Waktu pertama kali ditunjuk menjadi Dirut Pertamina BHH kita katakan bak anak perawan disarang penyamun. Beliau menulis kissah pengalamannya sendiri selama 3 1/2 tahun di Pertamina. Bukunya the Lone Ranger liku2 transformasi Pertamina menceritakan pengalamannya. Beliau beserta istrinya suka kumpul2 berbaur dengan kita para pensiunan. Sekarang dia hidup tenang dengan cucu2nya mondar mandir Jkt-Cirebon-USA dan keliling2. Tiap bulan kita ketemu bu Srie di arisan ibu2 pensiunan dan kepemimpinan seseorang banyak dipengaruhi oleh teman hidupnya. Menurut saya kalau BHH diberi kesempatan seperti Dahlan Iskan beliau tidak kalah gaya kepemimpinannya.
@Hayatun Nismah Rumzy# On Oct 22, 2011, at 12:06 AM, ajo duta <[email protected]> wrote: > Manyalo setek. Sayang kalau BH cuma menyendiri berkebun. Bukankah > seharusnyo beliau bisa berbagi ilmu dan pengalaman untuk urang lain, > terutama generasi muda. Misalnya mengajar atau sejenisnya. > Wallahu'alam > > On 10/21/11, Asmardi Arbi <[email protected]> wrote: >> Ambo dapek kaba dari uni baliau Esti Kamka , bahaso Baihaki Hakim kini >> hiduik tanang jo bakabun dikampuang bini baliau di Cirebon. >> Baihaki Hakim tamasuak pamimpin panutan. Sarancaknyo dibuek daftar >> inventarisasi untuak mandorong munculnyo pamimpin sarupoko labiah banyak. >> Kalau tingkek Presiden iyo baru Ahmadinejad dari Iran nan tadanga. >> >> Salam, Asmardi Arbi ,70, Tangsel >> >> >> >> >> From: Darwin Chalidi >> Sent: Friday, October 21, 2011 8:23 AM >> To: [email protected] >> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT >> PLN >> >> >> Nan ambo tahu urang Minang yang punyo prinsip sarupo iko yo bakeh Boss Ambo. >> Baihaki Hakim. Indak amuah manjua VLCC Pertamina sahinggo dipecat dari Dirut >> Pertamina, BUMN ukatu tu dipimpin oleh partai penguasa L. Sukardi. >> >> Salam Darwin Chalidi, 62+, Tangsel >> Powered by Telkomsel BlackBerry® >> >> >> -------------------------------------------------------------------------------- >> >> From: Ramadhanil pitopang <[email protected]> >> Sender: [email protected] >> Date: Fri, 21 Oct 2011 08:47:28 +0800 (SGT) >> To: [email protected]<[email protected]> >> ReplyTo: [email protected] >> Subject: Bls: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN >> >> >> Super...Kira-kira dari 240 juta orang penduduk berapa banyak orang >> Indonesia yang profilnya seperti ini? Atau dari 13 Juta orang Minang berapa >> banyak pemimpin berdarah minang yang profilnya cukup baik seperti ini? >> >> >> >> Wasallam, >> R.Pitopang >> >> >> >> >> >> >> -------------------------------------------------------------------------------- >> Dari: muchwardi muchtar <[email protected]> >> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> >> Dikirim: Jumat, 21 Oktober 2011 6:42 >> Judul: [R@ntau-Net] OOT : Renungan kepemimpinan Dahlan Iskan- PT PLN >> >> >> >> >> Alangkah baiknya kalau semua pemimpin bisa seperti ini, low profile, jadi >> teladan bagi bawahan dan demokratis??? >> mm*** >> >> Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa >> >> Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru” >> enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan. >> >> Betapa relatifnya waktu… >> >> Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya >> tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang >> kerja Dirut PLN. >> Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit >> lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai >> bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin >> saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya >> pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter. >> >> Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya >> memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat >> transplan yang masih harus saya minum setiap hari. >> >> Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang >> telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri… >> >> Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang >> sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut >> PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik. >> >> Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa >> pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya >> bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak >> ke mana-mana. >> >> Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus >> berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak >> bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan >> bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi >> atau permintaan ceramah. Semua saya hindari. >> >> Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat >> kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan >> olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada >> rapat yang bisa saya hadiri. >> >> Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya >> kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke >> mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. >> >> Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya >> terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status >> saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga >> harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan >> ini: berangkat kerja berjalan kaki saja. >> >> Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari >> rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di >> Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya >> dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya >> berolahraga sambil menghirup CO2. >> >> Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas >> jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan >> merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, >> saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang >> bercucuran. >> >> Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya >> utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. >> Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi >> kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh. >> >> Betapa relatifnya jarak… >> >> Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada >> pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian >> juga beberapa relasi PLN lainnya. >> >> Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga >> tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di >> lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang >> karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus >> bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya. >> >> Betapa relatifnya uang… >> >> Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan >> sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat >> untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk >> dipecahkan. >> >> Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. >> Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat >> hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari >> para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan >> jenakanya. >> >> Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal >> PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang >> dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. >> Yang tidak ada pada mereka adalah muara. >> >> Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. >> Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan >> kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara. >> Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh… >> >> Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu >> siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di >> ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, >> berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN >> bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang >> menyenangkan. >> >> Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya. >> >> Betapa relatifnya tempat… >> >> Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik >> jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau >> dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa. >> >> Betapa relatifnya jiwa… >> >> Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi" >> direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak >> sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak >> pernah membaca surat masuk. >> >> Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung >> didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat >> itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, >> untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang >> lebih pas menjawabnya? >> >> Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima >> surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk >> kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. >> Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? >> Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi - sekadar untuk >> menunjukkan bahwa saya atasan >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> > > Wassalaamu'alaikum > Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), > suku Mandahiliang, > lahir 17 Agustus 1947. > nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. > rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA > ----------------------------------------------------------- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
