Salam Pak Mochtar Naim, Pak Reflus, Pakk Ambiar, dan dunsanak sekalian di lapau, Terima kasih atas komentar2 terhadap artikel saya mengenai pemekaran nagari, yang sangat bermanfaat bagi saya. Sekaligus, langsung atau tidak, tentu ini terkait juga dengan artikel Pak Mochtar Naim tentang pembangunan nagari, dan juga isu terakhir dari Pak Saaf yang mempertanyakan apakah Sumatra Barat mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Komentar2 dari Bapak2 sekalian paling tidak merefleksikan cukup kompleksnya persoalan masyarakat kita di tingkat nagari di zaman kontemporer ini. Yang jelas, saya, seperti halnya Pak Reflus dan Pak Ambiar, sangat mengkhawatirkan fenomena pemekaran nagari ini yang tampaknya lebih didorong oleh 'petualangan' segelintir 'elit' nagari untuk dapat 'mengantongi' DAU lebih besar. Mereka rela memecah nagari mereka demi uang itu, dan tak memikirkan (alih2 mempedulikan) efek2 sosio-kultural yang mungkin akan muncul di kemudian hari. Ide Pak Mochtar mengenai koordinasi terpadu dalam aspek pemasaran produksi pertanian dan kerajinan nagari-nagari tentu sangat ideal. Walau bagaimanapun hal ini tentu hanya akan wujud jika warga nagari-nagari punya etos kerja tinggi. Memang tak dapat dimungkiri bahwa sekarang ini independensi nagari sudah dibatasi karena Sumatra Barat adalah bagian dari Indonesia. Tapi jika kita bercermin kepada sejarah, di abad ke-19 dinamika ekonomi nagari menjadi naik justru setelah 'digerakkan secara paksa' oleh Belanda (antara lain melalui Tanam Paksa) (lihat Christine Dobbin 1992; Elizabeth E Graves 1971). Tentu saja di zaman sekarang tidak mungkin lagi memaksa orang untuk bekerja, walau itu dimaksudkan untuk kemajuan dan untuk meningkatkan ekonomi mereka sendiri. Komentar Pak Ambiar tentang faktor2 yang mendorong orang nagari pergi merantau, sampai batas tertentu, saya kira sudah dijelaskan oleh Pak Mochtar Naim dalam disertasinya (1973). Namun, seiring dengan perubahan zaman, barangkali ada faktor2 intern baru yang mendorong orang Minangkabau pergi merantau. Saya sendiri belum mendapat solusi, bagaimana mencegah orang Minangkabau untuk tidak memilih pergi merantau, menjual beberapa pasang kaus kaki dan sapu tangan di atas jembatan penyebrangan di kota2 metropolitan, ketimbang tinggal di kampung mengolah tanah yang subur dan menjanjikan, sebagaimana yang direfleksikan dalam komentar Pak Ambiar. Saya sendiri, dan kita pada umumnya yang berada di lapau ini, adalah bagian dari produk apa yang oleh Pak Mochtar Naim sebut sebagai 'Minangkabau voluntary migration'. Terkait dengan hal ini, postingan Pak Saaf terbaru tampaknya menyiratkan revolusi kebudayaan Minangkabau yang belum tuntas. Hal itu agaknya benar, Pak Saaf, jika kita membaca secara cermat NASKAH TUANKU IMAM BONJOL. Jika seandainya dilakukan perombakan mendasar terhadap sistem sosial Minangkabau yang berlaku sekarang, akankah animo lelaki Minangkabau untuk tidak pergi merantau berkurang, berganti dengan keinginan untuk tetap tinggal di kampung? Entahlah. Mungkin sejarahlah yang akan menentukan. Atau mungkin memang harus terjadi 'revolusi kebudayaan kedua' (yang damai) di Minangkabau untuk mengeluarkan masyarakat Minangkabau dari apa yang disebut oleh Jeffrey Hader sebagai 'sengketa yang tiada putus' itu. Akhirnya, saya mohon maaf kepada Pak Mochtar Naim yang tidak sempat saya jumpai ketika beliau berkunjung ke Eropa musim panas lalu, karena pada waktu yang sama saya berada di Asia Tenggara. Pak Mochtar mungkin telah melihat dari jendela kereta api pemandangan desa-desa Belanda yang makmur, di mana petani2 hidup lebih kaya dengan penghasilan yang kadang-kadang jauh lebih besar dari gaji walikota, apalagi dosen kecil seperti saya. Tak ada tanah yang menganggur di negeri yang besarnya 'sagadang cikuih' itu. Dengan bertanam bunga tulip saja, para petani Belanda menghasilkan devisa jutaaan dollar per tahun untuk negerinya. Kuncinya memang teknologi, etos kerja keras, dan VISI NEGARA YANG JELAS untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Alam Negeri Belanda diolah dan dimanfaatkan sedemikian rupa dengan tetap memikirkan kelestariannya untuk generasi2 mendatang. SERING SAYA TERMENUNG JIKA BERSEPEDA DENGAN KELUARGA SAYA MELINTASI DESA2 BELANDA ITU, YANG HANYA DATAR DENGAN TANAH YG AGAK LEMBAB KARENA BANYAK YANG DIKERINGKAN DARI RENDAMAN AIR (POLDER): SAYA BERPIKIR KAPANKAN NAGARI-NAGARI DI KAMPUNG HALAMAN SAYA SENDIRI AKAN JADI MAKMUR DAN DAMAI SEPERTI ITU, DI MANA SETIAP ORANG BEKERJA KERAS DAN MENCINTAI SERTA MEMELIHARA ALAM LINGKUNGANNYA. Walau bagaimanapun, kita tetap berharap, mudah2an suatu saat nagari-nagari di Minangkabau akan makmur, terwujud hendaknya ungkapan Minangkabau 'padi masak, jaguang maupiah, antimun mangarang bungo'. Sekian komentar dari saya. Mohon maaf jika ada salah dan janggal serta kekurangan di sana sini. Wasssalam, Suryadi (46 thn)
Dari: Reflus <[email protected]> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Dikirim: Selasa, 10 Januari 2012 14:41 Judul: Re: Bls: [R@ntau-Net] Tentang Pemekaran Nagari - tarimo kasih banyak Sanak Suryadi di Nagari Ulando nan jauah dimato dakek di jari. Bapak2, Mamak2, Bundo2 Dan Dunsanak Palanta nan Ambo Hormati. Menarik mambaco tulisan sanak Suryadi tentang Pemekaran Nagari. Iyo sabana boneh analisa Dan usulannyo. Gatah pulo jari Ambo untuak ikuik manyolo. Doeloe, Nagari la di pacah jadi Desa. Kalau Ambo indak kaliru, alasanyo antara lain bia banyak dapek piti Bandes (Bantuan Desa). karano indak puas dengan Pemerintahan Desa, awak babalik ka Nagari. Kini, sasudah baliak ka Nagari, adolah nan minta Nagari dimekarkan. Lagi-lagi karano piti. Ambo indak satuju Nagari dimekarkan dengan alasan : 1. Masalah Piti, secara teori Mudah dihetong (dibuek Proposal) nan menggambarkan manfaat dari piti nan kan di dapek. Dalam prakteknyo, indak samuda nan tatuli dalam proposal. Piti Lebih banyak jadi Racun dari pado jadi Madu. La banyak contoh pejabat nan masuak Kandang situmbin karano piti (Korupsi) ================== -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
