Bung Fajar dan rekan2,

Terima kasih atas tanggapannya. Secara kebetulan tadi malam baca 
makalah Prof. Budhy Tjahjati "Pergeseran dalam Konsepsi dan 
Pendekatan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Kota di Indonesia" 
URDI Peper Series/2002 no.1.

Pada paper ini dibahas pergeseran/sejarah konsep dan pendekatan PWK 
di Indonesia, dan akhirnya ditutup dengan "Peranan dan Tugas 
Perencana", sebagai tantangan masa kini, yang dirumuskan sebagai 
peran-peran:
1. Perencana Teknis Adimistrasi (peran tradisional, sebagai expert 
teknis melayani pemerintah)
2. Penggerak (mobilizer)
3. Perantara (moderator)
4. Enterpreneur (penggalang resources/dana bagi pelaksanaan rencana)
5. Advocacy (menyuarakan kepentingan kelompok tertentu (penghuni 
lingkungan ttt, kelompok miskin, dst).

Dikatakan juga:"....pendekatan comprehensive planning saja tidak 
mencukupi..........diperlukan pendekatan berdasarkan advokasi dan 
equity planning untuk mengakomodasikan kebutuhan akan perencanaan 
yang demokratis dan partisipatif, pelibatan masyarakat dan dnia 
usaha, serta fokus pada hal-hal khusus seperti pengrangan kemiskinan 
dan menuju suatu pembangunan yang berkelanjutan." (hlm 27)

Alinea penuup: "Jadi, dapat disimpulkan disini bahwa core competence 
seorang perencana adalah kemampuan teknis dan kemampuan 
berkomunikasi dengan stakeholder dalam pembangunan termasuk 
mengartikulasikan permasalahan dan usulan penyelesaiannya serta 
bernegosiasi dengan fihak-fihak yang terlibat." (hlm 27)

Dengan kata lain, posting diskusi dan pendapat kita kelihatan sudah 
dalam koridor yang benar. Seperti kata sdr. Fajar, tentu peran itu 
sifatnya kolektif, ada spesialisasi di antara profesional.

Kembali bicara strategi nasional, dari ASPI tentunya layak 
memikirkan strategi pengembangan SDM perencana, karena 
desentralisasi pembangunan tanpa diimbangi penyebaran SDM perencana 
tentu akan timpang.

Dari pengamatan saya ke berbagai daerah, peran-peran baru (2-5) di 
atas sudah layak (bisa) dilakukan, kebanyakan sekarang memang oleh 
think-thanknya partai, LSM dan orang perguruan tinggi. Alangkah 
baiknya kalau banyak planner yang berperan disana. Mulai membantu 
Cabup/Cawalikot dari saat mereka menyusun Visi, Misi, (kampanye) dan 
terutama menyusun RPJMD. Saya pikir itu peran strategis, dan 
kenyataannya saat ini agak memprihatinkan. 

Pada tataran masyarakat, mungkin yang belum biasa adalah peran 
sebagai penggerak, enterpreneur, yang menggalang stakeholders 
(swasta, masyarakat)untuk membangun bersama, mengimplementasikan 
rencana pembangunan daerah. Ini sebih sulit, membutuhkan kemampuan 
wirausaha dan lobi bisnis maupun politis. Tapi bukan mustahil, 
karena banyak orang bisa melakukannya. Saya beberapa kali ketemu 
orang-orang (biasa) yang punya "visi pengembangan kawasan" yang 
memang bisa mempertemukan pemilik tanah, developer, investor, bank, 
Pemda, swasta besar (pemilik industri disitu), masyarakat - merintis 
dari ide hingga terwujudnya proyek dan terbangunnya area itu.

Salam,
Risfan Munir, IAP.




Kirim email ke