Assww...pa Sur...sonang mambaco banyak tulisan tentang NAGARI oleh 
pakar2...kini tibo saatnya kito mencari urang2(pelaksana) yg mau 
berbuat...minimal mari kita bangun masing2 Nagari yg kito cintai..alangkah indah
nya ...ada pakar ada pulo nan mau babue langsung...kami dari Sulit Air bersedia 
untuk membantu pengalaman2 kami...pacayolah...kiniko dibutuhkan putra2 terbaik 
utk membangun (minimal) nagari masing2...wass Rainal Rais
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Lies Suryadi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 12 Jan 2012 05:22:19 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] Tentang Pemekaran Nagari - tarimo kasih banyak

Salam Pak Mochtar Naim, Pak Reflus, Pakk Ambiar, dan dunsanak sekalian di lapau,
 
Terima kasih atas komentar2 terhadap artikel saya mengenai pemekaran nagari, 
yang sangat bermanfaat bagi saya. Sekaligus, langsung atau tidak, tentu ini 
terkait juga dengan artikel Pak Mochtar Naim tentang pembangunan nagari, dan 
juga isu terakhir dari Pak Saaf yang mempertanyakan apakah Sumatra Barat mampu 
menghadapi tantangan abad ke-21.
 
Komentar2 dari Bapak2 sekalian paling tidak merefleksikan cukup kompleksnya 
persoalan masyarakat kita di tingkat nagari di zaman kontemporer ini. Yang 
jelas, saya, seperti halnya Pak Reflus dan Pak Ambiar, sangat mengkhawatirkan 
fenomena pemekaran nagari ini yang tampaknya lebih didorong oleh 'petualangan' 
segelintir 'elit' nagari untuk dapat 'mengantongi' DAU lebih besar. Mereka rela 
memecah nagari mereka demi uang itu, dan tak memikirkan (alih2 mempedulikan) 
efek2 sosio-kultural yang mungkin akan muncul di kemudian hari. 
 
Ide Pak Mochtar mengenai koordinasi terpadu dalam aspek pemasaran produksi 
pertanian dan kerajinan nagari-nagari tentu sangat ideal. Walau bagaimanapun 
hal ini tentu hanya akan wujud jika warga nagari-nagari punya etos kerja 
tinggi. Memang tak dapat dimungkiri bahwa sekarang  ini independensi nagari 
sudah dibatasi karena Sumatra Barat adalah bagian dari Indonesia. Tapi jika 
kita bercermin kepada sejarah, di abad ke-19 dinamika ekonomi nagari menjadi 
naik justru setelah 'digerakkan secara paksa' oleh Belanda (antara lain melalui 
Tanam Paksa) (lihat Christine Dobbin 1992; Elizabeth E Graves 1971). Tentu saja 
di zaman sekarang tidak mungkin lagi memaksa orang untuk bekerja, walau itu 
dimaksudkan untuk kemajuan dan untuk meningkatkan ekonomi mereka sendiri.
 
Komentar Pak Ambiar tentang faktor2 yang mendorong orang nagari pergi merantau, 
sampai batas tertentu, saya kira sudah dijelaskan oleh Pak Mochtar Naim dalam 
disertasinya (1973). Namun, seiring dengan perubahan zaman, barangkali ada 
faktor2 intern baru yang mendorong orang Minangkabau pergi merantau.
 
Saya sendiri belum mendapat solusi, bagaimana mencegah orang Minangkabau untuk 
tidak memilih pergi merantau, menjual beberapa pasang kaus kaki dan sapu tangan 
di atas jembatan penyebrangan di kota2 metropolitan, ketimbang tinggal di 
kampung mengolah tanah yang subur dan menjanjikan, sebagaimana yang 
direfleksikan dalam komentar Pak Ambiar. Saya sendiri, dan kita pada umumnya 
yang berada di lapau ini, adalah bagian dari produk apa yang oleh Pak Mochtar 
Naim sebut sebagai 'Minangkabau voluntary migration'. Terkait dengan hal ini, 
postingan Pak Saaf terbaru tampaknya menyiratkan revolusi kebudayaan 
Minangkabau yang belum tuntas. Hal itu agaknya benar, Pak Saaf, jika kita 
membaca secara cermat NASKAH TUANKU IMAM BONJOL. Jika seandainya dilakukan 
perombakan mendasar terhadap sistem sosial Minangkabau yang berlaku sekarang, 
akankah animo lelaki Minangkabau untuk tidak pergi merantau berkurang, berganti 
dengan keinginan untuk tetap tinggal di kampung?
 Entahlah. Mungkin sejarahlah yang akan menentukan. Atau mungkin memang harus 
terjadi 'revolusi kebudayaan kedua' (yang damai) di Minangkabau untuk 
mengeluarkan masyarakat Minangkabau dari apa yang disebut oleh Jeffrey Hader 
sebagai 'sengketa yang tiada putus' itu.
 
Akhirnya, saya mohon maaf kepada Pak Mochtar Naim yang tidak sempat saya jumpai 
ketika beliau berkunjung ke Eropa musim panas lalu, karena pada waktu yang sama 
saya berada di Asia Tenggara. Pak Mochtar mungkin telah melihat dari jendela 
kereta api pemandangan desa-desa Belanda yang makmur, di mana petani2 hidup 
lebih kaya dengan penghasilan yang kadang-kadang jauh lebih besar dari gaji 
walikota, apalagi dosen kecil seperti saya. Tak ada tanah yang menganggur di 
negeri yang besarnya 'sagadang cikuih' itu. Dengan bertanam bunga tulip saja, 
para petani Belanda menghasilkan devisa jutaaan dollar per tahun untuk 
negerinya. Kuncinya memang teknologi, etos kerja keras, dan VISI NEGARA YANG 
JELAS untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Alam Negeri Belanda diolah 
dan dimanfaatkan sedemikian rupa dengan tetap memikirkan kelestariannya untuk 
generasi2 mendatang. SERING SAYA TERMENUNG JIKA BERSEPEDA DENGAN KELUARGA SAYA 
MELINTASI DESA2 BELANDA ITU, YANG
 HANYA DATAR DENGAN TANAH YG AGAK LEMBAB KARENA BANYAK YANG DIKERINGKAN DARI 
RENDAMAN AIR (POLDER): SAYA BERPIKIR KAPANKAN NAGARI-NAGARI DI KAMPUNG HALAMAN 
SAYA SENDIRI AKAN JADI MAKMUR DAN DAMAI SEPERTI ITU, DI MANA SETIAP ORANG 
BEKERJA KERAS DAN MENCINTAI SERTA MEMELIHARA ALAM LINGKUNGANNYA. Walau 
bagaimanapun, kita tetap berharap, mudah2an suatu saat nagari-nagari di 
Minangkabau akan makmur, terwujud hendaknya ungkapan Minangkabau 'padi masak, 
jaguang maupiah, antimun mangarang bungo'.
 
Sekian komentar dari saya. Mohon maaf jika ada salah dan janggal serta 
kekurangan di sana sini.
 
Wasssalam,
Suryadi (46 thn)
 

Dari: Reflus <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Selasa, 10 Januari 2012 14:41
Judul: Re: Bls: [R@ntau-Net] Tentang Pemekaran Nagari - tarimo kasih banyak



Sanak Suryadi di Nagari Ulando nan jauah dimato dakek di jari.
Bapak2, Mamak2, Bundo2 Dan Dunsanak Palanta nan Ambo Hormati.

Menarik mambaco tulisan sanak Suryadi tentang Pemekaran Nagari. Iyo sabana 
boneh analisa Dan usulannyo.
Gatah pulo jari Ambo untuak ikuik manyolo.

Doeloe, Nagari la di pacah jadi Desa. Kalau Ambo indak kaliru, alasanyo antara 
lain bia banyak dapek piti Bandes (Bantuan Desa). karano indak puas dengan 
Pemerintahan Desa, awak babalik ka Nagari.

Kini, sasudah baliak ka Nagari, adolah nan minta Nagari dimekarkan. Lagi-lagi 
karano piti. 

Ambo indak satuju Nagari dimekarkan dengan alasan :

1. Masalah Piti, secara teori Mudah dihetong (dibuek Proposal) nan 
menggambarkan manfaat dari piti nan kan di dapek. Dalam prakteknyo, indak 
samuda nan tatuli dalam proposal. Piti Lebih banyak jadi Racun dari pado jadi 
Madu. La banyak contoh pejabat  nan masuak Kandang situmbin karano piti 
(Korupsi)
==================

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke