Pak Eka & Pak Bambang serta rekan2 milist ysh,
Sepakat dengan Bhineka Tunggal Ika, Roa bhineda, Tan
Hana Dharma Mangroa. Dalam al Quran pun telah
disampaikan bahwa semua diciptakan berbeda untuk
mendapatkan barokah di dalamnya.
Saya menafsirkannya sebagai suatu pesan untuk
meningkatkan kerjasama di antara kita agar kita bisa
lebih maju.
Seperti apa yang disampaikan oleh Pak Bambang, saya
yakin langkah yang ditempuh oleh HBX didasarkan oleh
pemikirannya yang panjang, yang tidak saja
mempertimbangkan kondisi pada saat ini, tetapi juga
kondisi di masa-masa mendatang.
Mudah-mudahan kerendahan hati HBX bisa menjadi teladan
bagi kita dan pemimpin-pemimpin kita lainnya. Untuk
bisa lebih berlaku demokratis.
Tapi apakah bisa UU keistimewaan Yogyakarta
diamandemen dengan memasukkan unsur Sultan dan jajaran
kultural sebagai wali amanah Propinsi (Nagari)
Ngayogyakarta Hadiningrat.
Mohon pendapat dari Pak Bambang.
Terima kasih.
Salam,
Fadjar FHM
--- - ekadj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
---------------------------------
Pak BSP ysh,
Bhinneka tunggal ika
Ruwa bineda
Tanhana dharma mangrwa
(berbeda-beda karenanya bersatu
walau pada kenyataannya hitam-putih itu selalu ada
namun tiada bhakti nan mendua)
Perenungan HBX ini akan saya catat dalam kitab sejarah
saya, yang telah ditorehkan di milis Referensi pada
hari Selasa 24 April 2007, jam 11.42 WIB. Kalau boleh
saya menyebutnya sebagai “kesadaran
Yogya”. Bahwa setelah lebih 61 tahun kemerdekaan
Indonesia, tiada kisah yang dapat membedakan
perjuangan anak bangsa di dalam ikatan kebangsaan
Indonesia. Tiada keistimewaan, tiada kekhususan, dan
juga tiada ‘kegubernur-jenderalan’.
Hal ini melengkapi koleksi falsafah kemasyarakatan
kita, sebagaimana pernah saya sampaikan di dalam salah
satu postingan tahun lalu:
“…..
Ketika keterpurukan dan penderitaan mencapai titik
terdalam, masyarakat mulai mencari dan memilah
filosofi terdalam yang masih mereka miliki. Pasca
tsunami masyarakat Aceh menggali adat bak Poteu
Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala, kanun bak Putroe
Phang, reusam bak lakseumana, adat ngon hukom lagee
zat ngon sifeut. Pada masa Perang Paderi masyarakat
Minangkabau merumuskan adat basandi syarak, syarak
basandi kitabullah, raso dibao naik, pareso dibao
turun, tarimolah raso dari luar, pareso bana raso ka
dalam, antah iyo antah indak. Masyarakat Ambon mulai
menelaah adat Pela-Gandong, ale rasa, beta rasa,
potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng dipatah
dua, katong dua satu gandong. Kita harus menyadari,
kekuatan kita adalah terletak pada ke-bhinneka-an
kita.
…..”
Demikian sementara waktu pak penafsiran ini. Salam.
-ekadj
<[EMAIL PROTECTED]>
Re: [referensi] Re: spatial culture
Uda Eka ysh,
Terkait dengan keputusan beliau (HBX) sebenarnya ada
sebuah perjalanan yang cukup panjang tentang bagaimana
beliau harus berfungsi dalam NKRI ini. Saya tidak
keberatan bila ini juga dibahas dalam milist
kebudayaan.
Ada sebuah pemahaman yang menarik dan menjadi
pelajaran bagi saya tentang sikap beliau akhir-akhir
ini. HBX saat ini sedang melakukan sebuah pembelokan
yang sangat tajam terkait dengan peran kraton terhadap
NKRI. Mohon maaf saya menggunakan kata "saya menduga",
saya menduga bahwa yang dikatakan sebagai perkataan
HBX sebuah penelusuran spiritual sebenarnya adalah
sebuah diskusi panjang dengan para pendahulu dengan
kacamata ke-jawa-an yang menghasilkan pemahaman
terhadap perlunya sikap tegas dari kraton terhadap
kemajuan bangsa ini.
HBX dimasa mendatang akan sangat berorientasi sebagai
perekat budaya yang membentuk untaian Nusantara ini.
Sebagaimana sdh disandang oleh HBX seperti gelar2 yang
dimilikinya sekarang seperti Latu Pati dari Maluku,
kemudian Gelar Datuk.... (saya lupa) dari Minang, juga
dari Lampung, Riau, Aceh. Semua tersebut saat ini
menuntut tanggung jawab terhadap penyandangnya. Nah
HBX saat ini akan muncul menjadi penjawab tantangan
tersebut.
Bila kita mengetahui tentang kata Bhineka Tunggal Ika,
maka HBX perlu menggenapkan menjadi :
Bhineka Tunggal Ika, Roa bhineda, Tan Hana Dharma
Mangroa.
Kalimat lengkap itulah yang perlu disusun dalam
membangun suatu untaian yang disebut Nusantara/NKRI
ini. Karena anak kalimat kedua secara jelas dikatakan
tidak ada keraguan bahwa penyatuan bangsa ini menjadi
suatu kewajiban kita. Nah disini fungsi HBX akan
sangat menonjol.
Secara sangat jelas HBX sudah melaksanakan suatu
perjalanan ritual panjang (saya mohon maaf sekali bagi
rekan2 yang kurang sepaham dengan pandangan ini) dalam
melihat persoalan bangsa ini. Sebab yang menjadi
permasalahan disini adalah identitas diri bangsa.
Identitas yang akan mampu membawa kebanggaan bahwa
kita adalah anak bangsa Indonesia. Juga munculnya
pemahaman tentang saling kecurigaan dari etnik2. Kita
pasti masih ingat peristiwa Sampit, kita juga pasti
tidak pernah lupa akan Poso, atau Ambon. Semua itu
sebenarnya yang perlu kita hadapi bersama.
Beberapa pemikiran terhadap perlunya program2
kebangsaan yang ditularkan melalui sistem pendidikan
sudah disiapkan oleh HBX. Sebagai contoh, SD di Yogya
seharusnya memberikan pelajaran secara intens tentang
budaya Papua tidak sekedar melihat gambar Honei, atau
bagaimanakah indahnya Rumah Panjang bagi suku Daya di
Kalimantan dalam membentuk kesatuan keluarga yang utuh
dgn tata nilainya.
Namun demikian dalam konteks ini, HBX lebih menekankan
pada aspek sosio-kultural dan tidak masuk pada ranah
politik.
Mungkin dengan penjelasan yang sedikit ini bisa
memberikan gambaran tentang apa yang terjadi dengan
HBX.
Terkait dengan masalah spasial, saya akan mencoba
untuk menggambarkan dalam waktu dekat. Karena ada
sebuah kearifan yang mungkin bisa cermati terkait
dengan peningkatan kesejahteraan melalui pendekatan
sosio kultural tersebut.
Mohon maaf terlalu lancang menyampaikan hal yang
kurang berkenan bagi rekan2 milist.
Salam dari jogja
bambang sp
.
---------------------------------
Walla! Mail - get your free 3G mail today
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com