> bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang
> menyenangkan.
>
> Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.
>
> Betapa relatifnya tempat…
>
> Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik
> jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau
> dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.
>
> Betapa relatifnya jiwa…
>
> Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi"
> direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak
> sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak
> pernah membaca surat masuk.
>
> Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung
> didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat
> itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka,
> untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang
> lebih pas menjawabnya?
>
> Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima
> surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk
> kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi.
> Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan?
> Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk
> menunjukkan bahwa saya atasan mereka?
>
> Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang
> sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya
> saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi
> seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat?
> Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik
> petunjuk"?
>
> Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada
> tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca
> surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa
> yang terbaik yang harus dilakukan.
>
> Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari
> universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu,
> doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka
> sudah sangat berpengalaman - melebihi saya?
> Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.
>
> Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering
> diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi
> akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi
> ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta
> petunjuk".
>
> Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari
> universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali
> kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan
> kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan,
> rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu,
> hanyalah pengecualian.
> Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama.
> Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap
> duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan
> saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.
>
> Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin
> karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan
> seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.
>
> Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun
> belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk
> semestinya.
>
> Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…
>
> Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?
> Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di
> seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama,
> mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur
> Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat
> tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14,
> sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh
> dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20).
>
> Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat.
> Bahkan, ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa
> direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan
> tersebut tentu lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya
> pemerintah bersama DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali
> tidak punya wewenang menaikkan atau menurunkan TDL?
>
> Betapa relatifnya kepuasan…
>
> (Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah
> cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh
> karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan
> PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan
> keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak
> tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah
> CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010).
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>



-- 
Idris Talu

http://idristalu.blogspot.com/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke