Nan ambo tahu urang Minang yang punyo prinsip sarupo iko yo bakeh Boss Ambo. 
Baihaki Hakim. Indak amuah manjua VLCC Pertamina sahinggo dipecat dari Dirut 
Pertamina, BUMN ukatu tu dipimpin oleh partai penguasa L. Sukardi.

Salam Darwin Chalidi, 62+, Tangsel
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ramadhanil pitopang <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 21 Oct 2011 08:47:28 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Bls: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN

Super...Kira-kira dari 240 juta orang penduduk berapa banyak  orang Indonesia 
yang profilnya seperti ini?  Atau dari 13 Juta orang Minang berapa banyak 
pemimpin berdarah minang yang profilnya cukup baik seperti ini? 


Wasallam,
R.Pitopang




________________________________
Dari: muchwardi muchtar <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Dikirim: Jumat, 21 Oktober 2011 6:42
Judul: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN




Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi 
teladan bagi bawahan dan demokratis???
mm***

Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru” enam 
bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan.

Betapa
 relatifnya waktu…

Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya 
tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di
 bilik di belakang ruang kerja Dirut PLN.
Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit 
lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai 
bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin 
saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya 
pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya 
memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat 
transplan yang masih harus saya minum setiap hari.

Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang 
telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri…

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah 
berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut PLN, saya 
tidak akan mengurus apa pun
 kecuali listrik.

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa pun 
kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa 
dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak ke 
mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus 
berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak 
bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan bahkan 
selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi atau 
permintaan ceramah. Semua saya hindari.

Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar 
se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga 
bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang 
bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya kurang
 gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang 
dan malam. Itu tentu tidak baik.

Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya 
terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status 
saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga 
harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini: 
berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah 
saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di Jalan 
Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap 
sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga 
sambil menghirup CO2.

Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas 
jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. 
Pukul
 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya 
ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran.

Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya 
utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. 
Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi 
kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak…

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 
07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian juga 
beberapa relasi PLN lainnya.

Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga 
tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi 
untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena 
uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu
 harus bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.

Betapa relatifnya uang…

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali 
di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk 
mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan.

Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan 
kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang 
menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. 
Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal 
PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi 
perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. Yang tidak ada 
pada mereka adalah muara.

Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang
 bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide 
brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai 
bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh…

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu 
siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang 
rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi kue, 
dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah 
tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.

Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.

Betapa relatifnya tempat…

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik 
jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat 
sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.

Betapa
 relatifnya jiwa…

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi" 
direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak 
sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak pernah 
membaca surat masuk.

Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung 
didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu 
ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa 
harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang lebih pas 
menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima 
surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali 
pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. Apa 
yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? 
Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi -
 sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang 
sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya 
saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi 
seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat? 
Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik petunjuk"?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada 
tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca 
surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa 
yang terbaik yang harus dilakukan.

Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari 
universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu, 
doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka 
sudah sangat berpengalaman -
 melebihi saya?
Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi 
arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi 
besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang 
yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta petunjuk".

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari 
universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali 
kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada 
mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa 
tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah 
pengecualian.
Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. 
Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap 
duduk di kursi di
 depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. 
Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.

Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena 
dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu. 
Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum 
tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya.

Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?
Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di 
seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, 
mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur 
Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal 
tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di
 Aceh hanya 14, sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. 
Kini, di Aceh dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah 
bisa 20).

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, 
ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN 
yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu lucu 
karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR? 
Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang menaikkan 
atau menurunkan TDL?

Betapa relatifnya kepuasan…

(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah cara 
Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh 
karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan PLN 
yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan 
keinginan pimpinan puncak perusahaan.
 Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak tanggapan dari karyawan melalui forum 
e-mail perusahaan. Artikel ini adalah CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010).


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke