Mas Fadjar ysh,

Wah sebenarnya sungguh sukar bagi saya untuk menjawab pertanyaan mas Fadjar :

Kalau nggak keberatan, mohon Pak Bambang bisa menceritakan tentang kejadian 
yang luar biasa yang telah terjadi di dalam perjalanan Keraton Ngyogyakarta 
Hadiningrat yang Pak Bambang maksud. 

Hal ini terkait dengan sebuah pemahaman tentang fungsi Sultan dalam kedudukan 
kraton. Sultan dalam kedudukan kraton menurut paham Jawa adalah semacam 
"gentong wahyu" atau tempayan tempat menerima pesan dari Sang Maha Kuasa untuk 
kesejahteraan rakyat. Dengan adanya fungsi ini, maka sang Gentong tersebut akan 
dilengkapi dengan beberapa prasarana untuk mampu memahami paling tidak secara 
wantah (leterlijk) apa yang diharapkan dari Sang Kuasa. 

Gesehnya atau tidak guyubnya antara sang Gentong dengan sang Kuasa akan 
menciptakan suatu kondisi alam yang sukar dinalar. Nah bila sang Gentong 
menjadi sangat terlena, maka munculah KLB atau kejadian luar biasa. 

Hal inilah yang saat ini sedang berlangsung di Yogyakarta. Sehingga akhirnya 
diputuskan oleh sang Gentong untuk kembali berfungsi total sebagai tempat wahyu 
sehingga akan mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya atau lebih jauh 
dalam Hamemayu Hayuning Bawana (rahmatan lil alamien).

Keputusan sang Kuasa adalah bahwa kraton haruslah lebih berfungsi sebagai dewan 
komisaris yang akan menyemprit kerja direksi yang dipilih rakyat dalam 
menciptakan kesejahteraan tersebut. Inilah yang melatarbelakangi keputusan 
tersebut. 

Apakah yang bisa kita contoh dari kejadian ini? Yang bisa kita contoh adalah 
pada saa seorang mendapatkan amanah maka dia harus mampu melebur semua ego 
pribadi dan dia hanya bertindak untuk dan atas nama yang memberi amanah. Ini 
yang kayaknya sukar kita bisa temui saat ini.

Tentang kedudukan juru mertani, ini lebih dalam rangka fungsi sultan sebagai 
gentong wahyu tersebut. Jadi tidak dikaitkan dengan sistim pemerintahan yang 
ada.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan sementara. 

Salam dari jogja

bambang sp

Kirim email ke