Para milisters semuanya ysh,
Terimakasih bahwa pak Risfan masih terus berkenan melanjutkan
diskusi......alamat bahwa kita pasti akan dapat menarik banyak manfaat
daripadanya...... berikut adalah tanggapan saya kembali atas beberapa penggal
paragraf beliau dari posting yang lalu......tidak semuanya bersifat menolak....
tetapi setidaknya menyodorkan alternative opinion .....
>>>>>>> ........Jargon daerah membangun digunakan sebagai ganti membangun
daerah. Tapi beberapa departemen sektoral belum.
Lebih dari itu orientasi kebijakan nasional masih didominasi kebijakan makro
dan sektoral. Atau lebih tepatnya sasaran pertumbuhan ekonomi nasional. Ini
bisa dimengerti, bagaimanapun pemerintah (rezim) yang berdurasi kerja 5 tahun
dituntut untuk menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi, stabilitas moneter
dst, daripada indicator yang berjangka panjang. Itulah tantangannya.
Masalahnya bagaimana para perencanaan wilayah meyakinkan mereka akan
pentingnya aspek kewilayahan/ pemerataan, yang sejalan dengan sasaran
pertumbuhan (ekonomi).
Untuk itu, di lingkungan PWK sendiri biasa digunaka hasil penelitian Salah
el-Shakhs (1972) atau Henderson (2000) yang menjelaskan korelasi antara
pertumbuhan ekonomi dan tingkat urbanisasi serta pola distribusi kota-kota
(rank size rule, primacy index) juga sulit diberikan...........
+++++++ Walaupun membangun daerah dan daerah membangun adalah dua hal
yang filosofinya amat berbeda...... namun bagi rakyat itu tidak terlampau
penting ......yang penting adalah bagaimana konkretisasi dari kedua permainan
pembalikan kata-kata itu......
Meyakinkan mereka boleh jadi tidak harus merupakan satu-satunya gambaran
tentang upaya, harapan serta satu-satunya pihak seperti dewa kepada siapa
para planner perlu mengajak bicara
Selain dari mereka yang pertama itu yang katakanlah lebih banyak
merupakan pihak teknokrat
.. masih ada stakeholder keruangan yang lain
(mereka yang kedua. ketiga dst.) yang adalah misalnya saja para pemain
lapangan seperti para businesman, industrialis manufaktur maupun industrialis
properti
yang diantaranya dikota-kota besar di Jawa sebagiannya bisa jadi
juga menjadi bagian dari pemain zero sum game itu ........ namun tidak semua
dari mereka hanya akan bermain kalau ada turunnya kelunakan kebijakan fiskal
dsb.........
Tidak semua dari para pemain lapangan setiap akan melangkah harus berpegang
terus pada referensi pemikiran teoretik makro seperti sasaran pertumbuhan
ekonomi nasional...... atau apalagi berpegang terus pada textbook keruangan
seperti dari el-Shakhs, Henderson, Richardson dsb. itu..........
Alih-alih berpegang pada textbook keruangan...... parapemain lapangan itu
utamanya lebih melihat pada peluang nyata dilapangan.......
Lapindo misalnya yang ketemu batunya dengan tambang lumpur di Porong
Sidoarjo ....... ketika pada awalnya mereka memutuskan akan mengebor perut bumi
disana ...... mereka tidak usah terlampau banyak memakai analisis-analisis
makro ekonomi atau apalagi text bok keruangan itu....... yang mereka lihat
pertama-tama adalah peluang dilapangan...... seperti bahwa ternyata
diperbatasan Jateng-Jatim sampai ketimur itu perut bumi kita itu demikian
kaya dengan berbagai hasil tambang mineral ............
Jadi karena itu kembali lagi kepada bagaimana daerah membangun atau
bagaimana membangun daerah yang dimata rakyat dibolak-balik keduanya sama
saja ........ dan bagaimana meyakinkan mereka yang tidak harus hanya para
teknokrat itu saja...... maka meyakinkan mereka yang lain yang bukan kaum
teknokrat tetapi para pemain lapangan adalah menurut saya bisa-bisa lebih
dari 50% lebih penting dibanding hanya bagaimana meyakinkan mereka yang
pertama tadi yang adalah para teknokrat itu.......
Karena itu berbicara tentang meyakinkan para pemain lapangan ......
referensi materinya bukan dan tidak harus berupa deretan teori-teori makro
ekonomi yang tidak bersifat visual imaginatif itu terus...... tetapi saya
kira lebih simple daripada itu ialah seperti tentang perlunya menyodorkan
paparan-paparan visual simulatif ...yang walau sepintas tidak bersifat
makro.... dan hanya bersifat lokal.... tetapi bisa saja yang lokalitu
bermuatan makro dan internasional.......
Katakanlah tentang rencana kota greater metropolis lain yang baru bertaraf
internasional (biasa....apalagi kalau bukan jualan saya tentang Greater
Makassar itu)...... yang pasti cocok dengan selera mereka .......... selain
bahwa fakta empiriknya kota greater metropolis adalah kota yang benar-benar
mandiri dan pemain utama kegiatan ekonomi...........
Pertama ...... masyarakat planning memang beda... dan bukanlah maaf, sekedar
masyarakat ekonomi makro yang hanya lebih banyak menyodorkan visualisasi
grafik dan tabel-tabel..... dan maaf..... kiranya tidak banyak menyodorkan
visualisasi keruangan 2-D atau 3-D dalam bentuk simulasi interaksi keruangan
antar unit-unit ruang dan manusia seperti bahasa para planner dan arsitek
....... dalam rangka menawarkan alternatif pembangunan untuk kesejahteraan
kehidupan...... seperti walaupun nampaknya kok hanya fisik dan nampak amat
sepele dimata mereka...........
Seperti tentang makna sosial ekonomi dari sebuah superblok dengan penggal
jalan bulevar dan komponen fisik gedung dan pabrik disisinya ....dimana ia
dapat begitu amat berarti bagi kesejahteraan kehidupan manusia walau bentuknya
adalah sekedar bagaimana dari sebuah komponen fisik ruang seperti setiap
pagi gedung-gedung pencakar langit dan pabrik itu melahap ribuan
manusia..... lalu bagaimana sorenya pada pukul 5 mereka memuntahkan kembali
ribuan manusia..... tetapi dengan itu lalu nyatanya terdapat kehidupan yang
sejahtera.......
Sebagai tambahan referensi tidak ilmiah tentang ampuhnya paparan visual
more than paparan teoretik .......... sebuah pepatah Cina kuno mengatakan
bahwa ...melihat satu kali jauh lebih berarti daripada mendengar seribu
kali........
Jadi paparan visual imajinatif kepada para pemain lapangan seperti tentang
gambar perspective rendering tentang sebuah superblok pada sebuah rencana
greater metropolis lain nun jauh disana ......dimana disana bisa
digambarkan tentang adanya industri memimpin instant (hasil dari relokasi
industri memimpin di Jawa yang diboyong kesana.... seperti katakan tentang
merelokasi semua industri sepedamotor di Jawa kelokasi sekitar greater
metropolis baru.....yang walau mahal tapi bulan depannya kontan pasti dapat
menjanjikan kelanjutan detak kehidupannya yang memimpin kegiatan ekonomi
seperti sebelumnya ditempat lama).......
Strategi ini sebagai generator pembangunan diwilayah........ yang tentu
dengan itu perlu dibarengi dengan banyak rencana lain seperti diantaranya ....
sebuah superblok dengan simulasi manhatannisasi kawasan.... ditambah dengan
simulasi tentang orchad-roadisasi sebuah rencana penggal jalan
bulevar.......dimana untuk inisiasi pengembangan satu-dua pencakar langit
sampai 40 lantai sebagai pembangkit gairah yang katakan masing-masing
seharga 500m rupiah sebuahnya ..... dimana dengan itu bisa dididiskusikan oleh
antar para pemain lapangan termasuk diantaranya disini adalah BUMN.....
sebagai perintisnya ........
Lalu dengan itu berbagai imajinasi tentang alternatif pembangunan keruangan
not always again and again that zero sum game seperti yang terus terjadi di
Jawa dan seputar Jabodetabek........yang ini ditempat baru bisa mencakup
beberapa sektor pembangunan lainnya seperti pariwisata dsb. bisa dibayangkan
.......
Kiranya ........ model-model alternatif ...paparan oleh para perencanaan
wilayah dalam meyakinkan mereka ...... itu selalu masih ada variasi harapannya
yang lain ..... seperti bahwa mereka itu bukan hanya para teknokrat saja
.... harapandari para pemain lapangan itu tidak hanya kelunakan fiskal
sajadan tidak selalu harus hanya berupa paparan teoretik makro ekonomi
saja.........
>>>>>>> ...Urbanisasi, metropolitan, megapolitan.......
Urbanisasi dalam arti sesungguhnya punya konotasi kemajuan (kehidupan
mengkota), tetapi di negara sedang berkembang untuk sebagian besar hanyalah
perpindahan penduduk ke kota, atau tiba-tiba jadi kota.
Lapangan kerja pertanian sudah ditinggalkan, sedang sektor perkotaan
(industri, jasa) tidak bisa dimasuki. Jadilah lautan sektor informal, atau
dualisme kehidupan perkotaan. Dalam hal ini tentu menjadi pertanyaan: apakah
city-size bisa menjadi ukuran keberhasilan?........
+++++ Pada masa-masa awal meningkatnya proses urbanisasi di negara sedang
berkembang ...atau katakanlah lebih jelasnya di Indonesia sesudah tahun-tahun
1970-an bersamaan dengan berawalnya era industrialisasi diseputar kota
metropolitan dinegeri kita..... banyak muncul pandangan sinikal yang terus
mengedepan gambaran bahwa urbanisasi dinegara sedang berkembang itu tidak
ideal seperti yang terjadi dinegara maju..., hanya membawa kemajuan yang
semu.... dan banyak lagi gambaran lain yang pokoknya ingin mengatakan bahwa
urbanisasi dinegara sedang berkembang itu berlangsung secara buruk dan
murahan....
Mereka yang mengatakan itu seperti lupa bahwa pada masa-masa awal proses
urbanisasi dinegara maju dulu... dekat tak lama setelah bergulirnya revolusi
industri akibat pengembangan mesin uap oleh James Watt ..... kejadiannya pun
hampir sama juga buruknya seperti yang terjadi dinegara sedang berkembang pada
masa-masa awal industrialisasi.........
Faktanya, memang sampai tahun 1980-an... angka urbanisasi dinegara-negara
Asia dan Amerika Latin (kecuali Asia Timur) sangatlah rendah, kurang dari 20%
(Indonesia 17.7%)........ sampai-sampai maka itu Friedmann dan Douglass (1975)
mengatakan bahwa negara-negara Asia hanya pantas mengembangkan kota-kota
agropolitan (kota-kota kekcil diladang) saja......
Ada satu hal yang seperti tak pernah diduga sebelumnya...... nyatanya setelah
tahun 1990-an.... angka urbanisasi dibanyak negara Asia dan Amerika meningkat
demikian pesatnya...... demikian juga di Indonesia dimana pada sekitar tahun
2000-an atau hanya 2 dasa warsa kemudian angka urbanisasi dari 17.7% telah
meningkat lebih dari 2 kali lipat menjadi sekitar angka 40-an %......sehingga
bahkan diperhitungkan.... pada tahun 2025-an angka urbanisasi kita akan menjadi
sekitar 60-an% (Bappenas, PBB) ........ dan patut diduga.... pada dasawarsa
berikutnya angka itu akan terus bergerak menuju angka 80% seperti yang di
Inggris misalnya.... angka 80% itu bahkan telah tercapai pada tahun
1900-an........
Boleh jadi ...bisa saja legenda atau mitos buruknya mutu proses urbanisasi
dinegara sedang berkembang sedikit banyak memberi andil juga dalam memberi
rasa takut pada planner untuk tidak membayangkan tentang mengembangkan
kota-kota besar......... sehingga banyak diantaranya berpandangan bahwa yang
ideal adalah mengembangkan kota-kota kecil....... walau banyak referensi
mengatakan bahwa faktanya .... aktivitas atau peran-peran ekonomi yang
terbesar berlangsung dikota-kota besar..............
Underestimate atau kekecewaan berkepanjangan tentang legenda proses
urbanisasi yang buruk dinegara sedang berkembang yang artinya meremehkan
potensi proses urbanisasi kita....bagaimanapun juga sangatlah tidak
menguntungkan bagi bangsa kita yang kini sedang berjuang keras untuk dapat
lolos dari kemelut ekonomi-sosial-moral yang telah berlangsung demikian lama
ini....... dimana disini justru harus dikembangkan banyak positivisme seperti
kewiraswastaan.., etos kerja keras..., inovasi, pengembangan moralitas...
dsb.........
Kebalikan dari itu seharusnya justru planners itu menurut saya perlu memberi
motivasi kuat atau stimulasi pada semangat kewiraswastaan dari para pelaku
utama ekonomi...... dan tak kurang juga bekerjasama erat dengan para arsitek
perencana kota...... untuk agar terus dapat dikembangkan ruang-ruang kegiatan
ekonomi perkotaan baru...... dalam rangka terus mengupayakan kenaikan angka
pertumbuhan ekonomi ..... dan agar muncul serapan tenaga kerja dalam rangka
mengurangi angka pengangguran yang dahsyat ini........
*
* *
Tahun 1970an memang iya ..... segalanya belum berkembang..... Jakarta
penduduknya juga baru 4-jutaan orang..... pusat perbelanjaannya yang paling
megah kala itu juga baru Sarinah dan Proyek Senen..........
Jl. Sudirman kaplingnya masih banyak yang kosong belum terbangun.....Jl.
Rasuna Said (Kuningan) belum dibuat .......belum ada jalan tol..... beberapa
tahun kemudian juga ketika jalan tol pertama akan dibuat... orang barat masih
ada yang mengejek.. yang mau lewat siapa katanya?.....
Kewiraswastaan pribumi juga belum berkembang pesat seperti sekarang
ini...... kemacetan lalulintas Jkt dipagi hari sekedar baru berupa deretan
mobil 2-3 ratus meter saja diselatan bunderan HI belum sampai ketanjakan dukuh
atas ....... lalu tiap tahun deretan kemacetan itu nambah beberapa ratus meter
keselatan ...lalu ..... sampai akhirnya mencapai semanggi.... bunderan senayan
... dst. ....
Tetapi keadaan kini sudah berubah drastis ....... fakta dampak positip
urbanisasi dilapangan di Indonesia tidaklah seburuk seperti mitos-mitos yang
banyak diceritakan itu ...............
Cobalah perhatikan model-model generalisasi dan simplifikasi citra-citra
tentang proses urbanisasi yang terus-menerus dihembus-hembuskan sebagai buruk
seperti kalimat berikut ini yang justru dapat menyesatkan para calon
intelektual muda kita yang sedang belajar dan akan menyelesaikan studi baik
SLAnya maupun S1-nya :................
.........Lapangan kerja pertanian sudah ditinggalkan, sedang sektor
perkotaan (industri, jasa) tidak bisa dimasuki.......
Mereka yang disebut sebagai meninggalkan lapangan kerja pertanian adalah
siapa lagi kalau bukan maksudnya adalah orang desa......
Tetapi benarkah orang desa yang datang kekota setelah meninggalkan pertanian
lalu tidak dapat memasuki dunia industri dan jasa dikota?..............
* * *
Memang tidak terlalu salah untuk mengatakan bahwa orang desa tidak bisa
memasuki sektor perkotaan (industri dan jasa)..... karena dikotapun.... banyak
orang berpendidikan sarjanapun juga sulit memasuki pasar dunia kerja formal
...........
Tetapi pertama perlu diklarifikasi bahwa yang dimaksud dengan urbanisasi
adalah suatu pengertian yang lebih luas dari sekedar pengertian tentang orang
desa meninggalkan ladang.. atau pengertian orang desa pindah kekota........
Urbanisasi adalah intinya pengertian tentang perpindahan orang dari hirarkhi
pemukiman yang lebih rendah menuju ke hirarkhi pemukiman yang lebih
tinggi........Jadi urbanisasi adalah juga pengertian perpindahan orang dari
kota kecamatan ke kota kabupaten,.... atau dari kota kecamatan dan kabupaten
atau kekotamadya.... menuju kekota besar atau metropolitan dan
megapolitan....... juga dari kotamadya dan metropolitan menuju kota
megapolitan dsb..........
Urbanisasi tidaklah hanya menyangkut perpindahan orang miskin saja
kekota...... anak-anak orang kaya didesa dan kota kecil serta kotamadya bahkan
metropolitan seperti Smg dan Sby yang bersekolah dan akhirnya bekerja dan
menetap dikota besar Jkt adalah juga bagian dari urbanisasi .......
Anak-anak pedagang Cina di Pontianak atau Tanjungpinang yang berkeluarga dan
hijrah keibukota... membeli ruko dimall atau square dan membuka usaha di
Jakarta adalah juga bagian dari urbanisasi ........
Kelompok musik yang terkenal didaerah dan tidak miskin seperti Dewa 19,
Ungu, Raja dsb kemudian pindah ke Jkt juga namanya berurbanisasi......
demikian juga Inul, diva ratu ngebor dari Pasuruan yang kemudian dapat membeli
rumah seharga 8 milyar di Pondok Indah........ diva musik Indonesia Krisdayanti
bersaudara dari Batu, Malang yang pindah ke Jkt yang diawali dengan perjalanan
rintisan oleh ibunya dengan menumpang truk sayur .... adalah juga bagian dari
proses urbanisasi ........ Tukul Arwana, Bakso Yatmin, Ayam Goreng Suharti
dsb....... adalah milyarder berasal dari orang miskin kota kecil yang
berurbanisasi.......... demikian juga artis lagu-lagu Jawa Campursari Didi
Kempot yang dulu mengamen dengan naik turun buskota dan malamnya tidur
dikuburan karena gratis .. lalu kini menjadi milyarder.... ia juga bagian dari
potret urbanisasi di Indonesia .......
Tidak semua orang desa adalah mereka yang memegang cangkul.... justru karena
didesa anak muda juga semakin langka saja yang masih berminat untuk terjun
bekerja disawah dan ladang ......... bahkan sejak zaman raja Dharmawangsa
diabad 13pun penduduk desa 10%-nya sudah bekerja dibidang non-pertanian (Djoko
Suryo).......apalagi masa kini........
Semenjak didesa....... demikian banyak orang muda telah bekerja disektor
non-pertanian..... seperti dibidang jasa angkutan..... perdagangan
.....industri kecil ..... pekerja bangunan ..... pendidikan (guru desa) ....
penjual makanan...seni panggung...dsb..............
Maka... tidak semua mereka yang berurbanisasi adalah orang miskin dan orang
yang kurang berpendidikan ..........dan benarkah bagi yang miskin dan kurang
berpendidikan lalu ...sektor perkotaan (industri, jasa) tidak bisa
dimasuki?.......
Secara langsung memasuki sektor industri dan jasa tingkat tinggi mungkin
mereka tidak bisa..... tetapi antara sektor informal dan industri dan jasa
tingkat tinggi juga terdapat interaksi ekonomi sosial yang intens......
Ketika pabrik dan gedung perkantoran pencakar langit dibangun..... orangdesa
dan simiskin terlibat pada proses konstruksinya....setelah selesaipun.....untuk
urusan makan siang karyawan.... sektor informal berperan....dan untuk yang
berpendidikan SLA atau SLTP selalu terdapat posisi-posisi seperti satpam,
cleaning service, office boy, supir, kurir pembantu rumah tangga ....dsb......
* * *
Dari ......Jadilah lautan sektor informal, atau dualisme kehidupan
perkotaan........... tentang penerimaan kebenaran istilah lautan sektor
informal kiranya terpulang kepada para milisters semuanya ... apakah tepat
begitu....... setidaknya saya ingin mendengar pendapat mas Koko yang kritis,
mas Mulya Amri yang seperti tidak asing dengan sektor informal perkotaan, mas
Eko Budi jago saya dari Paris, mas Fajar dan teman-teman lain ....... juga mas
Djarot yltmskss (yang lama tidak muncul situ kemana aja sih)......
Setidaknya atas istilah yang seperti terdengar minor atas keberadaan sektor
informal itu .... kita melihat bahwa disaat lebaran orang daerah ramai-ramai
pulang kampung..... terasa ibu-ibu rumah tangga kelimpungan ditinggal
pembantu.... harus nyuci, masak dan momong anak sendiri....... mau jajan
bakso, ketoprak atau mie ayam tapi jalanan sepi ......
Tentang istilah dualisme kehidupan perkotaan.... kalau saya masih lebih
bisa setuju istilah dualisme ekonominya Boeke..... yang menggambarkan
segregasi perekonomian orang kulit putih dan Cina dimasa kolonial dan
perekonomian rakyat pribumi..... karena memang tidak ada integrasi antara
keduanya ....... ekonomi pribumi tidak boleh besar dan secara tegas dilarang,
kalau kebesaran sedikit ditekan.... dan hanya boleh bermain disektor pedesaan
saja.....
Tetapi dimasa kemerdekaan ini.... saya melihat bahwa kehidupan sektor formal
dan informal boleh dibilang masih integrated...... setidaknya industri
seperti besi baja disektor formal dipasok bahan bakunya dengan barang-barang
besi tua oleh sektor informal seperti lapak yang sebelumnya disetori oleh
pasukan pemulung.... demikian juga sebagian dari industri aluminium, plastik
dsb.......... mereka yang disektor formal ter-PHK dengan ramah diterima
disektor informal .......
* * *
Dari pertanyaan .......Dalam hal ini tentu menjadi pertanyaan: apakah
city-size bisa menjadi ukuran keberhasilan?........
Kalau kita melihat uraian diatas bahwa urbanisasi kekota besar isinya bukan
sekedar lautan gelandangan..... tetapi adalah lapisan masyarakat yang
beragam dari yang kurang berpendidikan sampai yang baik pendidik-annya......
maupun mulai dari yang termiskin sampai keluarga kaya dan bermodal .....
kiranya bisa disimpulkan sendiri ...... bahwa citysize berupa proyeksi
`luas-luas tapak-tapak kota dan desain kota.... dan proyeksi jumlah-jumlah
penduduknya yang optimum dalam konstelasinya yang memakai prinsip-prinsip
jarak dan prinsip nhirarkhi ...... akan membentuk sistem kota secara nasional
yang integrated..... dan tentu sangat baik bagi pertumbuhan makro ekonomi
............
>>>>>> ........Sejauh ini, karena sulitnya perkembangan sektor industri,
maka ada kecenderungan menyalurkan surplus tabungan ke sektor property,
terutama untuk pembangnan perumahan dan pusat-pusat perdagangan.
Yang terakhir ini, yang di negara maju sekalipun selalu jadi sorotan, karena
petumbuhan pembangunan pusat-pusat perdagangan tanpa diimbangi pertumbuhan
kegiatan industri bisa mendorong gejala bubble economy.
Ini dapat diamati dari fenomena buka baru, yang lama mati (zero sum
game). .....
++++++ Kecenderungan ...menyalurkan surplus tabungan ke sektor property,
terutama untuk pembangunan perumahan dan pusat-pusat perdagangan....
setidaknya memiliki 2 aspek.....
Pertama ini menunjukkan bahwa sektor swasta bagaimanapun juga adalah sektor
dinamis atau sektor yang tidak bisa diam....... ini bisa dimengerti oleh
karena sebagai perusahaan-perusahaan besar yang sahamnya dimiliki oleh demikian
banyak orang.... para top eksekutifnya yang digaji tinggi dituntut untuk agar
uang perusahaan harus terus diputar sekencang-kencangnya sedemikian rupa....
agar dalam rapat pemegang saham tahunan berikutnya nanti terlihat laba yang
baik... dan dengan demikian saham perusahaan itu akan terus dinilai sebagai
baik dibursa ......
Disisi lain ini sebenarnya menunjukkan bahwa walau bagaimanapun buruknya
situasi ekonomi..... tetapi para perusahaan besar tetap berupaya entah
bagaimana caranya agar uang perusahaan tetap berputar dalam arti kata mereka
harus terus berproduksi entah dengan cara bagaimana.... sehingga pokoknya
tercetak laba perusahaan..... karena perusahaan juga harus hidup.... karyawan
harus digaji.......
Karena berhubung mereka tidak melihat ada rencana kota-kota besar baru lain
yang jelas. ..... tentu saja yang paling mudah adalah mereka terus saja
berinvestasi diseputar kota-kota besar atau pusat-pusat aglomerasi yang telah
ada seperti Jabodetabek dsb..... dan kalau bergerak disektor manufaktur adalah
sulit...... maka yang paling mudah adalah ya memang bergerak disektor properti
itu...... yang jelas aman dan mudah....
Nah ...dengan tak adanya rencana kota besar baru (apalagi kalau bukan
ocehan saya tentang proyeksi another greater metropolis far at another side of
the country)...... bukankah ini sesungguhnya merupakan penyia-nyiaan pada
potensi swasta yang seharusnya bisa berkembang secara positif namun karena
mereka tidak melihat adanya rencana visual kota besar baru lain yang jelas
dengan potensi aglomerasi yang sama kuatnya seperti sekitar di Jakarta....
lalu terpaksa mereka hanya dapat bermain dalam zero sum game.........
>>>>>>.........Belum lagi konflik antara pasar modern versus pasar
tradisional yang kian terbuka sifatnya.
Dalam situasi tersebut, banyak ahli termasuk Jaohn Friedman, founder
perencanaan wilayah, mengkhawatirkan bahwa sistem kota-kota di negara
berkembang justru menjadi jaringan yang menyedot surplus dan kemakmuran daerah,
bukannya menjalarkan dari center ke periphery seperti yang diharapkan.
Ini bisa dimengerti kalau melihat gejala ekonomi yang lebih mengandalkan
sisi konsumsi, sementara yang diperdagangkan lebih banyak produk eks
import.......
+++++++ Pertama menanggapi dulu tentang gejala ekonomi yang lebih
mengandalkan sisi konsumsi ... lalu sesudah itu tentang pasar dengan lebih
banyak produk impor..........
Manufaktur dan industri itu tujuan akhirnya adalah .....ya konsumsi....
artinya.... kalau tidak ada konsumsi.....ya bagaimana barang akan
terus-menerus diproduksi?.......
Memang sih.. yang ideal adalah barang manufaktur itu untuk sebagian besarnya
diekspor.... dan baru seperlunya dikonsumsi dinegeri sendiri...... tetapi
sekarang masalahnya semua negara industri maupun negara sedang berkembang juga
berpikir dan menghadapi situasi yang sama.....jadi dengan kata lain ... negara
sedang berkembang jangan terlampau berharap bahwa mereka dapat mengekspor hasil
industrinya semudah itu walau sudah dengan competitive advantage yang seperti
apapun miringnya..... karenanya akhirnya bisa sekedar mencapai status industri
substitusi impor saja juga itu sudah lumayan bagus untuk perbaikan makro
ekonomi ....... sedikitmya untuk menyerap angka pengangguran ........
Jadi pengertian mengandalkan sisi konsumsi tidak bisa hanya sekedar
memiliki maknanya yang negatip....... yang penting adalah bagaimana konsumsi
dalam negeri dapat meningkat.... yang itu artinya didalamnya terdapat situasi
daya beli yang meningkat yang itu disebabkan karena a.l. meningkatnya angka
masyarakat yang bekerja dan berpenghasilan.......
+++++ kalau tentang pasar dengan lebih banyak produk impor..........ya...
ditahap awalnya ini memang keadaan yang terlihat kurang bagus.... namun kita
juga bisa melihat ini dari sisi pandang lain......
Bahwa ada barang impor yang umumnya lebih eklsklusiv dan lebih bergengsi
dari barang sejenis yang ada..... ini menunjukkan bahwa pertama pasar bebas
memang harus menyediakan demikian banyak barang yang variasinya boleh tak
terbatas dalam rangka kepuasan konsumen........
Ketika barang impor tertentu lakunya masih tak seberapa..... memang ia
belum nenguntungkan untuk barang yang sama itu diproduksi didalam
negeri.......namun ketika potensi kuntitas penjualan barang yang sama mulai
meningkat.....maka industrialis (umumnya bersama importir) telah cukup cekatan
untuk kemudian berpikir memproduksinya didalam negeri....... maka barang
impor yang sama tadi kemudian berubah statusnya menjadi produksi dalam negeri
berkualitas ekspor.......
Maaf sudah kepanjangan...., sementara demikian dulu .....
Hormat saya
aby
Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
NUDS
Ada baiknya melihat lagi konsep awal NUDS sebagaimana tulisan Harry W.
Richardson (Urban Studies, 1981), bahwa ada beberapa pilihan strategi a.l.: no
intervention; policentric primate city region development; leapfrog
decentralization within core regions; counter-magnets; rural service centers;
regional metropolis and subsystem development; growth centers; development
axes; provincial capitals; and secondary cities. Atau kombinasi dari 2-3 dari
pilihan itu.
Dalam artikel tersebut juga didiskusikan beberapa kebijakan yang mempengaruhi
keberhasilan strategi perkotaan, seperti: pengendalian migrasi, subsidi,
investasi prasarana, insentif fiskal, desentralisasi. Namun dikatakannya yang
paling menentukan adalah kebijakan ekonomi makro dan mikro (sektoral), serta
komitmen politik pemerintah dalam jangka panjang (HRW, 1987).
Orientasi Kewilayahan
Sebagaimana dikatakan HWR tantangan, atau kunci sukses, penerapan NUDS adalah
kebijakan ekonomi makro dan mikro (sektoral). Seiring dengan era desentralisasi
beberapa institusi seperti DPU, Bappenas sudah mulai berorientasi kewilayahan
dengan membagi unit-unitnya berdasarkan wilayah (barat, tengah, timur). Jargon
daerah membangun digunakan sebagai ganti membangun daerah. Tapi beberapa
departemen sektoral belum.
Lebih dari itu orientasi kebijakan nasional masih didominasi kebijakan makro
dan sektoral. Atau lebih tepatnya sasaran pertumbuhan ekonomi nasional. Ini
bisa dimengerti, bagaimanapun pemerintah (rezim) yang berdurasi kerja 5 tahun
dituntut untuk menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi, stabilitas moneter
dst, daripada indicator yang berjangka panjang.
Itulah tantangannya. Masalahnya bagaimana para perencanaan wilayah meyakinkan
mereka akan pentingnya aspek kewilayahan/pemerataan, yang sejalan dengan
sasaran pertumbuhan (ekonomi). Untuk itu, di lingkungan PWK sendiri biasa
digunaka hasil penelitian Salah el-Shakhs (1972) atau Henderson (2000) yang
menjelaskan korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat urbanisasi serta
pola distribusi kota-kota (rank size rule, primacy index) juga sulit diberikan.
Hasil penelitian yang melihat pola korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan pola
sistem kota-kota memang menunjukkan bahwa ketimpangan tingkat pertumbuhan antar
kota cenderung meningkat pada tahap awal petumbuhan ekonomi nasional,
kesenjangan meningkat dan memuncak pada titik tingkat pendapatan nasional
tertentu, dan kesenjangan itu menurun lagi pada tingkat pertumbuhan yang lebih
tinggi. Hasil ini tampak konsisten dengan penelitian serupa sebelumnya
(Williamsons, 1965) yang melihat korelasi antara tingkat pertumbuhan
ekonomi suatu negara dengan tingkat kesenjangan antar wilayah.
Argumen tersebut tentunya bisa dibaca dengan sudut pandang yang berbeda
antara perencana wilayah yang menyimpulkan terjadinya fenomena yang membuat
pembangunan kota-kota diperlukan untuk menopang proses pertumbuhan ekonomi agar
berlanjut mencapai dan melampaui klimaknya. Sementara ahli ekonomi bisa
mengartikannya bahwa seiring dengan prtumbuhan ekonomi yang meningkat terus,
otomatis masalah kesenjangan atau ketimpangan pembangunan antar kota, antar
daerah akan mereda dengan sendirinya.
Skenario NUDS
Pemilihan pilihan strategi dalam penerapan NUDS di Indonesia a.l. didasarkan
atas skenario dua faktor: pergeseran sektor ekonomi, dan tingkat desentalisasi.
Skenario ini digambarkan dengan matrik silang dua faktor itu. Oleh karenanya
dalam mengevaluasi efektivitas strategi yang diterapkan perlu mengkaji skenario
tersebut.
Bisa dikatakan bahwa proses desentralisasi yang sering disebut big-bang
itu, yang terjadi melampaui (setidaknya sesuai) yang diskenariokan. Tetapi
perubahan sektoral dari pertanian ke industri, secara proporsional perlu
dikaji, karena saat ini diduga justru sedang terjadi deindustialisasi, aas
mundur dari perkiraan.
Apa pengaruhnya bagi pilihan strategi pengembangan sistem perkotaan? Yang
dikuatirkan tentunya adalah arus migrasi ke kota tapi lapangan ke ja (industri)
terbatas (urbanisasi semu).
Urbanisasi, metropolitan, megapolitan
Urbanisasi dalam arti sesungguhnya punya konotasi kemajuan (kehidupan
mengkota), tetapi di negara sedang berkembang untuk sebagian besar hanyalah
perpindahan penduduk ke kota, atau tiba-tiba jadi kota. Lapangan kerja
pertanian sudah ditinggalkan, sedang sektor perkotaan (industri, jasa) tidak
bisa dimasuki. Jadilah lautan sektor informal, atau dualisme kehidupan
perkotaan. Dalam hal ini tentu menjadi pertanyaan: apakah city-size bisa
menjadi ukuran keberhasilan?
Demikian pula dengan pengertian metropolitan. Pada awalnya gejala
metropolitan adalah jika suatu kota besar berkembang dan mencakup (menyatu)
dengan kota-kota satelit di sekitarnya yang ikut bertumbuh (conurbation),
menjadi satu kesatuan. Gejala itu kemudian direspons, diantisipasi dengan
metropolitan plan. Sehingga umumnya metropolitan bukanlah direncana terlebih
dahulu, tapi gejala yang diantisipasi untuk tujuan growth management, untuk
mengelola ekses skalanya.
Begitu pula dengan megapolitan, yang dalam istilah lain disebut
trans-metropolitan, adalah gejala menyatunya dua metropolitan. Dalam contoh
klasik, wilayah Bowash (Boston New York Washington DC), yang mesti
diantisipasi ekses skala pertumbuhannya, positif ataupun negatifnya. Pada
jurnal PWK, Ida Ayu Indiira pernah menulis tentang gejala ini untuk
Jabodetabek Bandung Raya yang kian menyatu, dengan pengertian yang sama
bisa diantisipasi pertumbuhan wilayah koridor Joglosemar (DIY Solo Raya
Semarang Raya) yang boleh jadi menunjukkan gejala yang sama kalau jalan tol nya
jadi dibangun. Sejauh ini di kalangan perencana (di dunia) belum digunakan
istilah megapolitan plan.
Selain gejala urbanisasi semu dalam arti sosial-ekonomi penduduknya, perlu
juga diantisipasi dari perkembangan ekonominya. Sejauh ini, karena sulitnya
perkembangan sektor industri, maka ada kecenderungan menyalurkan surplus
tabungan ke sektor property, terutama untuk pembangnan perumahan dan
pusat-pusat perdagangan. Yang terakhir ini, yang di negara maju sekalipun
selalu jadi sorotan, karena petumbuhan pembangunan pusat-pusat perdagangan
tanpa diimbangi pertumbuhan kegiatan industri bisa mendorong gejala bubble
economy. Ini dapat diamati dari fenomena buka baru, yang lama mati (zero sum
game). Belum lagi konflik antara pasar modern versus pasar tradisional yang
kian terbuka sifatnya.
Dalam situasi tersebut, banyak ahli termasuk Jaohn Friedman, founder
perencanaan wilayah, mengkhawatirkan bahwa sistem kota-kota di negara
berkembang justru menjadi jaringan yang menyedot surplus dan kemakmuran daerah,
bukannya menjalarkan dari center ke periphery seperti yang diharapkan. Ini
bisa dimengerti kalau melihat gejala ekonomi yang lebih mengandalkan sisi
konsumsi, sementara yang diperdagangkan lebih banyak produk eks import.
Klaster kegiatan ekonomi
Ada harapan baru sebenarnya dalam mengatasi kesulitan meyakinkan akan
pentingnya orientasi kewilayahan kepada otoritas ekonomi makro dan sektoral
di atas. Yaitu dengan pengembangan cluster. Trend ini dimulai oleh Michael
Porter (1990), pakar daya saing , yang mengadopsi konsepnya dari dunia bisnis
ke pembangunan nasional dan daerah. Konsep ini bertitik tolak dari integrasi
vertikal, proses linkage hulu-hilir (supply-chain), yang diperluas dengan
dukungan stakeholder (lembaga keuangan, penelitian, pendidikan), dukungan
pelayanan publik, sarana dan prasarana. Keseluruhannya membentuk daya saing
daerah, atau nasional pada gilirannya. Provinsi Gorontalo dengan strategi
jagung dan ikan nya jelas menggunakan konsep pengembangan klaster untuk
meningkatkan daya saing komoditas, yang lalu jadi daya saing daerah.
Konsep pengembangan klaster kegiatan ekonomi ini cukup familiar di kalangan
pengambil kebijakan ekonomi khususnya sektoral, pertanian ataupun
perindustrian. Di kalangan perencana wilayah sendiri tentunya tidak asing,
karena sebelumnya dari Walter Isard sudah diperkenalkan dengan industrial
complex analysis, sehingga tinggal memodifikasikannya.
Dengan kesamaan bahasa tersebut, mungkin dapat dicari titik temu antara
visi kewilayahan dengan visi sektoral, dan dari sisi makro ekonomi tidak
terlalu sulit karena mereka juga sedang sesak napas dengan upaya mendorong
pertumbuhan yang terkendala lambatnya sektor riil. Namun dari sisi perencana
(PWK) sendiri juga diperlukan orientasi kepada pendekatan yang tidak
semata-mata menguunakan sistem permukiman dan jaringan prasarana sebagai
instrumen pengembangan wilayah, sebagaimana tradisi sejauh ini.
Tantangan lain adalah masalah kelembagaan. Sebagaimana pelaksanaan
pengembangan wilayah, pengembangan klaster ekonomi juga memerlukan kerjasama
antar instansi, antar daerah, antar pelaku.
Kesimpulan
1. Pemilihan strategi pengembangan wilayah melalui sistem kota-kota
(permukiman) selain didasari kondisi perkembangan dan konteks geografisnya,
juga didasari skenario perubahan (transformasi) sektoral, serta proses
desentralisasi kewenangan ke daerah.
2. Kebijakan dan strategi melalui pembangunan sistem kota-kota tersebut
tidak dapat dipisahkan dari kebijakan ekonomi makro dan sektoral. Justru itu
masalahnya bagaimana meyakinkan pengambil kebijakan makro dan sektoral tersebut.
3. Pendekatan melalui pengembangan klaster ekonomi layak
dipertimbangkan sebagai acuan bersama antara pengambil kebijakan kewilayahan,
makro dan sektoral.
Salam,
Risfan Munir, IAP
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.