Assalamu'alaikum Wr. Wb Pak Fadli, Pak Syafruddin Kajian Folkfor dan Geologi adalah kombinasi yang menarik, apo lai jikok kito mancubo mengaangkat kebenaran akan carito masyarakaik di alam budaya minang. dalam bahaso urang akademis barat kini, hal iko disabuik sebagai pendekatan Postkolonial seperti yang di jabarkan oleh Edwar Said kato dosen ambo Bambang Purwanto dan Tjahyono Prasetijo. dalam data rekonstruksi peta pembentukan permukaan bumi dan kebencanaan yang dikeluarkan pusat studi kebencanaan universitas gadjah mada, proses geologi yang disampaikan Pak Syarifudin ado batuahnyo hal itu dapek kito caliak dari:
1. Keberadaan Bukik Barisan yang membentang dari utara pulau sumatera ke selatan, 2. Bukik Putiah Semen Padang adalah tando alam yang merupakan bukti nan ka duo (hal iko samo dengan yang ado di kawasan gunung kidul jawa tengah) 3. Adonyo bukti sampah kerang pado kawasan Harau di 50 kota tigo bukti itu adolah sebagian kecil bukti bahwa proses geologi Pulau Sumatera secaro Umum dan Sumatera Barat (Minangkabau) secaro khusus, bukti itu subananyo alah di akui oleh dunia dengan menjadikan sumatera sebagai warisan dunia namun masih pado kategori hutan tropisnyo oleh unesco istilahnya adalah Natural Heritage [ http://whc.unesco.org/en/list/1167 ] namun sayangnyo urang awak alun talalu sadar akan iko, kronologi yang tajadi dengan keberadaan masyarakat minangkabau, subananyo dapat dilacak langsung di Sumatera Barat dan ado institusi yang bertanggung jawab untuk iko yaitu Bp3 Batusangkar [ http://www.bp3batusangkar.com/ ] namun sayang publikasinyo alun maksimal, ambo pernah mancubo maminta data terbaru ka BP3 batusangkar dan mangumpulkan beberapo data yang terkait namun sangat minim yang bisa ambo bisa publikasikan saat ko, baru data 2009 nan ado [ http://fosil73.files.wordpress.com/2011/11/04-bcb-tb-sumbar.doc ], namun semoga dapat membantu pak fadli dalam mengungkap tambo. subananyo ado beberapo harapan yang mungkin dapek dipertimbangkan bagi kito basamo 1. Perlu adonyo bidang ilmu yang khusus dalam mengungkapkan tentang masyarakat Alam Kebudayaan Minangkabau di maso lalu seperti adonyo bidang ilmu arkeologi, geologi di salah satu universitas Sumatera Barat. 2. Perlu adonyo Lembaga Penelitian Khusus (multidisiplin) terkait dengan bukti Alam kebudayaan Minangkabau. 3. Perlunya dukungan moral dan intelektual dari seluruh masyarakat Alam kebudayaan Minangkabau. 4. Perlunyo media publikasi yang mendidik tentang Masyarakat Alam Kebudayaan Minangkabau. Mungkin untuk saat ko saketek itu ambo bisa sato dalam menanggapi tentang tulisan Pak Fadli dan Pak Syafruddin, talabiah-takurang ambo minta maaf. wasalam, On 24 Nov, 11:08, "Yudi \"KudaLiar\"" <[email protected]> wrote: > sangat menarik menyimak 2 tulisan dari pak Zulfadli dengan pendekatan > historis dan folklor/antropologi nya dan pak Syafrudin dengan persfektif > geologi nya. > > salam, > Rajo Mangkuto > Antropolog, Depok > > 2011/11/24 Syafruddin Syaiyar <[email protected]> > > > > > Assalamu'alaikum Pak Fadli, > > > Menarik sekali uraiannya pak. > > Seperti legenda sejarah yang lainnya, cerita Tambo Minangkabau ini juga > > mengkombinasikan fakta dan mitos.. > > Fakta sejarah dan kejadian alam digabung dengan mitos untuk memberikan > > nilai lebih pada cerita tersebut. > > > Kebetulan saya punya background ilmu geology dan tertarik untuk > > memberikan sedikit pandangan dari segi ilmu geologi terhadap Cerita Tambo > > ini.. *Sebenarnya dari segi geology, masih ada kemungkinan kalau > > gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan*.. > > Salah satu teori geology yang sangat sederhana adalah *siklusity* atau > > perulangan yang kalau diterjemahkan secara lansung dapat di-artikan bahwa > > "sepanjang sejarah geologinya" satu daerah itu dulunya dapat saja berupa > > lautan kemudian berubah jadi daratan dan kemudian terendam lagi jadi lautan > > dan seterusnya dapat terangkat lagi jadi daratan..Waktu kuliah dulu, Pak > > Yono dosen stratigraphy menyebut teori ini sebagai teori "yo yoo" alias > > tiori jungkat jungkit.. > > > Dan sekarang tiori 'jungkat jankit" yang sederhana ini pakai sebagai dasar > > atau