sangat menarik menyimak 2 tulisan dari pak Zulfadli dengan pendekatan
historis dan folklor/antropologi nya dan pak Syafrudin dengan persfektif
geologi nya.

salam,
Rajo Mangkuto
Antropolog, Depok



2011/11/24 Syafruddin Syaiyar <[email protected]>

> Assalamu'alaikum  Pak Fadli,
>
> Menarik sekali uraiannya pak.
> Seperti legenda sejarah yang lainnya, cerita Tambo Minangkabau ini juga
> mengkombinasikan  fakta dan mitos..
> Fakta sejarah dan kejadian alam digabung dengan mitos untuk memberikan
> nilai lebih pada cerita tersebut.
>
> Kebetulan saya punya background ilmu geology dan tertarik untuk
> memberikan  sedikit pandangan dari  segi ilmu geologi terhadap Cerita Tambo
> ini.. *Sebenarnya dari segi geology, masih ada kemungkinan kalau
> gunung-gunung api dan kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan*..
>  Salah satu teori geology yang sangat sederhana adalah *siklusity* atau
> perulangan yang  kalau diterjemahkan secara lansung dapat di-artikan  bahwa
> "sepanjang sejarah geologinya" satu daerah itu dulunya dapat saja berupa
> lautan kemudian berubah jadi daratan dan kemudian terendam lagi jadi lautan
> dan seterusnya dapat terangkat lagi jadi daratan..Waktu kuliah dulu, Pak
> Yono dosen stratigraphy  menyebut teori ini sebagai teori "yo yoo" alias
> tiori jungkat jungkit..
>
> Dan sekarang tiori 'jungkat jankit" yang sederhana ini pakai sebagai dasar
> atau dikembangkan jadi tiori "sequence stratigraphy" yang dipakai secara
> luas didunia industri perminyakan.. Dalam  "sequence  stratigraphy" dikenal
> istilah "lowstand",  kondisi dimana permukaaan air laut berada pada titik
> terendah, permukaan bumi didominasi oleh daratan... Dan sebaliknya ada
> kondisi "highstand" dimana permukaan air laut naik sampai pada suatu puncak
> yang dikenal sebagai  "maximum flooding surface" dimana hampir semua
> dataran rendah terendam air.... Barangkali dalam kondisi inilah nenek
> moyang kita beremigrasi dan terdampar di kaki gunung Marapi yang tepat
> berada dipinggir laut waktu itu..
>
> Mungkin agak sukar bagi kita membayangkan gunung Marapi berada dipinggir
> lautan.. Tapi kalau kita lihat fakta yang ada sekarang seperti daerah
> Citatah dan Padang Larang (jalan ke Bandung) dimana terdapat pabrik
> pembakaran kapur yang jaraknya sekarang ini ratusan km dari pinggir pantai
> ..Dulunya pasti lautan,  karena batu kapur "gamping atau karbonat" hanya
> terbentuk dan tumbuh dilautan  berupa "batu karang"..Begitu juga jajaran
> pergunungan karst selatan jawa.... dulunya juga lautan.. Untuk daerah kita
> Sumbar, bukit bukit kapur, ngalau  atau gua gua  serta sungai bawah tanah
> yang kita jumpai  di jajaran bukit barisan, pastinya menjadi bukti bahwa
> bukit barisan pernah terendam air laut dalam sejarah geologinya...
>
> Memang iya pada suatu masa geology, Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan
> bersatu dalam dataran Paparan Sunda (bukan Dangkalan Sahul), Dan dimasa
> lain bukti geologi juga menunjukkan bahwa daerah daerah ini sebagian besar
> pernah juga berada dibawah atau terendam lautan,..Tiori siklusity
> (perulangan)
>
> Hanya satu hal yang membuat serita Tambo ini ngak klop dengan teori
> geologi.."*yaitu Timing, *sejarah  geology biasanya dalam hitungan *Jutaan
> Tahun (million year)*.. sedangkan sejarah peradapan manusia masih dalam
> selang *Ribuan Tahun,*
> (basalisiah tigo nol-nyoo) ..
>
> Catatan : Bumi/Dunia/Earth diawal pembentukannya memang merupakan sebuah
> benua besar yang disebut "Pagea", kemudian "break up" menjadi seperti yang
> ada sekarang..Bumi kita ini bukannya diam tapi tetap
> bergerak active.. gunung, daratan dan lautan itu begerak dan tidak diam...
>
> Baliak lagi kaji ka awal, cerita Tamboko memang memggabungkan fakta dan
> mitos.. sengaja digabung untuk  memberi kesan yang sakral dan menarik...
>
> Wass
> Sfd, 49 th, KL, Malaysia
>
>
>
> 2011/11/23 Zulfadli <[email protected]>
>
>> Marapi : Gunung Meru di Pulau 
>> Perca<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/marapi-gunung-meru-di-pulau-perca/>
>>
>> Migrasi nenek moyang orang Minangkabau menurut Tambo masih meninggalkan
>> sebuah pertanyaan besar sampai saat ini, yaitu soal pelayaran yang berakhir
>> di puncak Gunung Marapi. Meski secara logika tidak dapat diterima namun
>> banyak juga yang tertarik untuk mengetahui alasan dipilihnya cerita ini
>> oleh pengarang tambo pertama kali sebagai konstitusi untuk menyatukan
>> pandangan 
>> keturunannya<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2011/11/17/tambo-alam-minangkabau-penghapusan-sejarah-dan-kekacauan-logika/>mengenai
>>  sejarah dan asal-usul mereka.
>>
>>   <http://mozaikminang.files.wordpress.com/2011/11/marapi.jpg>
>>
>> *Geografi Pulau Sumatera Pada Abad ke-6 Masehi*
>>
>> Tentu kita tidak perlu menanyakan seperti apakah gerangan keadaan Pulau
>> Sumatera pada saat nenek moyang orang Minangkabau yang diceritakan di dalam
>> tambo itu menapaki pulau ini untuk pertama kalinya. Yang pasti tidak akan
>> banyak berubah seperti kondisi sekarang ini. Memang ada temuan arkeologi
>> dalam penelitian tentang Kerajaan Sriwijaya yang mengatakan Kota Palembang
>> pada dahulunya itu terletak di pinggir pantai, begitu pula halnya dengan
>> Muara Tebo di Jambi. Menurut penelitian ini pada kisaran abad keenam dan
>> kesembilan Masehi, rawa-rawa dan lahan gambut yang mendominasi pantai timur
>> Sumatera saat ini belum ada, dan banyak kota-kota di tepi sungai besar
>> seperti Batanghari dan Musi dulunya berada di pinggir pantai atau muara
>> sungai, walaupun saat ini bisa berjarak puluhan kilometer dari muara sungai
>> yang sama.
>>
>> Namun satu hal yang pasti, tidak akan mungkin gunung-gunung api dan
>> kawasan bukit barisan bertemu dengan lautan, kecuali kaki-kaki bukit
>> barisan di selatan Kota Padang dan seputaran Kota Painan sekarang. Bahkan
>> pada zaman es pun yang terjadi adalah sebaliknya, lautan di Nusantara ini
>> justru lebih rendah permukaannya daripada kondisi saat ini, sehingga
>> Sumatera, Malaya, Jawa dan Kalimantan bersatu dalam daratan Dangkalan
>> Sahul. Bahkan pulau-pulau perisai di barat Sumatera seperti Siberut dan
>> Nias pun menyatu dengan Sumatera pada periode ini. Jadi jelas secara
>> sejarah geologi, cerita dalam tambo ini tertolak.
