Pak Risfan dan rekan2 ysh, Sekedar melengkapi posting Pak Risfan, sekaligus terkait "keluhan" Pak BTS soal SKK dan poly vs mono Pak Muli,
1. Barangkali beberapa rekan belum mengetahui, ide melihat keterkaitan antara income inequality dan pertumbuhan income/cap sebuah negara (kadang dikaitkan dg stages of devt nya Rostow) dimulai dari Kuznets... yg berupa kurva U terbalik (sering disebut jg sebagai Kuznets curve)... Ide utk melihat keterkaitan ini dlm konteks spasial (regional inequality) berawal dr Williamson (yg jg disebut Pak Risfan), kemudian diikuti oleh Berry, Richardson, dan Friedmann (John).... kurva nya U terbalik juga...namun dlm perkembangannya hipotesis Williamson tsb banyak dipertanyakan... beberapa kritik a.l adalah bahwa Williamson menggunakan data banyak negara dlm satu waktu, bukan historik (panel data)... Namun kebenaran hipotesis Williamson msh dpt dipertahankan, to some extent.. karena yg dikaji adalah income/cap inequality sub nation antar negara... hal ini berbeda dg Berry, Richardson, dan Friedmann yg menggunakan spatial inequality yg ditunjukan oleh primacy, bukan income/cap inequality dlm unit spasial (spt Williamson)... Berry, Richardson, dan Friedmann berargumen bhw spatial inequality yg digambarkan dlm index primacy akan meningkat searah dg stages of devt... kemudian menurun sesuai dg negara tsb makin kaya... sayangnya data empirik yg ada tdk mendukung hipotesis ini... Jerman, Belgia, Italy, misalkan sejak miskin hingga kaya index primacy nya rendah saja... sebaliknya Inggris dan Perancis setelah kaya pun index primacy nya tetap tinggi...ternyata index primacy sebuah negara (demokrasi) bergantung bukan hanya pada stages of devt tapi juga liberalisasi ekonomi, globalisasi, konsentrasi infrastruktur, agglomerasi ekonomi, masalah pedesaan (push factor), dan terutama bentuk negara, Jerman yg federasi cenderung rendah, sementara Perancis yg sept Indonesia adalah unitary cenderung tinggi primacy nya... 2. Ttg urbanisasi semu akibat migrasi desa-kota yg pesat tdk sebanding dg ketersediaan tenaga kerja, saya sependapat dg Pak Risfan... hal ini sering menjadi slh satu kritik thd pendekatan orthodox (neoclassic) dlm regional economics, yakni asumsi informasi yg sempurna, membentuk ekuilibrium ruang, dsb... pdhal realitanya trdpt asymetri informasi... itu saja Pak, terimakasih dan salam, Eko. --- Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Itulah tantangannya. Masalahnya bagaimana para perencanaan wilayah > meyakinkan mereka akan pentingnya aspek kewilayahan/pemerataan, yang > sejalan dengan sasaran pertumbuhan (ekonomi). Untuk itu, di > lingkungan PWK sendiri biasa digunaka hasil penelitian Salah > el-Shakhs (1972) atau Henderson (2000) yang menjelaskan korelasi > antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat urbanisasi serta pola > distribusi kota-kota (rank size rule, primacy index) juga sulit > diberikan. Hasil penelitian yang melihat pola korelasi antara > pertumbuhan ekonomi dan pola sistem kota-kota memang menunjukkan > bahwa ketimpangan tingkat pertumbuhan antar kota cenderung meningkat > pada tahap awal petumbuhan ekonomi nasional, kesenjangan meningkat > dan memuncak pada titik tingkat pendapatan nasional tertentu, dan > kesenjangan itu menurun lagi pada tingkat pertumbuhan yang lebih > tinggi. Hasil ini tampak konsisten dengan penelitian serupa > sebelumnya (Williamsons, 1965) yang melihat korelasi antara tingkat > pertumbuhan > ekonomi suatu negara dengan tingkat kesenjangan antar wilayah. > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