dikembangkan jadi tiori "sequence stratigraphy" yang dipakai secara > > luas didunia industri perminyakan.. Dalam "sequence stratigraphy" dikenal > > istilah "lowstand", kondisi dimana permukaaan air laut berada pada titik > > terendah, permukaan bumi didominasi oleh daratan... Dan sebaliknya ada > > kondisi "highstand" dimana permukaan air laut naik sampai pada suatu puncak > > yang dikenal sebagai "maximum flooding surface" dimana hampir semua > > dataran rendah terendam air.... Barangkali dalam kondisi inilah nenek > > moyang kita beremigrasi dan terdampar di kaki gunung Marapi yang tepat > > berada dipinggir laut waktu itu.. > > > Mungkin agak sukar bagi kita membayangkan gunung Marapi berada dipinggir > > lautan.. Tapi kalau kita lihat fakta yang ada sekarang seperti daerah > > Citatah dan Padang Larang (jalan ke Bandung) dimana terdapat pabrik > > pembakaran kapur yang jaraknya sekarang ini ratusan km dari pinggir pantai > > ..Dulunya pasti lautan, karena batu kapur "gamping atau karbonat" hanya > > terbentuk dan tumbuh dilautan berupa "batu karang"..Begitu juga jajaran > > pergunungan karst selatan jawa.... dulunya juga lautan.. Untuk daerah kita > > Sumbar, bukit bukit kapur, ngalau atau gua gua serta sungai bawah tanah > > yang kita jumpai di jajaran bukit barisan, pastinya menjadi bukti bahwa > > bukit barisan pernah terendam air laut dalam sejarah geologinya... > > > Memang iya pada suatu masa geology, Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan > > bersatu dalam dataran Paparan Sunda (bukan Dangkalan Sahul), Dan dimasa > > lain bukti geologi juga menunjukkan bahwa daerah daerah ini sebagian besar > > pernah juga berada dibawah atau terendam lautan,..Tiori siklusity > > (perulangan) > > > Hanya satu hal yang membuat serita Tambo ini ngak klop dengan teori > > geologi.."*yaitu Timing, *sejarah geology biasanya dalam hitungan *Jutaan > > Tahun (million year)*.. sedangkan sejarah peradapan manusia masih dalam > > selang *Ribuan Tahun,* > > (basalisiah tigo nol-nyoo) .. > > > Catatan : Bumi/Dunia/Earth diawal pembentukannya memang merupakan sebuah > > benua besar yang disebut "Pagea", kemudian "break up" menjadi seperti yang > > ada sekarang..Bumi kita ini bukannya diam tapi tetap > > bergerak active.. gunung, daratan dan lautan itu begerak dan tidak diam... > > > Baliak lagi kaji ka awal, cerita Tamboko memang memggabungkan fakta dan > > mitos.. sengaja digabung untuk memberi kesan yang sakral dan menarik... > > > Wass > > Sfd, 49 th, KL, Malaysia > > > 2011/11/23 Zulfadli <[email protected]> > > >> Marapi : Gunung Meru di Pulau > >> Perca<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/marapi-gunung-meru-di-pu...> > > >> Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan > >> sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir > >> di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun > >> banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini > >> oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan > >> pandangan > >> keturunannya<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2011/11/17/tambo-alam-mi...>mengenai > >> sejarah dan asal-usul mereka. > > >> <http://mozaikminang.files.wordpress.com/2011/11/marapi.jpg> > > >> *Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi* > > >> Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau > >> Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam > >> tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan > >> banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi > >> dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang > >> pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan > >> Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan > >> kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur > >> Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar > >> seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara > >> sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai > >> yang sama. > > >> Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan > >> kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit > >> barisan di selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan > >> pada zaman es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini > >> justru lebih rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga > >> Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan > >> Sahul. Bahkan pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan > >> Nias pun menyatu dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara > >> sejarah geologi, cerita dalam tambo ini tertolak. > > >> Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan > >> kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang > >> kondisi geografis ini, di antaranya: > > >> - Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan > >> Tigo > >> - Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran > >> tinggi Luhak Nan Tigo > >> - Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan > >> daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan > >> gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari > >> dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa > >> versi Tambo > >> Alam > >> Minangkabau<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/15/tambo-alam-mi...>dan > >> Tambo > >> Alam > >> Kerinci<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/16/tambo-alam-ke...>. > >> Selain itu Tombo Lubuk > >> Jambi<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/17/kerajaan-kand...>juga > >> memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun. > > >> *Berlayar di Daratan Menurut Tambo* > > >> Berikut beberapa kutipan tambo: > > >> *Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak > >> gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat > >> memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, > >> memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat > >> di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang > >> ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya > >> berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari > >> permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama > >> sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan > >> berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya > >> beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah > >> tadi.*(Tambo Alam Minangkabau) > > >> *Indar Jati,orang pertama turun ke negeri Sumbar dengan menepati kawasan > >> gunung emas atau Gunung berapi, Pariaman Padang Panjang. Ia menikah dengan > >> Indi Jelatang melahirkan keturunan dua orang diantaranya, Datuk perpatih > >> nan Sebatang dan Indarbaya. Indar Jati dengan anaknya, Indarbaya, berlayar > >> pula ke luhak Alam Kerinci. Sedangkan perpatih nan Sebatang. *(Tambo > >> Alam Kerinci) > > >> Ternyata dengan melakukan analisa antropologi kita dapat menemukan kunci > >> jawaban dari misteri di atas. Mitos soal Gunung Marapi yang dikelilingi > >> lautan ini dan hanya dapat ditempuh dengan berlayar ini ternyata terkait > >> dengan faktor agama dan kepercayaan yang dianut orang-orang pada masa itu. > >> Kita semua sepakat bahwa agama mereka adalah Hinduisme atau cabangnya, > >> walaupun ada pula beberapa golongan yang telah menganut ajaran Buddhisme. > > >> Ada apa dengan Hinduisme terutama yang berasal dari India Selatan? > > >> *Gunung Meru dan Jambhudwipa* > > >> Dalam konsep agama mereka, dunia ini adalah sebuah benua besar bernama > >> Jambhudwipa<http://www.theosociety.org/pasadena/path/v04n01p13_the-seven-dwipas.htm>yang > >> *dikelilingi oleh tujuh lautan* dan ditengahnya terdapat pusat dunia > >> yaitu Gunung Meru <http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Meru>. Gunung Meru > >> ini dikisahkan sebagai Gunung Emas tempat tinggal para dewa utamanya Dewa > >> Brahma, sang pencipta alam semesta menurut agama mereka. Gunung Meru ini > >> dikelilingi oleh Kota Suci Brahma. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga > >> terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan). > > >> Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai > >> Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan > > ... > > baca lainnya » -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