>>
>> Namun bagaimana menjelaskan soal lautan ini? Di luar soal pendaratan
>> kapal di puncak Gunung Marapi, masih ada beberapa soal yang menentang
>> kondisi geografis ini, di antaranya:
>>
>>    - Dipakainya istilah teluk dan tanjung di dataran tinggi Luhak Nan
>>    Tigo
>>    - Dipakainya istilah darek (daratan) untuk merujuk daerag dataran
>>    tinggi Luhak Nan Tigo
>>    - Dipakainya istilah berlayar dalam menjelajahi dan menemukan
>>    daerah-daerah baru di sekitar Gunung Marapi, bahkan disebutkan
>>    gunung-gunung dan perbukitan lain di sekitar kawasan ini menyembul dari
>>    dalam laut. Kisah-kisah ini sangat banyak kita temukan dalam beberapa 
>> versi Tambo
>>    Alam 
>> Minangkabau<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/>dan
>>  Tambo
>>    Alam 
>> Kerinci<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/16/tambo-alam-kerinci-episode-turun-dari-pagaruyung/>.
>>    Selain itu Tombo Lubuk 
>> Jambi<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/17/kerajaan-kandis-kerajaan-tertua-di-sumatera/>juga
>>  memuat istilah bumi bersentak naik, laut bersentak turun.
>>
>> *Berlayar di Daratan Menurut Tambo*
>>
>> Berikut beberapa kutipan tambo:
>>
>> *Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak
>> gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat
>> memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi,
>> memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat
>> di tukikkan. Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang
>> ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya
>> berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari
>> permukaan laut waktu itu. Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama
>> sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan
>> berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya
>> beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah
>> tadi.*(Tambo Alam Minangkabau)
>>
>>
>>
>> *Indar Jati,orang pertama turun ke negeri Sumbar dengan menepati kawasan
>> gunung emas atau Gunung berapi, Pariaman Padang Panjang. Ia menikah dengan
>> Indi Jelatang melahirkan keturunan dua orang diantaranya, Datuk perpatih
>> nan Sebatang dan Indarbaya. Indar Jati dengan anaknya, Indarbaya, berlayar
>> pula ke luhak Alam Kerinci. Sedangkan perpatih nan Sebatang. *(Tambo
>> Alam Kerinci)
>>
>> Ternyata dengan melakukan analisa antropologi kita dapat menemukan kunci
>> jawaban dari misteri di atas. Mitos soal Gunung Marapi yang dikelilingi
>> lautan ini dan hanya dapat ditempuh dengan berlayar ini ternyata terkait
>> dengan faktor agama dan kepercayaan yang dianut orang-orang pada masa itu.
>> Kita semua sepakat bahwa agama mereka adalah Hinduisme atau cabangnya,
>> walaupun ada pula beberapa golongan yang telah menganut ajaran Buddhisme.
>>
>> Ada apa dengan Hinduisme terutama yang berasal dari India Selatan?
>>
>> *Gunung Meru dan Jambhudwipa*
>>
>> Dalam konsep agama mereka, dunia ini adalah sebuah benua besar bernama
>> Jambhudwipa<http://www.theosociety.org/pasadena/path/v04n01p13_the-seven-dwipas.htm>yang
>> *dikelilingi oleh tujuh lautan* dan ditengahnya terdapat pusat dunia
>> yaitu Gunung Meru <http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Meru>. Gunung Meru
>> ini dikisahkan sebagai Gunung Emas tempat tinggal para dewa utamanya Dewa
>> Brahma, sang pencipta alam semesta menurut agama mereka. Gunung Meru ini
>> dikelilingi oleh Kota Suci Brahma. Gunung Meru dalam konsepsi ini juga
>> terletak di antara 6 gunung (3 di utara dan 3 di selatan).
>>
>> Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera adalah kandidat kuat sebagai
>> Gunung Meru yang baru (bahkan nama Marapi berkemungkinan diturunkan dari
>> kata Meru Vi dalam Bahasa Sansekerta). Karena itulah mereka
>> berbondong-bondong mendekati Gunung Marapi untuk memuja para dewa, dan
>> sangat lazim jika nama nagari yang mereka dirikan adalah Pariangan atau Par
>> Hyangan (tempat dewa-dewa). Beberapa saat kemudian mereka pun mendirikan
>> Kerajaan Jambu Dwipa (Jambu Lipo) untuk memperkuat konsepsi keagamaan
>> tersebut.
