Marapi : Gunung Meru di Pulau
Perca<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/marapi-gunung-meru-di-pulau-perca/>

Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan
sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir
di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun
banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini
oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan
pandangan 
keturunannya<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2011/11/17/tambo-alam-minangkabau-penghapusan-sejarah-dan-kekacauan-logika/>mengenai
sejarah dan asal-usul mereka.

  <http://mozaikminang.files.wordpress.com/2011/11/marapi.jpg>

*Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi*

Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau
Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam
tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan
banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi
dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang
pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan
Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan
kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur
Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar
seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara
sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai
yang sama.

Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan kawasan
bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit barisan di
selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan pada zaman
es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini justru lebih
rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga Sumatera, Malaya,
Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan Sahul. Bahkan
pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan Nias pun menyatu
dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara sejarah geologi, cerita
dalam tambo ini tertolak.

Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan kapal
di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang kondisi
geografis ini, di antaranya:

   - Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan Tigo
   - Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran tinggi
   Luhak Nan Tigo
   - Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan
   daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan
   gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari
   dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam
beberapa versi Tambo
   Alam 
Minangkabau<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/>dan
Tambo
   Alam 
Kerinci<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/16/tambo-alam-kerinci-episode-turun-dari-pagaruyung/>.
   Selain itu Tombo Lubuk
Jambi<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/17/kerajaan-kandis-kerajaan-tertua-di-sumatera/>juga
memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.

*Berlayar di Daratan Menurut Tambo*

Berikut beberapa kutipan tambo:

*Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak
gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat
memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi,
memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat
di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang
ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya
berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari
permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama
sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan
berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya
beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah
tadi.*(Tambo Alam Minangkabau)



*Indar Jati,orang pertama turun ke negeri Sumbar dengan menepati kawasan
gunung emas atau Gunung berapi, Pariaman Padang Panjang. Ia menikah dengan
Indi Jelatang melahirkan keturunan dua orang diantaranya, Datuk perpatih
nan Sebatang dan Indarbaya. Indar Jati dengan anaknya, Indarbaya, berlayar
pula ke luhak Alam Kerinci. Sedangkan perpatih nan Sebatang. *(Tambo Alam
Kerinci)

Ternyata dengan melakukan analisa antropologi kita dapat menemukan kunci
jawaban dari misteri di atas. Mitos soal Gunung Marapi yang dikelilingi
lautan ini dan hanya dapat ditempuh dengan berlayar ini ternyata terkait
dengan faktor agama dan kepercayaan yang dianut orang-orang pada masa itu.
Kita semua sepakat bahwa agama mereka adalah Hinduisme atau cabangnya,
walaupun ada pula beberapa golongan yang telah menganut ajaran Buddhisme.

Ada apa dengan Hinduisme terutama yang berasal dari India Selatan?

*Gunung Meru dan Jambhudwipa*

Dalam konsep agama mereka, dunia ini adalah sebuah benua besar bernama
Jambhudwipa<http://www.theosociety.org/pasadena/path/v04n01p13_the-seven-dwipas.htm>yang
*dikelilingi oleh tujuh lautan* dan ditengahnya terdapat pusat dunia
yaitu Gunung
Meru <http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Meru>. Gunung Meru ini dikisahkan
sebagai Gunung Emas tempat tinggal para dewa utamanya Dewa Brahma, sang
pencipta alam semesta menurut agama mereka. Gunung Meru ini dikelilingi
oleh Kota Suci Brahma. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga terletak di
antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).

Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai Gunung
Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari kata Meru
Vi dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka berbondong-bondong
mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan sangat lazim jika nama
nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par Hyangan (tempat
dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan Kerajaan Jambu
Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan tersebut.

*Gunung Meru dalam Masyarakat Hindu Nusantara*

Mencari pengganti Gunung Meru di India bukan hanya monopoli nenek moyang
orang Minangkabau. Beberapa masyarakat lain di Nusantara pun melakukannya:

   - Masyarakat Hindu Melayu memuliakan Gunung Ledang dan Bukit Siguntang
   - Masyarakat Hindu Kerinci yang datang dari India Selatan memuliakan
   Gunung Kerinci
   - Masyarakat Hindu Jawa memuliakan Gunung Semeru, Gunung
Penanggungan<http://www.khatulistiwa.info/2011/10/swarloka-di-gunung-penanggungan.html>dan
Gunung Merapi
   - dan lain sebagainya

Kesimpulannya, fenomena mencari Gunung Suci ini tidaklah aneh dalam
perspektif ini. Jadi walaupun secara logika mereka sebenarnya menempuh rute
sungai-sungai besar di timur Sumatera (Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri,
Batanghari,Kuantan), dari segi religius mereka akan mengunjungi Gunung
Marapi untuk tujuan keagamaan dan kemudian membuat mitos tempat ini sebagai
titik nol kilometer bagi anak keturunan mereka (baca : konstitusi dasar).
Istilah berlayar juga dipakai karena dalam konsep religius, tanah asal
mereka ini dikelilingi oleh tujuh lautan.

Konsep ini pula yang menyebabkan segala aktivitas perluasan daerah di
sekeliling Gunung Marapi diistilahkan dengan “berlayar” di dalam tambo.
Kerinci dan Marapi adalah 2 gunung yang dianggap suci oleh penganut Hindu
pada masanya.

*Seri Marapi, Raja Pulau Sumatera*

Prasasti di India yang dikenal dengan *Piagam Leiden* menyebutkan raja
Sriwijaya tahun 1006 bernama Sri Marawijayatunggawarman, putra raja Sri
Cudamaniwarman keluarga Sailendra.

Dalam kronik *Sung-shih* (Sejarah Dinasti Sung) nama raja ini juga dicatat
dengan nama Se-li-ma-la-pi, raja San-fo-tsi. Adakah hubungannya dengan
penguasa Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera? Wallahualam.

*Sumber:*

http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus

http://irfananshory.blogspot.com/2007/04/resensi-buku-di-majalah-tempo.html

http://www.khatulistiwa.info/2011/10/swarloka-di-gunung-penanggungan.html

http://id.merbabu.com/gunung/gunung_penanggungan.html

http://www.hawaii.edu/indolang/manuscripts/Kerinci/Tambo/d.html

http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/>

http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/rahasia-suku-malayu-di-pariangan/<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/18/rahasia-suku-malayu-di-pariangan/>

http://risdalrajoperak.blogspot.com/2009/06/tambo-minangkabau.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Meru

http://www.theosociety.org/pasadena/path/v04n01p13_the-seven-dwipas.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Meru

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke