Sdr Lukman Hakim dkk yth,
 
     Pewaris yang sah dari suatu negara tentu saja bisa diartikan dalam 
berbagai segi perspektif. Ada perspektif sejarah yang secara antropologis telah 
menjadi penduduk asli secara turun temurun dari negara tersebut. Misalnya orang 
Melayu, orang Ambon, Papua, dsb. Orang Minang, orang Jawa, Sunda, Batak, dsb di 
Nusantara ini secara antropologis adalah orang Melayu suku Minang, suku Jawa, 
Sunda, Batak, Aceh, Bugis, Banjar, dsb. Ada Melayu proto (Melayu tua), seperti 
Batak, Mentawai, Nias, Dayak, dsb. Ada Melayu Deutero (muda), seperti Melayu 
Riau, Minang, Sunda, Jawa, Banjar, Bugis, Gorontalo, dsb . Orang Papua, Ambon, 
NTT, dsb bukan suku Melayu tetapi adalah juga pewaris yang sah dari NKRI ini, 
karena nenek moyang mereka memang berasal dari daerah kepulauan Nusantara ini.
     Lalu ada perspektif hukum di mana penduduk pendatang dari berbagai 
sukubangsa, seperti Cina, Arab, Keling, Eurasia, dsb kemudian menjadi 
warganegara dan mereka bukan suku asli sebagai pewaris yang sah dalam artian 
antropologis, hanya politis dan yuridis.
     Masalah yang saya angkatkan bukan dalam artian dikotomi etnik seperti itu, 
tetapi seperti yang saya sampaikan kepada Pak Dutamardin dalam tulisan saya 
itu, yakni masalah dominasi ekonomi yang telah berkelanjutan sejak dari dahulu 
di zaman kolonial sampai kepada masa sekarang ini. Ekonomi Indonesia tidak 
terpegang oleh kelompok etnik pribumi, tapi non-pribumi, khususnya Cina yang 
dibackup oleh kelompok kapitalis multinasional dan penguasa politik pribumi 
sendiri seperti yang kita lihat sejak masa Orde Baru sampai ke Orde Reformasi 
jilid ke sekian sekarang ini.
     Penguasaan ekonomi, sebagai kita tahu dan lihat sendiri, adalah stepping 
stone --batu loncatan-- untuk penguasaan politik, hukum, sosial-budaya, 
militer, dsb, seperti yang kita lihat penguasaan Cina di Filipina, Singapura, 
Malaysia sebelum Mahathir, negara2 di Asia Tenggara sebelum rezim yang 
sekarang. Kalau negara sekecil Belanda saja bisa menjajah Indonesia 350 tahun, 
Jepang 3,5 tahun, apalah susahnya bagi bangsa Cina yang berbatasan laut dengan 
kita untuk juga menjajah Indonesia sekian ratus tahun ke depan pula. Apalagi 
mereka sudah berkuku dan berkaki juga di Indonesia ini sejak dari masa 
Majapahit dan Mataram. Lihat itu Singapura, dari sebuah kerajaan Melayu 
Temasik, lalu bagian dari negara federal Melayu,  sekarang menjadi negara Cina 
naga di Asia Tenggara yang sekaligus dipakai sebagai bastion, benteng, bagi 
penguasaan ekonomi dan politik di Asia Tenggara. 
     Sdr Lukman dkk, mari kita tidak tersandung dengan hal kecil-kecil tetapi 
lihatlah juga permasalahannya secara makro global dengan perspektif sejarah 
yang jauh ke depan.
     Salam saya, MN.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
From: Lukman Hakim <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Saturday, October 29, 2011 9:59 PM
Subject: Re: [Imsa] Jwb Mochtar Naim thdp Dutamardin Umar ttg dikotomi etnis 
pri-nonpri

Pak Mochtar

Assalamu'alaikum
 
Mudah-mudahan tidak memperkeruh susana dan mengalihkan diskusi. Ada yang 
mengganjal dihati tentang pendapat Pak Mochtar "kelompok Melayu yang merupakan 
pewaris yang sah dari Malaysia itu". 

Lantas, kalau itu dikaitkan dengan Indonesia, pewaris syah itu siapa?? Kelompok 
Melayu kah atau Jawa yang mayoritas di Indonesia? Kalau disebut ulama adalah 
pewaris nabi itu syah adanya karena seperti itulah ditetapkan dalam ketentuan 
agama. Bumi ini adalah milik Allah. Yang menjadi pewaris adalah siapa yang 
terlahir disitu tanpa memandang warna kulit atau jenis matanya sipit atau 
bukan. Tentunya pewaris dapat diperluas atas kesepakatan bersama yang diatur 
oleh undang-undang seperti sesama warganegara. Tetapi menyebutkan suku sebagai 
pewaris, apakah suatu yang bijak? Apakah Sumatara itu lantas menjadi tanah 
tujuan atau perjanjian untuk orang Melayu? Itupun kalau orang Minang mau 
disebut sebagai orang Melayu. Lantas bgm dengan keuturunan arab yang telah 
beratus-ratus tahun tinggal di Indonesia, masihkan kita menyebut mereka bukan 
pewaris syah Indonesia? Atau mereka pewaris lapis kedua? 
 
Ketidak adilan atau persekongkolan yang jahat itu harus dilawan ya benar dan 
mari kita sama-sama menyingsing lengan baju untuk itu, tetapi keirian akan 
keberhasilan suatu kaum karena lebih maju dan berhasil dalam hidup perlu 
dijadikan pembelajaran untuk memperbaiki diri, khususnya kalum Melayu Indonesia
 
 
Wassalam
 
 
Lukman Hakim    
________________________________
From: Mochtar Naim <[email protected]>
To: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>
Cc: MOCHTAR NAIM <[email protected]>
Sent: Saturday, October 29, 2011 9:58 AM
Subject: [Imsa] Jwb Mochtar Naim thdp Dutamardin Umar ttg dikotomi etnis 
pri-nonpri


Pak Dutamardin Umar yth, 

     Tepat atau tidak-tepatnya kita mengangkatkan masalah dikotomi pri-nonpri 
itu tergantung kepada apa yang kita inginkan melihatnya dengan itu. Kalau 
sekadar kecemburuan etnik tentu memang tidak tepat. Kita malah harus belajar 
banyak dari orang Cina itu. Tidak sia2 ada ungkapan yang dikatakan sebagai 
hadits yang sampai mengatakan: "Belajarlah sampai ke negeri Cina sekalipun." 
Dan memang banyak sekali yang kita bisa belajar dari orang dan budaya Cina itu. 
Kesungguhan, kerajinan, keuletan, kerjasama, pandangan jauh ke depan, dsb, 
seperti yang Pak Duta kemukakan itu.       
     Masalah kita bukan itu, Pak Duta. Masalah kita adalah masalah penaklukan 
dan penjajahan ekonomi, sebagaimana dahulu dilakukan oleh orang Belanda, 
sekarang oleh orang Cina. Dengan kerjasama mesra antara penguasa negara NKRI 
yang pribumi dengan penguasa ekonomi non-pri dan para kapitalis multinasional 
itu, sekurangnya sejak Orde Baru ke mari ini, kita secara ekonomi sekarang 
sedang terjajah dan dikuasai oleh Cina. 
     Sudikah, dan relakah Pak Mardin kalau ekonomi negara kita ini bukan kita 
yang punya dan menguasai tetapi para cukong-konglomerat Cina dan para kapitalis 
multi-nasional itu? Kalau Pak Duta suka, itu pilihannya Pak Mardin. Kalau saya 
jelas tidak. Saya menginginkan langkah2 konkrit seperti yang dilakukan oleh 
Mahathir sebelumnya dan pemimpin Malaysia sekarang untuk memberikan peluang 
seluas-luasnya kepada kelompok Melayu yang merupakan pewaris yang sah dari 
Malaysia itu.  Kelompok Melayu oleh para negarawan Malaysia diberi peluang 
seluas-luasnya dan mereka dibimbing untuk masuk dan menguasai ekonomi negara 
mereka sendiri. Itu juga yang sekarang  sedang dilakukan oleh para penguasa di 
Viet Nam, Laos, Kambodia, Thailand, dsb. 

Pak Duta, hal yang saya angkatkan ini selama ini disapukan ke bawah tikar 
permasalahan dan dianggap SARA kalau ada yang berani mengangkatkannya. Jadi 
jauh daripada apa yang Pak Duta kirakan seperti mengulang-ulang hal itu ke itu 
juga. Dimulai saja belum, kok sudah dikatakan itu ke itu juga. 

Wassalam, 
MN 
-- 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
- Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/
- Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us
- Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi:  [email protected]
- Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/
- Fundraising untuk IMSA  : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---       

-- 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
- Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/
- Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us 
- Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi:  [email protected]
- Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ 
- Fundraising untuk IMSA  : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke