Uda Eka ysh,

Terkait dengan keputusan beliau (HBX) sebenarnya ada sebuah perjalanan yang 
cukup panjang tentang bagaimana beliau harus berfungsi dalam NKRI ini. Saya 
tidak keberatan bila ini juga dibahas dalam milist kebudayaan.

Ada sebuah pemahaman yang menarik dan menjadi pelajaran bagi saya tentang sikap 
beliau akhir-akhir ini. HBX saat ini sedang melakukan sebuah pembelokan yang 
sangat tajam terkait dengan peran kraton terhadap NKRI. Mohon maaf saya 
menggunakan kata "saya menduga", saya menduga bahwa yang dikatakan sebagai 
perkataan HBX sebuah penelusuran spiritual sebenarnya adalah sebuah diskusi 
panjang dengan para pendahulu dengan kacamata ke-jawa-an yang menghasilkan 
pemahaman terhadap perlunya sikap tegas dari kraton terhadap kemajuan bangsa 
ini.

HBX dimasa mendatang akan sangat berorientasi sebagai perekat budaya yang 
membentuk untaian Nusantara ini. Sebagaimana sdh disandang oleh HBX seperti 
gelar2 yang dimilikinya sekarang seperti Latu Pati dari Maluku, kemudian Gelar 
Datuk.... (saya lupa) dari Minang, juga dari Lampung, Riau, Aceh. Semua 
tersebut saat ini menuntut tanggung jawab terhadap penyandangnya. Nah HBX saat 
ini akan muncul menjadi penjawab tantangan tersebut. 

Bila kita mengetahui tentang kata Bhineka Tunggal Ika, maka HBX perlu 
menggenapkan menjadi :

Bhineka Tunggal Ika, Roa bhineda, Tan Hana Dharma Mangroa. 

Kalimat lengkap itulah yang perlu disusun dalam membangun suatu untaian yang 
disebut Nusantara/NKRI ini. Karena anak kalimat kedua secara jelas dikatakan 
tidak ada keraguan bahwa penyatuan bangsa ini menjadi suatu kewajiban kita.  
Nah disini fungsi HBX akan sangat menonjol.

Secara sangat jelas HBX sudah melaksanakan suatu perjalanan ritual panjang 
(saya mohon maaf sekali bagi rekan2 yang kurang sepaham dengan pandangan ini) 
dalam melihat persoalan bangsa ini. Sebab yang menjadi permasalahan disini 
adalah identitas diri bangsa. Identitas yang akan mampu membawa kebanggaan 
bahwa kita adalah anak bangsa Indonesia. Juga munculnya pemahaman tentang 
saling kecurigaan dari etnik2. Kita pasti masih ingat peristiwa Sampit, kita 
juga pasti tidak pernah lupa akan Poso, atau Ambon. Semua itu sebenarnya yang 
perlu kita hadapi bersama. 

Beberapa pemikiran terhadap perlunya program2 kebangsaan yang ditularkan 
melalui sistem pendidikan sudah disiapkan oleh HBX. Sebagai contoh, SD di Yogya 
seharusnya memberikan pelajaran secara intens tentang budaya Papua tidak 
sekedar melihat gambar Honei, atau bagaimanakah indahnya Rumah Panjang bagi 
suku Daya di Kalimantan dalam membentuk kesatuan keluarga yang utuh dgn tata 
nilainya. 

Namun demikian dalam konteks ini, HBX lebih menekankan pada aspek 
sosio-kultural dan tidak masuk pada ranah politik.

Mungkin dengan penjelasan yang sedikit ini bisa memberikan gambaran tentang apa 
yang terjadi dengan HBX. 

Terkait dengan masalah spasial, saya akan mencoba untuk menggambarkan dalam 
waktu dekat. Karena ada sebuah kearifan yang mungkin bisa cermati terkait 
dengan peningkatan kesejahteraan melalui pendekatan sosio kultural tersebut.

Mohon maaf terlalu lancang menyampaikan hal yang kurang berkenan bagi rekan2 
milist.

Salam dari jogja

bambang sp

Kirim email ke