Ysh rekan milis semua. He...he.., rupanya Bung Dwiagus lagi kesel ya sama Jakarta? Ngomong-ngomong, sebenarnya yang membangun Jakarta itu juga para pendatang. Sebagian besar para pendatang ini berhasil. Ada yang jadi presiden, ada yang jadi menteri, ada yang jadi gubernur DKI sendiri, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi birokrat di Pusat, ada yang jadi seniman, ada yang jadi tukang, ada yang berjaualan di informal, dan ada juga yang jadi konsultan dan dosen. Semuanya, hampir semuanya, adalah pendatang. Tapi yang membuat kacau Jakarta ini juga pendatang. Jadi kalau ada operasi yustisi di Jakarta, kalau ada yang mengkritik pendatang, kalau ada yang mengusir pendatang, sebenarnya itu peperangan kepentingan antara pendatang vs pendatang. Pendatang-pendatang ini ada yang bodoh, ada yang pandai, ada yang berkuasa, ada yang kaya, dan ada yang bejo (untung). Kalau mau mengutip pendapat Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam bukunya "Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki", sebenarnya proses peperangan pendatang vs pendatang ini pameonya sebagai berikut : "Orang bodoh kalah oleh orang pandai; orang pandai kalah oleh orang berkuasa; orang berkuasa kalah oleh orang kaya; dan orang kaya kalah oleh orang bejo". Nah dalam kasus pendatang di Jakarta ini, Pemda DKI Jakarta tidak terlibat dalam konstelasi pameo tersebut karena mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan "bejo".
Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: B. Dwiagus Stepantoro To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, October 21, 2007 10:12 PM Subject: Yang kampungan pendatang barunya atau Pemda DKI-nya? Re: [referensi] Re: 70-80% Uang Nasional Berputar-putar di Jakarta Dear Pak Eka Dj, .. dan rekan milis lainnya YSH, Re: Yang kampungan pendatang barunya atau Pemda DKI-nya? 1. Memang paling mudah kita HANYA berteriak: "hai, para pendatng baru, jangan berlaku 'ndeso,katro,kampungan, dll' dong,..kalian harus siap dan mampu berperilaku sebagai kota besar" . Tapi kita lupa bahwa Pemdanya sendiri masih ndeso,katro dan juga kampungan, paling tidak dalam arti Pemda DKI itu gak mampu memfasilitasi proses transisi para pendatangbaru ini, malah sebaliknya malah jadi memfasilitasi mereka yang datang itu untuk tidak berubah. Menurut saya sih mestinya PemdaDKI lebih banyak RUANG bagi warga barunya UNTUK BERTRANSISI PERILAKU, dibandingkan malah memfasilitasi mereka untuk mempertahankan adanya kampung si tengah kota. Ketika pemda membiarkan bantaran kali sungai jadi pemukiman liar dan jadi tempat rangkaian MCK, ketika pemda membiarkan orang mendiami bantaran rel kereta, ketika pemda membiarkan kolong jembatan tol diokupasi jadi kediaman warga sampai kebakaran,...... tidak hanya membiarkan tapi malah menyediakan jaringan listrik, airminum,... mengutip retribusi, pajak, .. di tempat2 seperti itu. Mereka Buat saya sih itu jelas bahwa pemda DKI malah memberikan Ruang untuk para pendatang baru ini untuk mengembangkan perilaku non-urban mereka,.. Jadi jangan salahin pendatangbarunya juga, Kenyataannya mereka juga difasilitasi dapat KTP dengan mudah dengan modal beberpa puluh rebu saja bayar ke ketua RW, beres. Kena operasi yustisi? bayar saja, beres. Jadi siapa nih yang tidak berperilaku layaknya di sebuah KOTA BESAR? Pendatangnya atau Pemdanya? 2. Kalau memang Jakarta ini sebuah kota yang besar, ya pantas lah dia tidak ramah, dan menunjukkan segala kesulitannya bagi para pendatang yagn cuman modal nekat saja. Saya rasa justru karena ketidakramahannya dan kekejamannya itu lah, yang memaksa sebagaian besar orang mengubah perilakunya sesuai dengan keinginan pak Eka Dj. Ada yang berhasil (sangat banyak malah, saya rasa) tapi ada juga sih yang tidak (belum tahu nih berapa %) ...... tapi coba tengok cerita di KOMPAS beberapa hari lalu,... seorang pekerja perantau yang mudik bercerita bagaimana dia bisa mengirim beberapa ratus ribu ke desanya,selma beberapa tahun dia merantau, tiap bulannya dan bisa bangun rumah di kampungnya,.. dan dia sendiri bisa beli motor,.... yang tidak mungkin dia bisa dapatkan semua itu kalau dia tinggal di kampungnya. Lihat pula pergerakan komuter yang terus bertambah, dan pertumbuhan rumah-rumah kontrakan di pinggiran botabek sana....... bukankah mereka itu pendatang yang lamabt laun berhasil membangun kehidupannya lebihbaik,... palig tidak lebih baik dibandingkan kalau tinggal di desa saja.... dan sangat mungkin mereka mengirim "sesuatu" juga kembali ke tempat asalnya. 3. Menarik yah kalau melihat ternyata aktor2 seperti inilah yang justru mendistribusikan kapital ke kampung2 dan desa-desa sana,.... Padahal fungsi mendistribusikan kapital ini pemda lah mestinya. Bukankah seharusnya pemda meredistribusikan kapital ini dengan manfaatkan Dana Dekonsentrasi dari pusat, yang ditengarai pak BTS terus meningkat, untuk di belanjakan di daerah,..... eh malah duit BPD di simpan di SBI,hehehehe. Jadi saya takjub dengan orang2 yang berhasil ini, yang berhasil meredistribusikan kapital kembali ke daerah,...... juga para asosiasi warteg yang melempar duit hasil usahanya ke daerah,... mungkin juga asosiasi rumah kapau, dan rumah lapo. Jadi memang benar kata Pak BTS. Kota-kota besar sudah jadi alat pertumbuhan ,.... jadi kenapa harus diredam pertumbuhankota-kota itu sendiri.... upaya yang tidak efektif, ..atau kata abege, .. capeeee deh. 3. Permasalahan kota besar yang dirasakan banyak orang yah saya rasa permasalahan yang umumnyaterjadi lah di kota-kota besar,.. seperti seorang remaja yang sering mendapati mukanya jerawatan. Sekarang tergantung remajanya pintar2 merawat mukanya tidak, pintar memilih obat jerawatnya tidak. ..... jadi memang kata pak Eka, masalahnay yah di UrbanManagementnya,.. bukan di melonjaknya pendatang baru,..... kalau Jakarta memang terlalu sexy walaupun jerawatan,.... tetap ajah akan selalu diminati,... Kembali ke atas, masalahnya memang pemda DKI masih ndeso,kampungan..masih berperilaku bukan layaknya sebagai sebuah kota besar,...... jadi percuma ajah neriakin pendatang barunya,.. mendingan neriakin pemda DKI-nya,.. untuk selalu ngikutin jaman, ngikutin market, ngikutin teknologi, ngikuti trend,... Liat ajah pembangunan busway yang sebenarnya cukup telat,.... padahal kalau mau pelajari trend, mestinya busway udah mesti terbangun awal tahun 90-an,... saya malah inget ide menaruh bus di jalur khusus di jalur cepat itu udah saya dengar dai Prof Kus, waktu pengantar transportasi dulu tahun 1994,... teknologi persampahan, dan drainase, pun masih cukup primitif.... konsentrasinya masih disilaukan oleh teknologi infrastruktur jalan yang sudah cukup canggih melayang melintang di udara jakarta,... 4. Pak Eka, kalau saya ngomongin urban governancenya-jakarta, agak susah barangkali, saya bukan ahlinya sih,..... lagi pula governance Jakarta itu kayak Black-Box,.. gelap, susah diraba-raba,..... baru kerasa kalau lagi ngurus KTP ajah, dan ketika legalisir Akte Kelahiran untuk cari beasiswa ,... kalau ngurus IMB bisa bayar orang,.... ngurus NPWP, bisa nyuruh orang kantor,.... huehehehehhehe Jadi kalau ada kata-kata: "Tata Ruang telah mati di sini" ,. yah di sini lah tepatnya,.. di Jakarta. Pertanyaan pak BTS:"Masalahnya udah jelas,... Yang penting mana programnya".... ini pertanyaan krusial yang jawabannya ada di dalam blackbox sistem governance pemda dki itu sepertinya..... Yang sering tercatat di jurnal2,artikel,buku2 di luar sana, dan sudah jadi legenda segala masa adalah Proyek KIP dan/atau MHT itu,.... setelah itu,.. apa yah? ... banjir kanal?,... lelet,belum selesai2, banjir besar udah datang berkali-kali,... busway? agak telat,...walaupun sudah tepat. subway? masih mimpi yang tertunda terwujud proyek rumah susun? ...liat sendiri kualitasnya, dan dihuni oleh siapa, dan pulomas pun sudah tergusur,... Memang Pemda DKI sudah ketinggalan jaman,....... masih kampungan,.. sementara kota-kota lain sudah ber-skytrain di bangkok,.... punya tunnel untuk mobil dan aliran banjir di malaysia,... dan lain-lain di singapura,.... 5. Mungkin kalau ingin mengambil contoh sebuah governance yang total laissez faire yang akhirnya terperangkap pada arus pasar, ..... yah jakarta ini. Jakarta yang tidak mampu menebak pasar,mengantisipasinya,membuat rencana intervensi nya,.. malah akhirnya jadi budak diktator pasar yang tidak bekerja secara benar2 efisien,dalam arti, tidak hanya segelintir orang saja yang gain benefit, .. tapi semua warga, paling tidak terkompensasi .... Berpuluh-puluh situ/waduk/danau/rawa di jakarta yang lenyap mengering dan ditimbun jadi perumhan,.. jadi saksi. Berpuluh-puluh pasar tradisional yang ter singkir, terpinggir, ,..... jadi saksi juga. Kalau saya liat sih (mohon kreksinya kalau saya salah liat) karena pemdaDKI memang sudah sangat tergantung dengan fungsi administrasinya,fungsi regulatornya yang pasif, serta fungsi rutinnya yangbusiness as usual (Tata Ruang juga business as usual bukan?). Jadi kembali lagi mana programnya?.. atau saya lebih suka bertanya: mana proyeknya? Program/project apa yang memang mammpu menjadi gerbong perubahan wajah jerawatan jakarta ini? Project-led approach seperti ini harusnya bisa dipakai,.... tapi memang membutuhkan kreatifitas berinovasi, speerti kata pak Eka. Jangan sekedar proyek kredit utk UKM yang saya pernah denger dan liat beberapa stikernya di gerobak2 penjual es doger, atau mie ayam,... tapi kok gak ada gaungnya ya? atau proyek revitalisasi kota tua, yang tidakjelas, ....... proyek2 seperti ini mah hanya bedak tebal yang hanya menutpi jerawat, tapi gakmenghilangkan jerawat itu sendiri,... Mungkin Proyek seperti KIP,.... proyek Drainase (di luar proyek Banjir Kanal, yang terkatung2),.. proyek pengembalian Situ2,.. proyek teknologi persampahan,.... dan jangan beralasan soal gak ada dana,...... capee deh. 6. Sekarang kenapa ya keliatannay pemda DKI seperti tidak kreatif,.. tidak inovatif,.... mungkin karena kepemimpinan yang dijalankan a la militer oleh sutiyoso, yang cenderung one-man show-off,... jadinya menenggelamkan kreatifitas ketua bappeda,para kepala dinas-nya,...tapi giliran ada kasus bermasalah, mereka2 inilah yang jadi bumper,... walikota2 yang dipilih pun mati juga kreatifitasnya,.. .bagusnya walikota ada pilkadanya barangkali ya,..... Yah, mudah2an gubernur yang baru,.. atau gubernur setelah PakKumis ini (yang akan mungkin bisa muncul dari independent non-partai) bisa mengubah sesuatu,.... taidak hanya kreatif, inovatif, tapi juga pro aktif dan tidakpasif,....... jangan gunakan terlalu sering tool tata ruang untuk mengintervensi pasar, khususnya dalam pengaturan pemanfaatan lahan,..... tapi guanakan tool yang lebih mendorong pemda untuk aktif ,..... gunakan BUMDnya,. gunakan belanja daerahnya,...... Dan mudah2an dengan era demokrasi yang memungkinkan setiap orang berinteraksi,.... semoga pemda dan warganya bisa menjalinsebuah komunikasi,...... tak perlu komunikasi yangmanis2,.. yang kasar2 dikit juga tidakpapa,.. .sehingga siapa tau tercipta tough love yang membuat setiap aktor ini (pemda dan warganya) terbiasa berkonsultasi dan membangun pemahaman yang sama,..... bahwa Pemda jangan memeliahra ke-kampungan dan ke-katro-annya,.. huehehhe Salam, Dwiagus yang mencintai jakarta yang seksi walaupun jerawatan dan bopeng. http://bdwiagus.blogspot.com Recent Activity a.. 3New Members b.. 1New Files Visit Your Group Y! Messenger Files to share? Send up to 1GB of files in an IM. Green Y! Groups Environment Groups Find them here connect with others. Yahoo! Groups Moderator Central get help and provide feedback on Groups. .