>>
>> *Gunung Meru dalam Masyarakat Hindu Nusantara*
>>
>> Mencari pengganti Gunung Meru di India bukan hanya monopoli nenek moyang
>> orang Minangkabau. Beberapa masyarakat lain di Nusantara pun melakukannya:
>>
>>    - Masyarakat Hindu Melayu memuliakan Gunung Ledang dan Bukit Siguntang
>>    - Masyarakat Hindu Kerinci yang datang dari India Selatan memuliakan
>>    Gunung Kerinci
>>    - Masyarakat Hindu Jawa memuliakan Gunung Semeru, Gunung 
>> Penanggungan<http://www.khatulistiwa.info/2011/10/swarloka-di-gunung-penanggungan.html>dan
>>  Gunung Merapi
>>    - dan lain sebagainya
>>
>> Kesimpulannya, fenomena mencari Gunung Suci ini tidaklah aneh dalam
>> perspektif ini. Jadi walaupun secara logika mereka sebenarnya menempuh rute
>> sungai-sungai besar di timur Sumatera (Rokan, Siak, Kampar, Inderagiri,
>> Batanghari,Kuantan), dari segi religius mereka akan mengunjungi Gunung
>> Marapi untuk tujuan keagamaan dan kemudian membuat mitos tempat ini sebagai
>> titik nol kilometer bagi anak keturunan mereka (baca : konstitusi dasar).
>> Istilah berlayar juga dipakai karena dalam konsep religius, tanah asal
>> mereka ini dikelilingi oleh tujuh lautan.
>>
>> Konsep ini pula yang menyebabkan segala aktivitas perluasan daerah di
>> sekeliling Gunung Marapi diistilahkan dengan “berlayar” di dalam tambo.
>> Kerinci dan Marapi adalah 2 gunung yang dianggap suci oleh penganut Hindu
>> pada masanya.
>>
>> *Seri Marapi, Raja Pulau Sumatera*
>>
>> Prasasti di India yang dikenal dengan *Piagam Leiden* menyebutkan raja
>> Sriwijaya tahun 1006 bernama Sri Marawijayatunggawarman, putra raja Sri
>> Cudamaniwarman keluarga Sailendra.
>>
>> Dalam kronik *Sung-shih* (Sejarah Dinasti Sung) nama raja ini juga
>> dicatat dengan nama Se-li-ma-la-pi, raja San-fo-tsi. Adakah hubungannya
>> dengan penguasa Gunung Marapi di tengah Pulau Sumatera? Wallahualam.
>>
>> *Sumber:*
>>
>> http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus
>>
>>
>> http://irfananshory.blogspot.com/2007/04/resensi-buku-di-majalah-tempo.html
>>
>> http://www.khatulistiwa.info/2011/10/swarloka-di-gunung-penanggungan.html
>>
>> http://id.merbabu.com/gunung/gunung_penanggungan.html
>>
>> http://www.hawaii.edu/indolang/manuscripts/Kerinci/Tambo/d.html
>>
>>
>> http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/>
>>
>>
>> http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/rahasia-suku-malayu-di-pariangan/<http://mozaikminang.wordpress.com/2011/11/23/2009/10/18/rahasia-suku-malayu-di-pariangan/>
>>
>> http://risdalrajoperak.blogspot.com/2009/06/tambo-minangkabau.html
>>
>> http://id.wikipedia.org/wiki/Meru
>>
>> http://www.theosociety.org/pasadena/path/v04n01p13_the-seven-dwipas.htm
>>
>> http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Meru
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>



-- 
    Wassalam,

.: Yudi KudaLiar :.

PIN BB : 32927728
YM : yudifebri
AIM : kudaliarr
Twitter : @kudaliarr
FB : yudi.kudaliar
Catatan si KudaLiar <http://catatansikudaliar.blogspot.com/>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke