Probo: Penyebabnya Bukan Ditubruk Kapal
01 Desember 2011 10:47:49
Guru Besar Teknik Sipil ITS, Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD baru saja kembali
dari perjalanannya meninjau lokasi ambruknya jembatan Kutai Kartanegara,
Rabu (30/11). Kepada awak media, Probo pun mengemukakan hipotesa awal
terkait penyebab robohnya jembatan berusia 10 tahun itu.
*Kampus ITS, ITS Online* - Jembatan yang menghubungkan Tenggarong Kota dan
Tenggarong Seberang itu dikabarkan roboh pada Sabtu (26/11). Musibah yang
menelan sejumlah korban jiwa ini pun menarik perhatian Probo untuk
melakukan rekayasa forensik guna mengetahui penyebab ambruknya jembatan.

''Berdasarkan kondisi di lapangan dan keterangan para saksi di lokasi
kejadian, saat ini saya sudah memiliki hipotesa awal terkait penyebab
jatuhnya jembatan,'' ujar Probo kepada para wartawan. Namun mantan rektor
ITS itu mengatakan bahwa hipotesa ini masih perlu analisa lebih lanjut.

Selama 10 tahun beroperasi, jembatan sepanjang 710 meter itu dikabarkan
pernah tertubruk kapal tongkang pada 2006 silam. Santer dikabarkan, hal
itulah yang memicu kerusakan dan berujung pada ambruknya jembatan. Tapi
Probo yang sudah mengunjungi lokasi kejadian secara tegas mematahkan
pendapat itu.

''Bukan pernah ditubruk kapal yang menyebabkan jembatan ambruk,'' tegas
Probo. Menurutnya, jembatan tersebut ambruk disebabkan oleh aktivitas
perbaikan yang sedang dilakukan terhadap jembatan. Saat itu, pada jembatan
memang sedang dilakukan penaikkan lantai kendaraan yang sebelumnya
mengalami penurunan hingga 72 cm.

Penaikan lantai kendaraan itu dilakukan dengan dongkrak yang berdiri di
atas landasan yang bertumpu langsung pada kawat-kawat penggantung. Hal itu
menurut Probo menimbulkan gaya-gaya yang menyebabkan beban berlebihan pada
kawat. Lebih dari itu, fakta bahwa arus kendaraan yang tidak ditutup selama
proses penaikan memungkinkan timbulnya beban kejut.

Probo pun menyampaikan berbagai temuan yang memperkuat hipotesanya. ''Tidak
ada kawat yang putus, justru patahannya terjadi pada pin yang terdapat di
klem-klem di bagian atas kawat penggantung,'' ujarnya. Probo menjelaskan
hal itu disebabkan beban yang timbul oleh aktivitas dongkrak yang bertumpu
pada kawat penggantung.

''Tapi saya harus mencocokkan apa betul hipotesa saya ini dengan bangkai
badan jembatan yang saat ini masih belum diangkat,'' aku dosen Jurusan
Teknik Sipil itu. Ia mengatakan berangkat dari hipotesa awal ini,
selanjutnya akan dilakukan analisa dengan model komputasi dan pengujian
material jembatan di laboratorium.

Soal waktu terselesaikannya proses forensik ini, Probo mengatakan
tergantung jalannya proses evakuasi dan administrasi. ''Bisa cepat, bisa
lambat, karena untuk menggunakan barang bukti kita juga harus meminta ijin
kepolisian,'' katanya.

Pada kesempatan itu Probo pula menyampaikan salah satu pelajaran penting
dari kejadian ini. Ia menilai bahwa selama ini pemeliharaan bangunan di
Indonesia masih dianggap tidak terlalu penting. ''Pemeliharan sesungguhnya
tidak lebih mudah dari proses perancangan dan pembangunannya,'' pungkasnya.
(ald/fi)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke