Manyalo setek. Sayang kalau BH cuma menyendiri berkebun. Bukankah seharusnyo beliau bisa berbagi ilmu dan pengalaman untuk urang lain, terutama generasi muda. Misalnya mengajar atau sejenisnya. Wallahu'alam
On 10/21/11, Asmardi Arbi <[email protected]> wrote: > Ambo dapek kaba dari uni baliau Esti Kamka , bahaso Baihaki Hakim kini > hiduik tanang jo bakabun dikampuang bini baliau di Cirebon. > Baihaki Hakim tamasuak pamimpin panutan. Sarancaknyo dibuek daftar > inventarisasi untuak mandorong munculnyo pamimpin sarupoko labiah banyak. > Kalau tingkek Presiden iyo baru Ahmadinejad dari Iran nan tadanga. > > Salam, Asmardi Arbi ,70, Tangsel > > > > > From: Darwin Chalidi > Sent: Friday, October 21, 2011 8:23 AM > To: [email protected] > Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT > PLN > > > Nan ambo tahu urang Minang yang punyo prinsip sarupo iko yo bakeh Boss Ambo. > Baihaki Hakim. Indak amuah manjua VLCC Pertamina sahinggo dipecat dari Dirut > Pertamina, BUMN ukatu tu dipimpin oleh partai penguasa L. Sukardi. > > Salam Darwin Chalidi, 62+, Tangsel > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > From: Ramadhanil pitopang <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Fri, 21 Oct 2011 08:47:28 +0800 (SGT) > To: [email protected]<[email protected]> > ReplyTo: [email protected] > Subject: Bls: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN > > > Super...Kira-kira dari 240 juta orang penduduk berapa banyak orang > Indonesia yang profilnya seperti ini? Atau dari 13 Juta orang Minang berapa > banyak pemimpin berdarah minang yang profilnya cukup baik seperti ini? > > > > Wasallam, > R.Pitopang > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > Dari: muchwardi muchtar <[email protected]> > Kepada: "[email protected]" <[email protected]> > Dikirim: Jumat, 21 Oktober 2011 6:42 > Judul: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN > > > > > Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi > teladan bagi bawahan dan demokratis??? > mm*** > > Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa > > Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru” > enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan. > > Betapa relatifnya waktu… > > Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya > tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang > kerja Dirut PLN. > Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit > lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai > bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin > saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya > pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter. > > Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya > memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat > transplan yang masih harus saya minum setiap hari. > > Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang > telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri… > > Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang > sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut > PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik. > > Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa > pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya > bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak > ke mana-mana. > > Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus > berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak > bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan > bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi > atau permintaan ceramah. Semua saya hindari. > > Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat > kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan > olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada > rapat yang bisa saya hadiri. > > Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya > kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke > mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. > > Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya > terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status > saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga > harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan > ini: berangkat kerja berjalan kaki saja. > > Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari > rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di > Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya > dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya > berolahraga sambil menghirup CO2. > > Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas > jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan > merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, > saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang > bercucuran. > > Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya > utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. > Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi > kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh. > > Betapa relatifnya jarak… > > Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada > pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian > juga beberapa relasi PLN lainnya. > > Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga > tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di > lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang > karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus > bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya. > > Betapa relatifnya uang… > > Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan > sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat > untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk > dipecahkan. > > Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. > Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat > hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari > para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan > jenakanya. > > Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal > PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang > dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. > Yang tidak ada pada mereka adalah muara. > > Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. > Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan > kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara. > Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh… > > Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu > siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di > ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, > berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN > bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang > menyenangkan. > > Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. > > Betapa relatifnya tempat… > > Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik > jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau > dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. > > Betapa relatifnya jiwa… > > Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi" > direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak > sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak > pernah membaca surat masuk. > > Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung > didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat > itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, > untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang > lebih pas menjawabnya? > > Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima > surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk > kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. > Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? > Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk > menunjukkan bahwa saya atasan mereka? > > Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang > sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya > saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi > seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat? > Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik > petunjuk"? > > Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada > tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca > surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa > yang terbaik yang harus dilakukan. > > Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari > universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu, > doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka > sudah sangat berpengalaman - melebihi saya? > Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka. > > Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering > diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi > akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi > ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta > petunjuk". > > Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari > universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali > kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan > kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, > rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, > hanyalah pengecualian. > Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. > Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap > duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan > saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya. > > Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin > karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan > seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini. > > Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun > belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk > semestinya. > > Betapa relatifnya sebuah kekuasaan… > > Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini? > Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di > seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, > mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur > Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat > tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14, > sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh > dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20). > > Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, > ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi > PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu > lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama > DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang > menaikkan atau menurunkan TDL? > > Betapa relatifnya kepuasan… > > (Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah > cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh > karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan > PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan > keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak > tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah > CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010). > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- Sent from my mobile device Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
